
Sampai di lorong, Sebastian bingung mau kemana. Apa iya istrinya pergi meninggalkan kantor lagi ?
Sebastian berdiri di depan lift, sepertinya tidak ada tanda-tanda kalau Kirana baru menggunakannya. Tidak lama ia menangkap suara dari dalam kamar mandi. Sebastian pun bergegas ke sana.
Tanpa mempedulikan yang dimasukinya adalah toilet wanita, Sebastian langsung masuk dan mendengar suara Kirana yang sedang muntah-muntah.
Teringat kalau kemejanya yang jadi sumber masalah Kirana muntah, Sebastian langsung melepaskannya dan melemparnya ke sembarang arah, menyisakan kaos putih ketat yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.
“Honey !” Sebastian baru saja hendak mengetuk pintu toilet yang ternyata tidak dikunci.
“Aku masuk, Sayang.”
Perlahan Sebastian mendorong pintu supaya tidak mengenai Kirana. Dilihatnya istrinya sedang berlutut di depan kloset namun tidak ada tanda-tanda Kirana bisa mengeluarkan muntahannya.
Tanpa pikir dua kali, Sebastian langsung menggendong istrinya dari samping dan membawanya keluar lalu didudukan di atas meja wastafel.
Terlihat wajah Kirana pucat dan peluh membasahi keningnya.
Dengan penuh sayang, Sebastian merapikan rambut Kirana dan mengambil air keran untuk membasuh mulut Kirana. Ia pun mengambil saputangan untuk menghapus peluh di kening istrinya.
“Kamu lagi sakit ?” tanya Sebastian khawatir. Kirana menggeleng.
“Jangan marah lagi, ya. Aku benar-benar nggak sadar kalau ada yang duduk di sampingku. Tadi aku hanya duduk sendiri dan perempuan itu duduk dengan Markus,” ujar Sebastian sambil mengusap pipi istrinya.
“Dasar cowok suka tebar pesona,” omel Kirana. “Mancing ulat bulu pada nempel aja.”
Sebastian menangkup wajah istrinya sambil tertawa, lalu mencium kening Kirana.
“Iya maaf, aku nggak akan terlalu serius lagi kalau baca. Udah cukup gara-gara lengah pelipisku sampai berdarah diketapel sama cewek nakal.”
Kirana memcebik membuat wajahnya makin menggemaskan Sebastian hingga tidak tahan untuk mencium bibir Kirana tapi ditahan oleh istrinya.
“Badan kamu masih bau parfum cewek. Nggak mau aku dekat-dekat.”
Sebastian langsung berniat membuka kaos polosnya.
“Eh mau ngapain ?” tanya Kirana mencegah suaminya.
“Mau dilepas, biar baunya hilang.”
“Mau pamer di depan cewek lain ?” Kirana langsung melotot.
Kirana mengambil sapuntangan Sebastian, melipatnya dan memasangnya sebagai masker.
“Parfumnya nempel di tangan kamu juga.”
Sebastian langsung mencium lengannya dan memang ada sedikit bau parfum wanita yang menempel.
“Kalau begitu mandiin aku, gimana ?” Sebastian mengerling, menggoda istrinya.
“Nggak mau !” Kirana menggeleng. “Aku udah lapar banget. Mandi aja sendiri.”
“Terus datang ke kantor mau kasih kejutan apa ? Lagi pengen makan siang bareng doang atau mau yang lain ?” Sebastian masih menatap Kirana dengan wajah menggoda.
“Awas berani main api di kantor !” tegas Kirana dengan tatapan galak. “Akan aku buat kamu tidak bisa menikmati surga dunia lagi !”
“Duh sadisnya istriku,” sahut Sebastian sambil meringis.
“Jangan bisanya buat istri hamil terus, kamunya malah enak-enakan sama ulat bulu.”
“Baru juga sekali buat kamu hamil, Sayang,” Sebastian mencubit kedua pipi Kirana dengan gemas.
Kirana mengeluarkan benda pipih dari kantong roknya, ditariknya tangan Sebastian dan diletakannya benda itu di sana.
“Ini apa ?” Sebastian menunduk dan matanya langsung berbinar begitu melihat benda yang diletakkan Kirana.
__ADS_1
“Ini beneran ?”
“Bukan ! Punya tetangga sebelah aku curi,” sahut Kirana ketus dengan wajah ditekuk. “Mau kasih kamu kejutan malah lihat pemandangan menyebalkan !”
