
Tanpa Kirana tahu, mommy Amelia sudah menghubungi mama Lia dan menceritakan permasalahan yang terjadi termasuk rencana Sebastian. Meski merasa sedih melihat kondisi Kirana yang berpura-pura baik-baik saja, mama Lia percaya kalau semua keputusan yang Sebastian ambil pasti telah dipertimbangkan dengan matang.
Sudah tiga hari sejak keluarnya Kirana dari MegaCyber, Sebastian selalu menyempatkan diri melihat Kirana dari kejauhan. Meski setiap hari bahkan sehari dua kali menerima laporan dari orang yang ditugaskan untuk mengawasi dan menjaga Kirana, Sebastian selalu langsung mendatangi café tempat Kirana bekerja sebagai waitress untuk memastikan kalau calon istrinya itu balik-baik saja.
Dari informasi yang diberikan oleh Dion, café itu adalah tempat Kirana bekerja sebelum diterima di MegaCyber. Kirana memulai pekerjaannya di sana sebagai pekerja paruh waktu saat kuliah dulu, dan setahun terakhir sudah menjadi karyawan tetap sebagai waitress yang diandalkan oleh Felix, si pemilik café, sebelum akhirnya ia menerima tawaran Widya untuk menggantikannya di MegaCyber.
Felix sendiri seorang pengusaha muda yang memiliki beberapa usaha café kekinian. Tempat Kirana bekerja adalah usaha pertama yang selalu menjadi andalannya, sementara cabang lainnya merupakan kerjasama dengan beberapa teman atau investor yang memintanya mengelola secara profesional.
Pria lajang yang hampir berusia tigapuluh tahun ini adalah seorang pria mapan meski wajahnya tidak setampan Sebastian. Namun melihat bagaimana Felix cukup dekat dengan calon istrinya dalam dua hari ini, Sebastian sempat merasa khawatir dan ingin menuntaskan rencananya secepat mungkin.
Seperti biasa Kirana bekerja mulai jam dua siang sampai sepuluh malam. Biasanya café memang ramai mulai pukul lima sore sampai sembilan malam. Felix yang sudah mengenal Kirana cukup baik sebagai waitress yang bisa diandalkan, meminta Kirana untuk bekerja pada shift kedua.
Hampir sebagian besar pengunjung café pada jam ramai itu adalah para eksekutif muda atau karyawan kantoran.
“Ki, tolong bantu layani dulu meja 5, aku mau cek beberapa pesanan dulu ke dapur,” pinta Felix saat melihat Kirana baru saja masuk dari arah dapur.
“Sipp Kak,” Kirana mengangguk, tersenyum dan memberikan jempolnya. Felix, sang boss memang tidak pernah mau dipanggil dengan sebutan Bapak oleh semua karyawannya.
Kirana sudah siap dengan buku menu, kertas pesanan dan pena saat menuju ke meja 5 sesuai permintaan Felix. Ia sangat terkejut saat mendapati kedua tamu yang duduk di sana.
“Jadi benar kalau gosip mengatakan pernikahan kalian batal karena Kirana diam-diam mendekati Steven lagi ?” ujar Shera dengan nada sinis sambil menatap teman semejanya.
Sebastian yang duduk di seberang Shera hanya tersenyum tipis dan tidak menoleh sama sekali pada Kirana yang menghela nafas beberapa kali.
“Gosip selalu cepat beredar,” desis Sebastian dengan wajah sinis.
Tangannya meraih buku menu yang sudah diletakkan Kirana di atas meja dan mulai membukanya, mencari makanan dan minuman yang hendak dipesannya saat ini.
“Seharusnya kamu sadar sejak awal Kirana, jangan bermimpi terlalu tinggi. Akhirnya bukan hanya sakit saat jatuh, tapi malunya itu,” ejek Shera dengan senyuman sinis.
“Untunglah kamu sadar untuk kembali ke tempat dimana seharusnya kamu berada,” lanjut Shera dengan tawa menghina.
Kirana hanya diam saja, apalagi dilihatnya Sebastian bersikap biasa-biasa saja mendengar ucapan Shera yang ditujukan kepadanya.
“Bisa saya catat pesanannya, Tuan, Nyonya ?” tanya Kirana sopan sambil memaksakan senyuman di wajahnya. Tangannya sudah siap mencatat pesanan Shera dan Sebastian.
