Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 63 Provokasi Shera


__ADS_3

Selama berada di Indonesia, kegiatan Sebastian berjalan seperti biasa. Bahkan pria itu meminta Dion untuk mengatur jadwal meetingnya tidak melebihi jam pulang kantor dan sebisa mungkin diadakan di gedung MegaCyber.


 


Sebastian ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kirana. Selain karena persiapan acara pernikahan mereka, minggu depan adalah jadwal Sebastian untuk kembali terbang ke Amerika untuk mengatasi masalah pusat server mereka.


 


Sebastian yang semula ingin mengajak Kirana menghabiskan waktu berdua di hari Sabtu, terpaksa memundurkan rencananya ke sore hari karena harus menemani daddy Richard bermain golf sekaligus membahas pekerjaan dengan rekan bisnis mereka.


 


Kirana akhirnya memutuskan pergi ke mal sendirian di siang hari karena harus membeli beberapa keperluan pribadinya. Semula ingin mengajak Echi atau Marsha, tapi Kirana takut kalau nanti mendadak Sebastian ingin menjemput sesuai bermain golf. Tidak enak kalau sampai Kirana meninggalkan mereka di mal.


 


“Apa kabar Kirana ?” seseorang mensejajarkan langkahnya saat Kirana sedang melihat-lihat di supermarket.


 


“Selamat siang Mbak Shera,” sapa Kirana balik saat melihat mantan istri Sebastian itu sudah berada di sampingnya.


 


“Sepertinya Sebastian masih belum berubah. Masih saja menganggap pekerjaan lebih penting daripada menemani calon istrinya, bahkan di akhir pekan seperti ini,”  ujar Shera sambil tertawa pelan.


 


“Sayangnya saya tidak merasa kalau Mas Bastian memperlakukan saya seperti itu,” sahut Kirana dengan nada santai.


 


“Kamu belum lama menjalin hubungan dengannya, Kirana. Jangan terlalu naif. Kamu akan melihat bagaimana Sebastian sebenarnya.”


 


“Mungkin itu dulu, Mbak. Tapi saya percaya kalau manusia bisa berubah menjadi lebih baik. Dan saya yakin kalau Mas Bastian bukanlah orang yang sama dibandingkan saat jalan dengan Mbak Shera.”


 


“Aku dengar kalian baru berpacaran empat bulanan dan mengenal kurang dari setahun. Jadi aku yakin, Sebastian belum terlalu terbuka padamu, apalagi hatinya pernah sakit karena aku,” Shera tersenyum dengan wajah merendahkan Kirana.


 


“Saya duluan. Mbak.” Kirana yang sudah kehilangan mood berbelanja mendorong trolinya menuju kasir,


 


Daftar belanjaan yang sudah dicatatnya di dalam handphone belum terbeli semua, tetapi berbelanja ditemani ocehan Shera membuat hatinya merasa kurang nyaman.


 


“Kirana,” tangan Shera menahan lengan Kirana saat ia sudah selesai melakukan transaksi di kasir.  “Aku ingin ngobrol sebentar denganmu.”


 


“Kalau Mbak Shera hanya ingin membuka kejelekan Mas Bastian, maaf saya tidak memerlukan informasi semacam itu. Saya akan melihatnya sendiri dalam kebersamaan kami. Karena saya yakin kalau pandangan orang tentang baik buruk kadang-kadang berbeda, tergantung dari sudut mana kita melihatnya,”


 


Kirana menolak masih dalam sikap sopan. Namun tangan Shera masih belum terlepas dari lengannya.


 


“Bukan hanya masalah Sebastian, tapi aku ingin bicara soal Raven, “ Shera menatap Kirana dengan wajah memohon. Kirana menghela nafas, tapi akhirnya ia luluh juga begitu mendengar nama Raven.


 


 


Shera mengajak Kirana untuk berbincang di  salah satu Café yang tidak terlalu ramai sehingga nyaman untuk berbicara. Dan sekarang, kedua wanita itu sudah duduk berhadapan sambil menunggu pesanan mereka diantar.


