Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Pillow Talk


__ADS_3

Kirana sedang duduk di pinggir ranjang sambil menatap kedua anak kembarnya yang sudah tertidur pulas dalam ranjang bayi mereka. Tidak terasa sudah tujuh minggu usia si kembar.


 


Terlalu hanyut dalam pikirannya, Kirana sampai tidak sadar kalau Sebastian sudah masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja.


 


“Sudah dua hari ini aku merasa kamu lebih pendiam. Ada apa, Sayang ?” Sebastian mendekat dan berlutut di depan Kirana sambil menggenggam kedua tangan istrinya itu.


 


“Bee, maaf,” ucap Kirana pelan dan menatap Sebastian dengan wajah sendu.


 


“Maaf untuk apa ?” tanya Sebastian sambil menautkan kedua alisnya.


 


“Maaf karena aku tidak bisa memberikan kedua anak kita asi eksklusif dan terpaksa harus mencampurnya dengan sofur,” lirih Kirana.


 


Sebastian tersenyum dan beranjak bangun, duduk di samping Kirana dan meraih wanita itu ke dalam pelukannya.


 


“Tidak masalah untukku, Sayang. Aku bangga kamu sudah memberikan mereka asi eksklusif selama enam minggu pertama dan bukannya akan berhenti sampai di sini saja, kamu tetap bisa memberikan asi-mu hanya saja perlu tambahan susu formula. Kamu itu punya dua bayi sekaligus, jagoan pula yang nyusunya kuat banget,” Sebastian mengusap-usap punggung Kirana untuk menenangkan istrinya.


 


“Iya, padahal aku sudah mengikuti petunjuk dokter, mama dan mommy. Apapun aku konsumsi untuk meningkatkan produksi asi, tapi ternyata masih belum bisa membuat Ronald dan Roland bisa kenyang hanya dengan asi-ku saja.”


 


“Mereka kuat nyusu seperti papinya,” ujar Sebastian sambil terkekeh.


 


“Bee,” Kirana melerai pelukannya dan menatap suaminya dengan wajah cemberut. Sebastian tertawa gemas dan langsung membawa istrinya itu ke atas pangkuannya.


 


“Bee, jangan begini. Aku malu, sekarang tambah gendut,” ujar Kirana sambil berusaha bangun dari pangkuan Sebastian namun suaminya itu menahannya.


 


“Gendut darimana ? Kamu memang lebih berisi sekarang dan wajar banget untuk wanita yang baru tujuh minggu melahirkan. Lagipula berat badan kamu juga nggak naik drastis, masih ideal dan di mataku justru tambah seksi karena makin berisi.”


 


Sebastian langsung menarik menangkup wajah Kirana dan memberikan banyak ciuman di wajah Kirana seperti kebiasaannya. Kirana akhirnya tertawa menahan geli karena Sebastian belum mencukur kumisnya yang mulai tumbuh.


 


“Kalau aku tambah gendut, apa kamu masih mencintaiku, Bee ?”


 


Sebastian menautkan alisnya saat wajah Kirana menjauh dan menatapnya dengan sendu sementara kedua tangan Kirana masih mengalung di leher Sebastian dan pria itu sendiri memeluk pinggang istrinya.


 


“Sayang, sejak awal apa aku memilihmu karena fisik ? Nggak ingat banyak orang mencelamu karena merasa kamu tidak sepadan denganku hanya karena bentuk fisikmu bukan seperti foto model. Tapi aku tetap memilihmu dan rasa cintaku tidak berkurang sedikit pun malah semakin bertambah.”


 


“Gombal,” Kirana mencebik namun hatinya sedikit tenang dan bahagia mendengar ucapan Sebastian.


 

__ADS_1


“Mau bukti apalagi kalau aku begitu mencintaimu ?” Sebastian mendekatkan wajahnya membuat hembusan nafasnya begitu hangat di wajah Kirana, membuat wanita itu menjauhkan wajahnya dengan sedikit tersipu.


 


“Sepertinya papinya Ronald dan Roland sudah bisa minta jatah dikelonin maminya, nih,” goda Sebastian sambil menaik turunkan alisnya.


 


“Memangnya tiap hari nggak dikelonin ? Ronald sama Roland aja bobonya nggak seranjang,” cebik Kirana.


