Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Kekesalan Kirana


__ADS_3

Kirana langsung turun dari mobil tanpa menunggu Sebastian membukakan pintu untuknya. Tapi calon suaminya itu tidak membiarkannya berjalan sendirian memasuki kantor MegaCyber.


 


Kasak kusuk mulai terdengar dari beberapa karyawan yang melihat keduanya masuk sambil bergandengan tangan. Terlihat jelas kalau Sebastian begitu posesif dan tanpa canggung memperlihatkan cintanya pada Kirana di depan semua karyawan yang memandang ke arah mereka. Padahal beberapa waktu lalu, Kirana meninggalkan MegaCyber dengan wajah lesu.


 


Hanya karyawan di lantari 15 dan 16 saja yang tahu persis bagaimana perjalanan asmara CEO MegaCyber dengan sekretaris nya ini, sementara yang lainnya menganggap kalau Kirana sudah berhasil menggoda bossnya yang dikenal sebagai mantan duda dan sebagian lagi memandang Kirana sebagai wanita beruntung yang bisa meluluhkan hati Sebastian setelah dihkhianati oleh mantan istrinya.


 


Sebastian masih membiarkan Kirana yang terdiam di dalam lift sampai mereka tiba di lantai 15, namun tidak sedikitpun Sebastian memberikan Kirana kesempatan untuk melepaskan tangannya dari genggamannya.


Bahkan Dion yang melihatnya pun hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ia yakin kalau terjadi sesuatu antara boss nya dan mantan rekan kerjanya.


 


“Jam berapa jadwal meeting siang ini, Yon ?” tanya Sebastian saat bertemu dengan Dion sebelum masuk ke ruangannya.


 


“Jam 4, Pak. Masih ada waktu satu setengah jam lagi,” ujar Dion sekaligus menegaskan kalau boss nya masih punya waktu berduaan dengan calon istrinya sampai satu setengah jam ke depan.


 


Sebastian mengangguk dan membawa Kirana masuk ke dalam ruangannya, tapi gadis itu berhenti dan berdiri di depan pintu. Sebastian langsung menoleh saat lengannya tertahan oleh Kirana.


 


“Aku mau ambil barang-barangku dulu di gudang,” ujar Kirana dengan wajah masam.


 


“Biar Dion saja yang minta Mansyur membawakannya ke sini,” sahut Sebastian dan langsung menarik tangan Kirana untuk masuk ke dalam ruangannya.


 


Sebastian langsung menutup pintu bahkan menguncinya dan memposisikan badan Kirana menempel pada pintu.


Dion yang mendengar suara kunci pintu kembali senyum-senyum dan menggelengkan kepala. Sudah pasti Sebastian tidak akan membiarkan Kirana keluar ruangan sebelum mereka berbaikan.


 


“Apa yang membuatmu kesal, Honey ?” Sebastian mengukung Kirana dan salah satu tangannya merapikan rambut Kirana dan menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu.


 


“Aku capek,” sahut Kirana ketus sambil berusaha mendorong tubuh Sebastian, tapi tubuh pria itu tidak bergeser sedikitpun.


 


“Ucapan Shera yang mana yang membuat hatimu kesal ?”


 


Bukannya menjauh, Sebastian malah semakin mendekatkan wajahnya hingga kedua hidung mereka saling menempel. Kirana langsung memejamkan mata karena tidak sanggup bertatapan dengan Sebastian begitu dekat.


 


Sebastian langsung memegang pipi Kirana dan memberikan ciuman di bibir calon istrinya itu. Kirana hanya diam saja meski membiarkan bibir Sebastian menempel di bibirnya.


 


Merasa tidak ada reaksi apapun dari Kirana, Sebastian tidak ingin memaksa karena tidak ingin membuat suasana hati Kirana semakin buruk.


Seperti biasa ia menggandeng Kirana menuju sofa dan mendudukan gadis itu di pangkuannya.


 


“Aku nggak akan bisa konsentrasi kerja kalau kamu diamkan seperti ini, Honey,” Sebastian mengusap pipi Kirana yang sedang menoleh ke arah lain.


 


Kirana menoleh dan menatap Sebastian dengan raut wajah kesal dan bibir mengerucut.


 


“Jadi ternyata restoran tadi itu tempat favorit kamu dan Shera ? Bukannya kamu pernah bilang kalau sering ke tempat itu dengan para klien ? Klien khusus gitu ?” Ketus Kirana.


