Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Menyetujui Permintaan Steven


__ADS_3

Atas permintaan Sebastian untuk menuntaskan rencananya, Kirana mengirimkan pesan pada Steven untuk mengajaknya bertemu. Sebastian sudah memastikan kalau orang-orang kepercayaannya akan selalu berada di dekat Kirana dan menjaganya dari Steven, sehingga calon istrinya itu tidak perlu merasa cemas karena merasa sendirian.


 


Seperti dugaan Sebastian, tidak sampai 30 menit, Steven langsung membalas pesan yang dikirim Kirana dan menerima ajakannya untuk bertemu. Semula Steven memaksa Kirana menemuinya di rumah sakit dengan alasan jadwal praktek dan opeasinya cukup padat dalam dua hari ke depan, tapi karena Kirana hanya memberikan pilihan bertemu di tempat yang sudah ia tentukan atau tidak sama sekali, akhirnya Steven mengalah.


 


Kirana tiba lebih dulu di salah satu café yang letaknya sengaja ia pilih tidak jauh dari rumah sakit. Hatinya tetap gelisah, meskipun tahu kalau Sebastian telah menempatkan beberapa orang untuk mengawasinya.


 


Duapuluh menit kemudian, terlihat Steven masuk ke dalam café dan tidak lama matanya langsung menangkap sosok Kirana yang sedang duduk dengan posisi menghadap ke arah pintu café.


 


“Maaf aku terlambat, Nana,” ujar Steven sambil menarik bangku yang ada di seberang Kirana.


 


“Aku juga belum lama sampai. Santai saja,” sahut Kirana sambil tersenyum. Tangannya melambai memanggil salah seorang pelayan untuk memesan makanan dan minuman.


 


Suasana café belum terlalu ramai karena masih jam 9 pagi. Sengaja Kirana meminta pagi dengan alasan ia harus bekerja setelah jam makan siang.


 


“Aku dengar kamu diberhentikan dari MegaCyber oleh Sebastian ?” Steven setelah keduanya memesan dan pelayan sudah berlalu.


 


“Ya dan sekarang aku kembali bekerja sebagai waitress di café tempatku bekerja sebelumnya,” sahut Kirana dengan wajah yang berubah sendu.


 


“Apakah Sebastian tidak mau memberikanmu nafkah sebelum menikah sampai kamu harus bekerja sebagai waitress ? Biar bagaimana kamu adalah calon istri salah satu keluarga Pratama.”


 


Kirana hanya tersenyum miris dan memandang Steven sekilas.


 


“Aku bahkan tidak yakin Sebastian akan meneruskan rencana pernikahan kami. Sebastian sudah meminta Dion menunda cetakan undangan dan membatalkan pesanan tempat pesta.”


 


“Ternyata Sebastian begitu mudah goyah hatinya. Bukankah itu membuktikan kalau ia tidak sungguh-sungguh mencintaimu ?” ujar Steven dengan wajah kesal dan emosi.


 


“Dan kamu puas sudah membuat hati Sebastian goyah ?” tanya Kirana sambil tersenyum tipis. “Bukankah memang ini tujuan akhirmu dengan mengirimkan foto dan rekaman pada Sebastian ? Apa kamu sudah puas karena keinginannmu tercapai Steve ?”  tanya Kirana dengan nada agak sinis.


 


Steven tertawa dan menyenderkan tubunya ke kursi. Ditatapnya Kirana dengan senyum menyebalkan dan tangan terlipat di depan dada.


 


“Aku hanya memberikan pancingan pada Sebastian untuk membantu mengukur kadar cintanya kepadamu, Nana. Ternyata hati Sebastian memang terlalu cetek untuk mencintaimu, hatinya lebih dipenuhi oleh Shera. Apalagi bisa kembali berdekatan dengan Shera dalam urusan pekerjaan,” lanjut Steven dengan senyuman yang terlihat licik di mata Kirana.


 


Jadi apa yang dipikirkan Sebastian memang benar. Shera dan Steven bekerjasama untuk melakukan ini semua. Terbukti keduanya tanpa sadar memberikan informasi yang mereka dapatkan satu sama lain.


 


Kirana tidak pernah menceritakan tentang kepergian Sebastian dengan Shera ke Amerika, hanya menyebutkan nama Aleandro saat bercerita pada Steven. Begitu juga dengan Shera yang begitu bangga mengatakan kalau Kirana diam-diam mendua dengan Steven, padahal Sebastian maupun Dion tidak mengatakan apapun soal foto yang dikirimkan Steven yang menjadi sumber kemarahan Sebastian.

__ADS_1


 


“Jadi semua itu kamu lakukan untuk membantuku, Steve ? Bukan membuat aku terlihat buruk di mata Sebastian hingga ia bisa saja membatalkan pernikahan kami ?” tanya Kirana dengan wajah sendu.


