Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bagaikan Amplop dan Perangko


__ADS_3

Kirana sedang asyik mengobrol dengan Widya saat suara beberapa pria terdengar berbincang di lorong.


“Cewek-cewek kalau gosip pasti lupa sama kerjaan,” sindir Dion yang pertama masuk ke dalam ruangan sekreatriat.


“Dan salah satu cewek yang gosip itu adalah istri boss kamu yang bukan lagi sekretaris di sini,” sahut Sebastian dari barisan paling belakang dengan suara berat.


Dion tersentak, lupa kalau Kirana memang bukan karyawan MegaCyber lagi. Sementara tiga pria lainnya langsung terbahak melihat Dion yang salah tingkah.


“Tunggu SP satu keluar, Yon,” ledek Evan di tengah-tengah tawanya.


“Ya ampun Kirana,” mata Samuel membelalak sambil menutup mulutnya. Spontan semua menoleh ke arah Kirana kecuali Widya yang langsung senyum-senyum.


“Lebah elo sadis juga ya nyengatnya, sampai merah-merah begitu,” lanjut Samuel dengan wajah polosnya.


Spontan Kirana langsung menunduk dengan wajah memerah. Sebastian yang sudah tahu dengan maksud ucapan Samuel malah senyum-senyum bangga.


“Makanya pada cepat nikah, jangan pada kelamaan jones,” ledek Sebastian sambil melewati teman-temannya dan menghampiri istrinya.


“Pantas aja Sebastian sampai terlambat begitu lama,” gerutu Bara yang biasanya pendiam. “Rupaya lagi main sengat-sengatan berdua. Nggak yang jantan, nggak yang betina, dua-duanya memang jago menyengat.”


Ucapan Bara dengan nada datarnya justru memancing gelak tawa yang lainnya. Bahkan Dion yang sempat salah tingkah karena kena semprot bossnya ikut tergelak.


“Itu tandanya saling cinta,” sahut Sebastian dengan nada santai.


Begitu sampai di depan Kirana yang menunduk dengan wajah merona, Sebastian malah berlutut membuat semua yang ada di situ tercengang dibuat tidak percaya dengan tingkah pemilik MegaCyber yang tidak biasanya.


“Kamu jadi sarapan apa ?” Kirana menggeleng membuat Sebastian menautkan kedua alisnya.


“Bukannya kamu bilang lapar banget setelah kita..”


Kirana langsung membekap mulut Sebastian yang pasti sengaja mengeluarkan kalimat yang memanas-manasi keempat cowok jones di ruangan itu.


“Babies maunya makan sama papi,” bisik Kirana di telinga Sebastian.


“Yang mau makan sama papi, babiesnya apa maminya ?” ledek Sebastian.


“Babies ?” Widya mengerutkan alisnya. “Kamu mengandung anak kembar, Ki ?”


Kirana menoleh ke arah Widya dan mengangguk dengan wajah tersipu karena keempat pria yang ada di ruangan itu masih fokus menatapnya dan Sebastian.


“Ya ampun, jadi kamu lagi hamil, Ki ?” Samuel langsung ikut menanggapi. “Musnah sudah hati abang menanti jandamu.”


Dion dan Evan langsung tergelak melihat gaya Samuel sementara Widya senyum-senyum sambil geleng-geleng kepala.


Sebastian ? Ia langsung mengambil pena yang dipegang Widya dan melemparkannya ke arah Samuel hingga mengenai kening sahabatnya itu. Bukannya marah, Samuel malah tertawa dan mengusap keningnya yang terkena lemparan.


“Mantap deh Bastian,” Evan memberikan jempolnya. “Sekali tembak langsung dapat dua targetnya.”


“Selamat Bro,” timpal Bara.


“Mau makan bareng sama para jones ini ?” tanya Sebastian pada Kirana yang masih sedikit menunduk.


Kirana mendongak menatap suaminya dan mengangguk.


“Mbak Wid, Mbak Echi dan Mbak Marsha boleh ikut juga ?” tanya Kirana dengan mata mengerjap.


”Boleh, asal jangan satu kantor,” seloroh Sebastian sambil tertawa.


“Kalau begitu saya info ke Echi dan Marsha dulu,” Widya beranjak bangun dari sofa menuju meja kerjanya.

__ADS_1


“Kamu tunggu sebentar, aku selesaikan pekerjaan dulu. Mau tetap di sini atau ikut ke dalam ?”


“Di sini aja.”


Sebastian menyempatkan mencium pipi Kirana sambil beranjak bangun. Keempat pria itu hanya senyum-senyum melihat Sebastian yang tanpa ragu menunjukan kemesraannya.


“Permisi Nyonya Bastian,” ledek Samuel saat melewati Kirana.


