
Pernikahan akbar Sebastian dan Kirana akan digelar sepuluh hari lagi. Kirana sudah berhenti bekerja di café atas permintaan mommy Amelia.
Calon mertua Kirana itu ingin mempersiapkan menantunya sebaik mungkin agar menjadi pengantin tercantik dan istri yang mampu membahagiakan suaminya pada hari H nanti.
Sebastian sendiri masih disibukkan dengan beberapa pekerjaan yang harus ditanganinya sendiri. Saat ini ketiga sahabatnya sudah dilegalkan dengan akta notaris, bergabung di MegaCyber sebagai partner tetap Sebastian.
Selain itu pekerjaan Dion pun dibantu oleh dua orang yang baru saja dipekerjakan sekitar seminggu yang lalu. Satu orang asisten pria dan satu sekretaris wanita yang menggantikan posisi Kirana.
Sebastian masih bertemu dengan rekan bisnisnya dari Amerika bersama Bara dan Dion. Seharusnya Aleandro ikut juga dalam pertemuan ini, tapi karena ada masalah mendadak di perusahaan, sahabat Kirana itu tidak bisa ikut bergabung.
Handphone Sebastian yang ada di atas meja terus menyala. Terlihat nama My Mom muncul di layar. Dion yang melihat panggilan dari Nyonya Amelia tidak berhenti, menyela pembicaraan bossnya dengan rekan kerjanya.
Mata Sebastian mengernyit saat mendapati panggilan tak terjawab dari mommy Amelia lebih dari lima kali. Ia pun pamit untuk mengangkat telepon, yang ia yakin pasti sangat penting.
Belum sempat menekan nomor mommy Amelia, tulisan My Mom kembali terlihat di layar handphonenya.
“Kamu di mana, Bas ?” suara mommy Amelia terdengar tergesa dan agak emosi.
“Meeting dengan Tuan Smith dan Bara, Mom. Ada apa ?”
Terdengar nafas memburu dari seberang telepon membuat hati Sebastian tidak karuan.
“Tinggalkan meetingmu dan segera pergi ke Hotel Pratama. Pak Mardian sudah menunggumu di sana. Sekarang Bas, jangan terlalu lama menunda dan ajak Dion ikut denganmu.”
“Tapi Mom…”
“Segera berangkat dulu dan hubungi mommy kembali kalau kamu perlu penjelasan. Ingat Bas, jangan menunda.”
Sebastian pun bergegas kembali ke tempat meeting dan akhirnya setelah meminta maaf pada rekannya serta meminta Bara menggantikannya, Sebastian langsung berangkat menuju Hotel Pratama bersama Dion.
Hatinya merasa tidak tenang karena suara mommy Amelia terdengar cemas, galau dan sedikit emosi. Sebastian meminta Dion untuk membawa mobil lebih cepat dari biasanya. Hingga akhirnya 20 menit kemudian, mobil sudah berhenti di depan lobby.
Ternyata Sebastian tidak perlu bersusah payah mencari Pak Mardian, GM Hotel Pratama, karena pria baya itu sudah menunggunya di lobby. Ia memerintahkan petugas valet untuk membawa mobil Sebastian ke parkiran.
“Ada apa sebetulnya, Pak Mardian ?” tanya Sebastian saat GM Hotel itu langsung membawanya memasuki lift dan terlihat pria itu menekan tombol 18, lokasi Presidential Suite.
“Nona Kirana ada di sini, Tuan Sebastian,” sahut Pak Mardian saat lift sudah mulai bergerak.
“Nona Kirana dan Tuan Steven ada di sini,” lanjutnya kembali.
Mata Sebastian langsung membelalak dan hatinya terbakar api cemburu. Pikiran negatif langsung menari-nari di benaknya.
“Bagaimana mereka bisa ada sini berdua ? Di kamar ?”
“Mereka bertemu di restoran berdua saat makan siang tadi, lalu…”
Belum sempat Pak Mardian menjelaskan pintu lift sudah terbuka. Bergegas Sebastian melangkah menuju satu-satunya pintu Presidential Suite di lantai 18.
Terlihat dua orang pegawai wanita dari bagian housekeeping sedang berdiri di sana.
