Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Hari Bahagia


__ADS_3

Meski masih dalam mode ngambek, Kirana akhirnya mengikuti arahan WO untuk menggandeng Sebastian memasuki grandballroom hotel mewah ini.


Matanya tercengang saat pintu ruangan dibuka dan para tamu berdiri menanti kedatangan mereka menuju pelaminan. Tidak terbayang dalam benak Kirana kalau ia akan melangsungkan pernikahan begini mewah bagaikan dongeng seribu satu malam.


 


“I love you so much, my Kirana,” bisik Sebastian sebelum mereka mulai melangkah. Tidak lupa kecupan mesra di pipi Kirana membuat orang-orang yang berdiri dekat pintu langsung tersenyum kagum melihat kemesraan mereka.


 


Kirana menoleh memandang wajah suaminya dengan wajah sedikit merona. Rasanya susah bertahan dalam mode ngambek karena diperlakukan begitu istimewa oleh Sebastian, apalagi melihat senyuman cinta mengembang di bibir sensual suaminya.


 


Akhirnya Kirana ikut tersenyum sambil terus menatap Sebastian sampai-sampai para sraf WO meminta lagu pengiring ditunda dua menit untuk membiarkan pasangan berbahagia ini menikmati momen mereka.


 


“Love you too, Sebastian Pratama,” sahut Kirana dengan suara pelan tapi tetap terdengar oleh Sebastian.


 


Dipegangnya tangan Kirana yang sudah bertumpu di siku Sebastian dan perlahan mereka berjalan melewati para tamu yang sudah berbaris mengiringi langkah mereka menuju pelaminan.


 


Kirana sempat bersitatap dengan Steven yang sedang menggendong Raven tetapi tanpa ditemani oleh Shera. Kirana memberikan senyuman yang terlihat begitu indah di mata Steven sambil membalas lambaian tangan Raven yang masih saja memanggilnya mama.


 


“Aku akan meminta Steven untuk mengajari Raven agar tidak lagi memanggilmu mama. Bisa-bisa orang menyangka akulah yang merebutmu dari Steven,” bisik Sebastian saat mereka sudah berdiri di pelaminan dengan kedua orangtua mereka.


 


“Memangnya kamu masih cemburu, Bee ?”  ledek Kirana sambil tertawa pelan.


 


“ Tentu saja aku cemburu,” sahut  Sebastian dengan wajah sebal. “Memangnya kamu mau aku berhenti cemburu setelah menikah ?”


 


“Kamu terlihat sangat seksi kalau sedang cemburu, Bee,” bisik Kirana dengan nada sensual.


 


“Jangan coba-coba menggodaku karena mulai sekarang aku tidak akan menahan diri “ sahut Sebastian sambil tersenyum smirk.


 


“Bukan hanya sekarang, tapi kamu sudah mencuri start dua minggu yang lalu,” ujar Kirana sambil mencibir.


 


Kedua orangtua mereka terlihat bahagia melihat kemesraan Kirana dan Sebastian di panggung pelaminan. Seolah mereka lupa kalau saat ini semua mata tertuju pada mereka sebagai bintang utama pesta malam ini.


 


Hampir dua jam berlalu, berbagai seremoni sudah mereka lalui, sekarang giliran para tamu untuk memberikan ucapan selamat.


 


Kirana menghela nafas perlahan saat melihat antrian para tamu yang berbaris menuju pelaminan masih cukup panjang. Entah berapa banyak tamu undangan yang datang, dan sebagian besar adalah relasi Daddy Richard dan MegaCyber.


 


“Akhinya hubungan kalian benar-benar berakhir di pelaminan ini,” sapa seorang wanita dengan senyuman bahagianya.


 


“Mbak Widya !” pekik Kirana dengan wajah bahagia.


 


Kirana langsung memeluk tubuh wanita yang sudah membantunya bekerja sebagai sekretaris Sebastian sekitar sembilan bulan yang lalu.


 


“Terima kasih sudah datang jauh-jauh,” ujar Kirana setelah melerai pelukan mereka,


 


“Bukan sekedar datang sekarang, Ki. Sepertinya kita akan sering- sering bertemu.”