 


Kirana berusaha menahan diri untuk tidak menepis tangan Steven saat menyentuh jemarinya. Bukan karena Kirana bersikap sok suci hingga tidak mau tersentuh oleh Steven, tapi mengingat bagaimana pria di depannya ini sedang berpura-pura juga untuk menghancurkan hubungannya dengan Sebastian, rasanya Kirana ingin berdiri dan menamparnya.


 


“Sudah aku katakan berkali-kali, Nana,” Steven menggeser bangkunya supaya lebih dekat dengan Kirana. “Aku sangat mencintaimu sejak dulu, sekarang dan di masa depan. Dan hanya aku yang akan selalu mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Tinggalkan Sebastain dan kembalilah padaku, aku akan selalu membahagiakanmu.”


 


Kirana sedikit bergidik saat tangan Steven mengelus jemarinya dan menggenggamnya dengan erat. Rasa dingin yang menjalar di telapak tangannya justru diartikan oleh Steven sebagai ungkapan rasa gugup Kirana karena berdekatan dengannya.


 


Kirana terdiam beberapa saat sampai akhirnya pelayan mengantarkan pesanan keduanya. Kirana menarik jemarinya dari genggaman Steven dan mengambil gelas minuman yang berisi cokelat panas pesanannya. Tubuhnya sedikit dimundurkan namun tidak sampai bersender pada bangku.


 


Steven pun mengambil cangkir hot coffee latte pesanannya dan meniupnya perlahan sebelum meneguknya. Suasana sempat hening beberapa saat.


 


Kirana melirik saat Steven mengambil handphone dari saku kemejanya dan diletakkan di atas meja dalam keadaan tertelungkup. Ia yakin kalau Steven kembali mengaktifkan tombol perekam suara saat ini.


 


“Aku akan mempertimbangkan permintaanmu kalau kamu juga akan menuruti permintaanku,” ujar Kirana masih sambil memegang gelas cokelat panasnya.


 


Kirana sengaja tidak meletakkan kembali gelasnya, supaya Steven tidak mengambil kesempatan untuk memegang jemarinya.


 


 


“Jadi hubungan kita akan diawali dengan sebuah perjanjian ?” tanya Kirana dengan senyuman tipis. “Hubungan cinta macam apa yang memerlukan perjanjian hitam di atas putih ?”


 


“Bukankah untuk mengikat suatu hubungan memang diperlukan pengesahan hukum ?” sahut Steven sambil tertawa pelan.


 


“Bahkan sebuah pernikahan membutuhkan lembaga resmi untuk mengesahkannya. Tidak cukup hanya dengan ucapan di depan pemuka agama atau adat. Hmmm… aku ralat. Pernikahan di depan pemuka agama sekalipun mengharuskan pasangan membubuhkan tandatangan di atas dokumen supaya pernikahan mereka dianggap sah, bukan ?”


 


“Jadi perjanjian macam apa yang akan kamu tawarkan padaku, Steve ? Bukankah kamu pernah mengatakan kalau memang terbukti Raven anakmu, kamu hanya akan mengakuinya secara hukum, tapi tetap akan menjadikan aku sebagai istrimu ?” tanya Kirana dengan senyuman sinis.


 


“Ingatanmu masih bagus seperti dulu, Nana. Dengan atau tanpa tes DNA aku tetap akan menjadikanmu satu-satunya wanita dalam hidupku. Hanya bedanya dengan melakukan tes DNA, aku sudah bisa mengabulkan permintaanmu dan menjawab rasa penasaranmu,” jawab Steven sambil tertawa.


 


Kirana menghela nafas. Ternyata Steven adalah seorang lelaki yang sangat menyeramkan. Ia bersyukur karena hatinya  tahu kemana harus berlabuh.


Tidak menjadi jaminan kalau cinta Steven yang terlalu berlebihan akan membuatnya bahagia, bahkan mungkin akan membuat Kirana justru sengsara karena hidup dalam obsesi pria mapan seperti Steven yang memiliki kesempatan untuk melakukan segalanya.


 


“Tidak perlu ada perjanjian tertulis, Steve,” ujar Kirana setelah diam beberapa saat.


 

__ADS_1


“Aku tahu kalau kamu sedang merekam kembali percakapan kita saat ini, sama seperti yang kamu lakukan saat kita makan di hotel waktu itu. Bahkan mungkin saja kamu juga merekam dalam bentuk video dengan kondisi kamera yang aku sendiri tidak tahu keberadaannya,” ujar Kirana sambil tertawa sinis dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


 


“Hukum negara ini sudah mengakui akan kecanggihan teknologi. Tidak hanya lembaran kertas yang berisi tulisan bisa dijadikan bukti, tapi rekaman suara bahkan tulisan pesan di handphone pun diakui sebagai bukti yang memiliki kekuatan hukum. Jadi simpanlah baik-baik rekaman itu jika suatu saat kamu membutuhkannya,” ujar Kirana sambil menatap Steven dengan pandangan jijik.


