
Saat ini Kirana sudah berada di dalam mobil bersama mommy Amelia. Rencananya akan mengantar mommy pulang baru setelahnya Pak Tomo mengantar Kirana pulang.
“Kamu apakan Tante Miranda sampai mukanya tambah jelek begitu ?” tanya mommy Amelia dengan wajah serius.
Kirana terkejut mendengar pertanyaan mommy Amelia dan hatinya merasa tidak enak karena merasa telah membuat malu mertuanya di depan teman-teman sosialitanya.
“Maafkan sikap Kiran tadi, Mom. Maaf kalau Kiran sudah berbuat kelewat batas dan membuat Mommy malu,” ujarnya dengan wajah menunduk.
“Kenapa mommy harus malu ?”
“Sikap Kiran terhadap Tante Miranda. Pasti teman-teman Mommy menganggap Kiran sebagai mantu yang tidak tahu diri karena berani melawan Tante Miranda.”
Bukannya marah, mommy Amelia malah tertawa dan meraih jemari Kirana dan ditepuk-tepuknya punggung tangan Kirana.
“Apa yang dikatakan oma sombong itu ? Dia membanggakan Reina yang lebih pantas menjadi istri Sebastian ?” Mommy Amelia terkekeh.
“Kok Mommy tahu ?” Kirana tercengang menatap mommy Amelia.
“Beberapa teman mommy memang termasuk para wanita yang menganggap kalau kekayaan dan kedudukan suami-suami mereka di atas segalanya. Tidak tahukah mereka kalau dalam sekejap Tuhan bisa membinasakan semuanya. Suatu saat nanti, Mommy akan berbagi rahasia denganmu. “
Ditepuk-tepuknnya kembali jemari Kirana sambil tersenyum, sementara pandangan mommy Amelia menatap lurus ke depan.
“Kita harus menjadi wanita-wanita kuat sebagai pendukung para suami, Kirana. Kelak kamu akan mengalami apa yang sudah Mommy lewati. Jangan pernah ragu untuk melakukan sesuatu yang benar dan niat yang baik. Dan janganlah lupa banyak-banyak berdoa dan beribadah, karena banyak hal yang diluar kekuatan kita sebagai manusia, hanya bisa diselesaikan dalam iman. Bahkan harta berlimpah tidak sanggup membeli jalan keluarnya.”
“Mom,” panggil Kirana pelan.
“Hmm… kamu mau tanya apa, sayang ?” Mommy Amelia menoleh dan tersenyum arif menatap Kirana.
“Maaf kalau Kiran lancang bertanya. Terkadang Kiran tidak terlalu percaya diri untuk menerima kenyataan kalau daddy dan mommy menerima Kiran bahkan keluarga Kiran untuk menjadi calon istri Mas Bastian.Kalau Kiran sering baca cerita atau nonton film, sudah sewajarnya kalau orang-orang kaya akan melakukan seleksi ketat calon menantu anak-anak mereka, Apa daddy dan mommy juga melakukan hal yang sama pada Kiran ? Apalagi masalah Tante Rosa selalu menjadi mimpi buruk bagi mama dan Kiran. Sudah pasti Tante Rosa akan memberikan banyak informasi tentang kami pada daddy atau mommy.”
Mommy Amelia malah tertawa mendengar ucapan Kiran, apalagi sampai membawa nama-nama Rosa, kakak iparnya itu.
__ADS_1
“Semua orangtua entah mau konglomerat atau keluarga sederhana pasti akan mencari tahu tentang calon menantu mereka. Bagaimana keluarganya, pekerjaannya, kehidupan sehari-harinya, dan sebagainya. Daddy dan mommy juga melakukan yang sama untuk Sebastian. Apalagi putra tunggal kami itu pernah dibohongi oleh wanita yang sempat berstatus istrinya. Kalau sore itu Shera tidak muntah-muntah karena terlalu letih, maka kehamilannya tidak akan pernah kami ketahui, dan Raven akan menyandang status cucu kami. Tapi seperti yang tadi Mommy katakan kalau ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, hanya dengan doa dan iman. Meski Sebastian sempat mensahkan pernikahannya secara agama dan negara, namun ia tidak sempat melakukan kewajiban batinnya sebagai suami. Setidaknya ia tidak terjebak dalam tanggungjawab atas perbuatan yang tidak pernah ia lakukan.”
“Jadi benar kalau Mas Bastian dan Shera tidak pernah melakukan….” Kirana ragu-ragu meneruskan kalimatnya. Mommy Amelia tertawa.
“Hubungan suami istri maksudmu ?” Kirana mengangguk dengan wajah malu-malu.
“Melihat kemarahan Sebastian waktu mengetahui hasil pemeriksaan dokter, sudah dipastikan kalau calon suami kamu itu pria yang tidak akan menuntut lebih sebelum hubungannya disahkan. Jadi kalau masalah itu, jangan pernah meragukan Sebastian. Paling tidak, dia tidak sembarangan membeikan benihnya pada wanita-wanita yang pernah berusaha menggodanya. Padahal kalau Sebastian mau, semua itu bisa didapatkannya dengan mudah. Tapi sepertinya anak mommy itu sama seperti daddy-nya, tipe setia pada satu wanita. Kekurangan mereka adalah terlalu gila kerja. Kalau sudah fokus dengan pekerjaan, mereka sering lupa kalau sudah punya isteri di rumah. Jadi kamu siap-siap saja kalau Sebastian memperlakukanmu seperti itu.”
“Sepertinya tidak perlu menunggu sampai berstatus istri, Mom,” Kirana menghela nafas. Sekarang saja Mas Bastian jarang banget kasih kabar,” bibir Kirana mengerucut dan wajahnya terlihat sendu. Mommy Amelia kembali tertawa.