 


Dua wanita yang merupakan masa lalu dan masa depan Sebastian.


Kirana sendiri memilih diam dan menunggu Shera berbicara terlebih dahulu.


 


“Tolong tunda dulu rencana pernikahanmu dengan Sebastian untuk memastikan kalau kalian saling mencintai.”


 


Kalimat Shera itu membuat Kirana mengerutkan dahinya dan sedikit terkejut meski ia berusaha menyembunyikannya dan bersikap biasa-biasa saja.


 


“Apa maksud permintaan Mbak Shera ?”


 


“Steven sempat bercerita padaku tentang permintaanya padamu. Apakah hatimu tidak tergerak sama sekali untuk memberinya kesempatan ?”


 


Kirana tersenyum sedikit sinis. Ia tidak menyangka kalau ini semua juga melibatkan nama Steven di dalamnya.


 

__ADS_1


“Saya menganggap masalah dengan Steven sudah beres dan Mbak Shera tidak punya hak untuk mengatur hidup saya,” jawab Kirana dengan tegas.


 


“Tentu saja masalahmu dengan Steven belum selesai,  Kirana,” sahut Shera, namun menjeda kalimatnya karena pelayan mengantar dua gelas minuman pesanan mereka.


 


“Steven sangat mencintaimu. Bahkan sejak kami kuliah satu kampus dan kami kembali sering bertemu saat aku berpacaran dengan Sebastian, hanya ada namamu yang disebut olehnya. Cinta Steven padamu tidak pernah berubah, sejak dulu sampai terakhir aku bertemu dengannya.”


 


Kirana tertawa pelan sambil mengambil gelas minuman dan meneguknya sedikit.


 


“Kalau begitu, tolong sampaikan pada Steven kalau memang dia mencnitai saya dengan sungguh-sungguh, biarkan saya bahagia dengan Mas Bastian, pria yang saya cintai.”


 


“Lelaki yang sangat mencintai kita pasti akan lebih bisa memberikan kita kebahagiaan dibandingkan dengan pria yang hanya mencintai saja.”


 


“Maksud Mbak ?” Kirana menautkan kedua alisnya.


 


“Steven sangat-sangat mencintaimu. Cintanya begitu dalam dan melampaui cinta Sebastian kepadamu. Lelaki seperti itu akan lebih bisa membahagiakanmu dibandingkan dengan Sebastian.”


 


“Kenapa Mbak Shera begitu yakin,” Kirana tersenyum sinis.


 


“Karena Sebastian masih mencintaiku.”


 


Deg.


 


Kali ini Kirana tidak mampu menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia meletakkan gelas minumannya dan menggeser sedikit menjauh.


 


“Sepertinya Mbak Shera sangat percaya diri dan merasa paling mengerti hati dan pikiran Mas Bastian. Apakah Mbak Shera tidak takut sakit hati kalau kenyatannya tidak seperti itu ?”


 


 


“Aku sempat beberapa kali berbincang dengannya di luar konteks pekerjaan. Lagipula apakah tidak terpikir olehmu kenapa Sebastian membiarkanmu melepasku begitu saja masalah Esti ? Itu karena Sebastian masih memiliki sedikit rasa untukku, makanya ia tidak mau membuat aku kenapa-napa.”


 


“Semua itu atas permintaan saya, bukan keputusan Mas Bastian,” jawab Kirana masih berusaha meredam emosinya.


 


“Itulah sebabnya aku bilang kalau kamu belum mengenal Sebastian dengan baik, Kirana. Mana mungkin waktu sekitar 6 bulan bisa disamakan dengan aku yang mengenalnya hampir 5 tahun,” Shera tertawa sedikit mengejek.


