
Sudah dua hari sejak kemarin, Sebastian datang ke kantor tanpa melakukan pekerjaan penting.
Sebagai bentuk dukungannya sebagai orang tua, Tuan Richard yang mendengar permasalahan Kirana, memilih tetap datang ke kantor. Pekerjaan harian Sebastian tetap ditanganinya, sama seperti saat putranya itu pergi ke Kalimantan. Nyonya Amelia pun sempat merasa cemas ketika mendengar kabar tentang Kirana yang belum diketahui keberadaannya. Namun suaminya meyakinkan kalau gadis yang diusung sebagai calon menantu mereka pasti dalam keadaan baik-baik saja.
Belum juga masalah Kirana mendapatkan titik terang, Dion masuk ke ruangan Sebastian dan menyampaikan kedatangan Shera di kantor.
“Mau apa lagi dia kemari ?” Tanya Sebastian dengan nada ketus.
“Nona Shera adalah tim penasehat hukum dari perusahaan Tuan Alexander.”
“Shit !” Umpat Sebastian sambil memukul kepalan tangannya ke meja.
Tidak mungkin menolak kedatangan Shera sebagai tim penasehat hukum kliennya untuk proyek di Kalimantan. Dalam hal ini Tuan Richard tidak dapat mewakilan Sebastian karena proyek ini sepenuhnya dipegang dan menjadi tanggungjawab Sebastian.
“Berapa orang ?” Sebastian menatap Dion yang masih berdiri di depannya.
“Hanya Nona Shera, anggota tim lainnya sudah bertemu dengan divisi hukum MegaCyber. Sepertinya Nona Shera ingin bertemu karena alasan pribadi dengan Pak Bas.”
“Aku akan menemuinya dan kamu tetap di sini, duduklah di sofa dan jangan keluar sekalipun Shera mengusirmu.”
“Baik, Pak.” Dion pun berbalik badan untuk mempersilakan Shera masuk. Wanita itu sudah duduk manis di sofa depan.
“Dion !” Panggil Sebastian. Asistennya yang hampir membuka pintu berbalik saat mendengar namanya dipanggil.
“Jangan panggil Shera dengan sebutan Nona, geli aku mendengarnya. Dia sudah bukan nona lagi. Panggilah sesuai kondisinya.”
Dion menganngguk dan tersenyum tipis saat badannya sudah membelakangi Sebastian.
Tidak lama pintu kembali terbuka. Sebastian tidak melirik apalagi menoleh karena sudah tahu siapa yang datang.
“Apa kabar Bas ?” Shera sudah berdiri dekat meja Sebastian.
“Duduk.” Jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan Shera keluar dari mulut Sebastian.
Tangannya yang bertopang pada pegangan kursi kerjanya mengatup di depan mulut Sebastian. Ditatapnya Shera dengan wajah datar.
Shera melirik Dion yang duduk di sofa. Senyum sinis dan mengejek langsung terlihat di wajah Shera.
“Apakah bertemu denganku begitu menakutkan bagimu, Bas ? Sampai-sampai asisten setiamu itu harus ikut duduk dan mendengarkan pembicaraan kita ?” Shera menatap Sebastian dengan senyuman mengejek.
“Atau kamu takut kalau perasaan cintamu bergelora kembali setelah berhadapan denganku ?” Mata Shera yang mengerling genit membuat Sebastian berdecih kesal.
“Mau apa kamu kemari ? Bukankah urusan hukum sudah ditangani oleh divisi hukum kami ?”
Tatapan tajam Sebastian kini menelisik wajah Shera yang masih saja sekali-sekali tersenyum sinis.
“Apakah tidak boleh seorang MANTAN ISTRI bertemu dengan MANTAN SUAMi - nya.” Shera tertawa setelah mengucapkan nada penuh tekanan pada kata mantan di kalimatnya.
__ADS_1
“Berani mengaku sebagai mantan istriku meski tidak lebih dari 24 jam ?” Nada Sebastian tidak kalah sinis menanggapi ucapan Shera.
