Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 45 Dia Bukan Siapa-Siapa


__ADS_3

“Honey !” Sebastian menyentuh sebelah pipi Kirana dan meminta gadis itu kembali menatapnya.


“Akan aku cari tahu bagaimana bisa ada foto seperti ini.”


Kirana kembali mengerjapkan matanya yang masih sedikit berkabut karena sisa air mata. Tingkahnya membuat Sebastian gemas dan kembali memberikan ciuman di bibir Kirana. Kali ini Kirana tidak berontak namun tidak membalasnya juga.


Rasa kerinduan tersalurkan dari hati keduanya. Bukan saja jarak yang memisahkan, namun komunikasi yang sempat terputus membuat keduanya harus menahan rasa yang bergejolak di hati.


Sebastian melepaskan ciumannya dan mengusap lembut bibir Kirama dengan ibu jarinya.


“Aku akan membuktikan kalau bukan seperti itu kelakuan aku di sana.”


“Bohong !” Karina mencebik. “Bahkan pesanku sudah tidak pernah dianggap penting lagi. Cuma balasan yang bisa diatur kalimat dan waktunya.”


Sebastian tertawa dan menciumi wajah Kirana dengan gemas, membuat gadis itu mengomel kesal.


“Akan aku lanjutkan nanti malam,” bisik Sebastian.


Kirana melotot dan berusaha bangun dari pangkuan Sebastian namun kembali gagal karena Sebastian menahannya.


Tangan Sebastian meraih handphone miliknya yang ada di sofa dan menghubungi Dion.


“Suruh Aldo kembali kemari dan bawa laptop.”


Sebastian berdiri sambil menggendong Kirana yang langsung merangkul leher Sebastian karena takut jatuh. Pria itu tertawa melihat ekspresi kekasihnya.


“Duduk yang manis di sini. Akan aku buktikan bahwa aku tidak seperti yang terlihat di foto.”


Sebastian mendudukan Kirana di sofa lalu ia sendiri berjalan menuju pintu untuk membukakan Dion dan Aldo yang diminta masuk ke ruangannya. Di sofa, Kirana merapikan kemejanya yang sedikit berantakan karena Sebastian.


Dion sudah mengetuk pintu sebelum Sebastian sampai di sofa.


“Masuk !” Sebastian meneruskan langkahnya dan duduk di sebelah Kirana.


“Mau sambil aku pangku lagi ?” Bisik Sebastian.


Kirana melotot dan mencubit paha pria itu. Sebastian meringis sambil tertawa.


Tidak lama Dion dan Aldo sudah duduk berhadapan dengan Kirana dan Sebastian di sofa. Aldo juga langsung membuka laptopnya. Ia menatap Sebastian sebelum mengambil handphone Kirana yang ada di atas meja juga. Sebastian malah menggeleng.


“Tolong ambilkan laptopku, Yon. Dan siapkan zoom meet dengan Bara, Evan dan Samuel.”


Dion sempat mengernyit dan ingin bertanya, tapi lagi-lagi Sebastian menjawab dengan bahasa isyarat supaya Dion menjalankan perintahnya.


Butuh waktu 10 menit untuk mempersiapkan semuanya. Untung saja Bara, Evan dan Samuel sedang berada di satu tempat dan tidak terlalu sibuk hingga bisa mengikuti zoom meet secara bersama-sama.


“Hai Kirana,” sapa Samuel saat melihat Kirana sedang duduk di sebelah Sebastian. Gadis itu menoleh ke samping tidak mau menatap ke arah laptop.


“Sudah acara lepas rindu, peluk ciumnya sama Pak Bastian tersayang ?” Ledek Samuel.


“Nggak sopan malah yang disapa calon istri orang,” dengus Sebastian dengan wajah kesal.


“Pelit banget Bas, cuma menyapa doang,” Samuel tertawa mengejek. “Selama di sini aja, elo sering menolak telepon Kirana .”


“Samuel !” Bentak Sebastian membuat semua terkejut. “Pikir dulu sebelum bicara !”


“Sibuk banget Pak Bas di sana ya, Pak Sam ?” Kali ini Kirana yang bertanya dengan senyuman manis yang dibuat-buat.


Sebastian merutuki kelakuan Samuel yang membuat suasana malah menjadi keruh. Emosi Kirana yang tadi sudah mereda, terlihat mulai naik kembali.

__ADS_1


“Sibuk banget, Ki. Sampai-sampai…” Evan yang menyadari isyarat Sebastian dari belakang Kirana langsung menyumpal mulut Samuel dengan biskuit yang ada di dalam toples dekat situ.


“Ini yang kamu bilang mau klarifikasi ? Sudah jelas perkataan Samuel dan aku percaya padanya.”


Kirana bangun dari sofa namun tangannya ditahan oleh Sebastian.