Kirana hanya melirik sekilas sambil mencibir, membuat Dion dan Samuel tertawa. Tidak seperti biasanya Kirana hanya diam saja dan tidak menjawab apa-apa.


Bercak-bercak merah di lehernya membuar Kirana mendadak jadi gadis pemalu.


“Sudah jangan dihiraukan ledekan orang,” ujar Widya yang kembali mendekat dan duduk di sofa.


“Seharusnya kamu bangga karena sudah berhasil membuat Pak Bas yang terkenal cuek dan dingin pada wanita bisa menjadi pria yang sedikit liar karena ingin menunjukan cintanya. Apa kamu tidak dengar ucapan suamimu tadi ? Sepertinya Pak Bas sengaja melakukannya dan membiarkan orang melihatnya, biar mereka pada tahu kalau kamu sudah ada pemiliknya,” ujar Widya sambil tertawa pelan.


“Pantas saja dari pagi Mas Bas nggak kasih saya bercermin,” omel Kirana dengan wajah cemberut.


“Percaya sama Mbak, saat kamu jalan dengan Pak Bas, yang akan kamu lihat tatapan iri wanita-wanita yang melihat bercak kemerahan kamu itu.”


Kirana menatap Widya ingin meyakinkan dirinya. Widya mengangguk dan menepuk-nepuk jemari Kirana.


Kirana menghela nafas. Dalam hidupnya Sebastian adalah pria pertama yang menciumnya, pria pertama yang menjadi kekasih sampai akhirnya menjadi suaminya.


“Kiran !” pekik Marsha di depan pintu ruang sekretariat.


“Mbak Marsha ! Mbak Echi !” wajah Kirana berbinar dan ia pun bangun dari duduknya, berjalan menghampiri Marsha dan Echi yang juga mendekatinya.


“Ya ampun Kiran !” pekik Marsha sambil menutup mulutnya. “Pak Bas ternyata ganas banget, ya !”


Echi tertawa melihat reaksi Marsha, padahal ia sendiri sempat tercengang tidak percaya. Sebagai wanita yang sudah menikah, ia paham betul arti tanda itu, makanya Echi melarang suaminya memberi tanda yang bisa dilihat orang. Bukannya malu meski sudah bersuami, tapi Echi tidak mau orang melihatnya sebagai tanda kalau ia habis melewati malam panjang penuh cinta dengan suaminya.


“Tanda cinta dan kempemilikan, Sha,” Widya ikut bicara. “Supaya tidak ada yang berani melirik istrinya yang tengah berbadan dua.”


“Waahhh kamu hamil, Ki ?” Marsha langsung memeluk mantan sekretaris di stu. “Selamat jadi calon ibu, ya.”


Echi pun mendekat dan mengulurkan tangannya hendak memberi selamat.


“Keren Ki, kecil-kecil sudah jadi calon ibu aja.”


“Makasih Mbak Sha, Mbak Echi,” sahut Kirana dengan wajah bahagia.


“Jangan malu juga dengan kondisi leher kamu,” ujar Echi. “Pak Bas pasti sengaja melakukannya untuk memperlihatkan pada dunia kalau kamu adalah perempuan yang dicintainya. Apalagi saat dia menggandeng kamu di jalan, pasti cewek-cewek langsung mencibir karena iri menganggap kamu sangat beruntung. Nggak gampang loh menaklukan hati Pak Bas. Tuh tanya sama Mbak Wid, berapa banyak ulat bulu yang coba mendekati Pak Bas sebelum menikah dan setelah statusnya duda.”


“Tadi aku juga sudah bilang pada Kirana, harus kuat mental dan hati lapang menghadapi banyak perempuan yang tidak gentar mendekati Pak Bas sekalipun statusnya menikah,” sahut Widya.


“Suami kamu itu idola banyak wanita, Ki,” ujar Echi kembali. “Ganteng, postur tubuhnya ideal, dan yang penting adalah tajir melintir pula. Banyak banget wanita dengan high maintenance membutuhkan pria semacam Pal Bas. Mereka yang penting uangnya, mau muka setengah peluran nggak masalah, yang penting cowok sawit.”


Kirana tertawa mendengar ucapan Echi.


“Mbak Echi bisa aja kasih istilah wajah setelah peluran.”


“Iya lantainya setengah marmer, setengah lagi peluran semen,” sahut Marsha sambil tertawa.


“Jangan terlalu khawatir, Ki. Kita bertiga pasti akan selalu membantu kamu menjaga Pak Bas dari para ulat bulu selama di kantor,” ujar Echi sambil mengelus punggung Kirana.


Tidak lama para pria keluar dari ruangan Sebastian selesai membahas kelanjutan meeting tadi.


