Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Ngidam yang Aneh


__ADS_3

Dion sudah menanti di lobby dengan wajah gelisah saat Sebastian dan Kirana tiba. Masalahnya Sebastian sudah terlambat untuk mengikuti meeting sekitar tigapuluh menit. Klien terlihat sudah tidak sabar menunggu kedatangan pemimpin MegaCyber karena pertemuan ketiga kali ini tidak bisa diwakilkan oleh Bara, Evan atau Samuel.


“Apa bahan meetingnya hanya ini ?” Sebastian menerima satu map berkas tentang materi yang akan dibahas hari ini.


“Iya, Pak,” sahut Dion namun sekilas pandangannya sempat terganggu dengan penampilan Kirana pagi menjelang siang ini.


Dion sempat melirik Kirana yang digandeng oleh boss nya itu. Bukan karena kali ini Kirana ikut menemani suaminya, tapi beberapa bercak di leher mantan teman sekantornya itu yang terihat baru.


Dion sempat menghela nafas, ia sekarang tahu alasan bossnya datang sangat siang hari ini. Rupanya kehamilan Kirana tidak mampu mengurangi aktivitas suami istri keduanya.


“Jangan menatap istriku seperti itu, Yon,” tegur Sebastian dengan pandangan mata masih mengarah pada dokumen yang dipegangnya.


Dion jadi salah tingkah sambil mengusap tengkuknya sementara Kirana cekikikan di samping Sebastian karena mendapati asisten pribadi suaminya tertangkap basah sedang memandangnya dengan penuh tanda tanya.


Pintu lift terbuka dan Dion sudah mendahului masuk untuk menahan pintu agar tetap terbuka.


“Bee, apakah sebaiknya Dion naik lift lain atau sesudah kita saja ?” ujar Kirana sambil menahan lengan Sebastian yang sudah hampir masuk ke dalam lift.


“Pak Bas sudah terlambat lebih dari tigapuluh menit untuk menghadiri meeting, Ki. Dan aku perlu mendampingi Pak Bas untuk meeting ini.”


Sebastian mengerutkan dahi menatap asistennya kemudian menoleh ke arah Kirana.


“Apa kamu lupa kejadian di lift apartemen, Bee ?” ujar Kirana dengan suara pelan.


Sebastian menautkan alis namun akhirnya mengerti maksud ucapan istrinya. Ia pun tersenyum dan memberi isyarat pada Kirana untuk tetap masuk ke dalam lift dan membiarkan Dion bersama mereka.


“Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan kami saat naik lift, Yon. Tutup mata, tutup telinga dan tutup mulut. Kalau sampai masalah di dalam lift ini bocor maka kamu adalah tersangka utamanya,” tegas Sebastian.


“Pak Bas dan Kirana seperti baru kenal dengan saya saja,” sahut Dion dengan penuh percaya diri dan tertawa pelan.


“Status Kirana sekarang adalah istriku, jadi…”


Belum sempat Sebastian meneruskan kalimatnya, kepalanya mulai kembali pusing saat lift mulai bergerak naik.


Sebelum tubuhnya merosot seperti tadi pagi, Kirana menarik jas suaminya hingga tubuh Sebastian mendekat dan condong ke wajahnya.


Kirana mulai mencium bibir Sebastian tanpa mempedulikan Dion yang langsung membelalak saat melihat bayangan mereka di pintu lift.


Sebastian yang langsung merasakan nyaman kembali, memeluk pinggang Kirana dan membalas ciuman istrinya dengan ******* yang membuat Dion sampai menelan salivanya.


Untung saja lift yang mereka tumpangi tidak berhenti di setiap lantai hingga Dion tidak perlu terlalu lama melihat adegan yang membuat dadanya berdebar kencang.


Kirana melepaskan ciumannya dan membersihkan bibir Sebastian.


“Masih pusing, Bee ?”


Sebastian menyentuh bibir Kirana sambil menggeleng dan tersenyum.


“Maaf Yon, cuma dengan cara tadi Pak Bas tidak merasa pusing dan mual,” ujar Kirana sambil membelai wajah Sebastian saat Dion masih berdiri memencet tombol lift agar pintu tidak tertutup.


“Terima kasih, Honey,” Sebastian mencium kening istrinya. Keduanya mendahului Dion keluar dari lift dan diikuti oleh asisten Sebastian itu.