Akhirnya Sebastian memesan salmon grill dengan minuman air putih sementara Shera memesan salad dan hot lemon tea. Selesai mencatat dan membaca ulang pesanan keduanya, ia mengambil buku menu dan berlalu ke arah dapur.
“Apakah gosip tentang aku dan Kirana begitu cepat sampai ke telingamu ?” tanya Sebastian dengan posisi tubuh bersandar pada kursi.
“Tentu saja, Bas. Biar bagaimana pun yang namanya bangkai tidak akan mudah disimpan lama-lama. Aku senang akhirnya kamu melihat sisi Kirana yang sebenarnya,” sahut Shera dengan wajah serius.
“Bahkan aku berniat untuk mengingatkan Steven juga. Bukan tidak mungkin ia akan melakukan hal yang sama pada Steven,” terlihat Shera mulai memainkan peran dramanya membuat Sebastian tersenyum tipis.
“Kamu tentu sudah pernah mendengar bagaimana Kirana memanfaaatkan hubungan baiknya dengan Steven saat sekolah dulu sampai membuat Steven jatuh cinta padanya. Namun setelah bertemu denganmu, ia memilih kamu Bas dan membuang Steven begitu saja.”
“Terima kasih karena sudah mengingatkan aku saat di Amerika,” ujar Sebastian sambil tersenyum.
__ADS_1
“Maaf juga atas kesalahanku yang lalu, Bas. Bila masalahmu dengan Kirana sudah bisa diselesaikan sampai tuntas, aku ingin minta waktu untuk membicarakan tentang kita.”
Sebastian kembali hanya tersenyum sambil mengangguk. Tidak lama Kirana datang membawakan pesanan minuman mereka.
Shera sengaja menggeser bangkunya dan mendekat ke arah Sebastian. Kirana sendiri hanya mampu menahan emosinya dan tetap berusaha bersikap profesional dengan senyuman khasnya.
Merasa kalau Kirana tidak terlalu terpengaruh dengan tindakannya, Shera memulai aksinya yang lain. Ia sengaja pura-pura bangun saat Kirana baru saja meletakkan minuman pesanannya hingga gelas yang dipegang Kirana terlepas dan lemon tea yang dipesan Shera tumpah mengenai tangannya.
“Maaf, maafkan saya, Nyonya, ” Kirana buru-buru mengambil tisu yang ada di meja untuk membersihkan tumpahan minuman di tangan Shera.
Terlihat wanita itu meringis dan mengaduh karena kepanasan. Sebastian langsung bangun dan mengambil tisu juga untuk membantu membersihan tumpahan minuman di tangan Shera. Begitu tangan Sebastian menyentuh bagian yang terkena air teh panas, Shera sengaja meninggikan suara ringisannya..
“Tidak bisakah kamu bertindak lebih hati-hati !” bentak Sebastian saat melihat tangan Shera yang memerah. Matanya melotot menatap Kirana.
“Maaf.. Maafkan saya, Tuan.” Terlihat beberapa kali Kirana membungkukkan badannya.
“Kamu pikir dengan kata maaf bisa menghilangkan rasa sakit ini ?” bentak Sebastian kembali hingga membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.
Shera tersenyum bahagia saat melihat Sebastian dua kali membentak Kirana.
“Kalau sampai tangan saya cacat karena perbuatan kamu, jangan harap kamu bisa menghindari tuntutan hukum dari saya !” ancam Shera sambil menunjuk wajah Kirana.
“Maaf, Nyonya.. maafkan saya,” lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulut Kirana.
“Jangan pernah lupa kalau kehidupan manusia itu bagaikan roda yang berputar,”lanjutnya dengan wajah pongah.
Kirana hanya diam saja. Ia mengambil beberapa tisu untuk membersihkan tumpahan teh di atas meja dan lagi-lagi Shera sengaja mengacaukannya hingga gelas teh yang hanya terguling di atas meja langsung jatuh dan pecah di lantai.
“Dasar pelayan ceroboh ! Kamu tidak terima dinasehati dan sekarang bermaksud mencelakai saya ?” pekik Shera membuat semakin banyak para pengungjung memperhatikan mereka.
Plak !
Tanpa bisa Sebastian cegah, tangan Shera sudah lebih dulu menyentuh wajah Kirana dengan sebuah tamparan. Sebastian langsung terkejut dan menatap Kirana yang sedikit terhuyung karena posisinya hendak memungut pecahan gelas.