“Mau kurang dari 24 jam, 24 hari atau 24 tahun sekalipun, undangan yang tersebar membuat orang tetap memberikan kita status sebagai suami istri, meskipun akhirnya menjadi mantan setelah surat perceraian.”
“Bukan surat perceraian, tapi pembatalan !” Tegas Sebastian.
Shera tertawa dengan nada mengejek. Pria yang pernah menjadi kekasihnya belum banyak berubah. Mudah terpancing emosi hanya dengan kata-kata yang mengusik egonya.
“Aku dengar kalau kamu sudah punya calon istri baru sekarang ? Masih muda pula. Apa perempuan yang kamu perkenalkan di pesta ulangtahun mommy benar-benar calon istrimu ?”
“Bukan urusanmu ! Dan jangan panggil mommy Amelia dengan sebutan mommy lagi !”
Shera terbahak saat mendengar ucapan Sebastian seperti anak kecil yang merajuk karena mainannya diambil.
“Oke, oke mantan suami. Berarti Nyonya Amelia mantan mertua ya,” Shera masih tertawa pelan.
“Tapi aku dengar kalau calon istrimu itu adalah mantan kekasih Steven yang selalu dicarinya selama ini. Aku jadi seperti menonton drama.”
Sebastian berusaha menahan emosinya supaya tidak perlu mendengar gelak tawa Shera lagi yang membuat kupingnya sakit.
“Mungkin judulnya Dua Cinta Satu Atap ?” Shera menatap Sebastian dengan ekspresi mengejek.
“Apa kamu yakin Bas kalau perempuan itu mencintaimu ? Bukan mendekatimu hanya untuk memanas-manasi Steven ? Tidakkah kamu sudah punya pengalaman dibodohi perempuan ?”
Sebastian tertawa sinis.
“Ya, dan perempuan itu adalah dirimu ! Dan sekarang dengan tidak tahu malunya kamu mengingatkan aku kembali akan perbuatanmu.”
“Setidaknya cukup aku saja, Bas. Apalagi istrimu jauh lebih muda. Apa kamu rela dibodohi anak kecil ?”
“Kalau tujuanmu kemari hanya ingin membahas masalah hidupku, sepertinya perusahaan Tuan Alexander salah mempekerjakanmu sebagai tim penasehat hukum mereka.”
Sebastian yang sudah mulai bisa mengendalikan emosinya berbicara dengan nada datar.
“Kasihan karena mereka tertipu oleh wanita lihai sepertimu. Menerima bayaran mahal tapi keahliannya hanya sibuk mengurus kehidupan orang lain,” ucapan Sebastian yang mengejek membuat Shera hanya tersenyum sinis.
“Apa lelaki yang menghamilimu tidak mau bertanggungjawab ? Atau karena lelaki itu mendadak jatuh miskin dan kamu belum menemukan mangsa baru yang bisa kamu tipu seperti aku ?”
Sebastian mencondongkan sedikit badannya ke arah Shera yang masih duduk di depan meja kerjanya.
“Sayang sekali keahlianmu sebagai seorang pengacara digunakan untuk menipu para lelaki kaya yang bisa memuaskanmu.”
Kali ini gantian Sebastian tertawa dengan kalimat penuh sindiran dan ejekan.
“Jangan bawa-bawa masalah pekerjaanku !” bentak Shera dengan wajah kesal.
“Aku bersyukur karena Tuhan masih memberikan aku kesempatan melihat kebusukanmu sebelum aku terjerat dalam perangkapmu,”
__ADS_1
Shera mengepalkan kedua tangannya yang ada si bawah meja. Ia sendiri berusaha bersikap biasa dan tidak terpancing oleh ucapan Sebastian.
“Bahkan kamu bukanlah seorang ibu yang baik,” tatapan Sebastian terlihat tajam dan mengintimidasi perempuan di hadapannya.
“Kalau kamu seorang ibu yang baik, tidak akan anakmu berlari ke pelukan calon istriku bahkan sampai memanggilnya mama.”
“Tahu apa kamu tentang anakku !” Seru Shera yang mulai kehilangan kontrol saat Sebastian mengungkit soal Raven.