“Yes !” Sebastian makin berbinar. Dipeluknya Kirana dengan rasa bahagia yang membuncah.
“Bee ! Aku susah nafas,” Kirana mencoba merenggangkan pelukan suaminya.
“Sudah berapa minggu ?”
“Belum tahu, baru pakai test pack ini. Belum ke dokter, kan baru tes nya juga tadi pagi.”
“Kita ke tempat Tante Wanda hari ini.”
Sebastian langsung menggendong Kirana untuk dibawa kembali ke ruangan daddy Richard.
“Malu iih Bee, turunin. Lagipula sekarang aku tambah gemuk.” Kirana berusaha turun tapi Sebastian menggeleng membuat Kirana akhirnya pasrah dan mengalungkan tangannya di leher Sebastian.
“Masih kuat gendong kamu, biar di perut kamu ada tanbahan dua sekaligus lagi.”
“Iihh masa kembar lagi ?” Kirana memukul bahu suaminya. “Eh kemeja kamu.”
“Amir sudah mengambilkan yang baru.”
“Turunin dulu, Bee. Malu ada yang lainnya di sana,” Kirana menunjuk ruangan sekretariat dan para staf khusus.
“Biarin aja, kan kita udah suami istri. Lagipula siapa yang berani ngomel sama pemilik perusahaan.”
“Tapi malu, Bee.”
“Udah diam aja. Bangga dong punya suami perkasa luar dalam,” ujar Sebastian tertawa sumringah.
Sesuai dugaan Kirana, para sekretaris dan staf langsung senyum-senyum melihat tingkah bossnya yang bikin iri. Kirana menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sebastian.
Wajahnya terasa panas menahan malu. Untung saja sebagian wajahnya tertutup saputangan Sebastian sebagai masker.
Kedua orangtua yang sedang bercanda dengan si kembar langsung geleng-geleng kepala. Bukan hanya karena Sebastian menggendong Kirana, tapi pimpinan MegaCyber itu tidak memakai kemejanya.
“Kenapa wajah kamu ditutup begitu, Kiran ?” tanya mommy sambil menautkan kedua alisnya.
”Badan Mas Bas bau parfum cewek lain, Mom. Mual cium baunya.”
“Kalau begitu aku turun dan mandi dulu, Temani ya,” Sebastian mengedipkan sebelah matanya sambil menurunkan istrinya.
“Nggak mau ! Nanti kelamaan. Aku udah lapar banget,” tolak Kirana dengan wajah cemberut.
“Iya mana mungkin Bastian hanya minta ditemani doang,” ledek mommy sambil mencibir.
Kirana tersipu malu, mertuanya seperti hafal kebiasaan anaknya.
“Kan sebelas duabelas sama Daddy,” balas Sebastian sambil tertawa meledek.
“Namanya juga jagoan Daady,” Daddy Richard malah bangga menanggapinya membuat Kirana tercengang.
Kirana memukul bahu suaminya yang hanya tertawa. Mommy Amelia langsung melotot.
“Udah jangan marah-marah, nanti wajah jadi tambah banyak keriputnya,” ledek Sebastian sambil melirik mommy. “Lebih baik tertawa bahagia soalnya mau tambah cucu lagi.”
Daddy dan mommy gantian tercengang, tidak yakin dengan pendengaran mereka.
“Kirana hamil lagi ?” tanya Daddy masih dengan wajah tidak percaya.
“Iya, Dad,” sahut Kirana pelan dengan wajah malu-malu.
“Udah berapa minggu ?” tanya mommy.
__ADS_1
“Belum tahu, Mom. Baru pakai test pack.”
“Nanti sore aku ajak Kirana kontrol ke Tante Wanda.”
“Ya ampun, Bas,” mommy menepuk jidatnya. “Anak kamu masih pitik begini, istri udah dibikin hamil lagi aja.”
“Namanya juga kejar target, Mom. Nggak apa-apa, biar seru dan capeknya sekalian,” sahut Sebastian dengan wajah bangga.
Mommy hanya bisa geleng-geleng kepala namun dalam hati senang juga karena diberi tambahan cucu lagi. Siap-siap promosi sama teman-teman sosialita.
“Biar aja, Dear. Itu artinya anak kamu pria perkasa dan aktif berproduksi,” ujar daddy Richard sambil tertawa.