“Dimana istri saya ?” tanya Sebastian dengan galak bertanya pada dua petugas yang ada di sana.
“Nyonya ada di kamar mandi, Tuan,” sahut mereka dengan wajah ketakutan.
Dengan kasar, Sebastian membuka pintu kamar mandi membuat salah satu staf yang ada di dalam terlonjak kaget. Mata Sebastian membelalak saat melihat Kirana ditaruh di dalam bathup masih dengan pakaian lengkap. Terlihat wajah calon istrinya itu sedikit gelisah.
“Honey,” panggil Sebastian sambil berjongkok di pinggir bathup.
__ADS_1
“Bee,” lirih Kirana sambil menoleh dengan wajah sendu. “Tolong aku.”
Sebastian beranjak bangun dan menghampiri Pak Mardian dan Dion yang bediri di luar pintu kamar mandi dan tidak berani masuk.
“Sepertinya ada yang memasukan obat ke dalam makanan atau minuman Nona Kirana dan Tuan Steven, Tuan. Mereka bereaksi sekitar limabelas sampai duapuluh menit setelah menyantap makan siang.”
“Lalu dimana Steven sekarang ?” tanya Sebastian dengan mata menyalang.
“Atas perintah Nyonya Amelia, kami sudah membawanya ke salah satu kamar di lantai 15. Sepertinya nyonya Amelia sudah mengirim beberapa orang juga untuk menjaga Tuan Steven.”
“Apa sudah memanggil dokter ?”
“Sudah, Tuan. Dan atas instruksi dokter, Nona sudah kami berikan susu dan banyak air putih untuk menetralkan pengaruh obatnya. Tapi menurut dokter, dosis obat yang diberikan memiliki efek yang cukup kuat sehingga butuh waktu yang cukup lama untuk menormalkan kondisi nona kembali.”
“Sudah berapa lama Kirana berendam ?”
“Sekitar 10 menit, Tuan,” sahut staf yang menemani Kirana di dalam kamar mandi.
“Kalau begitu kalian semua boleh pergi. Biar saya yang akan mengurus istri saya di sini.”
Dion pun memberi isyarat pada Pak Mardian untuk membawa semua staf hotel meninggalkan Presidential Suite.
“Ada yang perlu saya lakukan, Pak Bas ?” tanya Dion sebelum meninggalkan bossnya.
“Bekerjasamalah dengan Pak Mardian untuk memeriksa CCTV dan cari tahu pelaku sebenarnya. Kalau perlu minta Aldo atau Milan kemari untuk memastikannya.”
Dion pun mengangguk dan pamit pada Sebastian. Saat ia membuka pintu, ternyata salah satu staf housekeeping perempuan mengantarkan sebuah kantong kertas.
“Titipan dari Nyonya Amelia, Tuan,” ujar staf itu menjelaskan. Dion mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
“Taruh di sofa,Yon. Dan kalau ada perkembangan apapun, kabarkan dulu lewat pesan.”
Dion mengangguk dan memahami maksud Sebastian lalu meninggalkan Presidential Suite menuju ruang Pak Mardian.
Sebastian mendekati Kirana kembali yang terlihat mulai menggigil. Sekujur tubuhnya terendam air bathup yang sengaja dibuat dingin bahkan terlihat ada sisa-sisa es batu yang sudah mencair.
Kirana sedikit kesulitan untuk bangun karena sekujur badannya terasa lemas, dingin dan sedikit tidak nyaman. Akhirnya Sebastian membuka dasi dan kemejanya supaya lebih nyaman untuk mengangkat Kirana dari dalam bathup. Terlihat tubuh calon istrinya itu menggigil kedinginan. Sebastian mendudukan Kirana di atas meja marmer dekat wastafel. Tanpa meminta ijin pada Kirana, ia membuka pakaian Kirana dan membalut tubuh gadis itu dengan handuk mandi. Setelah cukup kering, dibungkusnya Kirana dengan jubah mandi.
“Pakaian dalammu basah semua, Kiran. Aku bantu lepas ya ?” Sebastian mengelus pipi Kirana yang masih terlihat lemas. Gadis itu mengangguk pelan.