 


Sebastian tersenyum melihat wajah Kirana yang begitu kesal. Selama ini dirinya lebih sering dibuat cemburu oleh Kirana. Melihat calon istrinya ternyata bisa cemburu berat juga, rasa bahagia membuat Sebastian malah semakin gemas dengan Kirana.


 


“Terima kasih karena sudah cemburu,” Sebastian menangkup kedua pipi Kirana membuat gadis itu buru-buru merangkul leher Sebastian dengan salah satu lengannya.

__ADS_1


 


“Aku ini lagi kesal, kok kamu malah senang dan bilang terima kasih,” omel Kirana. Gerakan mulutnya di tengah wajah yang sedang ditangkup Sebastian terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


 


“Iya aku tahu calon istriku lagi kesal. Kesal karena cemburu,” Sebastian mengangguk sambil tertawa bahagia.


 


Kirana makin cemberut dan menggigit bibir bawahnya menahan kesal.


 


“Kalau begini minta dicium namanya,” goda Sebastian sambil mendekatkan wajah Kirana ke hadapannya.


 


Kirana langsung menahan wajah Sebastian dengan tangannya yang lain.


 


“Jadi kalian sering makan di sana, sampai kamu melamar Shera juga di sana.”


 


“Nggak sering,” sahut Sebastian sambil tersenyum. “Ketemu Shera saja nggak setiap hari kayak sama kamu, Kiran. Dan masalah lamaran itu, aku memang pernah memintanya menjadi istriku saat kami sudah berpacaran selama setahun, tapi Shera menolakku dengan alasan masih ingin fokus dengan studi dan pekerjaannya. Lagipula bukan lamaran seperti yang kamu bayangkan. Tidak ada persiapan khusus apalagi kejutan. Aku hanya menanyakan di tengah-tengah makan malam kami.”


 


“Lalu tadi Shera bilang kalau kamu dan dia…” Kirana menunduk.


 


Sebastian tersenyum dan membawa Kirana ke dalam pelukannya, mengusap punggung gadis itu mirip seperti seorang ayah yang sedang menenangkan putrinya yang sedang galau.


 


“Itu semua bisa-bisanya Shera, Honey. Aku tidak menyangkal kalau pernah berciuman dengan Shera, tapi hanya sebatas seputaran wajah saja, tidak pernah lebih. Aku belum pernah tidur dengan siapapun bahkan dengan wanita bayaran. Daddy selalu mengingatkan aku, jangan karena kenimatan sesaat, kesusahan akan mengikuti sepanjang hidupku.”


 


“Tapi Shera bilang kalau kalian…”


 


 


“Awas kalau kamu ketahuan bohong !” ancam Kirana dengan muka yang sudah kembali galak.


 


“Kamu boleh menghukumku, tapi jangan pernah meninggalkan aku,” ujar Sebastian tertawa sambil mengusap pipi Kirana.


 


“Tidak meninggalkanmu tapi aku akan mencobanya juga dengan pria lain supaya tambah pengalaman,” ujar Kirana sambil tertawa.


 


“Eeehh mana ada begitu,” Sebastian langsung melotot. “Begitu menikah, semua yang ada di dirimu langsung aku kasih label, MILIK PRIBADI SEBASTIAN PRATAMA, Dilarang melihat-lihat apalagi menyentuhnya !” ujar Sebastian dengan tegas.


 


Kirana tergelak melihat wajah calon suaminya itu. Sepertinya Sebastian akan menjadi suami yang sangat posesif.


 


“Kalau seperti itu aku mau pikir-pikir dulu sebelum mengesahkan pernikahan kita. Bisa-bisa aku jadi burung yang hidup dalam sangkar emas, kesepian dan akhirnya kehilangan semangat hidup.”


 


“Aku tidak akan mengurungmu, Honey. Kecuali kalau di malam hari,” ujar Sebastian sambil mengedipkan sebelah matanya.


 


“Memangnya kamu kuat setelah siangnya dipusingkan dengan pekerjaan di kantor ?” sahut Kirana sambil mencibir. “Belum lagi kalau harus sering-sering keluar kota mengurus proyek.”


