Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Ban 42 Merindukanmu


__ADS_3

Hari kelima Kirana menghilang tanpa kabar, Aldo masih belum bisa melacak keberadaannya karena handphone Kirana masih belum aktif.


Sebastian sedang duduk di belakang meja kerjanya sambil membuka laptop. Meski delapanpuluh persen pikirannya masih dipenuhi oleh Kirana, namun ia sadar bahwa ada tanggungjawab yang dipercayakan Daddy Richard kepadanya.


Hari ini Sebastian berusaha kembali menjalankan sebagian tugasnya yang sempat dialihkan pada Daddy Richard selama ia pergi ke Kalimantan.


Untuk masalah Kirana, ia percayakan pada Aldo dan Dion untuk membantunya. Dion sudah menempati orang-orang kepercayaannya untuk mengawasi Steven sebagai tersangka utama menghilangnya Kirana.


Jam 3 sore Sebastian menghentikan aktivitasnya Ia bangun dari kursi kerjanya lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena terlalu fokus pada pekerjaan.


Sebastian berdiri di depan jendela kaca yang menjadi latar belakang meja kerjanya. Pemandangan yang terlihat dari lantai 15 terutama di saat malam, sering membantu Sebastian menghalau kegelisahan di hatinya. Tetapi saat ini masih terang benderang. Deretan bangunan terlihat sedikit berantakan jika dilihat dari ketinggian.


Sebastian langsung menghubungi Dion saat hati dan pikirannya sudah mulai tenang. Tidak berapa lama, Dion sudah memasuki ruangannya.


“Apa ada jadwal meeting hari ini ?” Tanya Sebastian saat Dion sudah berdiri di depan meja kerjanya.


“Sementara Tuan Richard yang memegang pertemuan dengan pihak luar, Pak Bas. Sampai masalah Kirana mendapat titik terang, Tuan Richard berpesan supaya Pak Bas cukup menangani masalah penting di dalam perusahaan.”


Sebastian mengangguk. Ia menganbil jas miliknya yang digantung di sudut ruangan dan memakainya kembali.


“Antarkan saya ke suatu tempat. Tidak perlu mengajak Tomo.”


Dion mengangguk dan segera keluar ruangan untuk merapikan meja kerjanya dan mematikan komputer. Ia pun menghubungi Pak Tomo dan memintanya membawa mobil Sebastian ke lobby.


20 menit kemudian, Sebastian dan Dion sudah berada di jalan raya meninggalkan gedung MegaCyber.


“Antarkan saya ke Apple Bakery. Ada yang saya mau beli di sana.”


Dion mengerutkan dahinya mendengar nama Apple Bakery. Toko kue langganan Nyonya Amelia itu adalah tempat favorit Kirana. Kue bolu pandan keju adalah salah satu produk Apple Bakery yang digemari oleh Kirana.


Selesai dari toko kue, Sebastian meminta Dion mengantarnya ke toko bunga. Rencana awalnya ingin membeli rangkaian bunga mawar putih, namun karena Sebastian belum memesan sebelumnya, akhirnya ia membeli rangkaian mawar kuning yang berpadu dengan bunga margrit.


“Apa Pak Bas mau kencan dengan seseorang ?” Dion yang sejak tadi diliputi rasa penasaran akhirnya bertanya pada Sebastian.


“Semoga saja, Yon.” Sebastian menoleh ke arah luar jendela.


“Sekarang kita kemana, Pak ?


“Ke rumah Kirana.”


Dion mengerutkan dahinya sambil melirik ke arah Sebastian. Ada perasaan iba di hatinya saat melihat Sebastian begitu rindunya pada wanita yang sudah menghidupkan kembali cintanya setelah dikhianati.


Apakah begitu sedih hati Pak Bas sampai membelikan kue dan bunga untuk Kirana yang masih belum diketahui keberadaanya ?


“Cari posisi parkir yang tidak bisa terlihat dari rumah Kirana tetapi kita masih bisa mengamati kondisi rumahnya.”


Dion hanya mengangguk dan memastikan kalau mobil yang dibawanya terparkir dalam posisi yang diminta oleh Sebastian.


