Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Aksi Mommy Amelia


__ADS_3

Kirana menggandeng lengan Sebastian dengan perasaan cemas. Hari ini memang jadwalnya untuk melakukan pemeriksaan rutin bulanan.


Tapi hatinya bertanya-tanya saat semalam mommy Amelia memberi kabar kalau pemeriksaan akan dilakukan di kamar VVIP khusus untuk keluarga Pratama di lantai tujuh.


“Kenapa harus di kamar VIP segala, Bee ?” tanya Kirana saat mereka sudah memasuki lift.


Untung saja seiring bertambah usia kehamilan Kirana, ngidam anehnya Sebastian berangsur hilang.


“Mommy nggak kasih tahu alasannya dan daddy minta kita menuruti saja kemauan mommy. Daddy yakin kalau mommy punya maksud baik soal rencana ini.”


Sebastian menggenggam jemari istrinya yang masih berpegangan di lengannya. Tangan Kirana terasa bertambah dingin saat beberapa perawat sudah menunggu di depan kamar.


“Selamat siang Tuan dan Nyonya Sebastian,” seorang perawat paruh baya mendekati Sebastian dan Kirana lalu membungkukan badannya memberi hormat.


“Saya dengan Suster Dini, kepala perawat di sini Tuan, Nyonya,” dengan sopan suster Dini menganggukan kepala saat menyebut Sebastian dan Kirana bergantian.


“Salam kenal suster Dini,” Kirana membalas sapaan suster Kiran sambil menganggukan kepalanya. “Panggil saya Kirana saja.”


Suster Dini hanya tersenyum tanpa mengiyakan permintaan Kirana. Sudah bisa dipastikan kalau tidak mungkin memanggil menantu keluarga Prstama hanya dengan nama saja meskipun untuk ukuran nyonya muda, usia Kirana memang benar-benar termasuk masih muda.


Sebastian membuka pintu kamar. Kirana hampir tidak percaya dengan orang-orang yang sudah menunggu mereka di dalam.


Selain kedua orang tua Sebastian dan Kirana serta dokter Wanda yang berhubungan langsung dengan urusan pemeriksaan hari ini, ternyata Uncle Raymond, Steven, dokter Dharma, seorang dokter lainnya dan yang membuat Kirana bingung Renata pun ada di dalam ruangan itu.


“Kamu sudah datang sayang ?” sapa momny Amelia saat Kirana mendekatinya dan memberikan salam berupa pelukan dan ciuman di pipi. Sesudah itu Kirana menghampiri mama Lia dan melakukan hal yang sama.


Kedua ibu itu sedang berbincang dekat ranjang saat Sebastian dan Kirana masuk sementara para ayah duduk berbincang dengan uncle Raymond dan Steven di sofa.


Sebastian pun melakukan hal yang sama pada kedua ibu dan menyusul Kirana menyapa kedua ayah dengan cara yang sama. Hanya pada uncle Raymond dan Steven, Kirana sebatas memberikan salam dan menganggukan kepalanya dengan sopan.


“Langsung mulai saja pemeriksaannya, Wanda,” pinta momny Amelia pada dokter obgyn yang dipercaya untuk menjadi dokter Kirana, sekaligus sahabat baik mommy Amelia.


Dibantu oleh dua orang perawat yang langsung menutup tirai seputar ranjang pasien, Kirana naik ke atas tempat tidur.


Hanya mommy Amelia, mama Lia dan Sebastian yang ikut menemani di sisi ranjang Kirana.


“Lihat tuh sayang,” dokter Wanda mennjuk ke layar monitor sementara tangan yang lainnya memegang alat USG. “Perkembangan kedua janin sangat bagus, sesuai usia, 14 minggu.”


“Belum ketahuan jenis kelaminnya, Tante ?” Tatapan Sebastian fokus ke layar monitor dan tangannya menggenggam jemari Kirana.

__ADS_1


“Kamu nih maunya buru-buru aja, Bas. Baru juga anak pertama, mau cewek atau cowok sama aja,” sahut dokter Wanda sambil tertawa. “Nggak mungkin juga kamu hanya mau punya dua anak.”


“Maunya sepuluh, Tante,” sahut Sebastian sambil tertawa. Kirana langsung mendengus sambil memukul bahu suaminya.