Dengan sedikit canggung, Sebastian melepaskan pakaian dalam Kirana dari celah jubah mandinya. Selesai dengan urusan Kirana, ia menggendong calon istrinya itu dan membawanya ke atas tempat tidur lalu menyelimutinya.
Sebastian mengambil kantong yang dibawakan oleh mommy Amelia, ternyata hanya pakaian ganti untuk Kirana. Akhirya ia pun mengambil jubah mandi untuk mengganti celana panjang dan kaosnya yang basah.
Sebastian mengirimkan pesan pada Dion untuk menitipkan pakaian ganti untuknya di meja resepsionis.
Selesai membersihkan dirinya, Sebastian ikut naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di sebelah Kirana. Mata gadis itu terpejam tapi tubuhnya bergerak seperti orang gelisah. Sebastian mendekat dan mengangkat kepala Kirana untuk direbahkan beralaskan lengannya.
“Honey,” panggilnya lembut di dekat wajah Kirana.
Perlahan gadis itu membuka matanya yang terlihat memerah.
“Kenapa aku begini, Bee ?” tanya Kirana dengan raut wajah gelisah. “Aku sakit apa, Bee ?” tanyanya lirih.
“Seseorang sengaja memasukkan obat perangsang ke dalam makanan atau minumanmu dan Steven. Sepertinya disengaja untuk menjebak kalian berdua.”
__ADS_1
“Tapi aku juga tidak sengaja bertemu dengan Steven di sini, Bee.”
“Tidak usah memikirkan hal itu dulu, aku percaya kepadamu. Sekarang pejamkan matamu dan berusahalah tidur.”
“Badanku tidak enak, Bee,” Kirana kembali menggeliatkan badannya karena merasa tidak nyaman.
Sebastian menarik nafas panjang untuk menghalau kebimbangan dalam hatinya. Teringat pada ucapan Pak Mardian tentang diagnosa dokter, sepertinya Kirana membutuhkan cara lain untuk mengatasi efek obat yang diberikan kepadanya.
Bingung keputusan seperti apa yang harus diambil, Sebastian merasakan pergerakan tubuh Kirana yang terus bergerak di dalam dekapannya.
“Honey, sepertinya kita harus melakukan malam pertama kita sekarang,” ujar Sebastian sambil membelai wajah Kirana yang terlihat sendu. “Hanya itu yang mungkin bisa membuat tubuhmu nyaman kembali. “
“Bee,” lirih Kirana pelan.
“Apa kamu mengijinkan aku membantumu, Kiran ?” tanya Sebastian memandang Kirana dengan penuh cinta. Dilihatnya gadis itu mengangguk pelan.
“Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu, Kirana. I love you. I love you so much,” bisik Sebastian lembut di telinga Kirana sebelum akhirnya ia mencium bibir gadis itu dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh Kirana saat ini.
Sementara di kamar lain, Shera yang terbangun karena merasa ada benda berat yang menimpanya langsung membelalakan matanya . Dilihatnya tubuh Steven sudah berada di atasnya tanpa mengenakan pakaian. Shera berusaha melepaskan diri dengan mendorong tubuh Steven, tapi dalam pengaruh obat, tenaga dokter muda itu menjadi lebih kuat daripada biasanya. Shera sendiri sadar kalau sebagian pakaiannya sudah terlepas.
Meski ini bukan yang pertama bagi Shera tidur dengan Steven, tapi rasanya masih sama menyakitkan, karena di tengah-tengah percintaan mereka, Steven terus memanggil nama Kirana dan Kirana.
Shera membiarkan Steven melepaskan semua gairahnya karena pengaruh obat sambil meneteskan air mata. Perisitiwa tiga tahun yang lalu terulang lagi dan kondisinya masih sama, hanya ada nama Kirana dalam bayangan Steven.
Perbedaannya kali ini Shera tidak tahu bagaimana ia bisa ada di kamar ini bersama Steven. Entah siapa yang membawanya hingga harus melayani Steven yang sudah setengah sadar di bawah pengaruh obat.
Shera terus menitikkan air mata. Bukan begini rencana yang ia susun untuk Kirana. Ia ingin menghancurkan hidup gadis itu dengan membuatnya malu dan merasa tidak pantas lagi untuk Sebastian, hingga membatalkan pernikahan mereka.
