
Sebastian baru saja membukakan pintuk mobil untuk Kirana dan membantu istrinya turun sambil menggendong di sulung Ronald. Sementara di kursi penumpang belakang, baby sitter mereka saling membantu membukakan pintu untuk temannya yang sedang menggendong Roland.
Sebelum masuk, anak kedua Sebastian dan Kirana sudah berpindah tangan ke dalam gendongan Sebastian. Terlihat kalau Roland lebih aktif sementara Ronald sedikit lebih kalem.
Mommy Amelia yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan kedua cucunya segera menghampiri anak dan menantunya begitu keduanya menginjakan kaki di teras rumah uncle Raymond dan auntie Rosa. Hari ini keluarga itu mengundang keluarga adik dan besannya untuk makan malam.
“Sebetulnya dalam rangka apa uncle Raymond mengundang kita malam ini. Bee ?” bisik Kirana sambil menggandeng lengan suaminya yang masih membawa Roland dalam gendongannya.
Mommy Amelia sudah duluan masuk sambil membawa Ronald yang hendak dipamerkannya pada keluarga kakak iparnya itu. Inginnya menggendong Roland juga sekaligus, tapi mengingat kedua bayi itu semakin bertambah beratnya, Sebastian hanya mengijinkan mommy Amelia membawa salah satu cucunya.
“Steven akan berangkat ke Papua minggu depan, menjalankan misi kemanusiaan di sana. Uncle Raymond sempat bercerita saat datang ke kantor menemui Daddy dan kebetulan aku ada di sana. Rupanya Steven benar-benar sudah memantapkan hatinya untuk pergi jauh dan melupakan kamu yang ternyata sekarang tambah menggoda.”
“Bee, jangan ngomong begitu. Kamu memangnya rela kalau istrimu ini menggoda pria lain ?” cibir Kirana dengan wajah sebal.
“Bukan cuma sekedar nggak rela, akan aku buat pria-pria itu menghilang tanpa jejak,” tegas Sebastian dengan wajah serius membuat Kirana tertawa pelan.
“Serasa dibawa terbang ke langit ketujuh sama suami tersayangku,” sahut Kirana sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Jaga sikapmu ! Jangan terlalu baik pada Steven. Ingat, dia sudah punya istri dan kamu juga sudah punya suami yang super posesif.”
“Iya Sayang, aku nggak lupa. Bagaimana bisa lupa kalau pria tampan dan mapan itu berdiri di dekatku dan sinar cintanya membuatku langsung mabuk kepayang.”
“Mulai pintar gombal juga,” cibir Sebastian. Kirana hanya tertawa pelan.
Sampai di ruang tengah, Roland pun akhirnya berpindah ke dalam gendongan daddy Richard. Kirana tersenyum dan mengucap syukur dalam hatinya karena bisa memberikan kebahagiaan untuk suami dan mertuanya.
Terlihat jelas kalau mommy Amelia dan daddy Richard sangat bahagia bisa merubah status mereka menjadi opa dan oma dari dua cucu yang begitu tampan, mirip dengan Sebastian.
Tidak lama, seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan panjang yang bisa menampung duabelas orang dengan posisi kedua ujung meja ditempati oleh uncle Raymond dan om Herman.
Kirana sempat mengerutkan dahi saat melihat satu kursi kosong di antara Raven dan auntie Rosa. Sedikit khawatir saat melihat Shera belum ikut duduk di sana sementara kedua orangtuanya sudah datang sejak tadi.
“Bee, apa Shera tidak datang malam ini ?” bisik Kirana saat mereka baru saja memasuki ruang makan setelah menitipkan kedua jagoan mereka pada babysitter.
“Tidak tahu juga, Honey. Sepertinya hanya terlambat saja.”
Kirana mengangguk dan membiarkan Sebastian menarikan kursi untuknya yang posisinya berseberangan dengan kursi kosong.
“Mama Nana,” sapa Raven dengan suara yang cukup kencang dengan senyuman khasnya.
“Hai Raven. Apa kabarnya ?” dengan sopan Kirana membalas sapaan bocah kecil itu dengan senyuman khasnya.
Satu tangan Kirana menggenggam erat jemari Sebastian di bawah meja. Ia tahu kalau suami posesifnya ini paling tidak suka mendengar Raven memanggilnya mama.
“Baik, Ma. Raven mau duduk dekat mama,” rengeknya dengan tatapan memohon menatap Kirana supaya mengajaknya mendekat.
“Lebih enak duduk berhadapan kalau Raven mau ngobrol dengan auntie,” Kirana menyahut dan mulai membiasakan dirinya dengan sebutan auntie untuk Raven. “Lagipula mama Raven akan segera datang sebentar lagi.”
Raven langsung cemberut dan melipat kedua tangannya. Bocah berusia tiga tahunan itu menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi masih dengan mulut manyun.
“Raven duduk dekat Papa saja,” bujuk Steven membelai kepala putranya. “Kalau nanti Raven duduk di sebelah mama Nana, tidak ada yang menemani Papa di sini.”
Kirana hanya tersenyum tanpa ikut berkomentar. Hatinya sedikit lega saat mendengar Steven sudah menyebut dirinya sebagai papa untuk Raven.
