Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 74 Rencana Sebastian


__ADS_3

Sementara di dalam ruangannya Sebastian terlihat kacau. Ia sendiri tidak ingin melakukan itu semua pada Kirana, tetapi seperti perkiraan Kirana, Sebastian sudah melakukan pengecekan ulang ke hotel untuk mengirimkan rekaman CCTV dan memastikan pada Aldo mengenai rekaman yang dikirim oleh Steven.


 


Hatinya terbakar cemburu saat melihat Kirana begitu bahagia menikmati makan malam di restoran hotel berdua dengan Steven. Bahkan calon istrinya itu membiarkan Steven memakaikan apron untuknya.


 


“Pak Bas, baru saja  Pak Rano mengirim pesan pada saya, kalau surat pengunduran diri Kirana belum ditandatangani Pak Bastian.”


 


“Mengundurkan diri ?” Sebastian yang sedang menatap handphonenya mendongak dengan wajah tercengang. “Mana bisa sembarangan berhenti seperti itu ?” ujarnya dengan nada marah.


 


“Bisa Pak Bas, karena status Kirana saat ini hanyalah karyawan kontrak,” sahut Dion menjelaskan.


 


“Lalu dimana dia sekarang ?” tanya Sebastian mengerutkan dahinya.


 


“Sudah meninggalkan kantor dan handphonenya juga sudah tidak aktif.”


 


“Shit !” omel Sebastian.


 


“Segera kirim orang untuk mengawasi rumah keluarganya lagi dan juga satu orang untuk mengikuti semua kegiatan Kirana di luar rumah,” lanjut Sebastian.


 


“Masalah undangan dan tempat untuk pesta pernikahan Pak Bas ?”


 


“Rubah semuanya dari 13 minggu menjadi 4 minggu. Aku akan mempercepat pernikahan kami sebelum Steven bertindak lebih jauh.”


 


“Jadi sebetulnya Pak Bas tidak sepenuhnya percaya dengan foto dan rekaman itu ?” tanya Dion sambil menautkan alisnya. “Dan sengaja membuat Kirana salah paham ?”


 


“Aku ingin tahu sampai sejauh mana Steven menganggap rencananya berhasil. Aku sengaja tidak memberitahukan pada Kirana supaya ia lebih bisa bersikap natural dan Steven akan mempercayainya.”


 


Dion menarik nafas lega dan menarik kedua sudut bibirnya.


 


“Saya lega mendengarnya. Saya pikir Pak Bastian bersungguh-sungguh akan membatalkan pernikahan dan melepaskan Kirana hanya karena kiriman foto dan rekaman suara. Sepertinya pengalaman Esti harus membuat Pak Bastian lebih waspada.”


 


“Makanya aku ingin mempercepat pernikahanku dengan Kirana.”


“Sepertinya Tuan dan Nyonya Richard juga perlu diberitahu agar tidak terjadi kesalahpahaman. Apalagi Pak Bas tahu kalau Nyonya Amelia bisa melakukan tindakan yang tidak kita duga bila menyangkut masalah Kirana.”


 

__ADS_1


Sebastian menghela nafasnya  dan menyatukan kedua jemarinya  dengan menopang pada pegangan kursi.


 


“Aku sangat merindukan Kirana, Yon. Rasanya tadi tidak tahan ingin memeluknya, makanya aku suruh dia duduk di dekatmu situ supaya aku bisa menahan diri.”


 


“Sebetulnya akan lebih baik kalau Pak Bas bicara terus terang dengan Kirana. Seperti pengalaman yang lalu, Kirana yang salah paham bisa saja mengambil tindakan di luar rencana Pak Bas. Jadi lebih baik jangan terlalu lama menjelaskannya pada Kirana.”


 


Sebastian mengangguk-angguk dan bangun dari kursinya.


 


“Sepertinya aku harus langsung menemui daddy dulu sebelum mommy salah paham seperti ucapanmu tadi. Yon. Coba tolong tanyakan ke Amir soal jadwal daddy pagi ini.”


 


Dion pun pamit keluar dari ruangan Sebastian. Sampai di mejanya, ia melihat banyak catatan dan beberapa kunci yang ditinggalkan oleh Kirana. Dion menarik nafas panjang. Sepertinya Kirana siap melepaskan semuanya hanya karena salah paham dengan sikap Sebastian.


 


Dion pun langsung menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk mengawasi rumah keluarga Kirana dan membuntuti Kirana yang saat ini tidak bisa dilacak keberadaannya karena posisi handphonenya sedang tidak aktif. Bahkan kalung pemberian Sebastian yang berisi alat pelacak, juga ditinggalkan di atas meja Dion, dekat buku agendanya.


 


Selesai mengecek kegiatan Tuan Richard hari ini lewat Amir, Dion segera melaporkannya pada Sebastian. Dan tanpa menunda lagi, Sebastian mengirimkan pesan pada kedua orangtuanya mengajak mereka makan siang. Ucapan Dion patut dipertimbangkan. Mommy pasti akan segera dihubungi oleh pihak hotel mengenai pembatalan acara Sebastian yang sudah ditentukan tanggal dan jamnya.


 


 


 


 


Tanpa berbasa-basi, setelah memesan makanan, Sebastian langsung menceritakan apa yang terjadi padanya dan Kirana. Sebastian juga memperlihatkan kiriman foto dan rekaman percakapan yang dikirimkan Steven subuh tadi .