 


Semua yang ada di dalam diri dokter muda itu tidak lagi menarik simpati Kirana dan membuatnya ingin mempertahankan persahabatan mereka.


Satu hal yang tidak bisa dihindari olehnya mengenai hubungan Steven dengan Sebastian yang sama-sama berdiri sebagai para pewaris keluarga Pratama.


 


“Baiklah kalau memang itu kemauanmu, Nana,” ujar Steven sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menautkan kedua tangannya yang bertopang pada pegangan kursi.


 


“Tapi aku keberatan dengan persyaratanmu tentang dengan atau tanpa tes DNA itu, aku tidak punya pilihan lain dan harus menjadi istrimu. Aku sangat-sangat keberatan dengan point itu. Kalau sampai terbukti Raven adalah darah dagingmu, mejauhlah dari kehidupanku, Steve. Entah apakah aku tetap dengan Sebastian atau tidak, aku tidak ingin memiliki hubungan apapun padamu, bahkan aku berharap tidak pernah mengenalmu.”


 


Bukannya merasa sedih dengan ucapan Kirana, Steven malah tergelak.


 


“Kalau kamu tetap memaksakan diri menjadi istri Sebastian, bagaimana mungkin kamu membuat aku jauh dari hidupmu ? Lagipula kenapa kamu masih tidak bisa menerima kenyataan yang terpampang di depanmu kalau Sebastian itu sudah mulai memaafkan Shera dan memberikan kesempatan pada mantan istrinya itu untuk memperbaiki kesalahannya ?”


 


“Bagaimana kamu begitu yakin kalau Sebastian membuka hatinya kembali untuk Shera ?”


 


“Kamu yakin mau melihat buktinya ?” tanya Steven dengan tawa mengejek. “Apa hatimu kuat saat melihat bukti yang bisa aku perlihatkan ? Bukankah kamu telah bertemu langsung dengan mereka belum lama ini ? Mereka sedang memcoba untuk mulai kencan berdua dan membahas soal rencana untuk balik lagi.”


 


Hati Kirana sedikit bergetar. Bukti apalagi yang dimiliki Steven tentang hubungan Shera dan Sebastian ? Apakah foto-foto atau percakapan mereka selama keduanya tugas bersama di Amerika ? Tapi bukankah ada Aleandro dan Dion yang berjanji akan menjaga Sebastian untuknya.


 


Kirana terdiam sambil meremat kedua jemarinya karena gelisah. Steven tersenyum licik saat melihat kegelisahan Kirana. Padahal ia tidak punya foto apapun tentang Shera dan Sebastian, namun begitu mudahnya membangkitkan rasa gelisah di hati Kirana.


 


Kirana memandang wajah Steven dengan sendu. Pria itu sudah merubah ekspresinya dengan tatapan simpati pada kecemasan Kirana. Ia meraih jemari gadis itu yang masih menaut ke dalam genggamannya sambil memutar posisinya hingga berhadapan dengan Kirana.


 


“Aku akan selalu ada untukmu, Nana. Jangan biarkan kekecewaanmu pada Sebastian membuat hatimu tertutup pada cinta yang lain.”


 


Reflek Kirana menghindar saat salah satu tangan Steven hendak mengusap pipinya. Untuk yang satu ini, Kirana sungguh-sungguh belum bisa berpura-pura tidak masalah. Perasaan jijiknya lebih kuat daripada niatnya untuk membantu Sebastian mencari pembuktian.


 


Kirana menghela nafas. Semakin Steven emosi, semakin terbuka sedikit demi sedikit hubungannya dengan Shera yang benar-benar berniat jahat.


Buktinya Steven tahu kalau Kirana bertemu Sebastian dan Shera di café dua hari yang lalu. Padahal Kirana tidak menceritakan kalau ia bertemu dengan Shera dan Sebastian, tapi pria itu mengatakan kalau Kirana bertemu dengan calon suaminya yang sedang kencan dengan mantan istrinya.


 


Kirana menundukkan kepalanya seolah penuh dengan kegelisahan. Tanpa terlihat, ia tersenyum tipis melihat pancingannya mengenai Steven. Diliriknya alat perekam di bawah meja yang sudah dipasang oleh orang suruhan Sebastian.


 


Kali ini baik Sebastian maupun Kirana tidak mau lagi kecolongan soal percakapan dengan Steven yang sudah diputarbalikkan. Karena baik Kirana maupun Sebastian yakin, bukan tidak mungkin perbincangan hari ini akan kembali diatur oleh Steven hingga seolah-olah Kirana menyetujui semua keputusan Steven.

__ADS_1


 


 


__ADS_2