
Steven tersenyum getir saat melihat Sebastian dan Kirana terseyum bahagia saat foto bersama dengan kedua orangtua mereka di depan altar. Keduanya telah sah menjadi suami istri secara agama dan negara.
Ia pernah membayangkan dirinya akan bersanding dengan Kirana seperti itu, tapi mimpi itu harus berganti dengan kenyataan pahit yang mengharuskannya menikahi Shera.
Steven akhirnya menyetujui permintaan papa untuk menikahi Shera tanpa pesta dengan berbagai persyaratan yang akhirnya disetujui papa Raymond.
Tante Mira dan Om Herman, kedua orangtua Shera, hanya bisa pasrah menerima pernikahan putri tunggal mereka yang hanya bersifat status.
Mama Rosa terlihat banyak diam dan menundukkan wajahnya karena papa Raymond sudah menceritakan perihal kejadian yang dialami Steven, termasuk masalah insiden di hotel Pratama yang membuat Steven harus mengulang kejadian yang dibencinya itu.
Sekarang Steven berdiri di depan, foto bersama kedua orangtua mengapit pasangan berbahagia hari ini. Mereka berfoto sebagai satu keluarga dari pihak Sebastian.
Selesai berfoto, Uncle Raymond dan Auntie Rosa memberikan selamat untuk keduanya dan yang terakhir adalah Steven sendiri.
“Boleh aku memelukmu, Ki ? Pelukan pertama dan terakhir sebagai sahabat , sekaligus pelukan sebagai ucapan selamat menjadi bagian keluarga Pratama,” pinta Steven tanpa melepaskan genggamannya pada tangan Kirana.
Istri Sebastian itu langsung menatap suaminya yang sudah pasti menatap sepupunya dengan wajah kesal. Baru saja Sebastian menyandang status sebagai suami Kirana, bisa-bisanya Steven minta berpelukan dengan istrinya.
“Tidak lebih dari 1 menit,” meskipun berwajah masam, namun jawaban yang berbeda keluar dari mulut Sebastian. “Hanya peluk, tidak boleh ada cipika cipiki.”
Steven tertawa dan mengangguk. “Jangan terlalu pelit pada sepupu sendiri, Bas,” ledeknya.
Tangan Steven langsung menarik Kirana yang masih digenggamnya membuat wanita itu terkejut dan tanpa sengaja memeluk bahu Steven, demi menahan tubuhnya supaya tidak jatuh.
“Hei !” omel Sebastian yang langsung menarik kembali Kirana dan menjauhkannya dari Steven.
“Bukan begitu pelukan seorang sepupu kepada kakak iparnya,” omel Sebastian dengan wajah kesal.
Dari kejauhan para karyawan lantai 15 dan 16 dari MegaCyber ditambah tiga sahabat Sebastian langsung melihat satu sama lain dan tertawa.
“Sepertinya episode cerita ini akan masih berlanjut. Tapi akan lebih seru karena merebut istri orang lebih menarik daripada sekedar pacar,” celetuk Samuel sambil geleng-geleng kepala.
“Dasar cowok sinting,” omel Marsha yang berdiri dekatnya. “Kamu kira Kirana itu piala bergilir yang layak diperebutkan ? Sudah seharusnya dokter Steven tidak mencari gara-gara terus pada Pak Bas. Sudah jelas kalau Kirana tidak pernah menyukainya.”
“Namanya juga usaha,” sahut Samuel sambil mencibir. “Bukankah milik orang lebih menantang untuk diperebutkan ?”
“Benar-benar cowok gila ! Aku sumpahin istrimu bakal direbut oleh pria lain yang lebih hebat darimu,” sahut Marsha dengan sewot.
“Untungnya aku belum punya istri, jadi sumpahanmu tidak akan mempan untukku,” sahut Samuel sambil terkekeh.
“Kalau begitu biar aman untuk kalian berdua, bagaimana kalau Pak Sam langsung melamar Marsha dan menjadikannya istri ?” ledek Dion.