“Memangnya anak kelinci, maunya banyak-banyak,” omel Kirana sambil geleng-geleng.


“Minimal 6 deh,” ujar Sebastian sambil tertawa.


“Mau enam atau sepuluh nggak apa-apa,” ujar mommy Amelia. “Asal bapaknya ikut ngurus juga, jangan bisa bikinnya doang.”


“Produksi boleh jalan terus,” mama Lia ikut menimpali sambil ikut tertawa.


“Jangankan lagi penampungan kosong, Mel,” dokter Wanda bersuara sambil terkekeh. “Udah ada isinya aja, mereka rajin berproduksi. Tuh lihat jejaknya masih kelihatan.” Dokter Wanda melirik ke arah leher Kirana yang masih memiliki dua tanda cinta meski sedikit samar.


“Ya ampun Bastian,” mommy Amelia menepuk punggung anaknya yang tertawa-tawa sementara Kirana tersipu malu. “Kasihan sedikit sama istrimu yang lagi hamil. Jangan mentang-mentang istri kamu masih muda dan yang pertama buatmu lantas nggak kenal istirahat.”


“Maminya juga senang dan sama semangatnya kok, Mom. Alasannya aja babies minta ditengok,” sahut Sebastian sambil terkekeh.


“Bee !” pekik Kirana yang merasa malu. Bisa-bisanua Sebastian membuka kartu Kirana yang memang hampir tidak pernah menolak permintaan suaminya yang pandai memanjakannya.


Hanya mommy Amelia yang melotot menatap Sebastian yang tertawa-tawa. Dokter Wanda dan mama Lia ikut tertawa sambil geleng-geleng sementara dua suster yang membantu hanya berani senyum-senyum.


Sementara dokter Darma, satu dokter lain dan Renata beserta lima perawat sudah menunggu di sisi dekat sofa.


“Mommy mau ngapain kumpulin semua di sini ?” Daddy Richard beranjak bangun menghampiri istrinya.


Mommy Amelia melirik suaminya yang mengangguk sebagai tanda memberi ijin dan dukungan.


“Saya mengundang dokter Dharma, dokter Budi, dokter Renata dan dokter Steven serta perwakilan perawat dan staf di sini untuk memberitahu kalau Kirana adalah menantu sah saya dan istri Sebastian Pratama, bukan menantu dokter Raymond atau istri dokter Steven.”


Mommy Amelia sempat menujuk ke arah uncle Raymond dan Steven yang masih duduk di sofa.


Kirana sendiri sempat melirik ke arah Steven yang terlihat memerah dan dari wajahnya terlihat tidak nyaman dengan penjelasan mommy Amelia.


“Hanya itu yang saya sampaikan, dan mohon bantuan dari semua pihak selama menantu saya hamil sampai melahirkan yang sudah pastinya akan melakukan pemeriksaan di rumah sakit ini. Tidak perlu memperlakukan menantu saya secara istimewa yang berlebihan sebagai keluarga Pratama, hanya saja tolong hargai kedudukannya sebagai istri sah Sebastian Pratama,” mommy Amelia menoleh ke arah Renata yang langsung salah tingkah.


“Meskipun usianya masih terbilang muda, bukan berarti Kirana tidak pantas menjadi menantu keluarga kami.”


Renata menundukan kepalanya. Meskipun mommy Amelia tidak menyebut namanya, tapi sudah bisa dipastikan kalau ucapan itu diperuntukan baginya, apalagi tatapan mommy Amelia lebih sering ke arahnya.

__ADS_1


Hanya dokter Dharma yang mengerti maksud kalimat dan arti tatapan mommy Amelia.


“Sebagai penanggunjawab para dokter di sini, saya akan pastikan kalau Nyonya Sebastian akan diperhatikan dan mendapatkan pelayanan yang terbaik di rumah sakit ini, Nyonya,” dokter Dharma menanggapi ucapan mommy Amelia dengan tegas dan penuh wibawa.


“Tidak perlu berlebihan Darma,” daddy Richard yang mulai paham dengan maksud istrinya saat ini ikut buka suara. “Kirana juga bukan model wanita yang suka diistimewakan secara berlebihan. Bukan bergitu, Kirana ?” Daddy Richard tersenyum pada menantunya yang masih duduk di pinggir ranjang bersama Sebastian.


