
Kirana sudah menempati kamar rawat di lantai 7. Tidak ada kata penolakan karena daddy Richard dan mommy Amelia ingin memberikan pelayanan istimewa untuk sepasang cucu laki-laki pertama mereka sebagai penerus keluarga Pratama.
Kirana sampai tidak enak sendiri karena diperlakukan begitu istimewa oleh kedua mertuanya.
“Jangan menolak kebaikan mertuamu. Mereka menyayangimu bukan karena kamu telah memberikan keturunan sebagai penerus nama keluarga, tapi kasih sayang mereka benar-benar tulus,” nasehat mama Lia saat meihat putrinya merasa risih.
“Iya Kiran. Bahkan mereka memperlakukan kami sangat baik meskipun secara kedudukan kami bukanlah apa-apa,” timpal papa Heru.
Kirana mengerjapkan matanya ingin menahan air mata harunya. Semuanya bagai cerita dari negeri dongeng, tidak menyangka kalau ia akan mendapatkan kebahagiaan begitu berlimpah.
“Apa masih sakit ?” Sebastian mengusap kepala Kirana dengan penuh cinta.
Kirana sedikit terkejut karena tadi ia melihat Sebastian berada jauh darinya, sedang berbincang dengan uncle Raymond dan beberapa dokter yang mengenal baik daddy Richard dan Sebastian.
“Nggak… Nggak ada yang sakit, Bee. Biasa hanya bekas jahitannya.”
Sebastian memeluk Kirana dan mengusap-usap punggung istrinya, bahkan ia sengaja meraba-raba memastikan kalau Kirana sudah mengenakan kembali bra-nya.
“Bee, kamu ngapain, sih,” Kirana menggerakan badannya menahan geli karena Sebastian meraba-raba hingga ke bagian depan dadanya.
“Hanya ingin memastikan kalau kamu sudah memakai kembali pakaian dalammu. Jangan sampai para tamu yang datang malah salah fokus.”
“Bee !” Kirana memukul bahu suaminya yang malah tertawa.
“I love you,” Sebastian mengecup kepala Kirana lalu turun ke keningnya.
“Kamu adalah kebahagiaanku. Terima kasih sudah menyempurnakan hidupku dengan memberikan anak-anak yang tampan untukku.”
Kirana hanya diam dan kembali meneteskan air mata, membuat Sebastian merenggangkan pelukannya.
“Honey, kok kamu masih nangis ? Aku panggil Tante Wanda untuk memastikan jahitanmu baik-baik saja, ya.”
“Bukan karena jahitan, Bee,” Kirana menatap wajah Sebastian yang memandangnya dengan dahi berkerut.
“Aku bahagia banget. Rasanya seperti lagi di negeri dongeng. Punya suami yang begitu mencintai aku dan keluarga yang sangat menyayangiku. Aku nggak lagi mimpi kan, Bee ?”
Sebastian kembali menarik Kirana dalam pelukannya dan didekapnya Kirsna erat-erat.
“Kamu nggak mimpi. Sayang. Bukan hanya kamu yang bahagia, aku juga bahagia pakai banget, karena memiliki kamu sebagai istriku. Aku bersyukur banget karena bisa dikasih lihat niat jelek Shera dan akhirnya kami batal jadi suami istri. Kalau nggak, aku hanya bisa menatapmu dari jauh yang mungkin saja akan jadi istri Steven.”
“Bee,” Kirana kembali memukul pelan dada Sebastian. “Sekalipun aku tidak bertemu denganmu, sepertinya Steven bukan pilihanku juga.”
Sebastian tertawa dan mencubit kedua pipi Kirana yang bertambah chubby dengan gemas lalu mencium bibinya sekilas namun berkali-kali sambil tertawa.
“Bas, jangan lupa istrimu baru melahirkan,” tegur mommy Amelia dengan galak. “Awas saja kalau kamu nggak bisa sabar sampai masa nifas berakhir ! Mommy culik istri dan anakmu supaya jauh-jauh darimu.”
Mama Lia dan papa Heru langsung tertawa pelan melihat wajah Sebastian yang ditekuk.
“Tentu saja aku nggak akan tega memaksa istriku, Mom. Apa Mommy meragukan cintaku pada Kirana ?”