 


“Sebastian bukan pria yang mudah memaafkan, apalagi pada orang-orang yang mengganggu privasinya. Bahkan daddy Richard tidak bisa menghalanginya jika Sebastian sudah memutuskan untuk menghukum seseorang. Kalau memang Sebastian sudah menghapus namaku sepernuhnya dari hatinya, ia tidak akan begitu mudah memaafkan aku, sekalipun kamu memohon kepadanya.”


 


Kirana hanya tersenyum sinis mendengarkan ucapan Shera. Ia kembali menarik gelas minumannya dan meneguknya untuk menenangkan gejolak hatinya yang mulai terpancing emosi.


 


“Sudah saya katakan kalau Mas Bastian telah banyak berubah.”


 


“Aku berniat kembali pada Sebastian !” Tegas Shera sambil tersenyum.


 


Deg !


 


Jantung Kirana kembali seperti berhenti beberapa detik mendengar ungkapan Shera. Emosinya kian dibolak balik oleh Shera. Ia meletakkan kembali gelasnya.


 


“Aku akan meminta maaf atas semua kesalahanku yang sudah menyakiti hatinya. Kalau perlu aku berlutut memohon kepada Sebastian untuk menerima aku kembali. Aku yakin kalau cinta kami akan mampu memperbaiki semuanya dan memulai kembali dari awal. Saat berbincang berdua dengannya, baru kusadari kalau Sebastian adalah pria yang aku cintai, dan dapat kulihat juga kalau masih ada cinta dalam tatapan matanya.”


 


Shera tersenyum dengan wajah bahagia sambil menatap Kirana.


 


“Lepaskan Sebastian dan biarkan kami kembali bersama, untuk kebaikan Raven juga. Dan kamu sendiri bisa memulai dengan Steven, lelaki yang sangat mencintaimu selama ini. Percayalah ! Cinta Steven pasti akan lebih membahagiakanmu dibandingkan dengan Sebasatian yang masih memiliki rasa cinta padaku.”

__ADS_1


 


“Mbak Shera sangat percaya diri sekali,” sahut Kirana sambil tertawa sedikit mengejek. “Saya tidak yakin kalau yang terlihat di tatapan Mas Bastian adalah cinta untuk Mbak Shera, tapi sayang sekali kalau Mbak Shera melihatnya begitu. Jangan sampai gantian Mbak Shera yang sakit hati.”


 


“Bagaimana kalau kita bertukar tempat untuk membuktikan keyakinan kita masing-masing ?” tantang Shera dengan senyuman liciknya yang tidak terlihat oleh Kirana.


 


“Tiga bulan. Dalam waktu tiga bulan, kamu mencoba menjalin hubungan dengan Steven dan aku sendiri dengan Sebastian. Jika dalam waktu tiga bulan aku tidak bisa membuktikan kalau Sebastian masih mencintai aku dan menerima aku bersama dengan Raven, aku akan melepaskannya kembali kepadamu. Tapi jika dalam waktu tiga bulan justru kamu yang berubah dan mencintai Steven, aku bersedia menjadi penggantimu untuk bertahan di samping Sebastian, menjadi orang yang selalu mencintainya. Aku yakin kalau Sebastian akan luluh padaku dengan sisa cinta yang ada di hatinya.”


 


 


Kirana langsung tertawa mendengar ucapan Shera. Dia jadi teringat dengan ucapan mommy Amelia yang mengatakan kalau akan ada banyak wanita yang berusaha menyingkirkannya dari Sebastian.


 


“Saya tidak pernah menganggap Mas Bastian sebagai objek untuk melakukan coba-coba semacam itu. Mas Bastian bukan barang yang bisa dengan mudah dipindahtangankan. Saya yakin kalau Mas Bas sangat mencintai saya sama seperti saya mecintainya.”


 


“Kamu masih muda dan naif Kirana,” ujar Shera dengan senyum mengejek. “Aku rasa kamu yang terlalu percaya diri masalah Sebastian. Jangan sampai akhirnya kamu terluka dengan keyakinanmu yang terlalu berlebihan itu.”


