
Sebulan berlalu sejak kejadian Deana bertemu dengan Kirana di kantor MegaCyber. Tidak ada kelanjutan apapun, bahkan setelah Deana sudah menerima pembatalan kerjasama perusahaannya dengan MegaCyber.
Sebastian yakin kalau Deana tidak berani bertindak lebih jauh karena pengaruh Tuan Alexander dan Aleandro sebagai sahabat baik Kirana.
Siang ini Sebastian sedang memeriksa dokumen laporan masalah Rumah Sakit Pratama yang belum tuntas, saat Bara yang sudah membuat janji mengetuk pintu ruangannya.
“Masuk,” perintah Sebastian dari dalam.
Awalnya Sebastian berpikir kalau sahabatnya akan membahas soal masalah rumah sakit, tapi ternyata Bara datang sendirian tanpa Evan dan Samuel.
Sambil mengerutkan dahi, Sebastian bangun dari kursi kerjanya dan mempersilakan Bara duduk di sofa supaya perbincangan mereka lebih santai.
“Ada masalah penting apa, Bar ?”
“Gue ketemu Renata pas lagi kunjungan ke rumah sakit,” sahut Bara sambil tersenyum tipis.
“Dia jadi dokter obgyn di sana, kayaknya belum lama. Sempat cari gara-gara dengan Kirana pas pertama kali kita berdua periksa kehamilan Kirana ke sana,” ucap Sebastian.
”Iya gue dengar gosipnya kalau Kirana sampai mogok dan lari ke Steven gara-gara elo mendadak nggak berkedip ngeliatin Renata,” ledek Bara sambil tertawa.
“Ya ampun, ternyata gosip cepat beredar dan sama bahayanya kayak hacker,” Sebastian geleng-geleng kepala.
“Soalnya Renata termasuk salah satu ulat bulu peliharaan elo,” ledek Bara lagi sambil tergelak.
“Susah kalau orang ganteng, kemana-mana jadi incaran orang,” sahut Sebastian sambil terkekeh.
“Iya sampai tuh cewek maksa-maksa gue kasih alamat apartemen elo di Amrik,” cebik Bara.
“Ooo jadi Renata dapat alamat gue dari elo ?” Sebastian melotot. “Gue lagi mikirin bisa-bisanya dia udah berdiri di depan pintu apartemen gue, dan nggak mungkin mommy yang kasih tahu karena mommy udah sebel banget sama tuh cewek.”
“Gue pernah nembak dia, Bas,” ujar Bara pelan.
“What ? Are you serious ?” Sebastian tercengang mendengar pengakuan Bara.
“Memangnya elo nggak nyadar kalau gue ini peran penggantinya elo ? Setelah tante Amelia melarang Renata bimbel sama elo, dia lari ke gue. Gue sempat terbang ke langit ketujuh karena menganggap Renata beneran suka sama gue. Sikapnya ampun, Bro, so sweet banget pas baru deketin. Ternyata di balik sikap manisnya ada kutukan ular berbisa.”
Sebastian tertawa mendengar curahan hati Bara.
“Kok gue bisa nggak tahu ? Evan dan Samuel tahu ?”
“Kayaknya memang elo doang yang paling nggak peduli sama nasib temannya,” cebik Bara.
“Jadi beneran gue doang yang nggak tahu ?” Sebastian mendelik sambil menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa elo nggak cerita-cerita ? Kalau tahu Renata mempermainkan elo, sekalian gue minta mommy supaya buat dia nggak lulus-lulus jadi dokter.”
“Kayaknya memang dari dulu elo kurang peduli sama orang lain. Sibuk ngapain nggak jelas, pacaran aja juga nggak. Malah kita bertiga tuh agak-agak ngeri sama elo, jangan-jangan elo nggak suka cewek, tapi jeruk makan jeruk,” Bara tergelak.
“Si**lan,” omel Sebastian dengan wajah cemberut. “Mata gue masih suka lah ngelirik cewek, tapi sayangnya nggak ada yang cocok di hati.”
“Bukannya yang deketin elo cewek-cewek cantik, Bas ? Terus terang gue sama Evan sempat kaget pas dikenalin sama Kirana. Kayaknya jauh banget dari standard cewek-cewek yang deketin elo pas jaman SMA.”