 


“Masih belum puas juga anak itu mengganggu kalian. Persis seperti mamanya,” omel mommy Amelia dengan wajah kesal. Daddy Richard langsung menyentuh jemari istrinya dan menggenggamnya untuk menenangkan.


 


“Apa maksud Mommy kalau Steven itu mirip dengan mamanya ?” tanya Sebastian sambil mengerutkan dahinya.


 


Mommy Amelia hanya mendengus kesal dan menatap ke arah lain, tanpa menjawab pertanyaan Sebastian.


 


“Apa kamu yakin kalau Kirana akan baik-baik saja setelah perlakuanmu pagi ini ?” tanya Daddy Richard dengan nada yang terdengar khawatir.


 


“Mommy tidak mau terjadi sesuatu pada Kiran,” timpal mommy Amelia sambil menatap Sebastian dengan tajam. “Seharusnya kamu bicarakan baik-baik dengan Kirana dan tanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Tidak kamu pikirkan kenapa Kirana sampai meninggalkan Steven dan pulang naik taksi ?”


 


“Mommy tahu darimana ?” Sebastian mengerutkan dahinya.


 

__ADS_1


“Tentu saja dari pihak hotel yang mengirimkan mommy rekaman yang sama dengan yang mereka kirimkan padamu. Apa kamu tidak melihatnya sampai akhir kalau Kirana keluar sendirian dan naik taksi ?”


 


Daddy Richard dan Sebastian sama-sama menatap mommy Amelia dengan mata menelisik, sementara yang ditatap hanya bersikap santai dan memperhatikan pelayan yang datang menyajikan pesanan mereka.


 


Tentu saja mommy Amelia tidak akan menjelaskan kalau ia sudah mengancam Pak Mardian untuk melaporkan padanya seandainya suami atau putranya datang ke hotel dengan maksud lain. Bahkan mommy Amelia sudah memberikan juga foto Kirana seandainya dia datang ke hotel tanpa Sebastian.


 


“Jadi apa rencanamu selanjutnya, Bas ?” tanya daddy Richard sambil menikmati makan siangnya.


 


“Aku ingin mempercepat pernikahan kami, Dad, Mom. Kalau mengikuti rencana awal masih menunggu sekitar 3 bulan lagi. Aku akan membuatnya menjadi 4 minggu lagi.”


 


“Sepertinya tidak masalah, Bas,” ujar mommy Amelia. “Untuk masalah pakaian dan souvenir sudah hampir selesai. Hanya undangan saja yang masih belum tuntas. Untuk masalah hotel akan mommy minta mereka supaya menyanggupinya.”


 


“Terima kasih. Mom.” Sebastian tersenyum.


 


“Jangan terlalu lama membiarkan Kirana salah paham. Kalau sampai kali ini pernikahanmu batal lagi karena sikapmu yang seenaknya mengambil keputusan sendiri, jangan salahkan mommy yang akan meminta daddy menghapusmu dari kartu keluarga,” omel mommy Amelia.


 


“iya Mom,” Sebastian tertawa mendengar ancaman mommy-nya. “Dalam dua tiga hari aku pasti akan menjelaskannya pada Kirana. Tidak mungkin juga aku akan membiarkan dia berpikir yang tidak-tidak. Malah jangan-jangan Steven yang akan mengambil kesempatan ini.”


 


“Jalakan tes DNA sesuai permintaan Kirana,” ujar mommy Amelia. “ Tapi biarkan daddy-mu yang langsung mengudang mereka untuk bertemu di rumah sakit.”


 


Mommy Amelia menoleh menatap suaminya yang masih terlihat bingung dengan rencana istrinya ini.


 


“Undang Rosa, Herman dan Mira untuk bertemu dengan kita, Raymond dan Steven di rumah sakit. Ungkap semuanya di sana dan minta Steven melakukan tes DNA di depan kedua orangtuanya dan mungkin calon mertuanya,” ujar mommy Amelia dengan nada sinis.


 


“Apa Shera tidak diundang sekalian, Mom ?” tanya Sebastian.


 


“Dia boleh datang, boleh tidak. Yang penting kedua orangtua dan anaknya harus hadir di sana. Lakukan tes DNA saat itu juga. Kalau perlu kita yang membiayainya.”


 


“Daddy setuju dengan usul mommy, kalau diminta langsung di depan para orangtua, ada kemungkinan Steven akan sulit menolaknya.”


 


Sebastian mengangguk-anggukan kepalanya. Dia merasa bersyukur memiliki orangtua yang selalu mendukungnya dan bisa memberikan jalan keluar tanpa menghakiminya terlebih dahulu.


 


“Jangan lupa urus calon menantu Mommy, Bas. Kalau sampai terjadi apa-apa, mommy akan memaksa Daddy-mu untuk mengirimmu ke pedalaman yang paling dalam di Kalimatan.”

__ADS_1


 


Sebastian mengangguk sambil terkekeh. Ia berbahagia karena kedua orangtuanya bukan hanya sekedar menerima Kirana sebagai calon menantu mereka seperti saat bersama Shera dulu, tapi sangat menyayangi Kirana seperti putri mereka sendiri.


__ADS_2