Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Ingin Bertemu Steven


__ADS_3

Sampai di lantai dasar, Kirana langsung mendatangi poli anak. Entah kenapa dorongan untuk bertemu Steven begitu kuat.


Suasana hatinya benar-benar buruk bukan karena Sebastian bertemu dengan teman atau kenalan lamanya. Tapi sikap Sebastian yang seperti orang terhipnotis membuat Kirana yakin kalau suaminya memiliki cerita khusus dengan dokter Renata.


“Mau daftar dokter siapa, Bu ?”tanya perawat yang duduk di depan pintu ruang praktek Steven.


“Saya mau bertemu dengan dokter Steven,” sahut Kirana sambil tersenyum.


Terlihat perawat itu mengerutkan dahi dan melirik ke kanan kiri Kirana.


Memahami keheranan perawat itu, Kirana tertawa pelan.


“Saya bukan mau memeriksakan anak, tapi ingin bertemu dengan dokter Steven,” ujar Kirana.


Perawat itu mengangguk sambil tersenyum. Tadi ia sempat bingung karena Kirana tidak membawa seorang anak pun sementara Steven adalah dokter spesialis anak.


“Masih ada dua pasien menunggu di luar dan seorang di dalam, Nona,” ujar perawat itu dengan ramah.


“Tidak apa-apa, saya akan menunggu di sana,” sahut Kirana sambil tersenyum.


Ia pun menuju bangku tunggu yang berjejer rapi yang ada di ruang poli anak ini. Selain Steven, ada 2 dokter spesialis anak lainnya, ada dokter ahli gizi, serta ruangan khusus untuk terapi tumbuh kembang anak tersedia di sini.


“Nyonya Pratama,” sapa seorang perawat yang keluar dari ruangan Steven.


Kirana mendongak dan menatap seorang perawat yang beberapa kali bertemu dengannya, dan sepertinya tahu juga kalau Kirana adalah istri Sebastian.


“Mau bertemu dengan dokter Steven ?” tanya perawat itu dengan ramah. Kirana melirik ke arah name tag yang tersemat di kantong seragamnya.


“Iya betul Suster Imma,” sahut Kirana dengan senyuman yang kembali mengembang.


“Sepertinya bisa satu jam lagi Nyonya. Apa sangat mendesak ? Saya bisa minta dokter Steven menemui Nyonya dulu.”


“Tidak usah Suster, saya akan menunggu,” jawab Kirana masih dengan senyumannya.


“Kalau begitu saya balik ke dalam dulu. Akan saya sampaikan ke dokter Steven kalau ada anda menunggunya.”


Kirana mengucapkan terima kasih sambil menganggukan kepalanya. Sesudah suster Imma berlalu, Kirana kembali duduk.


Tangannya sibuk membuka akun sosial medianya, namun pikirannya justru dipenuhi dengan Sebastian. Meski mulutnya berkata sebal dengan suaminya, namun hati kecilnya berharap Sebastian mencarinya bahkan menghampirinya di sini.


Sudah hampir 30 menit sejak Kirana meninggalkan ruangan VVIP khusus keluarga Pratama, tidak ada tanda-tanda Sebastian mencarinya bahkan mengirimkan pesan menanyakan keberadaannya.


Kirana menghela nafas. Pikirannya mulai terkontamintasi dengan bayangan nrgatif kalau Sebastian malah mengambil kesempatan ini untuk menemui Renata.


Tanpa Kirana ketahui, Sebastian masih di ruang VVIP sedang bernegosiasi dengan Dion yang memintanya kembali ke kantor karena akan datang klien penting sekitar 1 jam lagi.


Sebastian enggan meninggalkan Kirana berdua dengan Steven. Ia meminta Dion mengatur agar Bara atau Evan bisa menggantikannya karena daddy Richard sedang ke Singapura dengan mommy Amelia.

__ADS_1


Prrbincangan di telepon selama 30 menit itu tetap pada keputusan kalau Sebastian harus segera kembali ke kantor.


Sebastian menghela nafas. Salahnya juga tidak bisa menahan diri saat bertemu kembali dengan Renata sampai membuat Kirana ngambek begini.


Di ruang tunggu poli anak, terlihat Kirana bektlai-kali ia menghela nafas kesal dengan tangan terus menaik turunkan layar handphone tanpa memperhatikan apa yang terpampang di layar handphonenya.


“Hati-hati handphonenya kelelahan dibuat naik turun terus-terusan,” suara Steven yang ternyata sudah berdiri di depannya membuat Kirana mendongak.


“Steve,” panggil Kirana dengan wajah berbinar.


Hatinya mendadak berubah lagi menjadi lebih tenang dan bahagia melihat Steven.


“Jangan bilang kamu sengaja datang kemari karena ingin menemuiku. Apa Sebastian tidak bisa membahagiakanmu ?” ledek Steven sambil tertawa.


Kirana hanya mencebik dengan wajah cemberut.


“Apa sudah selesai praktekmu hari ini ?”


“Sudah dan tidak ada jadwal operasi juga. Memangnya kamu mau mengajakku pergi kemana ?”


“Traktir aku makan siang yang enak,” sahut Kirana dengan nada yang terdengar manja, hingga membuat Steven mengerutkan dahinya.


“Jangan bilang kamu sedang melarikan diri dari Sebastian,” mata Steven menyipit menelisik wajah Kirana.


“Bukan melarikan diri,” sahut Kirana sambil menatap ke arah lain. “Tapi aku sengaja menemuimu untuk menenangkan diri.”


Steven duduk di sebelah Kirana dan meraih jemari gadis itu yang sedang menatap ke arah lain. Kirana terkejut saat tangan Steven menggenggam jemarinya, buru-buru ia menariknya.


