
Aleandro bangun dari kursinya dan berjalan mendekati Kirana. Tangannya langsung terulur untuk menyalami Kirana.
“Apa kabar Kirana ? Gila ya, udah berapa tahun nggak ketemu ?”
“6 atau 7 tahun ya,” Kirana menerima uluran tangan Aleandro dan menyalaminya. Pria itu menepuk jabatan tangan mereka dengan tangan yang lain.
“Kangen banget gue sama elo, Diran,” ledek Aleandro sambil tertawa.
“Haiiss nama itu udah nggak berlaku buat gue, Ale-ale. Nggak ngeliat kalau sekarang gue udah jadi cewek banget? Nggak ada sisa-sisa tomboinya. Dan sebentar lagi akan menikah nih,” Kirana tersenyum sambil bergelayut di lengan Sebastian dan memandang calon suaminya itu dengan penuh cinta.
“Kayaknya gue susah percaya,” sahut Aleandro sambil tertawa.
Aleandro pun mempersilakan Kirana duduk, tentu saja di sebelah Sebastian dan ia sendiri kembali ke kursinya di seberang mereka.
“Jadi Kirana ini calon istri Pak Bastian ?” Aleandro bertanya sambil menatap Sebastian dengan tatapan kurang percaya.
“Iya, ini calon istri yang saya sempat ceritakan tadi pada Tuan Ale,” sahut Sebastian sambil tersenyum kemudian menoleh menatap Kirana.
“Panggil saya Ale saja. Jangan pakai embel-embel Bapak apalagi Tuan. Senang banget saya bisa bertemu dengan Kirana lagi yang ternyata sudah menjadi perempuan beneran,” Aleandro tergelak.
“Memangnya dulu dia setengah laki-laki ? “ tanya Sebastian sambil tertawa dan melirik calon istrinya yang cemberut.
“Jangan dengarkan cowok penindas ini, Bee,” ujar Kirana.
“Tomboi banget, Pak Bas. Belum lagi potongan rambutnya juga mirip anak lelalki,” sahut Aleandro.
“Kalian kenal sudah lama ?”
“Calon istri Bapak ini adalah preman perempuan di sekolah kami, padahal mamanya adalah guru. Saya pernah dipukulnya karena mengganggu kakak kelas saya saat kami masih SD.”
“Steven adalah sepupunya Mas Bastian, Le,” ujar Kirana.
“What ?” Aleandro terbelalak. “Beneran kalau Pak Bas ini masih sepupuan dengan Steven ? Jadi elo bisa jadian sama Pak Bastian karena Steven ?”
Kirana menggeleng dan sambil menatap Sebastian, ia menceritakan secara garis bersar siapa itu Aleandro yang ternyata adalah adik kelas Steven yang suka merudung anak pemilik sekolah, karena selain tubuhnya gempal, Steven termasuk anak yang culun. Ia bercerita juga alasannya bisa sampai memukul Aleandro. Tetapi karena kejadian itu, saat Aleandro dan Steven sudah duduk di bangku SMP, mereka malah berteman baik.
‘Hati-hati tendangan mautnya kalau sudah marah, Pak,” ledek Aleandro. “Dia tidak takut menghadapi lawan yang badannya lebih besar sekalipun,” lanjutnya sambil tergelak.
“Semoga saya tidak akan sempat merasakannya,” sahut Sebastian sambil tertawa. Kirana hanya mencebik, membuat Sebastian yang merasa gemas mencium pipi calon istrinya di depan semua orang.
__ADS_1
Shera yang duduk persis di seberang Kirana tercengang melihat perlakuan Sebastian pada Kirana. Saat mereka masih berpacaran, tidak sekalipun Sebastian memperlihatkan sikap romantisnya di depan banyak orang, meskipun Sebastian termasuk pria yang romantis dan sedikit posesif.
Kirana tersipu mendapat perlakuan romantis dari Sebastian. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan menceritakan pada Aleandro secara singkat bagaimana ia mengenal Sebastian dan kembali bertemu Steven yang ternyata masih sepupu dekat dengan Sebastian. Baik Aleandro maupun Steven sudah lama tidak betemu juga, sejak mereka lulus SMA.
