Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Kedatangan Sebastian


__ADS_3

Sebastian tampak gelisah setelah Kirana menutup panggilan teleponnya sepihak. Bukan karena kemarahan Kirana, tapi orang yang menemani saat istrinya sedang gundah gulana justru Steven, sepupu sekaligus rivalnya.


Sebagai sesama pria, Sebastian bisa menangkap dengan jelas kalau Steven masih memiliki perasaan pada Kirana.


Deana, wanita yang mengaku masih mencintai Sebastian adalah orang yang ditemui Kirana saat di supermarket. Deana juga lah yang mengirim foto-foto ke nomor Dion, bukan Sebastian.


Tuan Alexander dan Aleandro pun sejak awal tidak memberikan nomor Sebastian melainkan hanya nomor Dion. Keduanya menyuruh Deana meminta langsung pada Sebastian tanpa bantuan mereka.


“Apa meeting hari ini bisa kamu lanjutkan dengan Bara ?” tanya Sebastian saat ia dan Dion berjalan menuju lobby hotel.


Tuan Alexander dan Aleandro sudah pulang sebelum Sebastian menghubungi Kirana.


“Mungkin bisa ditanyakan langsung pada Pak Bara, Pak,” sahut Dion sambil memberi isyarat ke arah Bara yang ternyata sudah menunggu mereka di lobby.


“Sepertinya aku harus segera menjemput Kirana. Apa bisa kamu dan Dion yang menghadiri meeting hari ini ?” tanya Sebastian dengan wajah yang tidak tenang.


“Apa terjadi sesuatu pada Kirana ?” ada nada khawatir dalam ucapan Bara.


“Kirana bertemu dengan Deana sampai membuat istriku itu kesal. Masalahnya sekarang Steven lah yang menjadi dewa penolongnya,” omel Sebastian dengan wajah kesal.


Bara langsung mengangguk tanda mengerti. Sebastian pernah curhat padanya masalah Steven, bahkan soal pengamatan Sebastian yang memastikan kalau sepupunya itu masih sangat mencintai istrinya.


“Sepertinya sebagian besar topik pembahasan hari ini masih soal teknis dan perkiraan biaya. Kalau begitu aku akan minta Evan dan Samuel menyusul ke sana.”


“Thankyou Bar,” ujar Sebastian dengan wajah sedikit lega karena ia bisa langsung menyusul Kirana.


“Kalau begitu biar aku dan Dion naik taksi dan kamu pulang dengan Tomo sekalian jemput Kirana. Biar Samuel dan Evan berangkat dengan sopir kantor dan nanti kami pulang sama-sama.”


“Oke kalau begitu. Yon, tolong kirim foto terakhir yang dikirim oleh Deana,” pinta Sebastian pada asistennya yang langsung mengangguk.


“Aku jalan dulu. Tidak masalah langsung hubungi aku kalau ada hal penting yang harus dibahas dalam meeting nanti.”


Bara dan Dion mengangguk dan berjalan keluar lobby untuk mencari taksi di sana, sementara Sebastian langsung naik mobil yang dibawa oleh Pak Tomo.


“Sepertinya hidup Sebastian belum tenang sampai Steven mendapatkan wanita yang dicintainya,” ujar Bara pada Dion saat keduanya masih menunggu taksi.

__ADS_1


“Sepertinya begitu, Pak.”


**


**


Hanya butuh waktu duapuluh lima menit Pak Tomo mengantar tuannya ke mal dimana Kirana berada. Atas permintaan Sebastian, kali ini Pak Tomo membawa mobil di atas kecepatan biasanya.


“Jangan sentuh istriku seperti itu !” tegas Sebastian saat ia sudah berada di dekat meja yang ditempati oleh Kirana, Steven dan Raven.


Keberadaan Kirana dan Steven di restorsn Jepang ini adalah hasil laporan Deana juga. Wanita penggemar Sebastian itu masih penasaran dengan status Kirana dan Steven yang terlihat akrab, hingga diam-diam Deana mengikuti mereka.


Tidak melewatkan peluang untuk memanas-manasi Sebastian, Deana kembali mengambil foto saat Steven, Kirana dan Raven duduk bertiga dan berbincang layaknya keluarga bahagia.


Sebastian yang cukup sering mendatangi mal ini bersama Kirana, bahkan mereka pernah makan di restoran Jepang yang didatangi Steven dan Kirana. Sebastian langsung mengenali situasi yang tertangkap dalam foto kiriman Deana.


Tanpa kesulitan, Sebastian bergegas menuju restoran setelah turun di lobby dan meminta Pak Tomo agar menunggunya.


Di sinilah Sebastian sekarang berada. Ia sempat merasa lega karena bisa mencegah tangan Steven menyentuh wajah Kirana, namun Sebastian sedikit kecewa melihat ekspresi Kirana yang biasa saja malah cenderung kesal saat melihat kedatangannya.


