
Kirana memutuskan untuk tetap bekerja di café sampai pernikahannya berlangsung sekitar 3 minggu lagi. Semula Kirana ingin langsung mengundurkan diri karena merasa tidak enak dengan Felix, tapi pemilik café itu memintanya tetap bekerja sampai tiba waktunya Kirana menikah dengan Sebastian.
Di sisi lain, kelanjutan masalah tes DNA Raven dan Steven diambil alih oleh Uncle Raymond. Semua prosesnya langsung diawasi oleh ayah kandung Steven itu sekaligus pemilik Rumah Sakit Pratama agar tidak terjadi kecurangan yang mungkin dilakukan oleh Shera atau Auntie Rosa.
Perrnikahan Sebastian dan Kirana telah ditetapkan 3 minggu lagi dan semua sudah dipastikan tidak akan diundur atau dibatalkan, apapun hasil tes DNA Steven dan Raven.
Kali ini dokter muda itu tidak bisa membantah lagi karena keputusan Uncle Raymond bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Sebastian dan Kirana bisa menarik nafas lega karena berbagai masalah yang datang untuk merusak hubungan mereka dapat terurai dan terselesaikan satu persatu.
Meski keduanya tidak bisa menghindari keberadaan Steven yang notabene adalah sepupu dekat Sebastian, keduanya sepakat untuk tetap terbuka dan saling percaya satu sama lain.
Siang ini baru saja Sebastian memasuki salah satu restoran dimana dia akan bertemu dengan Kirana untuk makan siang berdua. Kirana menolak untuk dijemput dan meminta Sebastian langsung menunggunya di restoran yang sudah menjadi tempat langganan mereka.
Baru saja ia duduk di salah satu meja yang sudah disiapkan, matanya langsung menangkap dua sosok yang sangat dikenalnya sedang duduk di salah satu meja yang agak memojok di sudut ruangan. Keduanya terlihat sedang terlibat dalam percakapan yang cukup seru, bahkan lebih mirip perdebatan daripada obrolan.
Terlalu fokus memperhatikan drama perdebatan kedua sosok yang duduk tidak jauh darinya, Sebastian sampai tidak menyadari akan kedatangn Kirana.
“Maaf aku terlambat, Bee,” Kirana menarik kursi di seberang calon suaminya namun mengernyit saat tidak mendapati tanggapan apapun dari Sebastian.
Matanya memicing memperhatikan Sebastian yang sedang fokus menatap ke arah di belakang Kirana hingga akhirnya ia menoleh untuk melihat apa yang menjadi pusat perhatian Sebastian.
Kirana menghela nafas. Entah karena berjodoh atau apapun namanya, mereka harus kembali bertemu bahkan di tempat yang sepertinya jauh dari selera keduanya.
“Bee,” Kirana mengibaskan tangannya di depan wajah Sebastian yang sesekali terlihat tersenyum sambil memperhatikan Shera dan Steven yagn sedang duduk berbincang.
“Bee !” panggil Kirana lagi dengan sedikit lebih kencang.
Sebastian menoleh dan langsung tersenyum saat melihat sosok Kirana sudah duduk di depannya.
“Apakah mereka lebih menarik daripada aku, Bee ? Sampai-sampai kamu tidak menyadari kalau aku sudah datang sejak 1 jam yang lalu dan kamu mengabaikan aku,” omel Kirana sambil mengerucutkan bibirnya.
“Maaf Honey… Maaf. Kan belum benar-benar satu jam kamu datang,” sahut Sebastian tertawa pelan
Sebastian bangun dari kursinya dan mendekati Kirana lalu mencium pipi gadis itu tanpa malu-malu meski ada beberapa pelayan berdiri di dekat mereka dan pengunjung lain yang duduk di meja dalam ruangan.
“Sepertinya mereka sedang bertengkar, sejak tadi wajah Steven terlihat begitu kesal dan tegang,” ujar Sebastian sambil terkekeh. Ia pun sudah kembali duduk di posisi semula.
Sebastian mengangkat tangannya memberi isyarat pada pelayan untuk mengantar pesanan mereka, sementara Kirana langsung mengambil buku menu yang masih ada di meja.
__ADS_1
“Aku sudah memesankan untukmu, Honey. Sepertinya aku harus belajar seperti Steven yang menghafal betul semua kebiasaanmu dan kesukaanmu.”
Kirana menghela nafas dengan wajah cemberut. Ia langsung menutup buku menu dengan sedikit kasar dan meletakkan kembali di atas meja.
“Aku mencintai dan akan menikahi Sebastian Pratama dan bukan Steven Pratama. Tidak perlu mengikuti kelakuan Steven hanya untuk membuatku bahagia, karena kenyataannya mau sebaik apapun Steven mengenal kebiasaanku dan menghafal kesukaanku, hatiku tetap menyukai anak lelaki yang terluka karena kena lemparan ketapelku,” omel Kirana panjang lebar dengan wajah cemberut.
Sebastian tertawa pelan melihat ekspresi calon istrinya yang sangat menggemaskan. Ingin rasanya bisa mempercepat waktu untuk meresmikan hubungan mereka.
“Nanti kalau kamu terlalu mirip dengan Steven, jangan-jangan Shera malah akan menyukaimu dan bukan Steven,” gerutu Kirana.
