Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 51 Meminta Restu


__ADS_3

Ternyata Sebastian membuktikan kata-katanya yang ingin segera menjadikan Kirana istri sahnya.


Di hari yang sama Sebastian akan langsung menemui mama Lia dan papa Heru untuk menyampaikan rencana kedatangan orangtuanya melamar Kirana.


Setelah pekerjaannya selesai, Sebastian langsung mengajak Kirana pulang, tujuannya menemui orangtua Kirana.


“Tapi ini masih jam 3 sore, Bee. Papa juga belum pulang.”


Kirana yang masih disibukkan dengan pekerjaan menolak ajakan Sebastian untuk meninggalkan kantor.


“Kita mampir ke mal dulu. Aku mau ajak kamu belanja. Selama jadi pacar kamu, belum pernah kita belanja berdua, biasanya kamu sama mommy terus.”


Kirana menggeleng. “Pemborosan ! Baju dari Tante Amelia saja masih ada yang belum aku pakai. Lemari aku penuh juga.”


Sebastian bertolak pinggang di depan meja Kirana dengan tatapan tajam melihat Kirana.


“Nggak ada bantahan Kirana Gunawan ! Mau jalan sendiri atau aku gendong sampai ke mobil ?”


Kirana mencibir kesal, namun ia tetap menuruti permintaan Sebastian. Beberapa dokumen yang masih harus diperiksanya, diberikan pada Dion untuk diselesaikan. Asisten Sebastian itu sejak tadi hanya jadi pengamat saja. Dion tidak mau sampai kena amuk


Boss nya seperti tadi pagi.


Akhirnya keduanya mampir ke Mal. Seperti kata Sebastian, mereka berbelanja pakaian yang sengaja sewarna untuk acara lamaran. Belum lagi sepatu yang wajib dibeli oleh Kirana meskipun sudah banyak alasan untuk menolaknya. Untung saja Sebastian tidak memaksa saat menawarkan tas yang cocok dengan pakaiannya.


Jam 6 sore keduanya keluar dari Mal langsung menuju ke rumah Kirana. Jalanan cukup macet hingga membutuhkan waktu 1 jam lebih 10 menit untuk sampai di rumah Kirana.


Mama Lia yang sempat dikabari Kirana tentang rencana Sebastian yang ingin bicara, sudah menyiapkan makan malam sederhana.


Malam itu mereka menikmati masakan mama Lia tanpa Kendra. Adik Kirana itu sedang ada tugas proyek dengan teman kampusnya.


Selesai makan, keempatnya duduk di ruang keluarga untuk membicarakan maksud kedatangan Sebastian.


“Apa kamu sudah yakin dengan Kirana, Bastian ?” Tanya papa Heru sambil menatap kekasih putrinya.


“Saya sudah yakin, Om. Mommy dan daddy juga sangat mendukung niat saya.”


“Kalian pacaran belum lama kan ? Apa tidak terlalu terburu-buru mau menikah ?” Mama Lia memegang tangan Kirana yang duduk di sebelahnya.


“Dan maaf ya Bastian sebelumnya,” ujar papa Heru. “Kami sadar kalau keadaan keluarga kami ini bagaikan bumi dan langit dengan keluarga Tuan Richard.”


“Untuk masalah yang Tante tanyakan, saya sudah yakin dengan Kirana sekalipun baru 7 bulan mengenalnya dan 4 bulan kami berpacaran. Seperti Om dan Tante tahu kalau saya pernah gagal menikah sebelum ini, jadi saya belajar untuk tidak lagi membuat kesalahan yang sama. Saya yakin telah memilih Kirana untuk menjadi calon istri saya. Meskipun di mata orang, Kirana adalah istri kedua saya, tapi untuk saya sendiri, Kirana adalah yang pertama dan terakhir.”


Sebastian menatap Kirana sambil tersenyum membuat gadis itu tersipu sambil senyum-senyum.

__ADS_1


“Dan untuk masalah perbedaan status ekonomi, keluarga saya tidak mempermasalahkannya, Om. Mereka sudah tahu sejak awal keadaan Om dan Tante sebagai keluarga Kirana.”


“Memangnya kapan orangtua kamu akan datang ke rumah kami ?” Tanya mama Lia.


“Secepatnya Tante, kalau memang Om dan Tante berkenan, hari Sabtu atau Minggu ini.”


“Bee,” Kirana terkejut mendengar ucapan Sebastian. “Hari Sabtu itu hanya tinggal 3 hari lagi.”


Sebastian tertawa pelan dan menganggukan kepalanya.


“Om dan Tante tidak usah repot menyiapkan makan siang. Rencananya setelah prosesi lamaran, saya mau mengajak kedua keluarga makan di luar saja Tante.”


“Kirana sendiri bagaimana ?” Papa Heru ganti menatap putrinya yang lebih banyak menunduk.


“Kamu sudah siap menjalani rumahtangga dengan Sebastian ? Umur kamu baru mau 22 tahun.”


“Kirana siap, Pa,” tanpa berani menatap mata papanya terlalu lama, Kirana menjawab malu-malu sambil tersenyum.


Sebastian yang duduk di seberangnya menjadi gemas melihat calon istrinya yang biasa bawel ini mendadak jadi pendiam dengan wajah malu-malu.