 


“Rencananya aku akan mengajak Bara, Evan dan Samuel untuk menjadi tim tetap di perusahaan ini sekalian menambah dua orang lagi untuk membantu Dion di sini. Aku mau fokus produksi di rumah,” Sebastian kembali mengedipkan sebelah matanya.


 


“Mau buat usaha apalagi di rumah ? Apa waktumu tidak akan semakin tersita ?”


 

__ADS_1


“Untuk yang satu itu memang butuh ketenangan dan fokus biar hasilnya maksimal dan berkualitas,” sahut Sebastian sambil senyum-senyum.


 


“Memangnya produksi apalagi ?” Kirana menautkan kedua alisnya.


 


Sebastian langsung menarik tengkuk Kirana dan memberikan ciuman di bibir gadis itu. Ciumannya bertambah dslam dan bergairah saat Kirana juga membalasnya. Tidak lama Sebastian melepaskan pagutan mereka.


 


“Produksi ini,” Sebastian langsung memegang perut Kirana. “Seperti kataku waktu itu, aku ingin punya banyak anak darimu, biar ramai. Nggak kesepian kayak aku yang hanya anak tunggal.”


 


“Ya ampun, Bee,” Kirana menepuk bahu calon suaminya. “Dari kemarin pikiranmu selalu tentang produksi anak dan tidak memikirkan bagaimana proses membesarkan mereka.”


 


“Kalau soal itu aku percaya calon istriku ini akan mendidik anak-anak kita dengan baik. Sudah terbukti bisa membahagiakan calon suaminya ini dengan sangat baik.”


 


Kirana mencibir sementara Sebastian tertawa.


 


“Oh ya Bee, masalah rekaman suara yang dikirimkan oleh Steven. Kamu bilang Aldo sudah memastikan kalau ucapanku bukan hasil sambungan dari beberapa percakapan, padahal aku sungguh-sungguh tidak pernah mengucapkan satu kalimat panjang seperti itu.”


 


“Iya aku tahu,” Sebastian mengangguk dan membiarkan Kirana mengelus rambutnya. “Aldo bilang seperti itu karena laporan dari Arman. Dan ternyata Arman lah yang menjadi editornya langsung.”


 


“Arman ? Tapi Bee…”


 


“Arman diiming-iming oleh Shera kalau Steven akan membantu pengobatan ibunya yang sedang sakit parah dan membutuhkan transplantasi ginjal. Selama ini memang cukup berat tanggungjawab Arman sebagai tulang punggung keluarganya.”


 


“Lalu dia dipecat dari sini ?”


 


“Tidak, mengingat jasanya cukup banyak dan keahliannya sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Namun tetap mendapat skorsing dan membuat perjanjian tertulis tentang komitmennya di masa mendatang. Daddy juga sudah membantu memberikan jalan keluar yang terbaik dengan pertolongan uncle Raymond.”


 


Kirana langsung tersenyum lebar dan memeluk Sebastian dengan erat.


 


“Terima kasih, Bee. Terima kasih karena telah menjadi orang yang baik. Dengan mudahnya MegaCyber memecat Arman dan mencari penggantinya, tapi baik kamu atau daddy Richard selalu berusaha mencari kebenarannya dulu sebelum mengambil keputusan akhir.”


 


Kirana merenggangkan pelukannya dan memandang Sebastian penuh cinta.


 


“Bukan karena kebaikan aku atau daddy, Kiran. Tapi seperti itulah cara hidup yang harus kita jalani. Setiap manusia sering berbuat kesalahan karena kelemahan yang kita miliki. Kalau tidak ada kesempatan untuk memperbaiki hidup, maka tidak akan ada lagi maknanya. Aku justru banyak belajar darimu, Honey. Kamu begitu mudah memaafkan orang lain makanya hidupmu terasa lebih menyenangkan,” Sebastian menciumi pipi Kirana.


 


“Kecuali Tante Rosa, Bee. Sepertinya rasa bencinya padaku akan terus membuat kami berdua dalam suasana perang,” ujar Kirana sambil tertawa.


 


“Biarkan orang membencimu, yang penting kamu tidak membalasnya dengan kebencian,” sahut Sebastian.


 


Kirana mengangguk dan kembali memeluk Sebastian dengan penuh cinta. Kirana berdoa semoga ke depannya mereka bisa tetap bersama menjalankan berbagai rintangan dan masalah.


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2