__ADS_1
“Tunggu sampai tinggal Pak Sam laki-laki terakhir yang ada di dunia ini,” sahut Marsha ketus.
“Hati-hati dengan ucapanmu loh, Sya,” goda Echi sambil mengedipkan sebelah mata. “Ingin mengulang kisah Pak Bas ? Awalnya Pak Bas begitu sebal dan tidak menyukai Kirana, siapa sangka sekarang malah menikahinya.”
Marsha mencibir sementara Samuel melotot ke arah sekretaris Tuan Richard itu.
“Kami mendukung kalian bedua, kok,” ujar Bara, pria yang paling terkenal kaku dan pendiam ini ikut berkomentar membuat semua yang ada di dekat situ langsung menoleh menatapnya.
“Tuh, senior sudah mendukung, tunggu apa lagi Sam ?” ledek Evan sambil tertawa.
“Sepertinya aku harus puasa Senin Kamis dulu untuk mencari jawaban yang tepat. Kalau boleh pilih, aku sih ogah sama cewek jutek begini,” sahut Samuel sambil bergidik.
Pembicaraan mereka terputus saat mendengar pembawa acara memanggil mereka untuk melakukan foto bersama dengan pasangan berbahagia.
“Akhirnya aku patah hati deh, Ki,” ujar Samuel saat posisinya sudah di dekat kedua mempelai. “Padahal sepulang dari Kalimantan, aku sudah siap untuk menikung Sebastian dan melamarmu,” ujar Samuel dengan wajah melow membuat Kirana tertawa.
“Apa di Kalimantan kurang banyak tikungan makanya sampai di Jakarta kamu langsung mau coba-coba menikung ?” sahut Sebastian dengan tawa mengejek, tangannya pun mengibaskan tangan Samuel yang masih menggenggam istrinya.
“Cinta pada pandangan pertama, Bro,” sahut Samuel masih tidak mau mengalah.
Selesai dengan acara foto-foto setelah pemberkatan pernikahan, Sebastian langsung membawa Kirana ke hotel dimana resepsi pernikahan mereka akan diadakan.
Sengaja tidak diselenggarakan di Hotel Pratama atas permintaan daddy Richard. Selain itu kapasitas tamu undangan di Hotel Pratama tidak bisa menampung undangan yang akan hadir dalam perhelatan akbar pewaris MegaCyber itu.
“Kamu kenapa, Kiran ?” tanya Sebastian saat melihat Kirana merebahkan kepalanya di sandaran sofa di kamar hotel.
“Sedikit pusing, Bee. Aku sempat kurang tidur dua hari ini. Rasanya cukup nervous menjelang acara hari ini. Baru separuh lega karena acara pemberkatan kita sudah terlewati dengan baik. Tapi malam ini…” Kirana menghela nafas. “Rasanya aku sedikit takut berdiri di depan banyak orang.”
Sebastian duduk di sebelah Kirana dan meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Rambut Kirana sudah tergerai kembali dan pakainnya pun sudah berganti dengan baju tidur berkancing depan. Wajahnya saja yang masih belum dibersihkan, karena rencananya hanya akan ditambahkan dengan polesan supaya kembali segar. Sementara pakaian pengantin dan tatanan rambut memang berbeda dengan acara pemberkatan.
“Ada aku di sini, Honey. Lagipula sejak kapan istriku ini takut menghadapi orang ? Bahkan saat pertama bekerja denganku, kamu tidak segan-segan menyahuti semua perkataanku.” Sebastian membelai kepala Kirana yang bersender di bahunya.
“Bee, aku kok mendadak mual, ya ?” Kirana mengusap-usap perutnya. “Apa karena tadi tidak bisa makan ?”
Mendadak tangan Sebastian terhenti. Ia sempat merasa de javu dengan situasi yang dihadapinya saat pernikahannya dengan Shera. Waktunya pun mirip-mirip. Shera mendadak pusing saat jeda waktu setelah pemberkatan dan sebelum pesta.