 


Kirana hanya tersenyum dan beranjak bangun dari bangkunya, mengambil tas belanjaannya.


 


“Mungkin saya memang kurang pengalaman dibandingkan dengan Mbak Shera yang begitu pintar membohongi Mas Bastian soal kehamilan dengan pria lain. Tapi cinta saya melebihi dari yang Mbak Shera punya untuk Mas Bastian. Dan saya pastikan kalau calon suami saya itu sangat mencintai saya lebih daripada sisa cinta yang Mbak Shera lihat.”


 


Kirana menganggukan kepala, meninggalkan Shera yang masih duduk sambil mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.


 


“Kirana !” Shera memanggilnya cukup keras hingga Kirana menghentikan langkahnya.


 


“Jangan sampai kamu menyesal dengan keyakinan hatimu. Kali ini sepertinya alam berpihak padaku karena memberikan aku kesempatan untuk pergi berdua dengan Sebastain ke Amerika. Aku pastikan kalau semua keyakinanmu hari ini akan berantakan,” ujar Shera sambil senyum sinis dan tatapan mengejek.


 


‘Terima kasih atas peringatan Mbak Shera,” Kirana tersenyum sambil menganggukan kepala dan kembali meneruskan langkahnya.


 


Kirana mempercepat langkahnya menjauh dari Shera menuju pintu keluar mal. Hatinya merasa bergemuruh mendengar ucapan Shera terutama yang terakhir tadi. Kenapa Sebastian tidak memberitahunya kalau mereka akan berangkat bersama ? Meski kebersamaan ini karena tanggungjawab pekerjaan, tapi Kirana merasa goyah juga.


 


Shera bukan tipe wanita yang hanya membual di mulut saja. Yang mengerikan justru wanita itu mengutamakan tindakan dulu tanpa banyak bicara.


 


Ungkapan hati Shera yang ternyata masih mencintai Sebastian membuat Kirana merasa tersentil dan kembali dalam kondisi kurang percaya diri.


 


Kirana mengambil handphone yang bergetar dari dalam tasnya. Terlihat nama Sebastian muncul di layar handphonenya.


 


“Halo Bee,” sapa Kirana sambil terus melangkah.


 


“Honey, kamu masih di mal ?”


 


“Iya Bee.”


 


“Maaf sepertinya hari ini aku tidak bisa bertemu denganmu. Baru saja Dion mengabarkan kalau sore ini akan ada meeting dengan tim perusahaan Tuan Alexander yang akan ikut berangkat ke Amerika. Meetingnya tidak bisa diundur ke hari Senin karena waktunya sudah mepet. Sorry banget, Kiran. Aku akan menyuruh Pak Tomo menjemputmu sekarang, ya.”


 


Kirana menghentikan langkahnya. Ucapan Shera mulai mempengaruhi otaknya. Ternyata benar kalau keberangkatan Sebastian kali ini akan bersama dengan perusahaan yang sedang bekerjasama dengan MegaCyber untuk proyek di Kalimantan. Dan di sanalah Shera bekerja sebagai tim penasehat hukumnya. Meski Kirana sedikit bingung kenapa Tuan Alexander mengiirm Shera yang tidak ada kaitannya dengan urusan teknis.


 


Kirana merasa sedikit pusing. Hatinya terasa semakin tercampur aduk. Ia pun kembali bergegas dan meminta petugas memanggilkan taksi untuknya di lobby utama. Ia ingin segera pulang, mandi dan beristirahat.


 


“Aku sudah dalam perjalanan pulang, Bee. Pak Tomo tidak perlu menjemputku.”


 


Sebaris pesan itu dikirimkan Kirana pada Sebastian.


 

__ADS_1


Setelah memberitahu sopir taksi alamat rumahnya. Kirana menyenderkan kepalanya ke jok mobil lalu memejamkan mata. Berharap kalau tidak ada satupun perkataan Shera yang akan terbukti.


__ADS_2