Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Sisi Gelap Shera


__ADS_3

Sebulan sudah usia si kembar Ronald dan Roland. Acara sebulanan kedua jagoan Sebastian dan Kirana itu digabung dengan syukuran rumah baru yang ditempati oleh keluarga kecil Sebastian Pratama.


 


Hanya acara tertutup untuk keluarga dan undangan khusus untuk ketiga sahabat Sebastian, kedua asisten dan tiga sekretaris.


 


Echi dan Widya membawa suami dan anak-anak mereka. Para suami kedua sekretaris senior itu sudah mengenal keluarga Richard Pratama dengan baik dan menjalin hubungan baik sejak para istri bekerja menjadi sekretaris di MegaCyber.


 


“Honey, apa perlu anak-anak kita dibuat gundul seperti Upin Ipin ?” tanya Sebastian dengan wajah sedih saat melihat Kirana ikut membantu mama Lia dan mommy Amelia menyiapkan peralatan untuk acar sebulanan.


 


“Bee, yang namanya rambut kan akan tumbuh lagi. Lagipula ini sudah tradisi orang tua yang dilakukan secara turun temurun. Malah mama bilang sesudah ini rambut mereka akan semakin bagus tumbuhnya.”


 


Sebastian hanya menarik nafas dan terdiam. Rambut kedua putranya sudah cukup bagus, tapi kenapa harus ada upacara sebulanan yang salah satu acaranya ada cukuran rambut bayi hingga gundul.


 


“Kamu yakin mereka nggak akan kedinginan ?” tanya Sebastian lagi sambil berusaha bernegosiasi.


 


“Bee,” Kirana memutar bola matanya menatap Sebastian. “Apa kamu lupa kalau kita berdua pernah melewati ini saat masih bayi dan tentu saja tinggal pakai topi supaya tidak kedinginan.”


 


Sebastian hanya mengangguk pasrah dan mengikuti semua acara yang sudah disiapkan oleh mama Lia dan mommy Amelia.


 


Tepat jam makan siang, Kirana membawa Roland dan Ronald ke kamar bayi yang letaknya ada di bawah. Kedua putranya itu sudah menangis karena waktunya untuk minum asi. Kirana sendiri selalu memperhatikan pola makan agar asupan gizi untuk kedua putranya tercukupi.


 


Saat sedang menyusui Ronald sementara Roland sudah tidur di dalam boks bayinya, terdengar pintu kamar diketuk dan tidak lama terlihat Shera melongok ke dalam. Mantan istri Sebastian itu datang bersama Raven, Steven dan para orangtua mereka.


 


“Apa aku mengganggu ?” tanya Shera sambil berdiri di pintu.


 


“Nggak apa-apa, aku sedang menyusui saja.”


 


Shera pun perlahan mendekat dan menatap sekilas Roland yang tertidur pulas di dalam boksnya dan akhirnya menarik kursi berhadapan dengan Kirana.


 


“Boleh aku minta waktu untuk bicara ?” tanya Shera sambil melirik seorang baby sitter yang sedang merapikan pakaian milik Ronald dan Roland.


 

__ADS_1


Kirana mengangguk dan meminta baby sitter itu meninggalkan mereka berdua di kamar.


 


“Rasanya aku bisa bernafas lega melihat Sebastian benar-benar bahagia setelah menikah denganmu bahkan sekarang sudah menjadi ayah sungguhan. Setidaknya rasa bersalahku sedikit berkurang karena pernah menyakiti hatinya,” ujar Shera sambil tersenyum tipis.


 


“Semuanya sudah lewat dan kamu sendiri akhirnya bisa menjadikan Steven suamimu.”


 


“Istri di atas kertas,” ujar Shera sambil tertawa getir. “Bahkan tujuh bulan ini tidak ada perkembangan apapun dalam hubungan kami. Meskipun kadang-kadang aku tinggal satu atap dengan Steven dan Raven, hubungan kami seperti orang asing yang tidak saling kenal. Hanya saja aku bersyukur karena Steven mulai belajar menjadi papa untuk Raven.”


 


“Yang sabar, Sher. Semuanya pasti akan indah pada waktunya. Steven pasti membutuhkan waktu menerima kenyataan kalau sekarang ia sudah menikah denganmu bahkan sudah punya anak juga.”


 


“Ia tidak pernah menyentuhku sejak kami menikah,” lirih Shera. “Terakhir kami berhubungan adalah saat kejadian di hotel waktu itu, sebelum pernikahanmu dengan Sebastian. Itu pun karena terpaksa akibat niat burukku juga.”


