Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Karena Aku Mencintaimu


__ADS_3

Sementara itu di kamar Presidential Suite, Kirana yang baru saja terbangun mengerjap sambil mengenali ruangan dimana ia berada sekarang.


 


Memorinya masih menyimpan ingatan kalau semalam ia tidur dengan Sebastian meskipun tidak terlalu jelas mengingat apa yang mereka lakukan semalam.


 


Dengan wajah merona, Kirana menarik selimut sampai menutupi mulutnya. Ia melirik ke samping tempat tidurnya yang ternyata sudah kosong. Tidak ada wajah Sebastian terlihat di sana.


 


Perlahan Kirana beringsut bangun sambil memegang erat selimutnya. Kepalanya masih terasa pusing, hingga akhirnya ia duduk bersandar pada ranjang. Matanya memejam sambil memijit pelan keningnya yang berdenyut.


 


“Masih pusing ?” Tanpa sadar Sebastian sudah duduk di tepi ranjang dekat dengan Kirana.


 


Kirana langsung membuka matanya dan tercengang menatap calon suaminya itu yang ternyata sudah rapi dan berpakaian lengkap, kaos kerah polos dan celana panjang jeans.


 


“Bee,” gumam Kirana sambil menarik selimutnya semakin ke atas. Ingin rasanya ia menutup seluruh wajahnya dengan selimut juga.


 


“Minumlah dulu,” Sebastian menyodorkan sebotol air mineral dan dua buah pil berwarna kemerahan.


 


“Ini apa, Bee ?” tanya Kirana sambil mengernyit. Ia tidak berani mengambil obat yang diberikan oleh Sebastian karena tangannya masih menahan posisi selimut.


 


“Vitamin, biar pusingmu cepat hilang. Sisa obat semalam pasti masih terasa efeknya,” Sebastian tersenyum dan mengambil obat di tangannya untuk dimasukkan ke dalam mulut Kirana.


 


Melihat Kirana yang tersipu malu dengan wajah merona membuat Sebastian ingin tertawa. Tapi mengingat kejadian semalam yang membuat mereka harus melewati semua ini, Sebastian takut Kirana semakin bertambah tidak nyaman kalau sampai Sebastian menertawakan sikap malu-malunya.


 


“Mau mandi sekarang ?” tanya Sebastian sambil merapikan rambut Kirana yang masih agak berantakan.


 


“Bee, semalam….” Kirana ragu-ragu meneruskan ucapannya.


 


“Iya semalam kita sudah mendahului melakukan malam pertama sebelum sah sebagai suami istri. Kamu menyesal ?” tanya Sebastian sambil menatap Kirana dengan senyuman.


 


“Aku….” Kirana menundukkan kepalanya. Ia tidak mampu menahan air mata keluar dari sudut matanya. “Maafkan aku Bee, dan aku takut… Aku takut kedua orangtua kita akan marah besar, apalagi mommy dan daddy. Mereka mungkin menganggap aku…”


 


Sebastian langsung menarik Kirana ke dalam dekapannya. Diusapnya punggung Kirana yang agak terekspos karena tidak tertutup selimut sepenuhnya.


 


“Jangan takut. Anggap saja semalam itu adalah malam pertama kita. Lagipula aku ada di sini juga atas permintaan mommy. Jangan khawatir, mommy dan daddy sudah tahu kejadian ini, bahkan mereka sedang mencari tahu siapa yang menjebakmu dengan Steven.”


 


“Steven ? Steven juga mengalami seperti aku, Bee ?’ tanya Kirana sambil merenggangkan pelukan Sebastian. “Terus sekarang Steven ada dimana ?”


 


Sebastian mengerutkan dahi dan menatap Kirana dengan wajah cemberut.


 


“Aku cemburu nih… Di saat seperti ini kamu malah memikirkan cowok yang mau merebutmu dariku.”


 


“Bee, aku kan hanya khawatir,” sahut Kirana dengan wajah yang ikut cemberut.


 


“Tidak boleh ! Berdekatan dengannya saja tidak boleh apalagi sampai memikirkannya dalam otakmu,” Sebastian menunjuk kening Kirana dengan telunjuknya.


“Hanya boleh ada aku saja, satu-satunya pria yang ada dalam hidupmu dan hatimu. Apalagi semalam kamu begitu semangat menyatukan diri denganku,” ledek Sebastian dengan senyum menggoda.