 


“Maksudnya Mbak Widya pindah lagi ke Jakarta ?” Kirana mengernyit menatap Widya.


 


“Iya, suamiku dipindahkan lagi ke Jakarta. Ternyata di sana hanya sementara saja.”


 


“Waahh berarti kita bisa sering-sering ketemu, Mbak,” ujar Kirana dengan wajah senang.


 


“Setiap hari juga boleh, Honey,” ujar Sebastian sambil merangkul pinggang istrinya. “Widya akan kembali menggantikan posisimu sekarang.”


 


“Beneran, Bee ?” tanya Kirana dengan tatapan tidak percaya. Sebastian hanya menggangguk.


 


“Aku akan menjadi mata-mata untukmu, Ki, “ ujar Widya dengan suara seperti orang berbisik. “Aku akan menjadi satpam yang menjaga Pak Bas untukmu.”


 


“Wah sepertinya saya harus meninjau kembali kontrak kerja yang ditandatangani minggu lalu,” ujar Sebastian dengan alis terangkat sebelah.

__ADS_1


 


“Jangan !” Kirana dan Widya menjawab bersamaan lalu tertawa.


 


Di belakang Wdiya ada suami dan kedua anaknya yang ikut memberikan selamat untuk Sebastian dan Kirana.


 


“Kamu kok nggak bilang kalau Mbak Wid kerja lagi sebagai sekretarismu ?” ujar Kirana dengan nada  kesal.


 


“Kejutan, Honey. Kejutan. Lagipula biar kamu tenang kalau sekretaris aku adalah orang yang kamu kenal, jadi nggak perlu minta Dion lagi untuk mengirimkan foto para kandidat sekretaris aku.”


 


“Bee,” ujar Kirana dengan wajah cemberut. Ternyata Sebastian tahu aksi diam-diam Kirana yang meminta Dion mengirimkan foto para kandidat calon sekretaris penggantinya.


 


“Aku bahagia kok dicemburui,” ujar Sebastian sambil tertawa.


 


Ternyata di barisan paling akhir adalah tim sukses dari lantai 15 dan d 16 plus tiga sahabat Sebastian. Mereka langsung didaulat untuk foto bersama. Tidak lupa Samuel menyerahkan sebuah kado dari tiga pria tampan yang sekarang menjadi pendukung tetap Sebastian.


 


Sebastian pun mengajak Kirana turun dari pelaminan menyusul kedua orangtua mereka yang sudah terlebih dulu turun.


 


“Bee, boleh lepas sepatu ? Kaki aku sakit banget karena nggak biasa pakai sepatu tinggi.”


 


“Nanti malam aku buat kakimu supaya tidak pegal lagi,” ledek Sebastian sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia pun memanggil salah satu staf WO dan meminta mereka membawakan alas kaki yang datar untuk Kirana.


 


Sebastian menemui beberapa rekan bisnisnya, sementara Kirana duduk di tempat duduk keluarga sambil menunggu alas kaki penggantinya.


 


“Nana,” panggilan yang spesial itu membuat Kirana langsung menoleh dan mendapat Steven berdiri di sana tanpa Raven.


 


“Steve,” sapa Kirana saat pria itu sudah mendekat. “Raven mana ?”


 


“Sudah pulang bersama opa dan omanya.”  Kirana mengangguk sambil tersenyum.


 


 


“Kamu kenapa Nana ?” Steven mengerutkan dahinya.


 


“Nggak apa-apa, hanya ingin mengganti alas kaki,” sahut Kirana sambil tersenyum.


 


Ia pun meminta tolong pada staf wanita dari WO untuk membantunya melepaskan sepatu tali yang dikenakan oleh Kirana. Tapi belum sempat staf itu berjongkok di depan Kirana, tangan Steven menahannya.


 


“Biar saya saja, “ ujar Steven pada staf wanita itu.


 


“Eh jangan Steve,” Kirana menarik kakinya yang tadi sudah dijulurkan, namun Steven yang sudah berlutut di depan Kirana menarik kaki itu kembali dari balik baju pengantin panjang yang dikenakan Kirana.