“Tunggu sebentar, Yon. Tolong temani saya dulu.”


“Baik, Pak.”


“Kalau kamu melihat mobil Om Heru datang tolong bilang. Saya mau rebahan sebentar.”

__ADS_1


Sebastian yang duduk di depan merubah posisi kursinya hingga tubuhnya bisa rebah.


Baru 15 menit memejamkan mata, Dion memanggil namanya.


“Pak, mobil Pak Heru baru sampai.”


Sebastian mengembalikan posisi kursinya kembali normal. Jas nya yang sudah terlipat di kursi belakang ditinggalkannya. Lengan kemejanya pun sudah tergulung sampai ke siiku.


“Saya akan menelepon kamu kalau urusan saya sudah selesai. Bisa tolong tunggu di sini dulu ?”


“Baik Pak, saya akan tunggu.”


Sebastian sedikit berlari menyeberang jalan menuju rumah Kirana. Dia mengejar sebelum pintu gerbang ditutup.


“Selamat sore, Om.”


Papa Heru terlihat kaget saat mendapati Sebastian sudah berdiri di dekatnya.


“Maaf kalau saya mengagetkan. Saya mau numpang ke toilet, apa boleh ? Kebetulan saya sedang melintas habis bertemu dengan teman dan perut saya tiba-tiba sakit. Apa boleh …”


“Oohh… eehh… Tentu saja boleh, silakan masuk. Di dalam ada mamanya Kirana dan Kendra.”


“Terima kasih, Om.”


Sebastian bergegas masuk setelah melepaskan sepatu dan kaos kakinya di depan pintu utama. Didapatinya rumah dalam keadaan sepi. ia melongok ke dalam dan tidak mendapati mama Lia ataupun Kendra di sana. Sebastian meneruskan langkahnya. Terdengar suara kesibukan di dapur, dan hanya ada mama Lia seorang saat Sebastian mengintip dari balik tembok pembatas.


Sebastian meneruskan langkahnya menuju lantai 2. Ini adalah yang pertama baginya menginjakan kaki di lantai 2 rumah keluarga Kirana.


Sebastian mengamati kedua pintu yang tertutup rapat. Bingung memilih yang mana merupakan pintu kamar Kirana.


Mengikuti instingnya, Sebastian memilih berbelok ke kanan menuju kamar yang posisinya lebih dekat ke kamar mandi.


Tanpa mengertuk, Sebastian membuka pintu perlahan dan langsung masuk ke dalam kemudian menutup pintu kembali dengan hati-hati.


Langkahnya mendekat ke arah tempat tidur berukuran sedang. Ia menggelengkan kepalanya saat melihat sosok itu tertidur pulas dengan selimut yang menutupi hanya sampai batas pinggang.


“Dasar anak nakal !” Omelnya dengan suara pelan.


Sebastian semakin mendekati Kirana yang masih tertidur pulas dan duduk di tepi ranjang dekat kepala Kirana.Dengkuran halus terdengar dari setiap tarikan dan hembusan nafasnya.


Sebastian membuka laci nakas yang ada di sebelah tempat tidur. Wajahnya berbinar saat melihat handphone Kirana ada di sana. Sebastian berusaha menyalakan handphone, namun daya batere yang sudah habis total tidak langsung bisa memghidupkan handphone Kirana.


Sebastian pun menyambungkan handphone dengan penambah daya yang ada dekat nakas di samping tempat tidur Kirana.


Awalnya hanya ingin mencium kening Kirana, namun rasa rindu yang ditahannya berminggu-minggu sejak pergi ke Kalimantan, Sebastian lanjut mencium kedua pipi Kirana bahkan menyentuh bibirnya sekilas.


Kirana tidur begitu pulas sampai ciuman Sebastian tidak mampu membangunkannya, hanya membuatnya menggeliat.


Sebastian tersenyum. Tangannya meraih handphone miliknya yang sempat diletakan di atas nakas sebelum duduk.


“Yon, tolong turunkan kue dan bunganya di rumah Kirana, titipkan pada siapapun yang membukakan pintu.”


Dion mengiyakan dan bergegas melaksanakan permintaan boss nya setelah Sebastian menutup panggilannya.