 


“Apa iya aku begitu ?” sanggah Kirana dengan wajah kembali memerah. Ia benar-benar tidak ingat  bagaimana kelakuannya pada Sebastian. Terakhir Kirana hanya ingat kalau Sebastian meminta ijin lalu mencium bibirnya dengan penuh kehangatan.


 


“Mau diulang ? Aku tidak keberatan,” Sebastian mengerling sambil tersenyum menggoda Kirana. “Apalagi aku yakin kalau sisa-sisa efek obatnya masih ada biarpun sedikit pagi ini.”


 


Sebastian mundur sedikit dan hendak membuka kaosnya, namun tangang Kirana buru-buru mencegahnya.


 


“Bee ! Kamu ngapain buka kaos ?” Kirana menatapnya dengan penuh waspada. “Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi soal obat itu. Hanya badanku yang terasa pegal semua.”


 


“Tentu saja kamu akan pegal-pegal karena semalam kamu sudah berubah menjadi kucing liar yang begitu menggairahkan. Tidak aku sangka ternyata calon istriku ini…”


 


“Cukup Sebastian Pratama !” dengan wajah makin merona, Kirana menutup mulut Sebastian dengan telapak tangannnya.


 

__ADS_1


 Sebastian tergelak melihat wajah Kirana yang tersipu dan merona. Meski ucapannya tidak sepenuhnya benar, tapi ia senang bisa menggoda Kirana yang ternyata tidak terlalu mengingat kejadian semalam.


 


Sebastian beranjak bangun sambil tertawa. Kirana masih merasa malu meski hatinya sudah sedikit lega mendengar penjelasan Sebastian kalau mommy Amelia dan daddy Richard sudah mengetahui masalahnya, bahkan akan membantu mereka untuk mencari eksekutor yang menuang obat laknat itu ke makanan atau minuman Steven dan Kirana.


 


“Mau aku pakaikan atau mau pakai sendiri ?” goda Sebastian sambil membawa jubah mandi untuk Kirana.


 


“Pakai sendiri lah…Masa pakai begini aja perlu dibantu,” sahut Kirana dengan ketus sambil meraih jubah mandi yang disodorkan padanya.


 


“Semalam pasrah aja aku pakaikan,” ledek Sebastian. “Malah aku juga yang membukakan pakaian dalammu.”


 


Kirana mendelik kesal menatap Sebastian yang makin tergelak.


 


“Kamu ngapain masih di sini ?” ketus Kirana melihat Sebastian masih berdiri di dekat ranjangnya.


 


“Mau gendong kamu ke kamar mandi. Daripada nanti jatuh karena masih pusing. Lagipula aku nggak yakin kamu bisa jalan sendiri,” sahut Sebastian sambil menaik turunkah alisnya.


 


“Jangan macam-macam deh !”ancam Kirana dengan wajah semakin kesal.


 


Sebastian tertawa, bukannya menjauh ia semakin mendekati Kirana padahal satu tangan Kirana sudah mencoba menghadang Sebastian untuk tidak mendekat. Namun dengan cekatan, Sebastian langsung membungkus Kirana dengan selimut dan menggendongnya ke arah kamar mandi.


 


“Terlalu lama kalau tunggu debatnya selesai,” bisik Sebastian di telinga Kirana.


 


Kedua tangan Kirana sudah dikalungkan ke leher Sebastian tanpa khawatir kalau selimutnya akan terlepas karena sudah terlilit lumayan kencang di tubuhnya.Kirana hanya tersipu dan menunduk membuat Sebastian menertawakannya.


 


Sampai di kamar mandi, Sebastian kembali mendudukan Kirana di atas meja marmer dekat wastafel.


 


“Mau mandi sendiri atau dimandikan ?” ledek Sebastian.


 


Kirana hanya melotot dan memberi isyarat supaya Sebastian meninggalkannya di kamar mandi. Sebastian mengangguk dan menunjuk kantong kertas yang dibawakan oleh mommy Amelia kemarin.


 


 


“Bee !” pekik Kirana dengan wajah kesal.


“Iya… iya…” sahut Sebastian sambil tertawa dan keluar dari kamar mandi.