 


“Kelonan yang lain, Sayang. Kan  sudah lewat masa empatpuluh harinya,” Sebastian tersenyum menggoda istrinya.


 


“Tunggu seminggu lagi,” Kirana tertawa pelan. “Sepertinya aku langsung lanjut datang bulan.”


 


Sebastian langsung tertunduk lesu dan menyandarkan wajahnya di dada Kirana membuat wanita itu tertawa lalu membelai kepala suaminya.


 


“Kesayangan mami nggak boleh ngambek,” ledek Kirana sambil tertawa. “Lagipula maminya Ronald dan Roland lagi kesal sama papinya. Papi si kembar sudah mengabaikan permintaan maminya.”


 


“Mau minta apa ?” Sebastian mendongak dan menatap istrinya dengan dahi berkerut.


 


“Soal Shera dan Raven,” sahut Kirana cepat.


 


Sebastian menghela nafas panjang dan bangun sambil membawa Kirana dalam gendongannya ke atas ranjang. Setelah itu, Sebastian pun naik ke atas ranjang dan memberikan lengannya untuk tempat Kirana menyandarkan kepalanya.


 


Saat itu Sebastian malah menjawab supaya istrinya tidak ikut campur dalam masalah Shera karena mau bagaimanapun, masalah itu adalah masalah rumahtangga yang seharusnya diselesaikan bersama Steven yang sekarang sudah berstatus suami Shera.


“Bee, apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membantu Shera demi Raven ?” tanya Kirana saat berada dalam pelukan Sebastian di atas tempat tidur.


 


“Sayang, seharusnya Shera membicarakan itu pada Steven dan keluarganya, bukan malah minta tolong sama kamu. “


 


“Kan aku sudah bilang kalau Steven itu tidak menganggap Shera sebagai istirnya.”


 


“Kirana sayang,” Sebastian bergeser dan mensejajarkan wajahnya dengan Kirana lalu memiringkan tubuhnya hingga keduanya bertatapan.


 


“Coba kamu pikirkan baik-baik. Menurut aku tidak sepenuhnya Steven menganggap Shera bukan siapa-siapa. Bukankah Shera bilang sendiri kalau Steven sudah mau tinggal satu atap dengan istri dan anaknya meski belum bersikap seperti seorang suami yang baik.  Steven juga sudah mulai menempatkan dirinya sebagai papanya Raven. Shera harus lebih sabar dan berjuang keras untuk membuat Steven menerima keadaan hidupnya. Biar bagaimana pun setiap orang pasti akan kesal kalau dipaksa menikahi seseorang dengan cara yang dilakukan oleh Shera. Bahkan tidak cukup sekali, Shera melakukannya kembali dan kamu adalah targetnya. Jadi saat ingin membantu seseorang, jangan hanya mendengar pendapat dari satu sisi saja, tapi beri kesempatan untuk sisi lainnya berbicara dalam versi mereka.”


 


Kirana terdiam dan membenarkan ucapan Sebastian. Kirana memandang wajah suaminya yang sedang tersenyum sambil membelai lembut wajah Kirana.


 


“Masalah keselamatan Raven juga bukan tanggungjawabmu sepenuhnya. Kedua orangtua Steven dan Shera masih hidup dan mereka punya kekuatan untuk melindungi cucu mereka sendiri. Om Herman itu masih punya banyak kenalan yang cukup berpengaruh, begitu juga dengan keluarga auntie Rosa. Kalau uncle Raymond dan Steven masih ada daddy yang bisa membantu mereka. Tapi bukan tugas dan tanggungjawab kita yang minta tolong.


Shera harus berani menceritakan kondisi hidupnya yang memang memalukan dan mungkin akan mendapat cemoohan dari keluarga Steven, tapi ya itu resikonya. Shera sudah berani mengambil keputusan hidup dengan suami orang bahkan mengabaikan istrinya Romi yang tersakiti, sekarang saatnya Shera harus memetik hasil benih yang dia tabur.


Dan yang utama, aku tidak mau kamu terlibat di dalamnya. Jangan memancing di air keruh, karena hati Steven belum bisa seratus persen menghapus namamu dari dalam hatinya.