“Siang Pak Bas,” sapa Echi dan Marsha bergantian. Sebastian hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Ia mendekati Kirana dan langsung merangkul istrinya tanpa malu-malu, membuat Kirana kembali merona karena merasa tidak enak diperlakukan begitu mesra oleh suaminya.


“Kamu mau makan apa, Honey ?”


“Lagi nggak pengen sesuatu yang spesial. Asal tempatnya jangan terlalu ramai,” sahut Kirana.


“Oke, kita turun ke bawah aja dulu sambil memikirkan mau kemana,” ujar Sebastian menggandeng tangannya.


Sampai di depan lift, semua menunggu di depan pintu yang sama.


“Kalian naik lift yang lain saja, saya mau berdua dengan Kirana,” Sebastian memberi isyarat pada sahabat dan karyawannya.


“Bas, biar hemat biaya lift dan waktu, cukup untuk kita semua naik dalam lift yang sama,” protes Samuel.


“Kali ini harap mengikuti instruksi Pak Bas,” Dion yang menyahut.


“Iya, nurut aja,” Kirana buka suara dengan nada lebih santai. “Daripada acara makan siangnya batal karena Pak Bas pingsan di lift, kali ini masalah biaya beban lift tidak masuk dalam hitungan audit,” lanjut Kirana sambil senyum-senyum.


Sebastian hanya tertawa pelan, mood istrinya berubah lagi. Tidak malu-malu dan diam sambil tersipu.


Akhirnya semua mengalah dan membiarkan Sebastian dan Kirana duluan memasuki lift khusus untuk lantai 15 dan 16.


“‘Memangnya ada masalah apa sampai kita nggak boleh bareng, Yon ?” Marsha yang penasaran tidak mampu menahan rasa ingin tahunya.


“Pak Bas perlu vitamin dari Kirana selama menggunakan lift. Jangan sampai jiwa jones para cowok jomblo ini meronta,” sahut Widya sambil tertawa pelan.


“Maksud Mbak Widya ?” Marsha menautkan kedua alisnya.


“Jangan sok lugu deh, bear-bear,” cebik Samuel. “Untuk suami istri apalagi yang jadi vitamin kalau bukan adegan kiss kiss.”


“Iihh kok Pak Sam tahu ? Suka ngintip ya ?” sahut Marsha dengan sedikit ketus.


“Eh Yon, mereka cuma kiss kiss doang, kan ? Nggak sampai…” Evan menepuk bahu Dion untuk memastikan.


“Tadi pas bareng saya hanya kiss kiss, nggak tahu deh kalau nggak ada saya,” sahut Dion dengan wajah jutek.


Semuanya langsung tergelak melihat bibir Dion langsung cemberut.


“Kasihan amat sih elo, Yon,” Samuel menepuk bahu asisten Sebastian itu lumayan kencang membuat Dion langsung melotot dan mengusap bahunya.


“Sebaiknya elo cepat-cepat cari istri, jangan pacar doang,” lanjut Samuel. “Daripada tidak ada penyaluran karena tergoda menyaksikan adegan langsung boss elo yang kebucinannya udah tingkat dewa.”


“Iya, nggak nyangka kalau Bastian akan berubah jadi cowok bucin kayak begitu,” ujar Bara dengan dahi berkerut.


“Namanya juga cinta, Pak. CINTA,” sahut Echi sambil terkekeh.


“Tapi memang Bastian kelihatan jadi orang yang berbeda sejak sama Kirana, apalagi sekarang mereka sudah sah jadi suami istri. Udah kayak amplop sama perangko, nempel terus,” Evan ikut buka suara sambil tergelak.


“Nah itu dia amplop sama perangko yang nempel terus. Kira-kira adegan begitu yang harus dilihat kalau mau satu lift dengan Pak Bas dan Kirana. Kirana bilang Pak Bas langsung pusing dan mual kalau bibirnya nggak nempel sama istrinya. Dan tahu sendiri deh, mana mungkin Pak Bas melepaskan kesempatan dalam kesempitan, nempelin bibir doang. Kayak proyek aja, begitu menguntungkan langsung disikat,” omel Dion dengan wajah ditekuk.


“Nasib namanya, Yon,” sahut Widya sambil tertaw


Yang lainnya juga ikut tertawa membayangkan reaksi Dion yang tidak bisa protes saat melihat bossnya tanpa malu berciuman dengan istrinya di depan dia.


Tidak lama ternyata lift yang dinaiki oleh Sebastian dan Kirana sudah kembali ke lantai 15.


“Coba kalau nggak ada adegan amplop dan perangko, nggak akan secepat ini lift balik ke lantai 15,” gerutu Dion sambil masuk duluan ke dalam lift dan memencet tombol pintu terbuka.


Keenam orang lainnya hanya tertawa mendengar omelan Dion dan ikut masuk ke dalam lift.

__ADS_1


__ADS_2