 


Dari  kejauhan Sebastian yang sekali-sekali menoleh ke arah istrinya melihat kelakukan Steven dengan tatapan tidak suka. Namun ingin menyudahi pembicaraan dengan rekan kerjanya yang berasal dari Jepang rasanya tidak mudah. Pikiran Sebastian sudah tidak fokus dan pandangannya masih bolak balik ke arah Kirana.


 


Ternyata bukan hanya Sebastian yang memperhatikan tingkah laku Steven. Aleandro yang menangkap kegelisahan Sebastian, langsung berjalan mendekat ke arah Kirana dan Steven.


 


“Ya ampun bocil, nggak sangka ternyata kamu duluan yang bakalan nikah di antara kita bertiga. Ternyata paling kecil paling genit, ya,” Aleandro meledek Kirana sambil ikut berlutut di sebelah Steven.


 


“Eh mau ngapain kamu Al ?” Kirana mengerutkan dahinya melihat tangan Aleandro terulur juga hendak membantunya mengganti sepatu.


 


“Kamu itu selalu ditemani dua pangeran saat sekolah. Sekarang dua pangeranmu ini akan melepaskanmu untuk menjadi tanggungjawab Pak Bastian,” sahut Aleandro santai sambil melepaskan tali sepatu Kirana.


 


Steven sendiri ikut menautkan kedua alisnya, tidak menyangka kalau akan ketemu Aleandro di sini dan ikut memperlakukan Kirana dengan istimewa. Padahal tanpa sepengetahuan Steven dan Kirana, Aleandro sengaja melakukannya untuk meredam kekesalan hati Sebastian.


 


Ternyata aksi ganti sepatu pengantin perempuan oleh dua pangeran tampan yang merupakan orang-orang penting tidak luput dari juru foto yang masih sibuk mengambil gambar-gambar secara candid.


 


“Kebetulan masih ada fotografer. Aku mau ambil foto kita bertiga seperti waktu kamu baru masuk SMP. Pada ingat nggak ?”


 

__ADS_1


Aleandro melambaikan tangannya memanggil juru foto sementara tangan satunya mengeluarkan handphonenya. Ia pun menunjukkan foto yang sudah di repro di galeri handphonenya.


 


Kirana dan Steven tidak percaya kalau Aleandro masih menyimpan foto mereka bertiga. Saat itu Kirana baru saja lulus dari SD, Aleandro lulus SMP dan Steven naik ke kelas 11. Masing-masing masih mengenakan seragam beda tingkat. Putih merah, Putih biru dan putih abu-abu.


 


Mereka pun mulai bersiap dengan posisi Kirana duduk dan dua pria tampan itu berdiri, berbanding terbalik dengan foto yang ditunjukan oleh Aleandro dimana Kirana berdiri merangkul bahu kedua pria tampan yang sedang duduk.


 


“Sepertinya sudah fixed kalau aku yang terakhir mengundang kalian datang ke pernikahan. Bukan masalah nggak tahu kapan pestanya, tapi kapan dapat pacarnya,” ujar Aleandro sambil tergelak.


 


“Makanya jangan terlalu banyak membuat kriteria kalau cari pacar,” cibir Kirana.  “Nanti pas cari istri baru seleksi ketat.”


 


“Sepertinya aku harus belajar banyak sama Pak Bas,” sahut Aleandro sambil tergelak.


 


“Kapan pun kamu mau, aku siap kok membagi ilmu,” suara Sebastian menyela pembicaraan ketiganya. Pria itu langsung mencium kening istrinya di depan para sahabat itu.


 


“Duh, jangan pamer kemesraan gitu dong, Pak Bas. Hati jones jadi meronta-ronta kepingin juga,” seloroh Aleandro sambil tertawa.


 


“Sudah kebiasaan, nggak bisa dihilangkan,” jawab Sebastian santai dan menempati kursi di sebelah Kirana setelah memberi isyarat pada Steven untuk menggeser duduknya ke bangku sebelahnya.