“Siapa tahu kamu takut karatan hanya karena tidak digunakan selama dua bulan,” ledek Mommy Amelia sambil mencibir
“Mom, apa mommy lupa kalau aku ini anak daddy dan mommy dan sekarang ada kedua mertuaku di sini,” Sebastian menatap kedua mertuanya yang masih senyum-senyum.
“Terus ?”
“Mommy sudah menjatuhkan harga diriku di depan kedua mertuaku,” ujar Sebastian kesal.
“Tentu saja mertuamu tidak akan berpikiran buruk. Bukankah kamu sudah membuktikan dengan memberikan dua cucu sekaligus ?”
“Ya, dan segera akan bertambah di tahun depan,” ujar Sebastian dengan penuh keyakinan.
“Bee, kamu kira aku mesin pabrik anak ?” gerutu Kirana dengan bibir mengerucut.
”Anak itu rejeki, Sayang dan orangtua bilang rejeki tidak boleh ditolak,” Sebastian mengedipkan sebelah matanya menggoda Kirana.
”Dan semoga kamu yang kebagian ngidamnya,” cibir Kirana sambil melengos kesal.
“Kalau ngidamnya seperti yang lalu, aku nggak keberatan,”’sahut Sebastian sambil tertawa.
Mommy Amelia menggeleng-gelengkan kepala, di dekatnya mama Lia dan papa Heru hanya tertawa.
“Lalu siapa nama anak kalian ?” tanya mommy Amelia sambil mengernyit.
__ADS_1
“Georgio Ronald Pratama dan Giovani Roland Pratama,” ucap Sebastian dengan wajah sumringah.
“Apa kamu sudah setuju, Kirana ?” Momny Amelia melirik menantunya yang sudah tidsk lagi cemberut.
“Sudah, Mom. Mas Bas sudah menanyakan dulu sama Kiran.”
“Jadi panggilannya Geo dan Gio ?” tanya papa Heru.
“Ronal dan Rolan, Pa,” sahut Sebastian.
Tidak lama pintu diketuk dan terihat dua boks bayi dibawa masuk oleh kedua perawat.
Sebastian langsung tersenyum cerah namun mendadak suram saat melihat pria menyebalkan dengan snellinya ikut di belakang para perawat.
“Ngapain lagi tuh buaya ganjen ikut-ikut masuk kemari,” gerutu Sebastian dengan muka sebal.
Kirana tertawa pelan dan mengusap pipi Sebastisn.
“Buaya darimana, Bee ? Lagupula Steve kan dokter anak di sini dan anak pemilik rumah sakit. Sudah seharusnya dia menemui tamu VVIP, apalgi tamunya memang pasiennya.”
“Susah banget move on dari mantan pacarnya,” gerutu Sebastian sambil bersiap-siap mencari posisi yang pas untuk menghalau Steven yang suka mencuri-curi kesempatan.
“Bee, aku bukan mantan pacarnya, ya !” tegas Kirana dengan suara pelan namun matanya mendelik.
“Tapi Steven menganggapnya begitu,” omel Sebastian lagi.
“Bee, kenapa kamu jadi suka ngedumel begitu ?” Kirana menautkan alisnya.
“Hanya kalau ada buaya dekat-dekat denganmu,” sahut Sebastian dengan ketus.
Kirana memutar bola matanya dengan wajah sebal. Entah kenapa tingkat posesif Sebastian tidak bisa dikendalikan kalau sudah berhadapan dengan Steven.
“Bastian takut aku tikung, Nana,” ucap Steven sambil terkekeh. Wajah Sebastian terlihat jelas kalau ia agak sebal dengan Steven yang masih suka meledeknya soal Kirana.
“Bastian masih berpikir kalau aku masih menunggu jandamu,” lanjut Steven masih dengan tawanya.
“Memang kenyataannya begitu,” gerutu Sebastian.
“Aku itu udah cinta mati sama kamu Sebastian Pratama, jadi mau ada seratus Steven, hatiku yang cuma satu ini sudah terlanjur dipatri dengan namamu,” Kirana tersenyum manis merayu suaminya.
“Tapi awas aja kalau kamu berani mengkhianatiku apalagi sampai menjadikan aku janda. Bukan Steven yang aku cari, tapi aset berhargamu yang akan akh hukum biar selingkuhanmu sama menderitanya denganku,” ancam Kirana sambil menatap galak pada Sebastian.