Makan malam keluarga itu baru saja dimulai saat Shera muncul dengan sedikit tergesa. Wanita itu tampil elegan dengan dress hitam yang sedikit longgar dengan panjang selutut.
__ADS_1
“Maaf saya terlambat. Ada masalah di kantor yang harus diselesaikan hari ini juga,” ujar Shera setelah duduk di sebelah Raven dan auntie Rosa.
Kirana tersenyum miris saat melihat suami dan kedua mertua Shera hanya menoleh sekilas dan melanjutkan santap malam mereka tanpa menanggapi ucapan Shera. Bahkan Raven pun ikut sibuk memakan udang kupas yang sudah disiapkan di piring makannya.
“Apa jalanan macet, Sher ?” akhirnya Kirana mencoba mengurangi kecanggungan Shera. Terlihat tatapan kecewa dari ekspresi wanita yang duduk di seberangnya.
Kirana sempat melirik ke arah kedua orangtua Shera yang berada di sisi sebelah kirinya dan mereka juga bersikap biasa saja tanpa menunjukan niat untuk mengajak anak kandung mereka berbicara.
“Sedikit seperti biasa, Nana,” Shera tersenyum menanggapi niat baik Kirana yang berusaha menetralkan kecanggungannya.
“Jangan panggil Kirana dengan nama itu !” suara tegas Steven membuat Shera, Kirana dan Sebastian langsung tercengang dan menatap ke arah Steven.
“Hanya aku yang boleh memanggilnya begitu,” tegas Steven lagi menatap ke Shera.
“Sorry, Steve,” lirih Shera sambil tersenyum getir.
“Kamu boleh memanggilku apa saja selama masih ada hurufnya di dalam barisan namaku, Sher,” ujar Kirana sambil tertawa pelan. “Aku tidak akan mempermasalahkannya.”
Kirana kembali menurunkan satu tangannya ke bawah meja meraba mencari tangan suaminya yang juga ada di bawah meja. Sesuai perkiraannya kalau Sebastian pasti mengepalkan tangannya menahan emosi.
Kirana mengusap jemari Sebastian yang mengepal hingga akhirnya ia berhasil menggenggamnya. Tanpa malu-malu Kirana mendekatkan mulutnya ke telinga Sebastian untuk berbisik.
“Ingat pepatah anjing menggongong kafilah berlalu, Bee. Dan nanti malam kamu boleh buka puasa,” bisik Kirana dengan suara mesra.
Kirana sengaja menempelkan wajahnya begitu dekat dengan Sebastian hingga yang melihatnya pasti mengira kalau ia sedang mencium suaminya. Setelah berbisik Kirana kembali menjauh dan menatap Sebastian yang langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan berbinar.
Kirana mengangguk sambil tersenyum seolah menjawab tatapan Sebastian yang perlahan ikut menyunggingkan senyuman juga. Lalu tanpa suara Kirana hanya menggerakan mulutnya mengucapkan I LOVE YOU.
Steven menatap keduanya dengan raut wajah kesal dan terlihat dokter muda itu menghela nafas panjang. Hatinya sudah cukup kesal mendengar Shera memanggil Kirana dengan nama kesayangannya ditambah lagi harus melihat kemesraan sepasang suami istri yang duduk persis di seberangnya.
“Apa mereka sudah tidak minum asi lagi, Kiran ?” tanya mommy Amelia saat melihat kedua babysitter si kembar membawa botol susu.
“Masih Mom, tapi produksi asi Kirana tidak mencukupi kebutuhan mereka berdua,” sahut Kirana dengan wajah sedikit tidak enak.
“Yang penting Kirana tetap mengutamakan pemberian asi dulu sebelum menambahkan susu formula, Mom,” ujar Sebastian sambil mengusap punggung istrinya untuk menenangkan Kirana.
“Sepertinya kedua cucu oma ini memang anak-anak laki yang kuat menyusu, seperti papinya,” ledek mommy Amelia sambil melirik ke arah Sebastian.
Tidak ada nada marah di dalam ucapan mommy Amelia, membuat Kirana menarik nafas lega.
“Tentu saja akan menurun, Mom. Wajah mereka saja begitu mirip denganku dan sudah pasti akan memiliki sifat seperti papinya,” ujar Sebastian dengan bangga. Tangannya sudah tidak lagi canggung memegang botol susu untuk si sulung Ronald.
“Asal jangan kamu bagi lagi asimu untuk pria dewasa yang manja ini,” cebik mommy Amelia masih melirik putranya.
“Sedikit-sedikit boleh lah, Mom,” sahut Sebastian tertawa tapi kemudian meringis karena Kirana mencubit lengannya.
“Bee, malu,” ujar Kirana dengan suara pelan.
“Biar mantan pacarmu itu dengar dan bertambah iri,” bisik Sebastian sambil melirik ke arah Steven yang ternyata memang sedang memperhatikan mereka.
“Bee !” Kirana melotot dengan suara tertahan. “Steven bukan mantan pacarku ! Kamu tuh senang banget sih bilang Steven itu mantan pacarku.” Bibir Kirana langsung cemberut mendengar ucapan suaminya sementara Sebastian sendiri hanya tertawa.