__ADS_1


Tergoda dengan posisi tidur Kirana yang begitu tenang, Sebastian ikut merebahkan tubuhnya di sebelah kekasihnya. Perlahan diangkatnya kepala Kirana untuk bertumpu pada lengannya dan dibawanya tubuh Itu ke dalam pelukan Sebastian.


“Aku merindukanmu. Sangat,” bisik Sebastian di telinga Kirana saat wajahnya sudah menempel di dada bidangnya.


Kirana hanya menggeliat dan membalas pelukan Sebastian seperti sedang memeluk guling. Pria itu terkekeh pelan karena merasa bahagia. Dan perlahan matanya memejam dsn ikut tertidur.


Sementara di lantai bawah rumah, ketiga anggota keluarga lainnya duduk di meja makan dekat dapur.


Papa Heru langsung memanggil Kendra lewat handphone dan memintanya turun.


Ketiganya tidak menyangka kalau Sebastian datang tiba-tiba. Tanpa perlu mencari-cari atau bertanya, sudah pasti saat ini Sebastian sedang berada di kamar Kirana.


“Kenapa Bastian bisa mendadak datang, Pa ? Apa ada yang tidak sengaja memberitahunya ?” Mama Lia menatap suami dan putranya bergantian.


Keduanya menggeleng. Kue dan bunga yang tadi dibeli oleh Sebastian sudah diantat Dion dan diletakan di atas meja makan di depan mereka.


“Apa Sebastian akan marah kalau tahu kita malah membohonginya dan membantu Kirana bersembunyi ?” Wajah mama Lia terlihat cemas.


Papa Heru tertawa pelan melihat ekspresi istrinya.


“Ma, kita ini orangtuanya Kirana dan Sebastian belum menjadi suaminya. Tanggungjawab ataa Kirana masih ada di pundak kita. Kirana bersembunyi dan menghindari Sebastian bukan tanpa alasan. Kita kan sudah tahu duduk perkaranya. Wajar kalau sebagai orangtua kita ingin melindungi anak sendiri dari rasa sakit hatinya.”


“Apa mereka akan bertengkar, Pa ?”


“Soal itu papa tidak tahu. Kalaupun pertengkaran menjadi jalan untuk mendapatkan solusi, kita biarkan saja dulu. Sementara cukup menjadi pengamat saja.”


Kendra yang sedari tadi hanya mendengarkan menatap papa dan mamanya bergantian.


“Terus Kak Kiran dan Kak Bas dibiarkan saja berdua di kamar dengan pintu tertutup ?” Mata Kendra memicing menunggu reaksi orangtuanya.


“Mungkin mereka sedang berbincang dari hati ke hati, biar dulu saja,” sahut papa Heru yang duduk berseberangan dengan Kendra.


“Papa yakin, nggak takut ada pihak ketiga yang menggoda ?” Ledek Kendra. “Berduaan di kamar, pintu tertutup dan…”


“Kendra !” Pekik mama Lia sambil melotot. Beliau sudah tahu maksud ucapan Kendra yang langsung terkekeh.


“Dasar pikiran kamu aja yang ngeres !” Papa Heru bangkit dan menyentil kening putranya yang langsung meringis.


“Makanya sana cari pacar biar tahu rasanya punya orang yang spesial,” omel papa Heru.


“Maunya langsung kawin aja, nggak mau kelamaan pacaran.”


“Nikah Kendra, bukan kawin,” ledek mama Lia.


“Mama yakin kalau Kak Kiran….” Kendra nyengir kuda saat mama Lia melotot menatapnya.


“Kalau mereka mau macam-macam, kenapa harus tunggu di rumah. Banyak kesempatan di luar, apalagi mereka sering jalan berdua.”


“Kayak mainan roller coaster, Ma, semakin ekstrim semakin menggoda, Ma !” Kendra tertawa sambil beranjak bangun dari kursinya.


“Kendra !” Pekik mama Lia kembali, sementara putranya semakin mengeraskan tawanya dan menjauh dari ruang makan.


Papa Heru hanya menggeleng sambil teraenyum melihat perdebatan istri dan putranya.

__ADS_1


__ADS_2