Sebastian menangkup wajah Kirana lalu mencium kening, turun ke mata dan berakhir di bibir Kirana. Pria itu sengaja melakukannya di depan Steven sebagai balasan karena Steven sering menggodanya tentang Kirana.
Steven memutar bola matanya sambil geleng-geleng kepala. Kelakuan sepupunya ini mengingatkan Steven pada sosok Arjuna yang begitu posesif pada gadis muda yang selalu disebut sebagai calon istrinya.
“Sebastian !” Mommy Amelia mendekati Sebastian dan memukul punggung putranya. “Sudah mommy bilang, ingat istrimu baru melahirkan.” omelan momny Amelia membuat daddy Richard menoleh sementara kedua orangtua Kirana hanya senyum-senyum saja di dekat bols bayi cucu mereka.
“Mom, hanya cium tanda cinta saja, nggak lebih. Buat membantu Kirana mengurangi rasa sakitnya,” ujar Sebastian membela diri.
“Alasan !” omel mommy Ameia sambil kembali memukul punggung putranya.
Tidak lama terdengar ketukan di pintu kamar dan tanpa menunggu dibukakan, sudah muncul Dion dari balik pintu.
Bukan hanya asisten Sebastian saja yang datang tetapi Amir, Widya, Echi dan Marsha ikut datang juga. Tidak lama ketiga sahabat Sebastian juga terihat membawa rangkaian balon untuk babies dan mommy-nya.
“Renata ?” Mommy Amelia mengernyit saat meihat Renata yang masih memakai snellinya ikut masuk paling belakang dengan Bara.
“Jangan salah sangka dulu, Mom,” Sebastian mendekati mommy Amelia dan merangkul bahu mommy. “Renata sudah bisa dijinakan oleh Bara. Mereka sudah resmi pacaran.”
“Kamu serius, Bas ?” Wajah mommy Amelia langsung tercengang.
“Sepuluh rius malah,” sahut Sebastian sambil terkekeh.
Para asisten dan sekretaris itu menyapa dan memberi selamat pada kedua orangtua Sebastian dan Kirana, disusul dengan ucapan selamat dari para sahabat Sebastian plus Renata.
Untung saja mommy memaksa Kirana menempati kamar spesial ini, karena bisa dibayangkan betapa berisik dan penuhnya kalau hanya di kamar VIP biasa.
“Ya ampun, Ki, perasaan belum lama kamu kerja gantiin Mbak Wid, eh sekarang udah jadi emak-emak aja, langsung dua lagi,” ujar Marsha saat ketiga sekretaris itu sudah berdiri dekat ranjang Kirana dan mengucapkan selamat pada pasangan berbahagia itu.
”Dua-duanya kayak kembaran juga sama Pak Bas,” ujar Widya yang memandangi dua bayi mungil dalam box kacanya.
“Kalau kayak Dion, bisa-bisa Kirana langsung diinterogasi sama Basbas, Mbak Wid,” ledek Samuel sambil tertawa.
__ADS_1
“Kok saya jadi dibawa-bawa ?” protes Dion.
“Biasa asisten selalu jadi korban boss,” ledek Evan sambil tertawa.
Steven sudah menyingkir dan duduk di sofa bersama daddy Richard dan papa Raymond. Meski ia mengenal para asisten, sekretaris dsn sahabat Sebastian, tapi sedikit canggung karena sudah pasti pembicaraannya akan sedikit kurang nyambung.
”Kapok nggak, Ki ?” tanya Echi sambil tertawa pelan.
“Mulesnya iti nggak tahan, Mbak. Pas udah lahir rasanya lega dan bahagia banget.”
“Lanjut lagi tahun depan, Chi,” ujar Sebastian sambil terkekeh. Kirana hanya menoleh sambil mendelik.
“Ya ampun Bas, baru juga brojol tuh anak lo dua sekaligus, udah langsung bikin planning tambah lagi aja tahun depan,” ledek Samuel.
“Kejar target, mumpung umur belum di atas kepala tiga,” sahut Sebastian.
“Nyindir dia, Bro,” Evan menyikut lengan Samuel sambil mencibir. Sahabatnya itu mengangguk setuju dan ikut mencibir.