Si kembar tiba-tiba berteriak, seolah-olah ikut senang mendengar kabar bahagia dari papi dan maminya. Kaki mereka terus bergerak ingin terlepas dari ikatan tali kereta dorong.
“Aku mandi dulu, daripada istri yang lagi ngidam pakai masker begitu terus,” ujar Sebastian sambil tertawa pelan.
“Mandi di kamar Daddy aja,” ujar mommy.
“Peralatan mandi di bawah, pakaian lainnya juga di bawah, Mom,” sahut Sebastian.
“Yuk temani suami mandi,” Sebastian langsung menarik Kirana. “Titip anak-anak dulu, Mom. Nggak pakai lama, nanti ketemu di lobby langsung keluar makan.”
“Bas ! Kirana nggak usah dibawa-bawa !”omel Mommy saat melihat putranya sudah berjalan ke pintu sambil menggandeng istrinya.
“Nggak bisa ! Soalnya butuh bantuan buat bersihin bekas ulat bulu,” sahut Sebastian tanpa menoleh dan lanjut keluar ruangan.
Daddy Richard hanya tertawa dan mommy geleng-geleng kepala. Kedua cucunya malah merengek ingin ikut kedua orangtuanya.
Sampai di lantai 15, lagi-lagi Kirana tidak melihat Widya di mejanya.
“Udah aku suruh keluar makan. Kalau mendadak kepingin kayak kita bisa repot, jam kerja masih lama berakhirnya,” ujar Sebastian sambil tertawa.
Bukan hanya ruangannya yang langsung dikunci, Sebastan membawa Kirana ke ruang pribadinya dan ada kamar mandi di dalamnya.
Didudukannya Kirana di atas meja wastafel.
“Bee, mandi sana, sudah ditunggu Daddy dan Mommy,” Kirana mencoba mendorong Sebastian yang mengukungnya.
Sebastian bergeming, mengusap wajah Kirana sambil menatapnya penuh cinta.
“Bee, udah iihh… Nggak enak dilihatin begitu,” Kirana mencoba menutup wajah Sebastian dengan telapak tangannya, namun segera dipegang oleh Sebastian. Bahkan kedua tangan Kirana dipegangnya dan dibawa memeluk pinggang Sebastian.
“Terima kasih sudahhadir dalam hidupku, Kirana,” ujar Sebastian pelan. “Terima kasih sudah membuat aku bangun dari kekecewaan panjang dan memberi warna baru dalam hidupku. Terima kasih sudah menjadikan aku pria sejati yang berjanji akan membahagiakanmu dan anak-anak kita selama hidupku. I LOVE YOU MY KiRANA.”
Sebastian mencium lembut kening, mata dan turun ke bibir Kirana. Hanya ciuman penuh cinta.
Kirana mengalungkan tangannya di leher Sebastian sambil tersenyum.
“Terima kasih juga sudah membuka hatimu untukku, Bee. Terima kasih sudah menjadikan aku sebagai wanita paling bahagia karena selalu dipenuhi oleh cintamu. Semoga ke depannya kita bisa sama-sama membasmi ulat bulu yang nempel-nempel sama kamu,” ujar Kirana sambil terkekeh.
“Yang nempel di kamu juga,” sahut Sebastian tidak mau kalah.
Kirana tertawa dan mengangguk. Ia menempelkan ujung hidungnya dengan hidung Sebastian dan menggesekannya sambil tertawa.
“I LOvE YOU HONEY.”
“I LOVE YOU TOO, MY BEE.”
Tanpa aba-aba dan tidak tahu siapa yang memulainya, kedua bibir mereka menyatu menyalurkan rasa cinta yang sempat diucapkan dengan bibir yang sama.
Keduanya saling memagut, mencurahkan perasaan cinta yang semakin bertambah setiap harinya.
**** TAMAT ****
Terima kasih untuk para pembaca yang selalu setia mengikuti novel saya, memberikan komentar, saran, like dan gift. Dan terima kasih juga atas kritiknya.
__ADS_1
Maaf kalau alur cerita tidak bisa memenuhi keinginan setiap pembaca yang berbeda-beda dan typo masih bertebaran. 🙏🙏
Jangan lupa untuk mampir ke novel saya yang ketiga “Mengejar Cinta Pak Guru”. Masih ada nama Sebastian dan Steven yang ikut-ikut muncul sebentar di sana 😊😊