Kalau tidak ada kedua calon mertuanya, sudah habis ia cubiti pipi chubby Kirana dan dihujaninya dengan ciuman sampai gadis itu mengomel dan bibirnya mengerucut.


“Bastian, Kirana, papa dan mama hanya berpesan kalau pernikahan itu tidak semudah dan seindah yang kalian bayangkan. Ada banyak kerikil dsn gesekan yang harus dihadapi dalam perjalanan kalian,” nasehat papa Heru.


Sebastian ikut tertawa dan sedikit merasa tidak enak. Apalagi masalah itu sampai melibatkan semua keluarga Kirana.


“Masalah foto itu saya minta maaf, Om. Saya sedang menyelidiki kenapa sampai ada foto seperti itu dan mencari tahu orang yang mengirimkannya pada Kirana.”


“Kamu juga harus hati-hati, Bas. Kamu bukan sekedar karyawan biasa. Banyak orang yang mengincarmu karena kondisi keluargamu dan persaingan bisnis. Terbukalah pada istrimu di masa depan, supaya jangan ada orang ketiga dengan mudahnya mengganggu hubungan kalian apalagi sampai membuatnya retak.”


“Iya Om, saya akan ingat selalu masalah itu.”


“Kirana ini kurang pengalaman, Bas,” ujar mama Lia sambil tertawa pelan.


“Mama ih… Namanya juga baru kali ini pacaran jadi ya sudah pasti belum punya pengalaman.”


“Makanya mama kasih tahu sama calon suami kamu, biar Sebastian tahu kalau calon istrinya ini masih culun biar umur sudah di atas kepala 2.”


“Makanya carinya mantan duda, Ma, sudah lebih pengalaman,” Kirana terkekeh.


“Hush kamu ya, Kiran. Calon suami malah diomongin begitu,” tegur mama Lia sambil menepuk tangan Kirana yang masih terkekeh.


“Biasa Tante, hobi banget Kiran panggil saya duda. Padahal sudah cinta sama saya dari masih SD. Untung saat bertemu lagi, saya sudah berstatus duda, kalau masih jadi suami perempuan lain, langsung patah hati deh anak Tante.”

__ADS_1


Sebastian tertawa dengan ekspresi bangga. Kirana mencebik dengan wajah kesal.


“Terus aja ungkit soal itu. Bangga ya jadi duda yang berhasil bikin anak kecil mau aja terima cinta kamu ? Kalau bukan karena terpaksa, sepertinya aku perlu pikir-pikir dulu dapat duda biar rasa perjaka.”


“Kiran,” mama Lia kembali menegur sambil menepuk lengan Kirana yang sedang cenberut.


“Yakin kamu terpaksa Kiran ? Kalau iya, papa tolak nih rencana orangtua Sebastian yang mau melamar kamu,” ledek papa Heru sambil tertawa. Sebastian pun jadi ikut tertawa.


“Gimana Kiran ? Kamu terpaksa menerima lamarannya Sebastian ? Bukannya kemarin sudah pamer sama papa dan mama kalau baru dikasih cincin sama Sebastian ?” Mama Lia ikut menggoda putrinya sambil melirik ke arah cincin di jari manis Kirana.


Kirana terdiam sambil menunduk, bibirnya masih mengerucut.


Sebastian meminta ijin untuk berpindah ke sebelah Kirana dengan bahasa isyarat pada kedua orangtua Kirana yang diangguki oleh mama Lia.


“Honey,” Sebastian menggenggam jemari Kirana. “I love you,” bisik Sebastian di telinga Kirana dengan lembut..


Wajah Kirana merona mendengar bisikan cinta kekasihnya. Ia mendongak dan menatap Sebastian lalu perlahan menarik kedua ujung bibirnya.


“Kalau begitu, Bas,” papa Heru bangun sambil menepuk kedua pahanya sendiri. “Kamu pastikan saja masalah hari dan jamnya. Sepertinya om dan tante tidak ada alasan lagi untuk menolak niat baik orangtuamu.”


Papa Heru memberi kode pada istrinya supaya meninggalkan Kirana dan Sebastian.


“Sepertinya nanti malam ada yang nggak bisa tidur pulas, Bas,” ledek mama Lia sebelum mengikuti suaminya masuk kamar.


“Mama ihh…” omel Kirana. “Menjatuhkan harga diri anaknya saja.”


Mama Lia hanya tertawa sambil meneruskan langkahnya.


Sebastian langsung memeluk Kirana dan mencium pucuk kepala gadis kesayangannya.


“Terima kasih Honey, sudah memberi aku kesempatan untuk mewujudkan cintaku.”


Kirana mendongak dan membelai pipi Sebastian.


“Terima kasih juga telah memilih aku menjadi pendamping hidupmu, Bee.”


Tanpa aba-aba wajah keduanya mendekat dan perlahan bibir mereka saling bersentuhan dan mengungkapkan perasaan cinta mereka yang semakin dalam, sampai akhirnya.


“Ya ampun Kak Kiran, Kak Bas !” Pekik Kendra sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


“Nggak takut dapat kartu merah dari papa mama ? Mencemarkan mataku saja.” Dengus Kendra sambil berjalan menuju dapur.


Kirana dan Sebastian berpandangan sambil tertawa. Omelan Kendra tidak ada apa-apanya dibandingkan restu yang mereka dapat untuk mempersatukan cinta mereka dalam ikatan suci.

__ADS_1


__ADS_2