__ADS_1


Di sisi lain, aku tidak mau kalau istriku sampai membahayakan dirinya sendiri terlibat dalam masalah dengan Romi, orang yang terkenal bengis di kalangan pebisnis. Meskipun aku bisa melindungimu, tapi tolong pikirkan kembali sebelum kamu bertindak. Kamu tidak lagi sendirian, Sayang. Ada aku dan anak-anak yang harus selalu menjadi bahan pertimbangan keputusanmu.”


 


Kirana tersenyum tipis dan membenarkan semua ucapan Sebastian. Tidak salah memilih pria di depannya ini sebagai suami, karena selain mencintai Kirana, Sebastian adalah pria matang yang mampu membuka pikiran Kirana yang masih perlu banyak belajar.


 


Kirana masuk ke dalam pelukan suaminya dan mengusap-usap wajahnya di dada bidang Sebastian membuat pria itu tertawa kegelian.


 


“Sayang, jangan mancing-mancing deh, udah tahu aku masih harus memperpanjang masa puasa,” ujar Sebastian di sela-sela tawanya.


 


“Terima kasih, Bee,” Kirana merenggangkan pelukannya dan memberikan ciuman sekilas di bibir Sebastian. “Terima kasih karena kamu tetap membantu menyelidiki siapa Romi meskipun tidak bertindak lebih lanjut untuk membantu Shera.”


 


Sebastian tertawa dan balas mengecup bibir Kirana sekilas.


 


“Ternyata istriku masih jeli mencerna ucapanku. Tahu aja kalau aku sudah menyuruh orang untuk mencari tahu mengenai siapa Romi,” ujar Sebastian sambil terkekeh.


 


“Steven dan keluarganya pasti akan marah dan merasa dibohongi kalau sampai Kirana menceritakan hubungannya dengan Romi. Aku sendiri tidak menyangka kalau Shera bisa bertahan menjalin hubungan dengan suami orang meskipun istrinya sudah tahu, padahal boleh dibilang dia tahu persis bagaimana perasaan wanita yang diabaikan cintanya.”


 


“Maksud kamu ?” Sebastian mengerutkan dahinya.


 


“Sampai saat ini Shera adalah wanita yang merasakan cintanya diabaikan oleh Steven sekalipun sudah berhasil membuat Steven jadi suaminya. Jadi menurutku, seharusnya ia memahami bagaimana perasaan istri Romi. Wanita yang menikah secara sah dengan Romi, harus menerima kalau dirinya diabaikan oleh suaminya yang justru menginginkan Shera.”


 


“Sekarang kamu mengerti kan kenapa aku enggan membantu Shera ? Saat ini adalah waktunya Shera menuai bibit-bibit perbuatannya sendiri, tapi ia masih tidak berani membukanya secara jujur pada suaminya dan keluarga mereka. Shera tidak berani menghadapi kemungkinan Steven akan semakin membencinya bahkan mungkin jijik kepadanya. Shera takut kalau sikap uncle Raymond malah berbalik dan meminta Steven menceraikannya sebagai istri lalu mengambil hak asuh Raven.”


 


“Bee,” Kirana gantian membelai lembut wajah suaminya. “Terima kasih ya karena selalu sabar menghadapi aku yang masih kurang pengalaman. Hanya memandang suatu masalah dari sisi luarnya saja dan tidak berusaha memandang jauh ke depan. Terima kasih karena sudah menjadi suami yang penuh cinta dan membantu aku belajar dewasa.”


 


“Tapi semuanya nggak akan pernah gratis, Sayang,” ledek Sebastian sambil tersenyum smirk.


 


“Iya, akan aku bayar seumur hidupku selama menjadi istrimu,” sahut Kirana dengan bibir manyun karena sudah tahu ke arah mana pembicaraan Sebastian.


 


“Termasuk malam ini kamu harus membayarku karena sudah mencari tahu siapa Romi,” Sebastian menaik turunkan alisnya dengan senyuman genitnya.


 


“Nggak sekarang,” tolak Kirana sambil cemberut. “Tunggu seminggu lagi.”


 


“Kelamaan, Sayang. Lagipula seperti kata pepatah kalau ada banyak jalan menuju Roma.”


 


“Bee !”


 

__ADS_1


Sebastian tidak menjawab, langsung menarik Kirana supaya makin mendekat dan mulai memberikan ciuman panjang di bibir istrinya, melewati malam penuh kehangatan setelah tujuh minggu menahan diri.


__ADS_2