Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Para Wanita yang Merepotkan


__ADS_3

Dengan hati yang tidak tenang, Sebastian memasuki gedung MegaCyber. Ia sempat menghubungi Kirana saat mobil memasuki gerbang gedung, tapi tidak diangkat sekalipun.


“Klien kita sudah menunggu di ruang meeting lantai 10, Pak,” sambut Dion di depan lobby.


“Sepenting apa sampai aku sendiri yang harus menemuinya ?” gerutu Sebastian sambil memasuki lift khusus.


“Ibu Dea masih keponakannya Tuan Alexander,” terang Dion yang berdiri di sebelah Sebastian.


“Dea ?” Sebastian mengernyit. “Asal bukan Deana Binawan,” ujar Sebastian tertawa pelan.


“Bapak kenal dengan Ibu Deana Binawan ?” Dion balik bertanya, kedua alisnya menaut.


Sebastian langsung menoleh ke arah Dion dengan wajah yang terlihat tidak nyaman.


“Jadi benar klien yang akan kita temui ini Deana Binawan ?” tegas Sebastian memastikan.


Dion mengangguk membuat Sebastian menghela nafas panjang.


“Pantas saja dia menggunakan segala cara untuk memaksaku bertemu dengannya. Bahkan menggunakan om nya untuk membuat kamu tidak bisa menolaknya,” omel Sebastian.


Keduanya turun di lantai 10 menuju ruang meeting. Pikiran Sebastian jadi bertambah ruwet. Hari yang membuatnya pusing, bertemu 2 wanita yang pernah mengacaukan hidupnya di masa lalu.


Sebastian menghela nafas panjang sebelum Dion membuka pintu ruang meeting.


Ada Bara, Evan dan Samuel sudah duduk berhadapan dengan Dea dan tiga orang stafnya.


“Apa kabar, Bas ?” sapa Dea dengan senyuman menggoda.


Evan dan Samuel sempat mengernyit saat melihat bagaimana Dea terlihat cukup mengenal Sebastian dengan baik.


“Selamat siang, Ibu Deana,” Sebastian balas menyapa tanpa menjawab pertanyaan Deana.


“Ternyata kamu masih belum berubah, Bas,” ujar Deana sambil tertawa pelan.


Sebastian tidak menanggapi. Ia langsung duduk di ujung meja dan Dion duduk di sebelahnya.


“Jadi proyek dimana yang akan kita bahas hari ini ?” tanya Sebastian membuka meeting siang ini.


Ketiga staf yang datang bersama Dea mulai memperisiapkan data-data kebutuhan proyek mereka yang ada di wilayah Sumatera dan rencana bentuk kerjasama dengan MegaCyber.


Selama ketiga stafnya menjelaskan, Dea sibuk memperhatikan Sebastian dan menatapnya tanpa fokus dengan pekerjaan.


Sebastian bersikap biasa saja, karena ini bukan yang pertama diperhatikan wanita-wanita saat membahas pekerjaan.


“Perencanaan proyek ini akan kami pelajari dulu,” ujar Sebastian ingin segera mengakhiri meeting siang ini. “Mungkin Pak Bara atau timnya bisa menghubungi anda jika ada informasi lain yang kami perlukan,” lanjut Sebastian pada staf Dea yang bernama Irfan dan diperkenalkan sebagai penanggungjawab teknis.


“Saya kira meeting kita cukup sekian. Tapi kalau memang masih ada masalah yang mau dibahas, silakan, saya pamit duluan. Keputusan masalah kerjasama ini akan saya bahas dulu dengan tim Megacyber.”

__ADS_1


Sebastian beranjak bangun diikuti oleh Dion. Sebastian memberi kode pada ketiga sahabatnya untuk mengecek handphone.


Sebastian : sorry Bro, gue harus balik lagi ke rumah sakit. Pemeriksaan Kirana belum tuntas, tadi gue tinggal dulu di sana.


Samuel : apa perlu gue yang menemani Kirana 😜😜


Evan : Kirana sakit apa, Bro ?


Bara : masalah ini biar kita yang terusin.


Sebastian : sakit cinta 🥰🥰


Dion tidak bisa menutup pintu karena ditahan oleh seseorang, membuat Sebastian ikut menoleh karena Dion tidak mengikuti langkahnya.


“Bas,” panggil Dea bergegas mendekati Sebastian.


“Untuk masalah proyek, saya perlu membahas dulu dengan tim dan keputusan kami tidak akan ada hubungannya dengan koneksi anda,” sahut Sebastian tegas.


“Bas, aku mau bicara denganmu,” ujar Deana tanpa menghiraukan ucapan Sebastian.


Deana melirik ke arah Dion yang masih berdiri di sampingnya, memberi kode supaya asisten Sebastian itu meninggalkan mereka.


Dion menatap ke arah Sebastian yang mengiyakan supaya Dion menunggunya agak jauh.


“Bas, apa bisa kita cari waktu untuk berbincang nerdua ?” tanya Deana semakin mendekati Sebastian dan membuat pria itu mundur.