 


Kirana segera turun dari meja wastafel hendak mengunci pintu kamar mandi. Tapi memang benar apa yang dikatakan Sebastian, kalau tidak pelan-pelan Kirana bisa jatuh. Karena bukan hanya pusing, tapi seluruh tubuhnya baru terasa sakit semua dan langkahnya sedikit tidak nyaman. Kirana pun membersihkan dirinya setelah mengunci pintu kamar mandi.


 


Hampir 40 menit Kirana baru keluar dari kamar mandi. Sebastian menyuruhnya berendam air hangat yang sudah dicampur dengan aromaterapi oleh Sebastian. Calon suaminya bilang, berendam di air hangat akan membantu mengurangi rasa sakit di tubuh dan pusing di kepala Kirana.


 


“Dion ?” Kirana terkejut saat keluar dari kamar dan melihat asisten calon suaminya itu sudah duduk sedang berbincang dengan Sebastian di ruangan semacam ruang tamu.


 


Dion hanya mengangguk sambil senyum-senyum. Entah Kirana lupa atau tidak sadar kalau lehernya penuh dengan bercak kemerahan. Bahkan Dion sempat melihat bercak yang sama di leher bossnya yang tertutup kerah kaos.


 


“Awas senyum-senyum terus sama istriku,” tegur Sebastian dengan wajah galak.


 


Dion hanya tertawa dan mengangkat dokumen yang sudah ditandatangani oleh Sebastian. 


 


“Aku pamit dulu, Ki,” ujar Dion pada Kirana yang akhirnya batal mendekat.


 


“Hati-hati Yon,” sahut Kirana.


 


Sebastian mengantar asistennya sampai ke pintu karena masih ingin menanyakan masalah orang suruhan Shera yang sudah berani memasukan obat laknat itu.


 


Dion menyampaikan kalau masalah ini langsung ditangani oleh daddy Richard dan mommy Amelia dibantu oleh Pak Mardian. Sebastian mengangguk tanda mengerti.


 


“Ternyata Kirana bukan cuma cerewet  ya, Pak Bas,” goda Dion. “Gigitannya maut juga, sampai meninggalkan jejak di leher Pak Bas,” lanjut Dion sambil terkikik.


 


‘Mau dipotong gaji karena komentarmu itu ? Awas saja banyak gosip di kantor, akan aku kirim ke pedalaman Kalimantan,” ancam Sebastian dengan nada galak.

__ADS_1


 


“Mau saya siapkan lagi obatnya untuk malam kedua, Pak ?” ledek Dion sambil terkekeh.


 


Sebastian hanya melotot dan bertolak pinggang. Dion hanya tertawa dan menggelengkan kepala saat Sebastian langsung membanting pintu kamarnya di depan wajah Dion.


 


Baru saja Sebastian melangkah dua kaki dari pintu, terdengar bel berbunyi. Sebastian berbalik membukakan pintu dan terlihat pegawai hotel membawakan pesanan makanan untuk sarapan pagi mereka.


 


Sebastian melebarkan pintu agar pegawai hotel bisa mendorong troli makanan masuk ke dalam. Matanya langsung menyipit saat melihat Steven ternyata juga berdiri di sana.


 


“Boleh aku bertemu dengan Kirana, Bas ?’ tanya Steven dengan hati-hati.


 


Sebastian tampak ragu-ragu untuk menjawab. Tapi sebagai saudara sepupu yang cukup dekat, Sebastian merasa kasihan juga melihat wajah Steven yang terlihat lesu dan sedih.


 


“Sekalian saja kamu sarapan di sini, Steve. Aku memesan makanan cukup untuk tiga orang.”


 


“Terima kasih,” sahut Steven ambil melangkah masuk ke dalam Presidential Suite.


 


Sebastian pun masuk mendahului Steven untuk memanggil Kirana  dan mengajaknya sarapan. Calon istrinya itu tampak terkejut saat melihat ada Steven sedang berdiri dekat meja  makan.


 


Kirana yang duduk di sebelah Sebastian terlihat canggung. Pria itu menggenggam jemari Kirana sambil tersenyum dan mengangguk untuk memberikan keyakinan pada Kirana kalau ia akan menemani calon istrinya itu sebagai bentuk dukungannya.


 


“Aku minta maaf,” ujar Steven dengan senyuman tipis menatap Kirana. “Maaf karena Shera telah membuat kamu mengalami semua ini.”


 


“Shera ?” Kirana menautkan kedua alisnya.  “Jadi Shera yang merencanakan semua ini ?”