“Biar nanti daddy yang akan memberikan hukuman karena sudah mengabaikan calon istrinya yang imut ini,” Mommy Amelia menoel dagu Kirana sambil tertawa.
Kirana hanya bisa tersipu saat sadar kalau dirinya tidak mampu menahan kekesalan karena merasa diabaikan oleh Sebastian.
Tanpa terasa, mobil yang dibawa oleh Pak Tomo memasuki halaman rumah keluarga Richard Pratama. Mommy Amelia meminta Kirana untuk turun dan menemaninya makan malam. Bahkan kalau Kirana mau, mommy Amelia meminta Kirana menginap untuk menemaninya.
“Kiran, bisa tolong ambilkan barang kiriman untuk Mommy di atas. Sepertinya pelayan salah membawanya ke kamar Sebastian.,” pinta mommy Amelia saat mereka memasuki rumah.
“Baik, Mom. Kiran naik dulu.”
Mommy Amelia mengangguk dan berjalan menuju kamarnya sementara Bik Sum mendahului Kirana naik ke lantai dua dimana kamar Sebastian berada.
“Silakan Nona, pintu tidak dikunci.”
Kirana mengangguk dan perlahan membuka pintu kamar. Dihirupnya dalam-dalam wangi khas Sebastian yang dirindukannya. Matanya mengernyit, wangi parfum yang biasa dipakai Sebastian tercium cukup tajam, padahal orangnya sudah hampir dua minggu tidak menempati kamar ini.
Kirana berjalan menuju sofa. Ia senyum-senyum sendiri mengingat pertama kali diminta menjadi kekasih Sebastian saat dirinya tercebut ke kolam renang karena berdebat dengan Shera. Sebastian memangkunya di sofa dan dengan gaya yang jauh dari romantis, pria itu meminta Kirana menjadi kekasihnya.
Dari sofa, Kirana berjalan menuju tempat tidur. Aroma parfum Sebastian semakin kuat tercium. Kirana yakin kalau Sebastian sering tertidur tanpa mengganti baju kerjanya, karena itu wangi parfumnya begitu menempel.
Kirana duduk di kaki ranjang menghadap ke sofa. Hubungannya belum terlalu lama, tapi mengapa ia merasa begitu dekat dengan Sebastian. Tangannya mengusap permukaan tempat tidur, hingga menyentuh sesuatu di tepi ranjang.
__ADS_1
Kirana meraba-raba benda keras yang dipegangnya. Hatinya sempat deg-deg kan, membayangkan ada mahluk lain di kamar ini. Namun rasa penasaran membuatnya berdiri dan menyentuh benda keras itu. Matanya mendelik saat merasakan seperti jemari yang lengkap. Dengan sedikit takut-takut, Kirana memegang ujung bed cover dan membukanya cepat-cepat dengan mata terpejam.
Kupingnya berusaha mendengar apakah ada suara aneh yang keluar dari balik bed cover. Perlahan Kirana membuka matanya seperti orang mengintip. Dan akhirnya ia membelalak saat melihat seseorang terbaring di sana dengan mata terpejam,
“Bee !” pekiknya. Kirana langsung menimpa pria yang sedang dirindukannya.
Sebastian yang sedang tertidur mengerjapkan matanya, tangannya langsung merengkuh tubuh Kirana yang masih berada di atasnya dan menyusupkan kepalanya di ceruk leher Sebastian.
“Sengaja nggak bilang-bilang kalau mau pulang ?” Bibirnya mengerucut dengan posisi wajahnya sekarang berada di atas muka Sebastian,
Pria yang masih merasa sedikit mengantuk tersenyum lalu merubah posisinya, merebahkan Kirana di atas ranjang dan Sebastian ada di atasnya.
“Jangan cemberut begitu, nanti aku jadi ingin cium-cium terus. Kalau kebablasan gimana ?” Sebastian terkekeh. Matanya mendadak segar melihat calon istrinya datang. Bukannya rersenyum, wajah Kirana malah tambah cemberut.
Sebastian langsung menciumi seluruh wajah Kirana seperti kebiasaannya , hingga gadis itu terpekik kegelian sekaligus mengomel pada Sebastian.
Sebastian tertawa dan merebahkan tubuhnya di sebelah Kirana sambil menatap langit-langit kamar. Kirana langsung memeluk Sebastian dan menyusupkan wajahnya di dada bidang calon suaminya. Rasannya ingin menangis karena kesal sekaligus rindu, namun Kirana menahannya kuat-kuat. Ia tidak mau menjadi perempuan yang cengeng di hadapan Sebastian.
Perlahan matanya memejam karena menahan air mata yang ingin keluar hingga akhirnya Kirana benar-benar tertidur dalam pelukan Sebastian.
Merasa tidak ada pergerakan dari Kirana, Sebastian menoleh ke arah Kirana dan melihat calon istrinya itu sudah tertidur pulas. Dieratkan pelukannya hingga Kirana sedikit menggeliat, mencari posisi yang nyaman.
Sebastian mencium kening Kirana dengan penuh kerinduan yang sama besarnya dengan gadis itu.
“I love you so much, my Kirana. Aku juga sangat merindukanmu. Terima kasih sudah menjadi wanita kuat yang selalu ada untukku.”
Kali ini Sebastian sudah tidak bisa menahan untuk tidak mencium bibir Kirana, namun gadis itu hanya menggeliat sesaat. Melihat Kirana tertidur pulas karena letih, Sebastian menghentikan ciumannya dan tersenyum, lalu kembali memejamkan matanya tanpa melepaskan pelukannya.
__ADS_1