__ADS_1


Kirana berbelok ke arah kanan menuju ruangan Sebastian sementara suaminya dan Dion ke arah kiri menuju ruang meeting.


“Aku meeting dulu,” pamit Sebastian sebelum mereka berpisah arah. Kirana mengangguk sambil tersenyum.


“Biasakan dirimu dengan situasi seperti tadi. Sepertinya akan lama sampai Kirana tidak merasakan ngidam lagi,” ujar Sebastian saat ia dan Dion berjalan menuju ruang meeting.


“Apa hubungannya dengan ngidamnya Kirana, Pak Bas ?” Dion mengerutkan dahi dengan wajah bingung.


“Kata dokter, aku mengalami kehamilan simpatik. Istri yang hamil, suami yang merasakan keluhan selama kehamilan. Dan sepertinya hanya ciuman Kirana yang bisa membuatku tidak merasa pusing dan mual saat naik lift,” jelas Sebastian sambil senyum-senyum dan wajah sumringah.


Sudah dibuktikan kalau ciuman Kirana benar-benar membuat Sebastian terbebas dari rasa pusing dan mual setiap kali naik lift. Itu berarti Kirana harus menemaninya terus selama ke kantor.


“Selama Kirana hamil, hindari meeting di gedung-gedung bertingkat. Pilih hotel atau resto yang letaknya tidak lebih dari lantai tiga, kecuali meeting diadakan di gedung MegaCyber.”


Dion mengangguk dan mengiyakan permintaan bossnya meski dalam hati ia mengumpat ngidam yang aneh.


Biasanya kehamilan simpatik hanya sekedar ingin dekat-dekat pasangannya atau merasakan ingin makan sesuatu yang biasanya dialami oleh istrinya.


Bisa-bisanya Sebastian mengalami kehamilan simpatik dengan mode ngidam harus dicium istrinya selama naik lift ke lantai yang cukup tinggi.


Dion berharap kalau kehamilan simpatik bossnya ini tidak akan berlangsung lama, karena tidak terlalu nyaman melihat adegan ciuman mesra secara langsung meski tidak ada adegan lainnya selain berciuman.


Keduanya memasuki ruang meeting dimana ketiga sahabat Sebastian sudah menunggu sejak tadi.


Sebastian langsung menduduki kursinya setelah meminta maaf pada kliennya. Samuel langsung menyenggol kaki Evan di bawah meja dan memberi kode untuk melihat leher Sebastian.


Meski tertutup kemeja, masih terlihat sedikit bekas ciuman Kirana di leher suaminya itu.


Dion yang memahami arti senyuman kedua sahabat Sebastian ikut tersenyum. Samuel pasti habis menggoda boss nya saat melihat leher Kirana yang memiliki lebih banyak bercak kemerahan.


Sementara di luar, Kirana yang akhirnya sampai di pintu ruang sekretariat langsung menyapa sekretaris suaminya.


“Mbak Wid !” seru Kirana saat mendapati mantan tetangganya sedang sibuk mengetik di meja kerjanya.


Widya langsung tersenyum dan beranjak dari kursinya.


“Apa kabar, Ki ?” Widya langsung memeluk mantan sekretaris penggantinya itu.


“Baik Mbak,” sahut Kirana sambil melerai pelukan mereka.


“Pantas Pak Bas datang siang hari ini, ya,” ujar Widya sambil terkekeh. “Rupanya selama belum punya momongan, setiap hari adalah bulan madu dan pengantin baru.”


Kirana mengernyit dan menatap Widya dengan wajah bingung. Kenapa tiba-tiba seniornya ini membicarakan soal bulan madu dan pengantin baru ?


“Lihat leher kamu penuh dengan tanda cinta dari Pak Bas,” ujar Widya menjelaskan kebingungan Kirana sambil tertawa.


“Ya ampun !” Wajah Kirana langsung memerah menahan malu. “Pantas saja tadi pas saya baru datang, Dion menatap saya seperti orang yang mau bertanya. Apa ada cara untuk menutupinya, Mbak ?”


“Memangnya kamu tidak berdandan pagi ini ?” tanya Widya sedikit heran.


“Sejak hamil saya agak malas memakai foundation, Mbak. Tadi saya hanya memakai pelembab tanpa menggunakan cermin.”

