
Sebastian dan Dion baru saja menginjakan kakinya di Bandara Soekarno Hatta dua hari setelah insiden nomor tidak dikenal. Pekerjaan proyek diserahkan pada Bara sebagai penanggungjawab.
Pak Tomo sudah menunggu di area penjemputan terminal kedatangan.
“Kita kemana, Pak ?” Pak Tomo yang sudah siap di belakang kemudi menatap Sebastian dari spion tengah.
Sebastian melihat jam tangannya. Masih belum terlalu sore. Sebsstian ingin langsung menemui Kirana.
“Ke rumah Kirana, Mo,” perintahnya.
Dion sudah mendapat kabar kalau Kirana ijin sakit dan sudah mengirimkan foto surat ijin dokter yang memintanya beristirahat selama 3 hari.
Satu jam lebih sedikit mobil sudah terparkir di depan rumah Kirana. Dengan tidak sabar, Sebastian bergegas turun dan memencet bel yang ada dekat gerbang.Dion sendiri masih menunggu di mobil bersama Pak Tomo.
Tidak lama, mama Lia keluar dan terkejut melihat kedatangan Sebastian di rumah mereka.
“Sore Tahte,” sapa Sebastian.
“Sore juga, Bas. Apa ada sesuatu dengan Kirana ?” Nada suara mama Lia terdengar cemas.
“Loh, saya justru ingin menemui Kirana, Tante.” Dahi Sebastian berkerut. Bagaimana bisa mama Lia malah menanyakan Kirana.
“Kemarin Kirana sudah pergi pagi-pagi, katanya akan menginap beberapa hari karena ada tugas kantor.”
Sebastian memejamkan matanya sambil menarik nafas . Bisa-bisanya Kirana membohongi Sebastian dan orangtuanya bersamaan.
Melihat ada sesuatu yang tidak beres, Dion pun turun dari mobil dan menghampiri Sebastian dan mama Lia yang masih berdiri di pagar.
“Sore Nyonya,” sapa Dion sambil membungkukan badannya. Mama Lia hanya mengangguk dengan raut wajah terlihat cemas.
“Kalau begitu saya ke kantor dulu untuk memastikan Kirana, Tante. Sementara ini Tante tenang saja dulu, saya pasti akan mencari tahu soal itu.”
Sebastian berusaha tersenyum untuk memberikan ketenangan pada mama Lia. Setelah itu ia langsung pamit bersama dengan Dion.
“Apa orang suruhanmu tidak mengikuti Kirana selama 24 jam ?” Tanpa menoleh, pertanyaan Sebastian yang terdengar keras cukup membuat Dion sedikit khawatir karena merasa kecolongan.
“Sepertinya tidak, Pak. Mereka hanya mengikuti Kirana selesai jam kantor 2 hari yang lalu, dan besok ya mulai jam 5 pagi. Tapi tidak ada laporan kalau Kirana meninggalkan rumah dengan membawa tas baju.”
“Bodoh !” Bentak Sebastian. “Cari tahu keberadaan Kirana dengan cara apapun !”
__ADS_1
Rahang Sebastian semakin mengeras menahan marah. Ada penyesalan karena tidak berusaha menghubungi Kirana saat kejadian nomor tidak dikenal itu. Meskipun handphone Kirana mati, posisi kekasihnya masih ada di kantor. Sebastian bisa menghubungi nomor kantor atau minta tolong pada Echi dan Marsha.
“Ke rumah sakit Pratama Medika, Mo !” Perintah Sebastian pada sopirnya.
“Baik Pak.”
Mobil pun langsung mengarah menuju tempat yang diminta oleh Sebastian.
“Apa saya perlu mengecek jadwal praktek dokter Steven, Pak Bas ?”
Sebastian hanya diam saja sambil memandang ke luar jendela samping.
Sampai di lobby Rumah Sakit, Sebastian bergegas turun dan menutup pintu mobil cukup keras. Dion pun segera menyusul untuk mencegah jangan sampai Sebastian membuat keributan di rumah sakit. Biar bagaimana pun, orang-orang yang mengenalnya tahu kalau Sebastian menyandang nama Pratama juga dan pasti ada hubungannya dengan rumah sakit.
Sampai di ruang praktek Steven, ternyata mereka masih harus menunggu. Masih ada satu pasien terakhir. Dion bersyukur karena Sebastian bisa mengendalikan emosinya dan tidak langsung menerobos masuk.
Kira-kira 30 menit kemudian, pasien terakhir keluar. Tanpa menunggu disuruh oleh suster yang berjaga di situ, Sebastian langsung membuka pintu dengan wajah penuh kemarahan.
“Bastian !” Steven yang masih duduk di kursinya dan sedang berbincang dengan suster lainnya, , terlihat kaget melihat sepupunya sudah berdiri di depannya.
Steven pun memberi kode pada perawat yang di dalam untuk meninggalkan mereka. Sekarang di ruangan itu hanya tinggal mereka bertiga.
Steven mengernyit, wajahnya bingung mendengar pertanyaan Sebastian, tapi kemudian suara tawa dengan nada mengejek keluar dari mulutnya.
“Bukannya kamu mengaku calon suaminya ? Kenapa malah tanya aku ?” Steven mencibir dengan tatapan sinis
“Bukankah terakhir kalian janjian ketemu di Mal ?” Suara Sebastian tidak kalah sinis dan wajahnya pun balas merendahkan Steven.