“Jangan pergi !” Pinta Sebastian dengan wajah memohon. Kirana mencoba menghentakan tangannya namun Sebastian lebih dulu menariknya dengan kuat higga Kirana kembali jatuh ke pangkuan Sebastian.


Tanpa permisi Sebastian langsung menarik tengkuk Kirana dsn mencium bibirnya begitu dalam, membuat Dion, Aldo dan tiga sahabatnya yang masih aktif melakukan zoom, tercengang dan membelalakan mata mereka.


“Ini bukti kalau aku tidak main-main denganmu,” ujar Sebastian setelah melepas ciumannya.


Wajah Kirana sudah memerah dan terasa sangat panas. Aldo dan Dion membuang pandangan ke lain arah.


“Gila lo Bas !” Desis Samuel yang masih melongo melihat kelakuan Sebastian. Bahkan saat masih berpacaran dengan Shera, belum pernah mereka berciuman begitu dalam di hadapan banyak orang.


“Mau tetap di sini mendengar penjelasanku atau aku bawa ke kamar ?” Sebastian menatap Kirana tajam.


Kirana akhirnya mengangguk sambil menunduk.


“Tapi nggak mau dipangku,” lirihnya.


“Oke, tapi janji ya, tunggu sampai selesai. Kalau nggak…”


“Iya.. iya,” potong Kirana cepat sebelum Sebastian melanjutkan kalimatnya yang akan membuatnya bertambah malu di depan semua yang ada di situ dan di layar laptop.


Kirana sudah kembali duduk di sebelah Sebastian, sementara kekasihnya mengambil handphone miliknya.


Sebastian mengirimkan foto itu ke handphone Bara supaya ketiga sahabatnya bisa melihat juga.


“Apa bisa kamu mengecek darimana foto ini dikirim ?” Tanya Sebastian pada Aldo.


“Akan lebih mudah kalau memeriksanya dari handphone Kirana sebagai penerima pertamanya, Pak.”


“Masih bisa saya pullihkan fotonya, tapi butuh waktu lebih lama.”


Sebastian hendak memberikan handphone Kirana pada Aldo, namun tangan Kirana mencegahnya dan menggeleng pada Sebastian yang menoleh padanya.


“Nanti saya bicarakan dulu dengan Kirana, Do.”


“Bas,” panggil Samuel di layar laptop. “Kalau dari postur dan rambutnya, gue yakin kalu ini Esti, sekretarisnya Indra, Pimpro di sini, Bro.”


“Elo yakin ?” Evan mengernyit menatap Samuel yang masih fokus menatap handphonenya, mengamati foto yang dikirim Bara ke nomornya.


Sebastian meminta Aldo agar foto itu ditampilkan di layar laptop agar lebih mudah melihatnya bersamaan.


“Coba elo semua lihat di bagian dinding kanan atas, ada Mandau dipajang di sana. Gue nggak akan lupa karena pernah tanya sama Indra dapat darimana barang antik dan langka begitu.”


Semua mengamati benda yang dimaksud oleh Samuel dan melihatnya sesuai petunjuknya. Memang terlihat sebuah mandau dalam bingkai kaca dan digantung di dinding belakang meja kerja Indra, pmpinan proyek di Kalimantan.


“Kapan foto ini dikirim ke nomor Kirana ?”


“Seminggu yang lalu,” jawab Sebastian cepat


Kirana menoleh dengan alis terangkat sebelah.


“Kamu sudah menghilang 5 hari, ditambah hari ini jadi 6. Pesan itu kamu terima sehari sebelumnya, kan ?” Sebastian meraih jemari Kirana dan menggenggamnya.


“Tenang Ki, kita semua akan bantu cari tahu soal foto ini dan memastikan apakah itu benar Esti atau bukan seperti yang Samuel ingat,” Evan ikut bicara untuk meyakinkan Kirana.

__ADS_1


“Nggak usah khawatir sama Sebastian, Ki,” Samuel terkekeh, yang lainnya mulai memasang wajah tegang, berharap Samuel tidak mengucapkan kalimat asal lagi.


“Sebastian udah terlalu bucin sama kamu, sampai mau ditraktir ke club aja dia langsung menolak dan memilih tinggal di hotel. Tapi ngapain di hotel sendirian, kita nggak ada yang tahu.” Samuel tergelak di akhir kalimatnya membuat Bara memukul bahunya dan Evan menoyor kepalanya.


“Jangan didengar omongan Samuel, Ki,” Bara, pria paling serius dan pendiam itu akhirnya buka suara. “Saya berani menjamin kalau Sebastian tidak pernah macam-macam selama di sini. Bagaimana dia bisa dalam posisi itu dengan Esti, kita pasti akan cari tahu kebenarannya.”


Kirana menghela nafasnya. Perasaannya sedikit tenang meski belum bisa percaya sepenuhnya. Mereka semua adalah sahabat Sebastian, bukan tidak mungkin kalau mereka akan menutupi kekhilafan sahabafnya demi menjaga perasaan Kirana.