“Iya… iya,” ujar Sebastian di sela tawanya. “Jangan pasang wajah cemberut dan bibir manyun seperti itu karena membuat kamu semakin terlihat menggemaskan. Jangan sampai aku lupa tempat dan waktu untuk memberikan ciuman panasku.”
Kirana hanya mencibir mendengar ucapan Sebastian.
Tidak lama dua orang pelayan mengantarkan pesanan Sebastian. Kirana tersenyum sambil melihat menu makanan yang sudah terhidang. Tanpa malu-malu Kirana membuka peralatan makannya yang disiapkan dalam bungkusan plastik.
Seperti biasa, Kirana mengambilkan makanan untuk Sebastian terlebih dahulu baru untuk dirinya. Calon suaminya itu semakin mengembangkan senyumnya melihat perhatian Kirana yang begitu besar padanya.
“Kok kamu nggak makan, Bee ?” Kirana mengernyit saat melihat Sebastian belum menyentuh peralatan makannya malah duduk memperhatikan dirinya.
“Sepertinya perutku akan cukup kenyang hanya dengan memperhatikan calon istriku makan dengan lahap,” sahut Sebastian sambil memajukan posisi duduknya.
“Aiihh mana bisa begitu, Bee… Tidak akan bisa perasaan cinta membuat perutmu kenyang dan badanmu sehat. Ayolah , Bee, siang ini jadwal kita makan siang bersama bukan sekedar saling tatap -tatapan. Atau mau aku suapi ?” Kirana langsung menatap Sebastian dengan puppy eyesnya.
“Boleh, tapi aku maunya disuapi langsung dengan mulutmu,” ujar Sebastian sambil mencondongkan tubuhnya.
“Tunggu 3 minggu lagi,” sahut Kirana sambil terkekeh. “Akan aku suapi setiap hari dengan cara apapun yang kamu inginkan.”
“Benar ya ?” Sebastian mengangkat kedua alisnya.
“Asal tidak yang aneh-aneh, Bee. Aku akan menyuapi suamiku yang sepertinya suka berkelakukan seperti anak kecil, biar badannya tetap sehat dan kuat.”
“Kuat bekerja di siang hari untuk memberikanmu nafkah lahir dan malamnya berolahraga sekaligus memberikan nafkah batin untukmu.”
__ADS_1
“Mana boleh kamu berolahraga tiap malam, malah tidak sehat,” sahut Kirana sambil tetap menyuap makanannya. “Sebaiknya olahraga dilakukan saat pagi hari atau paling tidak di sore hari.”
“Jadi kamu siap berolahraga denganku sehari tiga kali seperti minum obat ?”
Kirana menelan makanan yang ada di dalam mulutnya dan menatap Sebastian sambil mengernyit.
“Kalau terlalu banyak olahraga lalu kapan kamu akan menjalankan tanggungjawabmu di MegaCyber ? Bisa-bisa daddy Richard menendangmu keluar dari perusahaan.”
“Tidak mungkin,” Sebastian menggeleng sambil tersenyum. “Aku yakin kalau untuk olahraga yang satu itu, daddy Richard akan selalu mendukungku. Apalagi hasilnya bukan hanya bisa aku nikmati sendiri, tapi membuat daddy Richard bahagia karena menjadi opa yang memiliki banyak cucu.”
“Maksud kamu ?” Kirana yang masih belum mengerti ucapan Sebastian menautkan kedua alisnya.
“Apa hubungannya olahraga yang kamu lakukan dengan daddy Richard ?”
“Apa perlu aku tunjukkan seperti apa olahraga yang aku maksud, Honey ?” tanya Sebastian sambi megedipkan sebelah matanya dan senyuman yang menggoda.
Kirana berpikir sambil menyelesaikan kunyahan di dalam mulutnya. Matanya langsung membelalak saat mengurai ucapan Sebastian, wajahnya juga langsung memerah. Tangan Kirana langsung meraih gelas air putih dan meneguk habis isinya.
“Kenapa ? Kamu sudah menangkap maksudku, kan ?” goda Sebastian.
“Apakah penting membahas itu sekarang ?” tanya Kirana dengan wajah tersipu menoleh ke arah lain.
“Tentu saja karena rencana memiliki berapa anak adalah bagian penting yang harus kita diskusikan sebagai suami istri.”
Kirana kembali meneguk air putih yang tadi sudah diisi kembali oleh salah seorang pelayan.
“Masih tiga minggu lagi, Bee,” ujar Kirana.
“Aku ingin memiliki anak sebanyak mungkin darimu,” ujar Sebastian dengan suara pelan sambil tersenyum. “Kalau perlu sekali buat langsung dapat kembar terus dan rutin setiap tahun.”
“Mana bisa !” protes Kirana sambil melotot, “Kamu pikir aku ini induk kucing yang kerjanya terus memproduksi anak bahkan sekali dapat lebih dari satu.”
Sebastian tergelak mendengar omelan Kirana.
“Bukan kucing, Honey, tapi istri kesayangannya Sebastian Pratama.”
__ADS_1
Kirana hanya terdiam dan kembali mengambil gelas air putihnya tanpa menatap Sebastian karena wajahnya masih memerah dan agak tersipu.
Meski terlihat malu-malu, tapi hati Kirana merasa bahagia saat Sebastian mengungkapkan ingin segera memiliki anak dengan Kirana.