“Jadi kapan Steven akan berangkat ?” suara daddy Richard menghentikan candaan Sebastian dan Kirana.
Semua menatap ke arah Steven yang sedang menikmati sepiring buah. Pria itu sedikit gelagapan karena tidak siap dengan pertanyaan daddy Richard.
__ADS_1
“Bukankah kita semua diundang kemari karena kamu mau pamitan menjalankan tugas di Papua ?” tanya daddy Richard kembali.
“Iya Uncle,” Steven meletakan piringnya di atas meja yang ada dekat situ. “Rencananya minggu depan aku akan berangkat dengan rombongan dari Jakarta dan singgah di Surabaya untuk mendapatkan pengarahan dan bergabung dengan tim medis lainnya yang berasal dari pulau Jawa.”
Auntie Rosa sendiri tidak banyak bicara sejak tadi, hanya mengobrol biasa dan lebih banyak mendengarkan mommy Amelia dan daddy Richard yang selalu membanggakan kedua cucu mereka.
“Berapa lama tugas di sana, Steve ?” tanya mommy Amelia.
“Perjanjiannya sementara ini setahun, Auntie. Tapi kalau memang dibutuhkan, aku bisa memperpanjangnya hingga batas waktu yang belum bisa dipastikan.”
Daddy Richard dan mommy Amelia hanya mengangguk-angguk dan tidak menyinggung sedikit pun soal Shera dan Raven yang akan ditinggal oleh Steven.
“Papa mau pergi ?” Raven yang sedikit menangkap pembicaraan orang dewasa di sekitarnya berpindah duduk ke atas pangkuan Steven.
“Raven mau ikut,” rengek bocah itu yang langsung merangkul Steven dan merebahkan kepalanya di dada papanya.
“Raven di sini dulu sama Mama, oma dan opa. Papa harus kerja dulu, nanti papa pasti pulang lagi temani Raven.”
“Jauh ? Raven nggak bisa main sama papa ?” bocah itu mendongak dan mengerjapkan matanya menatap Steven yang tersenyum.
“Iya jauh. Raven akan sekolah sebentar lagi dan pasti punya banyak teman. Raven bisa ajak teman-teman main.”
Perlahan bahu Raven bergetar meski wajahnya menempel pada dada Steven. Pria itu sendiri terkejut saat mendengar isak tangis putranya yang terdengar pelan.
“Hei jagoan, jangan menangis,” Steven berusaha merenggangkan pelukan Raven dan ingin menatap wajah putranya, namun bocah itu semakin mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada Steven.
“Papa hanya tugas sebentar saja dan akan kembali lagi menemani Raven main di sini. Papa nggak akan tinggalin Raven.”
Steven menepuk-nepuk punggung putranya. Hatinya sempat merasa tercubit. Meskipun Raven hadir karena suatu kesalahan yang tidak pernah diinginkan oleh Steven, namun ikatan batin ayah dan anak tidak bisa dihapus begitu saja.
Tujuh bulan melewati waktu bersama Raven membuat Steven mulai menyayangi bocah ini sebagai bagian dari dirinya. Steven mulai merasakan artinya rindu pada anaknya saat sibuk praktek di rumah sakit dan bertemu dengan banyak anak-anak yang menjadi pasiennya.
“Raven maunya main sama Papa,” ujar bocah itu di sela isak tangisnya.
Wajahnya sudah tidak lagi disembunyikan di dalam pelukan Steven. Kali ini Raven kembali mendongak dan menatap Steven dengan linangan air mata.
Steven tersenyum, mengambil tisu yang ada di meja dan mulai menghapus air mata di wajah putranya.
“Papa hanya tugas sementara bukannya pergi meninggalkan Raven. Selama Papa nggak ada, Raven harus jadi jagoan yang jagain mama, opa, oma semua.”
Shera membuang muka ke arah lain. Hatinya berdesir mendengar Steven menyebutnya mama di depan Raven, namun sepertinya sudah terlambat untuk memulainya kembali.
“Janji Papa pasti pulang lagi dan nggak akan tinggalin Raven ?” Raven mengulurkan jari kelingkingnya membuat Steven tertawa namun membalas mengikatkan kelingkingnya pada jari mungil itu.
“Raven sayang Papa,” Raven langsung merangkul leher Steven dan kembali menyusupkan wajahnya di dalam pelukan pria yang akhirnya bisa dipanggilnya papa itu.
Shera tidak berkata sedikit pun. Perasaannya campur aduk. Hatinya sakit saat menyadari kalau kehadirannya tidaklah penting untuk Raven hingga bocah itu tidak pernah menangisinya kalau ditinggal pergi oleh Shera dan tidak pernah merengek meminta Shera untuk menemaninya.
Di sisi lain, Shera merasa bahagia karena hubungan Raven dan Steven sudah mulai dekat meski baru tujuh bulan ini mereka bersama. Setidaknya Raven masih merasa memiliki orangtua sekalipun bocah itu tidak menganggap Shera punya peran penting dalam hidupnya.
__ADS_1