 


Steven mengangguk dan meraih gelas jus jeruk yang sudah disiapkan oleh pelayan tadi. Sekarang mereka tinggal bertiga di dalam ruangan.


 


“Aku bersyukur karena Bastian datang tepat waktu padamu. Aku yakin kalau Shera sudah berencana untuk menempatkan kita dalam kamar yang sama. Kalau sampai itu terjadi, aku akan menyesal seumur hidupku meski aku tidak keberatan untuk bertanggungjawab.”


 


“Aku yang keberatan, Steven,”  protes Sebastian dengan nada ketus. “Akan aku buat Shera menderita kalau sampai itu terjadi.”


Steven tertawa pelan mendengar ucapan Sebastisn sebagai bentuk cintanya pada Kirana. Dan iya yakin kalau keduanya telah melewati malam panjang yang indah bahkan sebelum mereka resmi menikah.


Sama seperti Dion, Steven bisa melihat banyak bercak kemerahan di leher Kirana, dan dua atau tiga bercak yang sama di leher Sebastian.


 


“Aku yang akan menangani Shera dengan caraku sendiri, Bas,” ujar Steven sambil menatap sepupunya itu. “Kalian cukup fokus saja pada pernikahan dan rumah tangga yang akan berlangsung sebentar lagi. Tolong percaya padaku kalau aku akan memberikan pelajaran pada Shera.”


 


“Lalu bagaimana masalah tes DNA itu ?” Tanya Kirana sambil mengernyit.


“Itu juga akan aku bicarakan dengan papa untuk mencari jalan keluar yang terbaik, Nana, kamu tenang saja. Terima kasih kamu begitu peduli padaku.”


Sebastian sedikit kesal melihat Steven memandang Kirana dengan intens dan sendu. Sebagai sesama lelaki, Sebastiam bisa menangkap seberapa besar cinta Steven pada calon istrinya.


”Terima kasih atas pengertianmu, Steve. Aku berharap setelah semuanya bisa terselesaikan, kamu akan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupmu.”


”Terima kasih atas doamu, Nana. Doa yang sama untukmu. Semoga kebahagiaan selalu hadir dalam hidupmu. Aku…”


Steven menarik dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil tersenyum.


“Kesedihan terbesarku adalah karena tidak berjodoh denganmu dan kebahagiaan terbesarku adalah memiliki kesempatan untuk mencintaimu. Sekarang hatiku semakin mengerti perkataan banyak orang kalau mencintai seseorang berarti sanggup melalukan apapun untuk kebahagiaan yang dicintainya,” Steven menjeda dan menoleh sekilas ke arah Sebastian lalu kembali menatap Kirana.


“Hatiku sudah bisa menerima pernikahanmu dengan Sebastian dan doaku semoga Sebastian adalah kebhagiaanmu. Merelakanmu adalah hal terbaik yang pernah aku lakukan dalam hidupku sampai saat ini. Dan semuanya itu bisa kulakukan karena aku sangat sangat mencintaimu, Nana.” Steven mengucapkannya dengan sepenuh hati dan tatapan kesedihan.


Kirana tidak mampu membalas tatapan Steven, bukan karena hatinya memiliki rasa yang sama, tapi tatapan Steven begitu menyedihkan untuk dilihat.


Sebastian tercengang mendengar pernyataan cinta sepupunya pada calon istrinya. Hatinya langsung panas membara, namun Kirana buru-buru menggenggam satu jemari Sebastian.


Pria itu menoleh dan mendapati Kirana sedang tersenyum sambil menggeleng, seolah ingin mengatakan kalau Sebastian tidak perlu terpancing dengan ungkapan Steven barusan.


Sebastian mengernyit, menandakan ia tidak setuju dengan permintaan Kirana.


Kirana memberi isyarat supaya Sebastian mendekat padanya dan Kirana juga mendekati bibirnya ke arah telinga Sebastian.


“Tapi hatiku cintanya sama Sebastian Pratama,” bisik Kirana dengan mesra. “Sudah tidak bisa pindah ke lain hati. Apa masih kurang meyakinkan cintaku dengan kejadian semalam ?”


Wajah Sebastian kembali mulai merona, tapi bukan karena marah. Kedua sudut bibirnya langsung menarik ke atas. Genggaman tangannya di jemari Kirana pun semakin erat.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2