“Terima kasih.” Hanya itu yang keluar dari mulut Kirana yang kembali membuang pandangannya ke lain arah.


“Thankyou waktunya, Bro. Tolong bisa dicari tahu lewat Indra atau langsung tanya ke Esti soal kasus foto ini,” ujar Sebastian.


“Dan jangan lupa ya !” Sebastian mengangkat telunjuknya sebagai peringatan. “Awas aja kalau foto ini sampai tersebar ! Jangan kirim ke Indra, cukup kasih lihat aja. Kalau sampai bocor ke sosmed apalagi wartawan, kalian berlima di sini yang langsung jadi tersangka !”


“Curang !” Protes Samuel lagi. “Kenapa Kirana nggak ikut masuk sebagai calon tersangka ? Bukan nggak mungkin kalau dia terlalu kesal sama elo…”


“Nggak penting !” Sebastian langsung memutus sambungan zoom nya.


Di Kalimantan, Samuel mengomel karena Sebastian seenaknya memotong ucapannya. Bara dan Evan bukan membela Samuel malah memaki pria itu yang suka tidak menjaga ucapannya. Bukannya tersinggug, Samuel malah tertawa sambil menggaruk kepalanya.


“Udah kayak bocah !” Evan kembali menoyor kepala Samuel.


Sementara di kantor MegaCyber, Dion dan Aldo sudah keluar dari ruangan Sebastian dan meninggalkan Kirana yang masih duduk terpaku di sofa.


Sebastian yang baru saja berbincang dengan Aldo dan Dion sambil menghantar mereka keluar, kembali mendekati Kirana dan berlutut di depan gadis itu. Digenggamnya kedua jemari Kirana dengan erat.


“Kiran, maafkan aku yang mungkin sudah lalai sampai memberikan kesempatan orang lain untuk mengambil foto itu. Tapi aku berani bersumpah demi apapun, aku benar-benar tidak melakukan hal semacam itu dalam keadaan sadar. Entah karena aku terlalu capek dan tertidur pulas sampai nggak tahu ada kejadian itu atau…”


Sebastian tidak melanjutkan karena melihat Kirana hanya diam saja bahkan menoleh ke arah lain.


“Kiran, maafkan aku. Maaf, Kiran.”


“Semua penjahat kalau sudah tertangkap memang gampang tinggal bilang khilaf,” Kirana menoleh dan menatap Sebastian dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Kamu memaksa orang mengerti kondisimu yang khilaf itu dan percaya kalau itu semua hanya niat buruk seseorang pada kita. Lalu bagaimana dengan kejadian aku dan Steven saat di mal ? Bahkan saat aku meminta waktumu untuk menjelaskan, kamu mengabaikan aku dan tidak peduli. Padahal sebelumnya kamu tahu kalau aku pergi dengan Echi dan Marsha.”


Sebastian menatap Kirana dengan wajah penuh penyelesalan. Pelukannya ditahan Kirana dengan kedua tangannya.


“Saya butuh waktu untuk membuat hati saya baik-baik saja, Pak Bas,” Kirana mendorong pelan tubuh Sebastian supaya menjauh darinya.


Sebastian teecengang saat mendengar Kirana kembali menyebut dirinya saya dan memanggilnya Pak Bas.


“Saya mau pulang dulu. Maaf saya ijin lagi tidak masuk kerja. Besok saya berjanji akan bekerja seperti biasa.” Kirana berdiri dari duduknya.


“Kiran,” Sebastian memegang pergelangan tangan Kirana, namun gadis itu melepaskan dengan tangannya yang lain.


“Sudah jelas apa yang terjadi di foto itu bukan editan dan Pak Bas dengan mudahnya minta saya melupakan dengan alasan khilaf. Lalu bagaimana dengan sikap Bapak terhadap saya ? Jangan kata berpelukan, saling menyentuh dengan Steven pun tidak saya lakukan, tetapi kemarahan Bapak lebih dari sekedar kata khilaf”


Kirana pun berjalan menuju pintu ruangan Sebastian, dan sekali lagi pria itu berusaha mencegahnya.


“Kiran, demi apapun wanita itu bukan siapa-siapa.”


Kirana tersenyum getir, Dia masih berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata.


“Dan Steven juga bukan siapa-siapa bagi saya.”


Kirana melepaskan genggaman Sebastian dan menruskan langkahnya keluar dari ruangan Sebastian.


“Arrghhh !” Sebastian berteriak kesal sambil menjambak rsmbutnya.

__ADS_1


Kecerobohan dan keegoisannya sudah membuat Kirana terluka cukup dalam dan akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memperbaiki keadaan mereka.


Sebastian kembali ke kursi kerjanya, menyenderkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Siapapun yang melakukannya, ia telah berhasil membuat hubungan Sebastian dan Kirana menjadi renggang.


__ADS_2