“Kan tadi dah gue bilang kalau cewek-cewek itu biar cakep nggak masuk daftar inceran gue. Selain pada over penampilan, udah kelihatan kalau over kebutuhan ini juga,” Sebastian tertawa sambil menggerakan kedua ujung jarinya yang memberi kode uang.
“Iya kayak gue yang akhirnya tertipu sama Renata,” keluh Bara sambil menghela nafas.
“Jadi elo butuh bantuan untuk balas dendam atau CLBK, nih ?” Sebastian meledek sambil teetawa menggoda.
”Menurut elo, pantasnya yang mana ?” Bara tertawa. “Sepertinya balas dendam yang berakhir dengan CLBK adalah tantangan yang menarik.”
“Seriusan elo masih ada minat sama Renata ?” Sebastian kembali membelalak.
”Cewek model Renata kalau udah kepegang kelemahannya pasti nurut banget. Nggak kayak Kirana yang sekarang malah suka ngelawan,” ledek Bara sambil tertawa.
__ADS_1
“Melawan kalau ada kalian, tapi jadi kelinci imut kalau lagi berdua sama gue. Bikin gue betah dekat-dekat dia,” Sebastian senyum-senyum dengan wajah mesumnya.
“Jangan bikin gue pengen cepat-cepat kawinin Renata,” omel Bara.
“Nikah dulu, Bara. Nikah, biar tenang acara kawinnya karena udah halal,” ledek Sebastian sambil terbahak.
“Dasar duda ! Otak nya nggak jauh-jauh dari pikiran kamar dan ranjang,” cebik Bara.
“Tidur di atas ranjang di kamar yang tenang itu kebutuhan semua orang. Udah pasti lah bikin hati senang, apalagi ada istri yang bikin malam-malam dingin jadi hangat.”
“Asem lo !” Bara mendelik sambil mencebik.
“Jadi elo seriusan mau coba dekati Renata ? Aksi balas dendam dan kalau lancar jadi CLBK ?”
“Elo ada ide ?” Bara menyipitkan matanya menunggu jawaban dari Sebastian.
Sebastian mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan telunjuk dan memikirkan cara yang tepat untuk sahabatnya.
“Bee !”
Tanpa mengetuk sosok istri kesayangan Sebastian sudah muncul dari balik pintu yang terbuka.
Terlihat Dion di belakang Kirana memberi kode pada Bara kalau ia sudah melarang istri boss nya untuk masuk dengan alasan Sebastian sedang membahas hal penting dengan tamu penting pula.
Namun Dion yang terkena jebakan kalimat-kalimat Kirana yang tidak ada titik koma nya, akhirnya kelepasan mengucapkan nama Bara sebagai tamu penting Sebastian.
“Honey,” Sebastian tersenyum senang tanpa mempedulikan Bara yang langsung cemberut melihat kedatangan pengganggu kecilnya.
Tanpa malu-malu, Kirana langsung duduk di pangkuan Sebastian dan mengalungkan sebelah tangannya di leher Sebastian.
“Apa mommy ikut kemari menemui daddy ?”
“Sudah belanjanya ?” Sebastian mencuri ciuman di pipi Kirana membuat istrinya itu bersemu.
“Sudah, tapi sepertinya mommy akhirnya harus mengalah padaku karena aku menolak membeli pakaian hamil terlalu banyak.”
Sebastian mengangguk dan menyelipkan rambut Kirana ke belakang telinga.
“Kalian lagi ngobrol hal penting banget ?” Kirana menatap Sebastian kemudian menoleh ke arah Bara yang sudah memasang wajah masam.
“Kamu sudah tahu kalau Bara ini mantannya Renata ?”
“Serius ?” Mata Kirana membelalak sampai ia turun dari pangkuan Sebastian.
“Mau kemana ?” tanya Sebastian melihat istrinya bangun.
“Mau menginterogasi Bapak Bara, karena sudah nggak cocok lagi berstatus jones.”
“Dari sini aja,” Sebastian menepuk-nepuk sofa di sebelahnya dan melarang Kirana pindah duduk ke dekat Bara.
Kirana mencibir tapi tetap menurut. Sejak kehamilannya, Sebastian justru tambah posesif dan Kirana sendiri tambah manja, keduanya susah jauh lama-lama.
“Terus sekarang lagi curhat apa sama Mas Bas ?” mata Kirana menyipit, menelisik wajah Bara yang masih sedikit masam.