Acara makan malam itu bukan lagi seperti pertemuan dua partner bisnis, tapi lebih tepatnya reuni dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Kirana tidak pernah asyik mengobrol dengan Aleandro saja dan melupakan Sebastian yang duduk di sampingnya. Sesekali ia memberi penjelasan perihal topik pembicaraannya dengan Aleandro saat dirasanya bisa sedikit membingunkan Sebastian.
“Sepertinya saran saya kali ini sangat tepat, Pak Bas,” bisik Dion yang duduk di samping bossnya. “Jangan lupa bonus untuk saya dan Aldo,” lanjutnya sambil terkekeh.
“Sudah aku berikan bonus untukmu dan Aldo, kan ? Bonus boleh memanggil calon istriku hanya dengan nama saja,” ujar Sebastian dengan senyum mengejek.
“Mana bisa itu disebut sebagai bonus, Pak,” sahut Dion sambil tertawa.
Sebastian hanya mencebik dan kembali mengikuti obrolan Kirana dan Aleandro. Sementara di sebelah Aleandro, Shera yang hanya bisa menjadi pendengar dengan wajah yang sudah sangat-sangat kesal. Sementara Andika, menyibukan dirinya dengah makanan dan gadget serta sesekali berbincang dengan Aldo atau Dion.
Hampir jam 10, acara makan malam berakhir. Atas ijin Sebastian, Aleandro meminta nomor handphone Kirana dan memberikan juga nomor pribadinya pada Kirana.
“Kapan-kapan aku ingin bertemu juga dengan Steven,” ujar Aleandro yang sudah merubah sebutannya dengan aku kamu pada Kirana.
“Kalau soal Steven, silakan hubungi langsung,” Kirana mengirimkan nomor handphone Steven kepada Aleandro.
Saat Kirana dan Aleandro bertukar nomor telepon, Shera yang semula bediri di belakang bossnya, berjalan mendekati Sebastian.
Aleandro mengerutkan dahinya saat mendengar Shera memanggil Sebastian tanpa menggunakan kata Bapak atau Tuan. Kirana sendiri hanya diam dan pura-pura sibuk dengan handphonenya.
“Kalau begitu biar Dion atau Aldo yan mengantarmu. Hari ini rute aku ke rumah Kirana dan menginap di sana.”
Shera langsung terkejut. Kirana sendiri terkejut mendengar ucapan Sebastian, namun ia masih berusaha bersikap biasa saja.
“Kamu sudah lama kenal dengan Pak Bastian ? Kenapa memanggil Pas Bastian hanya dengan nama saja ?” Aleandro tidak mampu menahan rasa penasarannya.
“Kami pernah pacaran dan hampir menjadi suami istri, Pak,: jawab Shera spontan dengan wajah sombongnya, membuat semua yang ada di situ tercengang.
Aleandro dan Andika yang tidak pernah tahu hubungan Sebastian dan Shera terlihat tidak percaya dengan ucapan Shera.
Kirana terlihat menahan emosi dan memikirkan cara mengatasi ulet keket seperti Shera, sementara Sebastian langsung mengeraskan rahangnya menahan emosi.
“Shera adalah mantan istri sehari Mas Bastian, Ale,” akhirnya Kirana yang buka suara setelah suasana sempat canggung beberapa saat tadi. “Tidak sampai sehari malah, karena Shera telah melakukan sesuatu yang sangat fatal. Tapi masalah detailnya, kamu bisa menanyakan langsung pada karyawanmu itu, Ale.”
Kirana menatap Shera dengan seyuman datar, terlihat tanpa emosi. Berbanding terbalik dengan Shera yang terkejut mendengar Kirana berani menjawabnya. Wajahnya memerah bukan hanya karena marah tapi sekalgus malu. Dia bergerak mendekati Kirana, namun dihalangi oleh Sebastian yang masih menahan amarahnya.
__ADS_1
“Jangan coba berbuat macam-macam dengan calon istriku !” ancam Sebastian.