“Tentu saja aku tahu. Anakmu begitu menyayangi calon istriku dan saat terakhir bertemu di mal, anakmu memanggil Kirana dengan sebutan mama. Perasaan anak kecil tidak mungkin berbohong. Mereka tahu mana perempuan yang baik untuk menjasi ibu mereka dan mana perempuan yang hanya menggunakan anak untuk status mereka.”
Shera beranjak bangun dari duduknya dan tertawa sinis pada Sebastian.
“Hanya karena seorang anak memanggilnya mama lantas kamu anggap calon istrimu itu perempuan baik-baik ? Dia punya hubungan yang spesial dengan Steven,”
Shera mencondongkan tubuhnya ke arah Sebastian hingga wajahnya semakin dekat dengan pria itu Reflek Sebastian yang kaget, mendorong kursinya ke belakang hingga menjauh.
“Apakah kamu yakin kalau hubungan perempuan itu dengan Steven hanya cinta monyet ? Aku tidak yakin kalau perempuan itu…”
“Kirana ! Perempuan itu adalah calon istriku dan punya nama !” Potong Sebastian.
Shera terkekeh melihat wajah Sebastian yang memerah karena kesal
“Oke.. Oke.. Bas, Kirana. Nama yang cantik. Apa aku boleh meneruskan ?”
Shera menatap Sebastian dengan posisi berdiri dan kedua tangannya melipat di depan dada.
“Aku tidak yakin kalau Kirana tidak akan tergoda dengan bujukan Steven. Apalagi mereka benar-benar sangat dekat di masa lalu. Kamu tentu ingat bagaimana sepupumu itu tidak berhenti menceritakan tentang cintanya pada Kirana, sampai kita bosan mendengarnya.”
“Bukan urusanmu ! Kalau kamu sudah selesai dengan pidato teorimu, silakan keluar dari ruanganku. Kamu bukanlah perempuan baik yang bisa memberikan penilaian pada calon istriku.” Suara Sebastian terdengar lebih kalem membuat Shera merasa kembali di atas angin.
“Kamu bahkan tidak tahu sejauh mana Kirana membangun kembali hubungannya dengan Steven. Apalagi kamu akan sering-sering meninggalkannya sama seperti saat denganku dulu.”
Tatapan wajah Shera dibuat terlihat sendu, seolah-olah ia teringat akan masa lalunya dengan Sebastian.
“Dion !” Sebastian langsung memanggil asistennya sebelum Shera membuka mulutnya lagi.
“Tolong minta Tuan Alexander untuk mengganti dia,” Sebastian sengaja menunjuk Shera dengan sedikit kasar.
“Kalau sampai Tuan Alexander keberatan, pekerjaan kit akan berakhir hanya sampai tahap satu saja. Dan urus semua pembatalan kontrak kerjasamanya.”
Shera terkejut mendengar ucapan Sebastian. Menjadi kekasihnya selama 3 tahun membuat Shera sedikit hafal kalau Sebastian tidak pernah main-main dengan keputusannya dalam hal pekerjaan.
Akhirnya Shera memutuskan meninggalkan ruangan Sebastian tanpa berpamitan. Namun langkahnya terhenti sebelum membuka pintu dan ia kembali membalik badannya.
“Jangan sampai rasa kesepian yang kamu ciptakan membuat calon istrimu itu mencari cinta masa lalunya yang bisa memberinya kenyamanan,” ucap Shera dengan penuh penekanan.
Sebastian hanya diam dan terlihat acuh dengan ucapan Shera. Namun hati kecilnya terusik, membuatnya berpikir apa mungkin Kirana akan melakukan hal yang sama seperti Shera dengan alasan kesepian karena sering jauh dari Sebastian.
__ADS_1
Sebastian menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya, sementara Dion sudah keluar sekalian mengantar Shera sampai di lift.
Ucapan terakhir Shera benar-benar mengganggu pikirannya. Sebastian memejamkan matanya, memikirkan kemana kira-kira Kirana pergi.