“Hai Raven,” sahut Sebastian mencoba tersenyum dan membalas tos saat Raven mengangkat tangannya dengan lima jari yang bergerak-gerak.


“Uncle mau jemput mama ?” matanya mengerjap lalu berubah sedih saat meihat kepala Sebastian mengangguk.


Dalam hati Sebastian ada rasa tidak nyaman saat mendengar anak Steven dan Shera itu masih memanggil Kirana dengan sebutan mama.


“Auntie harus pulang sekarang, mau temani uncle bobo,” ujar Sebastian sambil tersenyum. Ia berusaha mengingatkan Raven agar memanggil Kirana dengan sebutan auntie, bukan mama.


“Uncle sudah besar, no no ditemani mama lagi,” sahut Raven dengan wajah sedikit galak dan jari telunjuk yang bergoyang-goyang.


“Uncle nggak bisa bobo kalau nggak ditemani auntie,”. ujar Sebastian kembali sambil tertawa pelan.


Raven mengernyit dan akhirnya mengangguk. Ia beralih pada Kirana yang menoleh ke arah lain.


“Mama pulang, temani uncle bobo siang. Kasihan uncle sudah ngantuk,” ucap Raven dengan gaya ala orang dewasa menepuk-nepuk lengan Kirana supaya menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Kirana menoleh dan melirik sekilas pada Sebastian yang sedang menatapnya dengan tajam. Kirana langsung tersenyum pada Raven dan mengelus kepalanya.


“Raven juga pulang dan bobo siang sama papa, ya. Nggak boleh nakal sama papa.”


Raven mengangguk, ia berlutut di atas kursi dan memeluk Kirana serta menciumnya. Kirana tertawa pelan saat bocah itu sengaja meniup-niup pipinya setelah memberikan ciuman. Raven tahu kalau Kirana merasa kegelian bila pipinya ditiup-tiup seperti itu.


Akhirnya Kirana pamit duluan mengikuti Sebastian yang sudah menjemputnya. Tangannya langsung digenggam erat oleh Sebastian, seolah ingin menunjukan pada Steven siapa pemilik hati Kirana saat ini. Steven hanya tersenyum tipis menanggapi wajah sepupunya yang sudah tidak bersahabat.


“Katanya mau belanja ke supermarket,” protes Kirana saat Sebastian menggandengnya menuju eskalator yang letaknya berlawanan dengan supermarket.


Sebastian tidak menjawab dan tetap membawa Kirana hingga ke lantai dasar, menuju lobby yang ada di sisi utara mal.


Dengan wajah cemberut Kirana menggerutu dengan suara yang tidak didengar oleh Sebastian. Suaminya tetap dalam mode diam, bahkan hanya memberi isyarat menyuruh Kirana masuk setelah membukakan pintu mobil untuknya.


Sepanjang perjalanan keduanya hanya membisu. Kirana yang paham betul dengan sikap Sebastian memilih diam karena tidak ingin berdebat di depan Pak Tomo.


Butuh waktu limabelas menit untuk sampai ke apartemen, lebih lama dibandingkan perjalanan dari apartemen menuju mal, karena mobil harus berjalan memutar.


Kirana tidak menunggu Sebastian membukakan pintu untuknya saat Pak Tomo sudah menghentikan mobil di depan lobby apartemen.


“Saya tidak akan kembali ke kantor. Kamu coba hubungi Dion, Mo. Tanyakan apa perlu kamu menjemput mereka atau langsung pulang,” pesan Sebastian sebelum turun dari mobil.


Dilihatnya Kirana sudah berjalan ke arah lobby bagian dalam.


“Baik Tuan,” sahut Pak Tomo sambik menganggukan kepalanya.


Sebastian bergegas turun. Ia pikir Kirana akan naik lebih dulu menuju unit apartemen mereka. Ternyata Kirana masih menunggu Sebastian karena mengingat kondisi Sebastian yang masih belum normal saat menggunakan lift.


Sebastian sedikit lega namun ia sengaja masih memasang wajah datar dan tidak bicara sepatah katapun pada Kirana. Sebastian berharap Kirana kali ini benar-benar sadar kalau suaminya itu tidak suka melihat kedekatan Kirana dengan Steven, apalagi rivalnya itu sampai berniat hendak menyentuh wajah istrinya.


Sampai di unit apartemen, Sebastian yang sudah berjalan di depan Kirana membukanya masih tetap dalam mode diam.


Pria yang hampir berusia tigapuluh tahun itu memilih langsung ke kamar dan bersiap-siap mandi tanpa menunggu Kirana menyiapkan pakaian ganti untuknya.


Kirana pun yang masih kesal dengan Sebastian langsung menuju ke dapur, membuka kulkas mencari cemilan karena perutnya kembali terasa lapar.

__ADS_1


Ia hanya bisa menghela nafas panjang karena ingat kalau niatnya berbelanja jadi berantakan gara-gara ulat bulu.


__ADS_2