Shera menatap Sebastian yang masih melihatnya dengan rahang mengeras dan wajah penuh kemarahan. Hati Shera sedikit menciut. Rencananya ingin menjatuhkan mental Kirana di depat atasannya sekalgus teman kecil Kirana ternyata tidak berjalan dengan mulus.
Meskipun usia Kirana cukup muda dan Shera telah beberapa kali berusaha menjatuhkan mentalnya, ternyata Kirana bukan gadis lemah yang mudah disingkirkan sebagai rivalnya.
“Jangan sembarangan kalau bicara, Kirana. Baru menyandang calon istri Sebastian, sifat aslimu yang sombong tidak mampu kau tahan juga,” ujar Shera dengan nada sinis sambil menatap Kirana yang terlihat biasa saja.
Shera melirik ke arah Aleandro yang masih terlihat menyimak dan menjadi penonton yang baik. Sesekali dahinya terlihat berkerut.
“Bee,” Kirana menyentuh lengan Sebastian dan membuat pria itu menoleh menatapnya, “Kami pamit pulang dulu Ale, maaf kalau acara malam ini harus ditutup dengan hal tidak penting semacam ini,” lanjut Kirana sambil tersenyum.
“Kamu…” Shera yang masih terlihat kesal mencoba menjawab ucapan Kirana yang mengganggap masalahnya dengan Sebastian tidak penting.
Sebastian ikut menganggukan kepala sebagai tanda pamit pada Aleandro yang masih terdiam dan hanya mengangguk juga membalas Sebastian .
Kali ini pandangan Aleandro beralih pada Shera yang masih menggerutu kesal. Kedua tangan wanita itu mengepal dan tatapannya masih terarah pada Sebastian dan Kirana yang sudah berjalan menjauh.
“Kirana !” Panggilan Aleandro menghentikan langkah mereka. Sebastian dan Kirana membalikkan badan sementara Dion dan Aldo menepi memberi jalan pada Aleandro yang menghampiri mereka.
“Aku senang bisa bertemu denganmu lagi malam ini. Dan masalah Shera, jangan khawatir. Aku percaya kepadamu karena sejak dulu sampai sekarang kita tetaplah sahabat,” ujar Aleandro tersenyum.
“Dan jangan khawatir,” lanjut pria itu sambil melirik ke arah Sebastian. “Aku akan menjadi mata dan telinga untukmu selama suamimu bertugas denganku di Amerika.”
Aleandro terkekeh sementara Sebastian langsung berubah cemberut.
“Aku bukan model pria yang mudah goyah,” sahut Sebastian dengan nada kesal.
Kali ini Aleandro dan Kirana tertawa, sementara Dion dan Aldo senyum-senyum, bahkan Aldo sempat mencibir ke arah Sebastian.
“Kamu memang pria yang tampan dan kokoh, Bee,” Kirana merangkul lengan calon suaminya. “Tapi ulet keket itu akan selalu mencari celah untuk menempel padamu. Setidaknya aku bisa sedikit tenang, karena selain Aldo dan Dion, ada Aleandro yang akan menjadi sekutuku.”
“Jadi kamu lebih percaya pada mereka daripada denganku ?” Sebastian menatap Kirana dengan wajah kesal.
“Bukan begitu. Aku hanya mencegah segala sesuatu yang mungkin dilakukan oleh mantan istrimu itu. Sepertinya ia tidak sungkan-sungkan lagi menunjukkan sikapnya ingin kembali padamu. Dan kamu pasti tahu, kalau wanita itu bisa melakukan banyak cara untuk mendapatkan keinginannya.”
Sebastian mendengus kesal dan menoleh ke arah lain, membiarkan Aleandro dan Kirana tertawa melihat ekspresi wajah pria tampan itu.
Dari tempatnya berdiri, terlihat wajah Shera semakin kesal. Bahkan Aleandro, bossnya itu ikut mendukung Kirana dan merestui hubungannya dengan Sebastian. Shera menatap tajam ke arah Kirana. Sepertinya ia harus menjalankan rencana lain yang sudah disiapkan olehnya.
__ADS_1