 


“Awas kalau pas belajar minta acara praktek lapangan segala,” ancam Kirana sambil melotot kepada Aleandro.


 


“Dih, belum jadi istri 24 jam udah posesif begitu,” cebik Aleandro. “Sejak kapan kamu jadi perempuan yang perhatian dan posesif begitu.”


 


“Soalnya jaman sekarang kata cewek-cewek itu lebih menantang merebut suami orang daripada pacar. Apalagi nggak lihat suamiku ini ? Tampang pria yang mengundang cewek-cewek untuk menggodanya,” ujar Kirana sambil memegang lengan Sebastian.


 


Suaminya itu tertawa sementara Aleandro mencibir pada Kirana. Hanya Steven yang memilih diam sambil tersenyum tipis.


 


“Memangnya Kirana dulu itu cewek model gimana, Al ? Aku aja berasa istriku ini sekarang jadi gampang emosi dan suka ngambek. Dan benar banget katamu, Al, sekarang jadi wanita posesif,” ledek Sebastian sambil melirik Kirana.


 


“Kalau mau tahu gimana Kiran dulu, nanti saya ceritakan pas kita berdua Pak Bas. Kalau sekarang, bisa-bisa saya bukan hanya dipelototi sama Kiran, tapi babak belur keluar ruangan,” sahut Aleandro sambil menaik turunkan alisnya.


 


“Eehh awas ya berani ngeracunin suamiku ini,” omel Kirana sambil melotot pada Aleandro.


 


“Bahagia banget loh, Al, sekarang dipanggil suamiku,” ledek Sebastian sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kirana. Tawa bahagia terdengar dari suara Sebastian.


 


 


 


Saat mereka asyik berbincang, mommy Amelia dan mama Lia mendekati mereka. Ternyata Kirana harus segera ke kamar karena ada tim make up yang akan membantu Kirana membersihkan wajah dan rambutnya.


 


“Awas ya, jangan mengotori pikiran suamiku dengan kebiasaanmu !” ancam Kirana sebelum ia berlalu dari meja.


“Sudah naik sana dan siap-siap lembur malam ini,”ledek Aleandro sambil mengibaskan tangannya menyuruh Kirana mengikuti mama dan mertuanya.


“Semoga saja Pak Bas nggak lupa aku suruh naik,” ledek Aleandro kembali dan membuat Kirana langsung cemberut.


Sebastian ikut tertawa melihat Kirana mengerucutkan bibirnya. Ia bangun dari kursinya dan mencium pipi Kirana sambil merangkul pinggang gadis itu.


“Siap-siap untuk malam kedua kita. Jangan sampai ketiduran, karena tetap akan aku bangunkan,” bisik Sebastian pelan di telinga Kirana.


Wajah wanita itu langsung merona dan memukul dada Sebastian yang kembali tertawa.


Steven menatap semuanya itu dengan hati yang terkoyak. Tapi mau bagaiman lagi, ia hanya bisa pasrah dengan nasibnya yang sekarang berstatus papa seorang anak berusia hampir tiga tahun.


 


Di dalam grandballroom terlihat hanya tinggal keluarga. Papa dan Kendra kembali ke kamar yang disediakan untuk keluarga. Daddy Richard masih berbincang dengan uncle Raymond dan beberapa tetua yang Kirana belum hafal namanya dan kedudukanmereka dalam susunan keluarga.


 


“Mommy dan mama kamu langsung balik ke kamar ya, mau istirahat. Mereka kan menemani dan membantumu di kamar,” ujar mommy Amelia saat mereka sudah berada dalam lift.


 


Selain Kirana, mama Lia dan mommy Amelia, ada dua staf wanita dari salon yang dipilih oleh mommy Amelia.


 


“Terima kasih untuk hari ini , Mom, Mama,” ujar Kirana sambil tersenyum.


“Syukurlah semua bisa berjalan dengan baik dan lancar,” sahut mama Lia.


 


Tidak lupa Kirana memberikan pelukan pada mama Lia dan mommy Amelia saat mereka keluar lebih dulu di lantai 7, sementara kamar Kirana dan Sebastian di lantai 15.

__ADS_1


__ADS_2