__ADS_1


Kirana terpaksa berbohong pada Widya. Setelah mandi bersama pagi ini, Sebastian melarangnyamendekati cermin dan tanpa curiga Kirana menurut pada suaminya. Bahkan Sebastian membantunya memakaikan pelembab pagi ini dengan alasan ingin melayani istrinya.


Hanya saja Kirana memang sedikit malas menggunakan peralatan make up beberapa hari ini. Ia hanya mengenakan lipstik yang bisa dipolesnya tanpa menggunakan cermin besar, cukup dari kaca yang ada di tempat bedaknya saja.


“Hamil ?” Mata Widya membelalak mendengar ucapan Kirana. “Selamat Ki, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu.”


Widya langsung memeluknya dengan wajah ikut bahagia. Ia pun mengajak Kirana untuk duduk di sofa sembil melanjutkan obrolan mereka.


“Apa kedua mertuamu sudah tahu soal ini ?”


Kirana mengangguk sebagai jawaban dengan wajah sumringah.


“Apa kamu mulai ngidam sesuatu, Ki ? Sudah berapa minggu usia kandunganmu ?”


“Sudah sembilan minggu, Mbak. Saya sendiri tidak mengalami mual atau pusing di pagi hari, tapi justru Mas Bas.”


“Apa suamimu yang muntah-muntah di pagi hari ?”


“Bukan Mbak,” Kirana menggeleng.


“Kalau sampai Pak Bas yang ngidam, kata orangtua jaman dulu, itu artinya suami sayang banget sama istrinya sampai-sampai tidak rela membiarkan istrinya mengalami kesulitan ngidam di awal kehamilannya.”


“Masa sih, Mbak ?” tanya Kirana dengan wajah sedikit tersipu.


“Iya. Tapi tidak perlu sampai dibuktikan dengan kehamilan simpatik, cinta Pak Bas sama kamu sangat terlihat luar biasa. Selama aku bekerja padanya, belum pernah aku melihat tatapan cintanya padamu yang begitu besar, bahkan saat bersama dengan Nona Shera sekalipun.”


“Apa iya Mbak ?” tanya Kirana masih dengan wajah tersipu.


“Yakin banget aku, Ki,” sahut Widya sambil tersenyum dan memberikan jempolnya.


“Ngomong-ngomong, Ki, memangnya Pak Bas ngidam apa ? Kamu tadi bilang kalau Pak Bas tidak mual dan pusing di pagi hari, lalu kalau boleh tahu ngidam apa, Ki ?”


Kirana terdiam dengan wajah menunduk dan sedikit tersipu. Tapi sepertinya lebih baik Kirana yang bilang pada Widya daripada Dion yang bisa-bisa ditambahkan dengan bumbu-bumbu penyedap.


“Mas Bas tidak bisa naik lift lebih dari 3 lantai, Mbak Wid. Langsung pusing, mual dan lemas. Kata dokter bisa jadi itu bawaan bayi alias kehamilan simpatik.Tapi tadi pagi kami baru menemukan cara mengatasinya.”


“Makan permen jahe atau yang asam, Ki ?”


“Bukan, Mbak,” Kirana menggeleng. “Saya hanya perlu mencium bibir Mas Bas selama lift berjalan sampai ke lantai yang dituju.”


“Apa memang terbukti bisa mengatasinya ?” Mata Widya membelalak seakan tidak percaya dengan penjelasannya.


“Tadi sudah kami buktikan saat turun dari apartemen dan naik ke lantai 15 ini,” sahut Kirana dengan wajah malu-malu dan merona.


Widya hanya melongo. Baru pernah mendengar ngidam dicium istrinya selama naik lift. Masalahnya ciumannya bukan di pipi atau kening melainkan bibir.


Melihat bercak kemerahan di leher Kirana, bisa dipastikan kalau Sebastian tidak akan mungkin sekedar menempelkan bibirnya dengan bibir Kirana.


Widya masih terdiam. Kalau begini ngidamnya, berarti Widya dan Dion harus bersiap-siap sering melihat adegan mesra itu selama mereka harus menemani boss-nya.


Widya belum tahu kalau Dion sudah mendapatkan pengalaman pertamanya pagi ini.

__ADS_1


Benar-benar ngidam yang aneh.


__ADS_2