“Aku sudah menikah dan sangat mencintai istriku. Lagipula tidak ada masalah lain yang perlu kita bahas selain pekerjaan. Aku permisi dulu,” Sebastian menganggukan kepalanya sekilas kemudian berbalik meninggalkan Deana.


“Tapi aku masih mencintaimu, Bas,” ujar Deana sambil menahan lengan Sebastian membuat langkah pria itu tertahan.


“Itu masalahmu Dea, sejak dulu sampai sekarang jawaban aku tetap sama. Aku tidak pernah mencintaimu. Malam itu aku membantumu atas permintaan Rachel, bukan karena inisiatifku sendiri. Dan sebagai orang yang berpendidikan tinggi serta wanita terhormat, aku percaya kamu mengerti arti ucapanku.”


Sebastian menepiskan tangan Dea dengan sopan dan bergegas meninggalkannya menuju lift, dimana Dion sudah menunggunya.


“Tolong atur meeting dengan Tuan Alexander dan Aleandro. Kalau sampai proyek ini melibatkan Deana sebagai penanggungjawabnya, lebih baik kita tolak saja.”


“Apa ada alasan khusus yang perlu saya sampaikan pada Tuan Alexander, Pak ?”


“Tidak usah, minta waktu saja, kalau bisa lunch meeting, jangan dinner.”


Dion mengangguk mengiyakan dan mencatat pesan Sebastian pada tab-nya.


“Aku harus balik ke rumah sakit menemui Kirana. Hatiku tidak tenang, Yon. Kirana maunya malah bertemu dengan Steven dan menghabiskan waktu dengannya. Bisa pas juga Steven tidak ada kegitan di rumah sakit setelah praktek tadi,” gerutu Sebastian kesal.


“Pasti ada alasan kenapa Kirana begitu, Pak Bas. Bukan model Kirana memaksakan keinginannya pada orang lain, apalagi posisi Pak Bas sudah suaminya bukan sekedar atasan Kirana lagi.”


Sebastian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


“Tadi aku bertemu dengan adik kelas yang pernah minta dijodohkan denganku,” sahut Sebastian pelan.


Keduanya sudah sampai di lantai dasar. Terlihat beberapa karyawan menundukan kepalanya pada Sebastian dan Dion.


“Maksudnya sebelum Nyonya Shera ?”


“Adik kelas di SMA, Yon. Namanya Renata dan sekarang menjadi dokter obgyn di Rumah Sakit Pratama. Mamanya teman arisan mommy dan sempat meminta untuk menjodohkan aku dengan anaknya.”


“Dokter obgyn ?” Dion mengerutkan dahinya. “Bukannya dokter Dharma meminta Pak Bas melakukan pemeriksaan lebih lanjut, kenapa melibatkan dokter obgyn ?”


Dion yang langsung berpikir kalau pemeriksaan pasti dilakukan di ruang VVIP merasa sedikit bingung bagaimana caranya Kirana bertemu dengan dokter obgyn.


Semua dokter yang masuk ruang VVIP pasti akan diatur terlebih dahulu, tidak sembarangan dokter bisa masuk ke sana.


“Kirana sedang hamil,” lanjut Sebastian.


Mata Dion langsung membelalak. Hatinya ikut bahagia mendengar kabar baik itu.


“Selamat, Pak Bas,” Dion langsung menjabat tangan Pak Bas. “Selamat menjadi calon papi.”


“Jangan ember dulu,” pesan Sebastian. “Bahkan daddy dan mommy belum aku beritahu. Jangan bilang ke Widya dulu. Bisa-bisa mommy mengomel sepanjang waktu kalau mendengar kabar baik ini dari mulut orang lain.”


“Siap Pak Bas,” sahut Dion.


Dion pun menutupkan pintu mobil setelah Sebastian duduk di dalamnya. Mulutnya masih menyunggingkan senyum.


Sepertinya hubungan boss nya dengan Kirana dipenuhi dengan para pelakor dan pebinor.


Sebastian menarik nafas lega saat teleponnya diangkat oleh Kirana.


“Honey, aku sudah jalan balik menuju rumah sakit. Kamu masih dengan Steven ?”


“Tidak,” sahut Kirana dengan suara kaku.


“Sekarang kamu dimana ? Apa perlu aku menghubungi staf uncle Raymond untuk membuat janji dengan dokter Wanda ?”


“Sepertinya tidak perlu, tadi aku sudah mengurus pendaftaran,” sahut Kirana masih dengan nada datar dan kaku.


“Honey,” Sebastian berubah cemas. “Kamu lagi ada dimana ?”


Terdengar helaan nafas berat Kirana. Belum ada jawaban terdengar di telepon.


“Honey,” panggil Sebastian kembali.


“Aku sedang bertemu calon pelakor yang mengaku mantan tunanganmu,” jawab Kirana datar.


Sebastian menarik nafas panjang dengan perasaan tidak menentu. Benar-benar hari yang membuatnya pusing berurusan dengan wanita-wanita masa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2