Shera berharap Kirana akan menyesal dan tidak sanggup lagi meneruskan hidupnya sebagai perempuan baik-baik hingga akhirnya memilih untuk menjauh dari Steven dan Sebastian.
Sekalipun dalam hati kecilnya, ia tidak rela melibatkan Steven demi melampiaskan kemarahannya pada Kirana.
Tapi Tuhan berkehendak lain. Mommy Amelia yang mendapat laporan Pak Mardian mengenai pertemuan Kirana dan Steven di Hotel Pratama, langsung meminta orang kepercayaannya itu mengawasi keduanya.
Tidak berapa lama, Pak Mardian melaporkan ada yang tidak beres dengan Kirana dan Steven. Dokter pun langsung dipanggil dan diagnosa sementara kalau keduanya telah mengkonsumsi obat perangsang dalam dosis tinggi. .
Curiga dengan keterlibatan Shera dalam masalah obat perangsang yang dimasukan ke dalam makanan atau minuman Steven dan Kirana, mommy Amelia segera menyuruh orang-orang kepercayaan daddy Richard mencari Shera.
Setelah mendapat sedikit petunjuk, mommy Amelia menyuruh orang kepercayaannya itu membawa Shera sengaja dalam keadaan tidak sadar, lalu ditempatkan sekamar dengan Steven. Semua itu dilakukan semata-mata agar Shera mempertanggungjawabkan perbuatannya,
Sementara untuk masalah Kirana yang juga menjadi korban rencana jahat Shera, mommy Amelia memutuskan hanya Sebastian satu-satunya yang boleh dan bisa menyelesaikannya. Ia yakin kalau putranya sangat mencintai calon istrinya dan akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan Kirana.
Di kediaman keluarga Sebastian, Tuan Richard terlihat sedang menenangkan istrinya yang terlihat emosi dengan kelakukan Shers yang begitu jahat.
“Entah bagaimana Herman mendidik putrinya sampai begitu licik dan tidak habis-habisnya memiliki rencana jahat,” omel mommy Amelia saat duduk berdua dengan suaminya di ruang keluarga.
“Shera terlalu dimanja dan dibanggakan di depan umum terutama oleh Herman. Jadi semua yang diinginkannya harus dia dapatkan bagaimanapun caranya,” sahut daddy Richard sambil mengusap punggung istrinya.
“Kamu biarkan Steven dengan Shera ?” Tanya daddy Richard sambil menerima piring buah yang diberikan oleh istrinya.
“Bukankah ia sendiri yang memasukkan obat itu untuk Steven ? Jadi biar dia juga yang bertanggungjawab. Lagipula mereka sudah pernah melakukannya sampai punya Raven, kan ?”
“Memangnya hasil tes DNA sudah keluar ?” Tanya daddy Richard sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Belum, tapi aku yakin kalau Raven memang anak kandung Steven.”
“Bagaimana kalau ternyata salah ?”
“Aku percaya pada feeling menantuku, sayang,” ujar Mommy Amelia sambil tersenyum. “Kirana cukup hafal dengan kebiasaan Steven karena mereka pernah bersahabat sangat dekat. Dan kamu tahu bukan, sayang ? Ciri khas seseorang tidak akan ditukaran pada anak kecil begitu persis kalau mereka tidak memiliki ikatan batin.”
Daddy Richard mengangguk sambil tersenyum.
“Semoga Kirana tidak menyesal dengan kejadian malam ini,” gumam mommy Amelia.
“Aku yakin Kirana tidak akan menyesal karena Sebastian yang melakukannya,” sahut daddy Richard sambil terkekeh. “Semoga saja langsung membuahkan hasil. Sudah tidak sabar rasanya dipanggil opa seperti teman-temanku.”
“Dasar daddy mesum. !” Omel mommy Amelia sambil memukul bahu suaminya. “Bukan kasihan dengan Kirana, malah berdoa kejadian ini membawa berkat cucu untukmu.”
Daddy Richard tertawa sambil memeluk istrinya dan mencium bibir mommy Amelia dengan penuh cinta.
“Karena sudah tidak mungkin bagi kita untuk menambah anak. Jadi aku berharap Sebastian segera memberikan aku cucu.”
Mommy Amelia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1