“Steve, kamu itu dokter anak, bukan psikiater,” ujar Kirana dengan wajah cemberut. “Nanti orang bisa salah paham kalau kamu memperlakukan aku seperti itu. Apalagi tadi suster Imma memanggilku Nyonya Pratama. Berarti ia tahu kalau aku adalah istri Sebastian. Jangan sampai nanti muncul berita skandal perselingkuhan dengan saudara ipar.”


Steven tergelak mendengar ucapan panjang lebar Kirana, apalagi wajah gadis itu terlihat serius saat bicara.


“Nyonya Pratama berarti bisa istri Sebastian tapi juga bisa istri dokter Steven, Nana,” ledek Steven.


“Para perawat di sini sudah tahu kalau aku adalah laki-laki yang menikah tapi mereka belum tahu istriku seperti apa. Dan aku tidak keberatan kalau mereka menyangka kamulah istriku,” lanjut Steven sambil tertawa pelan.


“Tapi aku keberatan !” seru seseorang di belakang mereka.


Steven langsung menoleh sementara Kirana hanya mendengus kesal karena sudah tahu siapa pemilik suara itu.


Kali ini Sebastian bukan duduk di sebelah Kirana, tapi berlutut di depan istrinya yang masih ngambek itu.


“Honey, kita kembali ke kantor dulu, ya ? Tadi Dion menelepon dan meminta aku balik karena akan ada klien penting datang ke kantor,” ujar Sebastian dengan lembut sambil menggenggam kedua tangan istrinya.


“Aku mau menunggu dokter Wanda, tidak mau calon pelakor tadi yang menjadi dokterku,” tolak Kirana dengan wajah cemberut. Pandangannya masih menatap ke arah lain dan tidak mau melihat suaminya sendiri.


Steven mengerutkan dahi saat mendengar Kirana menyebutkan nama dokter Wanda, salah seorang dokter senior yang ada di Rumah Sakit Pratama ini.

__ADS_1


“Nana,” Steven memiringkan badannya ke arah Kirana. “Jadi kamu sedang hamil sekarang ?”


Kirana menoleh ke arah Steven dan mengangguk malu-malu. Wajah Steven langsung berbinar dan senyum lebar mengembang di bibirnya.


“Selamat Nana,” ujar Steven dan hampir reflek memeluk Kirana namun Sebastian lebih sigap mencegah badan Steven mendekati Kirana.


“Jangan sembarangan peluk-peluk Kirana !” omelnya. “Ingat ! Sekarang dia sudah jadi istriku.”


Steven tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya.


“Aku masih mau mengobrol dengan Steven,” ujar Kirana dengan nada ketus dan masih belum mau bertatapan dengan Sebastian.


Sebastian menghela nafas panjang. Hatinya tidak rela membiarkan istrinya pergi dengan sepupunya yang terang-terangan masih terlihat menyukai Kirana meski sekarang sudah menikah.


“Oke, kamu boleh ngobrol dengan Steven tapi tidak di sini,” ujar Sebastian memberi solusi. “Kalian bisa pergi ke cafe dekat kantor.”


“Mana mungkin Steven meninggalkan rumah sakit !” ujar Kirana dengan wajah juteknya menatap Sebastian. “Aku tetap akan di sini. Kamu bisa menyuruh sopir menjemput atau nanti aku pulang naik taksi.”


Sebastian kembali menghela nafas. Sepertinya kali ini ia harus mengalah karena kemungkinan mood Kirana yang susah dibujuk ini adalah efek samping dari hormon kehamilannya.


Sebastian pun bangun dan meminta Kirana untuk ikut berdiri. Meski masih memasang wajah cemberut, tetapi Kirana menuruti permintaan suaminya juga.


Sebastian langsung memeluk Kirana dengan erat dan menciumi pucuk kepala istrinya.


“Oke kamu boleh tetap di sini tapi dengan beberapa syarat,” ujar Sebastian sambil merenggangkan pelukannya dan menatap Kirana.


“Tidak boleh periksa ke dokter Wanda sendirian, wajib menungguku. Tidak boleh pulang naik taksi apalagi diantar Steven. Selesai meeting aku pasti balik lagi kemari untuk menjemputmu. Dan terakhir kamu boleh ngobrol dengan Steven, tapi tidak boleh berdua di ruangan, bicaralah di tempat umum. Kalau mau pergi makan, jangan yang jauh dari rumah sakit, karena setelah aku datang, kalau masih ada waktu, kita langsung menemui dokter Wanda.”


“Banyak banget persyaratannya,” gerutu Kirana.


Sebastian hanya tersenyum dan kembali memeluk istrinya.


”Dan yang penting, tidak boleh membuka hati pada Steven,” bisik Sebastian.


“Curang !” protes Kirana. “Aku nggak boleh, sedangkan kamu…”


Sebastian menghentikan ucapan Kirana dengan ciuman mesra di bibir istrinya. Ia tersenyum tipis saat Kirana tidak menolaknya bahkan membalasnya dengan hangat.


Keduanya berhenti saat Steven berdehem karena merasa jengah melihat pemandangan di depannya. Apalagi sesuai dugaan Sebastian, di hatinya masih ada nama Kirana yang belum bisa dihapus.


Kirana melepaskan tautan mereka dengan wajah merona dan tersipu malu.


“Aku balik ke kantor dulu. Ingat, jangan melanggar pesanku,” Sebastian menoel hidung Kirana.


“Iya bawel !” omel Kirana sambil mendorong pelan tubuh Sebastian.


Sebastian tertawa dan menyempatkan mencium kening Kirana lalu mengusap pipi wanita itu sebelum ia berlalu menuju lobby.

__ADS_1


Handphonenya sudah kembali berbunyi, sudah bisa dipastikan kalau Dion yang menghubunginya kembali.


__ADS_2