“Iya Daddy, bahkan kalau boleh saya lebih suka dipanggil dengan Kirana saja daripada nyonya muda Pratama. Karena bukan hanya saya saja menantu keluarga Pratama,” sahut Kirana sambil tertawa pelan.


“Atau panggil istri saya dengan Nyonya Sebastian kalau memang sudah jadi kebijakan di sini. Jangan nyonya muda Pratama agar tidak salah duga,” timpal Sebastian ikut tertawa pelan. Ia pun merangkul istrinya dari samping.


“Kalau sudah jelas, dokter dan para suster boleh kembali bekerja. Terima kasih atas waktunya,” ujar daddy Richard yang melirik ke arah istrinya sebelum berbicara. Momny Amelia mengangguk tanda setuju.


Dokter Dharma, dokter Budi, Renata dan lima orang perawat yang merupakan para koordinator perawat undur diri. Terlihat wajah Renata sedikit memerah karena merasa tidak enak dengan sindirian tidak langsung dari orangtua Sebastian.


Hanya tinggal keluarga Pratama yang masih berada di ruangan VVIP ditambah dengan mama Lia dan papa Heru.


Steven lebih banyak diam dan cukup menjadi pendengar. Beberapa kali ia sempat melirik ke arah Sebastian yang masih berbincang dengan istri dan mertuanya, Bibirnya tersenyum tipis saat melihat Sebastian dengan wajah bahagia mengelus-elus perut Kirana yang tersipu malu-malu karena suaminya tanpa sungkan menunjukan kemesraan mereka di depan mama Lia dan papa Heru.


“Maaf kalau aku sedikit berlebihan, Ray,” ujar momny Amelia yang duduk di samping daddy Richard.


“Aku sempat mendapat laporan kalau ada yang mencoba menggeser posisi Kirana sebagai istri Sebastian dan berita lain yang menganggap Kirana adalah istri Steven karena mendengar Raven memanggilnya mama.”


Kirana yang mendengar ucapan mommy Amelia langsung menoleh ke arah mertuanya, lalu mengalihkan pandangan menatap Sebastian dengan wajah penuh tanya. Sebastian yang memahami maksud tatapan istrinya langsung menggeleng.


“Steven, tolong ingatkan pada anakmu supaya jangan memanggil Kirana dengan sebutan mama sementara dia memanggilmu papa. Karyawan di rumah sakit sudah tahu kalau kamu adalah pria beristri tapi belum pernah melihat wajah Shera. Auntie dan Kirana pastinya akan merasa tidak nyaman kalau orang mengira ia adalah istrimu.”


“Maaf Auntie. Aku akan mengingatkan Raven untuk tidak lagi memanggil Kirana dengan sebutan mama,” sahut Steven dengan senyum terpaksa.


“Apakah dokter muda tadi yang berusaha menggeser posisi Kirana ?” tanya Uncle Raymond sambil tertawa pelan.


“Dia anaknya Miranda,” sahut momny Amelia.


“Istrimu sangat mengenalnya. Bukan sebagai teman tapi musuh bebuyutan,” lanjut mommy Amelia sambil terkekeh. “Mungkin kalau tidak ada kejadian Shera, bisa -bisa salah satu anak Miranda jadi menantumu karena istrimu terlalu benci dan sering bertengkar dengan Miranda”


Uncle Raymond tertawa mendengarnya, daddy Richard hanya tersenyum sambil geleng-geleng. Steven terlihat semakin tidak nyaman dan Sebastian bersikap santai seolah tidak mendengar pembahasan anak-anak tante Miranda.


Sementara Kirana sendiri masih larut dalam pikirannya. Bagaimana mungkin momny Amelia tahu mengenai banyak hal yang terjadi padanya dan Sebastian selama ini. Berapa banyak kaki tangan mommy Amelia di sekeliling Kirana yang bisa dijadikan sumber infomasi terpercaya.


Kirana menatap Sebastian yang hanya tersenyum tipis. Sepertinya akan ada interogasi panjang dari Kirana soal mommy Amelia yang memiliki banyaj infomasi soal keseharian Kirana dan Sebastian.

__ADS_1


__ADS_2