 


“Steven mungkin kembali terluka karena hal itu, Sher, bersabarlah dan coba memahami posisi Steven. Aku percaya kalau kekuatan dan ketulusan cintamu pada Steven akan membuahkan hasil, apalagi sudah ada Raven di tengah-tengah kalian.”


 


“Aku minta maaf, Kirana. Maaf karena aku telah berbuat jahat padamu dan Sebastian. Kalau saja waktu itu Auntie Amelia tidak bertindak, mungkin hatiku akan puas namun sisanya hanya penyesalan. Aku tidak akan bisa melihat kebahagiaan Sebastian denganmu dan anak-anak kalian.”


 


 


“Aku selalu iri padamu Kirana,” ujar Shera dengan wajah sendu. “Saat sekolah Steven begitu memujamu, padahal maaf kalau saat itu aku melihat kalau kamu hanyalah anak kecil yang biasa-biasa saja dan tidak punya hal yang spesial dan istimewa. Lalu saat kamu bekerja dengan Bastian, hanya dalam beberapa bulan kamu sudah bisa menyembuhkan luka hati Sebastian yang membuatny menutup diri selama hampir dua tahun. Bahkan aku bisa melihat bagaimana dalamnya cinta Sebastian padamu, cinta yang tidak pernah aku lihat di matanya saat masih berstatus kekasihku bahkan saat ia memintaku menjadi istrinya.”


 


“Mas Bas juga pernah mencintaimu, Shera, tapi luka yang dirasakannya begitu dalam saat mengetahui kamu hamil namun bukan anaknya.”


“Tidak Kirana,” Shera menggeleng sambil tersenyum. “Cinta Bastian begitu dalam padamu dan itu sangat-sangat terlihat dari tatapan matanya padamu. Bukan sekedar dengan sikap posesif yang dia tunjukan tapi banyak hal yang membuktikan kalau cintanya padamu luar biasa.”


“Aku juga sangat mencintai Mas Bas,” ujar Kirana dengan wajah tersipu malu.


Baby Ronald sudah tertidur pulas dan mulutnya sudah berhenti menyusu Perlahan Kirana membawa putranya ke dalam boks bayinya.


“Kedua putra kalian sangat tampan,” puji Shera sambil menatap Ronald dan Roland yang tidur berdekatan meski dalam boks yang tepisah.


“Raven juga anak yang tampan, perpaduan antara kamu dan Steven.”


“Apa kamu sudah memaafkan aku, Kirana ?”


“Tidak ada gunanya aku membencimu lama-lama, Shera. Maaf kalau aku terlalu jujur, tapi mengetahui kalau Mad Bas sudah bisa melepaskanmu dari hidupnya, saat itu juga aku tidak lagi menganggapmu sebagai saingan untukku.”


“Itu karena Sebastian tidak sungguh-sungguh mencintaiku,” ucap Shera sambil tertawa getir. “Dia terluka lebih karena harga dirinya dihancurkan dengan kebohongan yang aku lakukan.”


“Semoga suatu saat nanti Steven akan mencintaimu sebesar cinta Mas Bas padaku,” ujar Kirana sambil tertawa bahagia.


“Apa aku boleh minta tolong padamu ?”

__ADS_1


Kirana mengerutkan dahi dan mengajak Shera duduk di sofa yang biasa digunakan untuk duduk berdua dengan Sebastian sambil menidurkan kedua jagoan mereka.


“Jika sesuatu terjadi padaku, maukah kamu membantuku merawat Raven sampai Steven menemukan wanita yang dicintainya ?”


“Apa maksudmu ?” Kirana kembali mengerutkan dahinya.


“Tolong jangan ceritakan lagi pada Sebastian apalagi Steven. Nilaiku sebagai wanita sudah begitu rendah di mata mereka. Aku mohon.” Shera menangkup kedua tangannya di depan wajah dan menggerakannya memohon pada Kirana.


“Jangan seperti ini,” Kirana memegang kedua tangan Shera supaya berhenti memohon.


Kirana sempat bimbang mendengarkan permintaan Shera karena bukan karena hubungan wanita ini sangat tidak baik dengan Sebastian, tapi sudah lebih dari dua kali tindakan Shera membuat Sebastian dan Kirana salah paham bahkan sempat hampir berpisah.


“Aku mohon,” wajah Shera begitu memelas membuat Kirana berdecak akhirnya mengangguk.


“Aku hanya bantu mengawasi. Biar bagaimana pun Steven adalah ayah kandung Raven dan kedua orangtua kalian masih hidup. Lagipula Mas Bas juga tidak terlalu suka aku dekat dengan Raven karena Steven ayah kandungnya,” ucap Kirana sambil terkekeh di ujung kalimatnya.