“Ah iya, tentu saja aku ingat. Dan perlu kamu tahu kalau saat itu aku secara resmi meminta Kirana menjadi kekasihku. Mungkin sekarang dia sengaja menjauh darimu, untuk memastikan perasaannya apakah akan menerima tawaranku.” Steven tertawa sambil memasang wajah pongahnya.
“Dasar brengsek !” Sebastian menggebrak meja dan hendak mencengkram kemeja Steven yang terbalut dalam snelli nya.
Dion menahan tubuh Sebastian yang masih berusaha menggapai Steven. Asisten itu pun membisikan sesuatu yang akhirnya membuat Sebastian menahan emosinya.
“Urusan kita belum selesai !” Sebastian berbalik sebelum menutup pintu ruang praktek Steven. “Jangan sekalipun mencoba mendekati Kirana apalagi sampai berani memintanya menjadi kekasihmu !”
Steven hanya tertawa mengejek mendengar ucapan Sebastian. Dan setelah sepupunya membanting pintu ruang prakteknya. Steven langsung mengambil handphone di laci mejanya.
Namun sama seperti Sebastian, Steven selalu tersambung dengan kotak suara sejak kemarin.
__ADS_1
Ternyata Dion mengajak Sebastian untuk langsung ke kantor. Ia sudah meminta Aldo untuk bersiap dan menemui mereka di ruang kerja Sebastian. Selain memeriksa CCTV, atas seijin Sebastian, Aldo akan mengecek komputer milik Kirana, siapa tahu ada sesuatu yang bisa melacak keberadaan Kirana.
Sampai di lobby kantor, lagi-lagi Sebastian menutup pintu mobil dengan cukup keras dan bergegas menuju ruangannya. Ia tidak membalas sapaan beberapa karyawan yang berpapasan dengannya di lobby.
Sampai di lantai 15, Aldo sudah duduk di sofa yang ada di ruangan Kirana dan Dion. Sebastian memberi isyarat agar Aldo langsung melakukan apa yang bisa membantunya melacak Kirana.
Sebastian sendiri masuk ke dalam ruangannya. Membuka laci paling atas yang tidak pernah dikuncinya. Ia menemukan kotak yang berisi kalung dengan liontin kecil yang pernah diberikannya pada Kirana. Dan sepertinya gadis itu sadar kalau Sebastian menaruh alat pelacak di sana.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aldo sudah mengabarkan kalau posisi kalung itu ada di lantai 15 gedung MegaCyber. Sebastian sempat lemas mendengarnya. Ia langsung membuka laci meja kerjanya, karena tempat itulah yang biasa Kirana pakai untuk meletakkan sesuatu untuk Sebastian.
Sebastian sedang duduk bersandar sambil memejamkan mata di kursi kerjanya saat pintu ruangan diketuk. Tidak lama Aldo dan Dion masuk dan mendekati meja kerja Sebastian, namun Sebastian memberi isyarat untuk bicara di sofa.
Mereka pun mengambil posisi yang bisa melihat laptop secara bersamaan dan Aldo mulai membuka rekaman CCTV yang memang dipasang di ruang sekretariat lantai 15.
Sebastian tercekat saat melihat ekspresi wajah Kirana yang begitu terkejut dan tidak lama terlihat tangannya bergetar memegang handphone. Namun sayang, bahkan pantulan dari handphone yang dipegang Kirana tidak bisa ditangkap oleh CCTV.
“Sepertinya Kirana mendapat kiriman gambar, Pak,” jelas Aldo saat Sebastian sudah duduk bersandar pada sofa sambil menatap ke langit-langit.
“Tapi mohon maaf, sudah saya usahakan untuk melihat dari berbagai sudut, CCTV, tetap tidak bisa terlihat jelas. Hanya bayangan gambar saja.”
“Coba perlihatkan, Do.”
Sebastian kembali menegakan duduknya dan fokus menatap laptop Aldo.
“Ini yang paling terbaik, Pak.”
Terlihat posisi tangan Kirana sedang menyentuh handphonenya. Sebastian memicingkan matanya untuk mengira-ngira gambar yang dilihat oleh Kirana. Rasanya sakit saat melihat kekasihnya menangis sesunggukan sampai tubuhnya bergetar.
Sebastian menggeram frustasi karena tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di handphone Kirana. Bahkan dimana saja keberadaan gadis itu tidak bisa terlacak.
“Kalian boleh keluar. Terima kasih bantuannya, Do. Tolong tetap di pantau keberadaan handphone Kirana, siapa tahu sewaktu-waktu aktif kembali.”
“Baik, Pak Bas.”
Keduanya pun pamit keluar dari ruangan Sebastian, sementara pria itu merebahkan tubuhnya di sofa.
Fisik dan mental Sebastian cukup lelah saat ini. Kata seandainya ini dan itu bergantian terlintas dalam pikirannya. Belum lagi perkataan Steven tadi sempat membuat hati Sebastian cemas. Bagaimana jika memang benar Kirana sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan Sebastian dan memilih Steven ?
Semua kecemasan itu akhirnya membuat mata Sebastian terpejam perlahan dan tertidur karena terlalu lelah.
__ADS_1