Felix yang sudah berada di situ karena dipanggil oleh salah seorang karyawannya, langsung menahan pinggang Kirana yang terhuyung.
“Maafkan kesalahan karyawan kami, Tuan, Nyonya,” Felix membungkukkan badan sambil mengucapkan kata maaf.
“Kami akan segera mengganti pesanan minuman Nyonya dan sebagai bentuk permintaan maaf kami, seluruh pesanan Tuan dan Nyonya akan kami berikan secara cuma-cuma.”
“Jadi anda pikir kami tidak mampu membayar ?” tanya Shera dengan nada pongah. Ia mengambil tas dan mengeluarkan kartu namanya lalu memberikannya pada Felix.
“Beri pelajaran pada karyawan anda dan kalau perlu keluarkan. Kalau sampai tangan saya kenapa-napa, saya tidak akan segan-segan menuntutnya. Jadi lebih baik anda hindari café ini ikut terlibat masalah waitress semacam dia.”
“Baik Nyonya Shera,” ujar Felix setelah menerima kartu nama dari tangan Shera.
__ADS_1
“Jika Tuan dan Nyonya berkenan, kami akan siapkan meja lain dan membersihkan tempat ini.”
Shera menatap Sebastian dan hanya memberi jawaban dengan isyarat semuanya terserah pada Shera. Akhrinya keduanya mengikuti Felix yang membawa mereka ke meja lain dan meninggalkan Kirana yang langsung membersihkan pecahan gelas di bawah meja.
Selesai mengantarkan Shera dan Sebastian, Felix kembali menghampiri Kirana yang sudah selesai memunguti pecahan gelas. Felix langsung mengambil nampan yang dipegang Kirana dan menarik tangan gadis itu lalu membawanya ke belakang.
Lewat pintu lain yang terhubung dengan sisi luar café, Felix membawa Kirana ke area semacam taman kecil di belakang café. Meja-meja di bagian luar café hanya terisi beberapa karena tempat itu memang dikhususkan untuk para pengunjung yang ingin merokok.
“Kamu kenal dengan wanita tadi ?” tanya Felix saat mereka sudah berdua ada di taman belakang.
“Iya saya kenal, Kak,” sahut Kirana sambil menunduk. Rasanya ingin menangis mengeluarkan seluruh perasaannya yang sudah ditahannya sejak tadi.
“Apa ada masalah sebelumnya ?” tanya Felix kembali.
Kirana hanya terdiam dan masih menunduk. Air mata perlahan mulai keluar dari sudut matanya.
“Ki,” Felix menyentuh bahu Kirana. “Aku sudah mengenalmu lama, dan aku yakin kalau semua itu bukan kesalahanmu.”
“Maafkan saya, Kak. Baru dua hari bekerja sudah merepotkan Kak Felix.”
Felix tertawa pelan dan menggelengkan kepala.
“Kejadian seperti ini bukan yang pertama buat kita, kan ?” Felix menangkup wajah Kirana yang sudah mulai basah oleh air mata.
“Ayolah, Ki. Kamu adalah gadis kuat dan hebat yang aku kenal. Kenapa hari ini jadi anak yang cengeng,” goda Felix sambil tertawa.
Baru saja Felix mengeluarkan saputangan dari saku celananya untuk menghapus airmata Kirana, suara berat dari belakang Kirana menghentikannya.
“Jangan sentuh calon istri saya !”
Kirana tercengang mendengar kalimat itu dari mulut lelaki yang sedang dirindukannya. Namun Kirana tidak menoleh dan tetap memunggungi Sebastian.
Felix mengurungkan niatnya dan matanya memicing memperhatikan Sebastian. Ia berjalan melewati Kirana dan mendekati Sebastian.
“Maaf Tuan, maafkan perbuatan Kirana pada istri Tuan. Saya pasti akan memberikan pelajaran pada karyawan saya ini. Mohon maaf karena dia baru dua hari bekerja.”
Sebastian mengabaikan ucapan Felix dan mendekati Kirana yang masih dalam posisi membelakanginya. Sebastian menarik lengan Kirana dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
“I miss you Honey. I love you, Honey” bisik Sebastian saat Kirana sudah berada dalam pelukannya.
Kirana mencoba melepaskan diri namun Sebastian semakin mempererat pelukannya. Sepertinya ia tidak boleh terlalu lama membiarkan Kirana menjadi umpan untuk memancing Shera dan Steven.
__ADS_1