“Dia mau…”
“Stop !” Bara mengangkat tangannya dan memotong ucapan Sebastian. “Biar gue aja yang ngomong. Miss kepo ini nggak bakal puas kalau elo yang ngomong.”
Sebastian langsung mengusap perut Kirana saat melihat wajah sangar Bara. Kirana menoleh menatap suaminya dengan alis menaut.
“Amit-amit jangan sampai anak kita kaget apalagi mirip wajah om Bara yang jelek banget kalau lagi jutek.”
__ADS_1
“Memangnya ada orang tambah cakep kalau lagi jutek ?” omel Bara dengan wajah kesal.
“Udah sih,” Kirana melerai. “Jadi cerita nggak nih, kelamaan keburu bosan nunggunya.”
Bara berdehem sebentar dan melirik ke arah Cilla.
“Aku mau balas dendam atas perlakuan Renata yang mempermainkan hatiku, tapi kalau ujung-ujungnya berakhir dengan CLBK, aku nggak nolak.”
Kirana membelalak lalu langsung terbahak. Ia memegangi perutnya supaya babies tidak bergoncang terlalu kuat.
“Dan kamu lagi konsultasi sama mantan duda ini ?” Kirana melirik ke arah suaminya.
“Honey, jangan mengungkit masa lalu,” rengek Sebastian.
“Saya rasa salah tempat. Wong Mas Bas aja kena bohong sama cewek sampai klepek-klepek. Untung aja belum jebol gawang,” Kirana terkekeh.
Wajah Sebastian langsung memerah saat Bara menertawakan ucapan Cilla.
“Memangnya otak kamu sampai untuk mendapatkan ide ? Bukannya pikirannya hanya Sebastian dari ujung rambut sampai ujung kaki ?” cebik Bara.
“Itu kalau lagi di kamar berduaan,” Kirana terkikik. “Di luar itu, otak saya masih penuh dengan ide dan cita-cita.”
Sebastian tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala.
“Terus aku harus gimana ?”
“Bayarannya apa ?” Kirana melirik Bara dengan senyuman manisnya.
“Honey, ngapain minta sama cowok lain. Apa suami kamu kurang kaya sampai minta bayaran sama Bara ?”
“Kamu tenang aja, Bee. Upah dari Bara buat kita berdua, bagi rata, bisa bagi empat sama babies juga.”
Sebastian mengangguk sambil tersenyum bahagia membuat Bara mencebik.
“Saya dengar MegaCyber lagi ngurus masalah di rumah sakit Pratama ? Kalau begitu masukan Renata dalam daftar tertuduh. Setelah bertemu dua kali, saya bisa menyimpulkan kalau sebetulnya Renata adalah cewek yang penakut. Beraninya sama orang yang dia anggap lemah, tapi begitu ketemu mommy langsung menciut. Nah di situ, saat Renata merasa terpojokan, Om Bara datang bagaikan superhero, menawarkan bantuan yang sama-sama menguntungkan.”
“Om Bara..om Bara.. Sejak kapan aku kawin sama tante kamu,” sungut Bara
“Pantas jauh dari jodoh, diledek sedikit aja langsung ngambek,” cebik Kirana sambil beranjak bangun.
“Mau kemana ?” Sebastian menahan lengan istrinya.
“Mau minta tolong Mansyur beliin rujak. Mulut tiba-tiba asem ngobrol sama jomblo judes.”
Sebastian tertawa dan melepaskan tangan Kirana.
Baru saja Kirana memegang handel pintu ruangan Sebastian, suara Bara menghentikannya.
“Bayarannya apa ? Jangan cuma kasih ide mentah doang, tapi sekalian skenarionya.”
Kirana berbalik dan tersenyum penuh kemenangan.
“Yakin nggak nyesel nawarin bayaran sesuai kemauan saya ?” Mata Kirana memicing.
“Kalau sukses baru dibayar, kalau gagal, dibayar lewat mimpi aja !” Tegas Bara.
“Deal !”
Sebastian langsung membelalak saat melihat Kirana tanpa debat langsung mengiyakan. Gantian mata Sebastian menyipit menelisik wajah istrinya yang terlihat penuh keyakinan pasti menang.
Kirana mengedipkan sebelah matanya pada Sebastian yang masih menatapnya dan memberikan ciuman jauh untuk suaminya.
__ADS_1