“Makanya kalau jomblo jangan kelamaan,” ledek Marsha sambil mencibir ke arah Evan dan Steven. “Udah dikasih contoh sama big boss dan pak leader, tinggal diikutin aja kok susah banget.”
“Eh bear-bear, di rumah nggak punya kaca, ya ? Situ nggak inget kalau masih jones juga ?” cebik Samuel sambil tertawa mengejek.
“Dari tadi kerjanya berantem terus,” gerutu Amir sambil geleng-geleng kepala.
Sepanjang perjalanan dari kantor ke rumah sakit, Amir dan Evan yang semobil dengan Marsha dan Samuel sampai kepusingan mendengar kedua orang ini saling mengejek.
“Kayaknya sebentar lagi ada yang jadian juga menyusul Bara dan Renata,” ledek Kirana sambil melirik ke arah Sebastian yang langsung mengerutkan dahi.
“Bener banget kayaknya, Ki. Udah aku bilangin, awas dari benci jadi benar-benar cinta,” timpal Echi.
“Kayak kamu sama Pak Bas lah, Ki. Ada yang sebal banget sampai nggak mau menerima gadis pengganti saya, siapa yang sangka kurang dari setahun langsung jadi calon istri,” ujar Widya sambil melirik ke arah bossnya.
“Saya sih nggak sebal sama Kirana apalagi benci, Wid. Cuma nggak yakin kalau anak bau kencur bisa jadi sekretaris CEO,” Sebastian gantian melirik Kirana yang langsung mencibir.
“Sepertinya sebagai sahabat baik, bapak berempat kena kutukan benci jadi bucin,” celetuk Dion.
“Maksud kamu apa ?” Pertanyaan yang sama diucapkan bersamaan oleh Sebastian dan Bara.
“Bapak berdua di awal-awalnya sebal sama pasangan, eh lama-lama bukan benar-benar cinta doang, tapi bucin akut,” sahut Dion sambil terkekeh.
“Dan kalau Pak Sam jadian sama Marsha, berarti sebelas duabelas dengan nasib Pak Bas dan Pak Bara,” timpal Amir sambil tertawa.
“Amit-amit !” baik Samuel maupun Marsha sama-sama mengumpat dengan ucapan yang sama.
“Siap-siap kena kutukan lo, Sam,” Bara yang sejak tadi diam saja akhirnya buka suara juga sambil tertawa.
Samuel mencebik sambil menatap Marsha dengan muka sebal. Marsha juga membalas dengan tindakan yang sama.
Semuanya tertawa melihat kelakuan Samuel dan Marsha yang sama-sama mencibir dan mengomel.
Tidak lama kedua bayi kembar Sebastian dan Kirana menangis.
“Sudah waktunya memberi asi pertama, Nana,” Steven yang sudah beranjak mendekati ranjang Mirana sambil memberi isyarat supaya kedua perawat membawa bayi kembar itu.
“Jangan bilang kami yang ngajarin !” omel Sebastian sambil menatap tajam sepupunya.
”Seharusnya sih begitu,” sahut Steven dengan wajah santai.
“Sekalipun itu tugas kamu, tapi akunya nggak mau Steve,” tolak Kirana tegas untuk menenangkan hati suaminya. Benar saja, senyuman lebar langsung terlihat di wajah Sebastian.
“Kalian pada keluar dulu,” Sebastian menyuruh ketiga sahabatnya dan para asisten keluar dari ruangan, bahkan Steven pun diberi isyarat untuk jauh-jauh.
Kedua perawat tadi menyerahkan bayi-bayi itu pada Sebastian dan Kirana, tidak lupa salah satunya menarik tirai untuk menutupi tempat tidur Kirana.
Tidak lama seorang perawat senior datang dan mendekati Kirana untuk membantu dan mengajari ibu baru itu.
Sebastian memperhatikan semuanya sambil menggendong Ronald, anak sulung mereka yang berat badannya lebih kecil daripada adiknya, Roland.
“Jangan lupa untuk bagi-bagi jatah sama papi. Sementara papi relakan dipinjam sama kalian berdua,” gumam Sebastian pelan namun masih bisa didengar oleh Kirana.
”Bee !” Kirana mendesis sambil melotot.
“Kenyataan Sayang, kenyataan,” Sebastian tertawa pelan sambil mengusap kepala wanita kesayangannya yang meringis.
__ADS_1