“Terima kasih Kirana ! Terima kasih.” Shera langsung memeluk Kirana.


“Sebetulnya ada masalah apa ?” Kirana kembali dalam mode seriusnya. Menatap lurus ke arah Shera dan menunggu wanita itu bercerita.


“Aku terikat dengan seorang pria sebagai wanita simpanannya,” lirih Shera membuat Kirana tercengang.


”Apa maksudmu ?” tanya Kirana dengan wajah tidak percaya.


”Kamu masih ingat saat aku bersembunyi di mobil kalian karena dikejar-kejar oleh beberapa lelaki ? Mereka adalah orang-orang suruhan Romi, pria beristri yang sempat menjalin hubungan gelap denganku.”


Alis Kirana menaut dan tatapannya mengharapkan Shera bercerita lebi detil.


“Aku bertemu Romi pertama kali saat masih magang dan dia adalah salah satu klien penting perusahaan tempatku bekerja. Setelah beberapa kali bertemu, dia mulai mendekatiku secara terang-terangan, namun aku tidak tertarik sama sekali. Selain karena aku sudah menjalin hubungan dengan Sebastian, aku juga sudah kembali bertemu dengan Steven.


Kami pun bertemu kembali saat aku kembali dari Australia setelah melahirkan Raven dan ia kembali mendekatiku dengan alasan ia tidak bisa bahagia dengan istrinya. Dalam keadaan terpuruk dan frustasi akhirnya aku tertarik menerima tawaran Romi yang akan memberikan aku kehidupan mapan selama Raven tidak dilibatkan dalam hubungan kami dan Romi tidak ingin aku hamil. Itu sebabnya aku menyerahkan Raven pada opa dan omanya.


Semuanya berjalan dengan baik, bahkan istri sah Romi yang mengetahui hubungan gelap kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sampai akhirnya aku terlibat lagi dengan Steven, Sebastian dan kamu. Saat aku memberitahu Romi kalau Steven akan menikahiku sebagai bentuk tanggungjawabnya, Romi marah dan tidak memberi ijin, bahkan ia memaksa ingin punya anak dari aku.


Malam itu aku kabur, saat Romi sudah menyusun rencana untuk mengurungku dan membuat aku hamil hingga diceraikan oleh Steven. Sejak itu aku berpindah tempat tinggal supaya Romi tidak bisa mengurungku, tetapi sekarang dia menggunakan Steven dan Raven untuk mengancamku.


Aku sudah bertekad ingin merubah hidup dan menjadi istri Steven yang sesungguhnya dan berjuang membebaskan diri dari jeratan Romi dengan cara apapun. Untuk sementara, bisakah aku minta tolong padamu dan Sebastian untuk menjaga Raven. Aku percaya kalau Om Richard pasti punya kekuatan untuk melindungi Raven.”


“Kenapa kamu tidak minta tolong pada mertuamu ? Keluarga auntie Rosa sudah seperti mafia, bahkan mamaku pernah mrenjadi korbannya, dan uncle Raymond juga masih keluarga Pratama. Sudah pasti satu jalur dengan Daddy.”


“Situasinya berbeda, Kirana. Untuk masalah-masalah seperti ini, om Richard dan Sebastian lebih ahli.”


“Akan leboh baik kalau kamu bicara langsung dengan Sebastian,” ujar Kirana sambil beranjak bangun karena salah satu bayinya mulai menangis.


“Aku tidak yakin Bastian mau bicara denganku. Lagipula rasanya malu kalau menceritakan soal Romi pada Bastian,” ujar Shera dengan nada ragu.


“Aku akan bicara garis besarnya pada Mas Bas, namun untuk detiil rencanamu selanjutnya akan kita bicarakan bersama.”


Shera hanya terdiam dan ikut beranjak mendekati Kirana yang sedang menggendong Roland karena menangis.


“Sedang apa kamu di sini ?” suara Sebastian yang terdengar galak membuat Kirana terkejut dan Shera langsung menoleh.


Shera langsung menelan salivanya saat melihat mat Sebastian yang begitu galak sedang menatap ke arahnya.


Sebastian masuk ke dslam situ karena mendengar kedua anaknya menangis sementara babysitternya ada di luar.


“Bantu aku dulu, Bee. Nanti kita bicara lagi.”


Sebastian melewati Shera dengan wajah dingin, seolah-olah wanita itu tidak dilihatnya.

__ADS_1


__ADS_2