“Bee ?” Kirana menjauh dari pelukan Sebastian dan menatap suaminya dengan dahi berkerut. Tangan Sebastian kini memegang sandaran sofa.
__ADS_1
“Bee,” panggil Kirana kembali sambil mengusap pipi Sebastian. Terlihat pria itu sedikit gelagapan karena baru saja melamun.
“Apa kamu hamil ?” tanya Sebastian spontan dengan mata mengernyit.
Kirana menatap suaminya dengan wajah bingung. Kenapa pertanyaan seperti itu yang keluar dari mulut Sebastian. Selama beberapa saat keduanya hanya diam dan saling menatap dengan posisi berhadapan dan alis saling menaut.
Kirana yang terlebih dulu sadar akan sikap Sebastian kembali mengusap pipi suaminya.
“Apa kamu pikir aku sedang hamil, Bee ?”
“Kenapa tidak mungkin ?” tanya Sebastian dengan wajah datar.
“Bee !” pekik Kirana sambil memukul bahu Sebastian. “Apa kamu berpikir akan mengalami kejadian yang sama lagi seperti waktu pernikahanmu dengan Shera ?”
Wajah Kirana langsung menatapnya kesal dan terdengar helaan nafas panjang keluar dari mulut Kirana. Gadis itu bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Kalau saja tidak ada pesan dari pihak MUA yang melarangnya mandi dan membersihkan wajah sebelum resepsi, ingin rasanya Kirana menyiram seluruh tubuhnya di bawah shower.
“Kalau sampai aku hamil sekarang maka kamulah yang harus bertanggungjawab Sebastian Pratama !” seru Kirana dengan nada kesal sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi.
“Apa kamu lupa sudah melakukannya dua minggu yang lalu ? Apa tidak cukup bukti kalau aku masih tersegel saat kamu menyentuhku ?” lanjut Kirana dengan bibir mengerucut.
Sebastian langsung sadar mendengar ucapan Kirana. Dia mengutuki dirinya yang bisa-bisanya larut dalam ingatan dan kecemasan akan peristiwa gagalnya pernikahannya dengan Shera gara-gara wanita itu hamil sebelum disentuh olehnya.
“Sorry Honey,” Sebastian bergegas bangun dan hendak menghampiri Kirana di depan pintu kamar mandi.
Belum sempat Sebastian meraih tangan istrinya, Kirana sudah menutup pintu kamar mandi dengan membantingnya membuat Sebastian terkejut.
Bukan sekedar menutup tapi juga menguncinya membuat Sebastian mengetuk-ngetuk pintu sambil membujiuk Kirana untuk membukanya kembali.
Kirana mengabaikannya. Ia menutup kloset dan duduk di atasnya. Hatinya tiba-tiba merasa kesal karena Sebastian seolah-olah menyamakan dirinya dengan mantan istrinya itu. Mood Kirana langsung berantakan.
Hamil ? gerutu Kirana dalam hati. Bagaimana dalam waktu dua minggu sudah muncul tanda-tanda kehamilan. Sepertinya Sebastian berpikir berlebihan.
Terlihat Kirana menghela nafas beberapa kali untuk menenangkan emosinya. Mendengar ketukan dan bujukan Sebastian dari luar kamar mandi bukan membuatnya luluh malah semakin kesal dan sebal.
Bisa-bisanya suaminya yang selalu berkoar-koar sudah melepaskan semua kenangan tentang Shera, tbeberapa menit yang lalu malah menunjukkan ingatannya tentang peristiwa di hari pernikahannya dengan sang mantan istri yang ternyata masih menghantui pikirannya.
Kirana melempar gulungan handuk tangan yang ada di wastafel ke sembarang arah, Moodnya benar-benar berantakan karena keletihannya kurang tidur dan rasa tegang yang menyelimutinya beberapa hari ini menjelang hari istimewanya, sampai-sampai sikap Sebastian barusan membuat rasa marahnya langsung melonjak naik ke level 20.
__ADS_1