Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Istri Kesayangan


__ADS_3

Rapat baru saja usai. Daddy Richard memicingkan matanya, menatap Sebastian yang sejak tadi kurang fokus mengikuti agenda rapat. Mata putra tunggalnya itu lebih sering melirik ke arah handphone, belum lagi ekspresi wajahnya yang senyum-senyum sendiri.


 


“Kamu nggak lagi selingkuh, kan ?” tanya daddy Richard dengan alis menaut saat mereka mulai masuk ke dalam lift.


 


Amir dan Dion ikut bersama dalam lift dan berdiri di depan kedua boss mereka.


 


“Daddy !” Sebastian membelalak, “Apa Daddy lupa kalau aku sedang menantikan kelahiran anak kembarku ? Mana mungkin kepikiran mau selingkuh,” gerutu Sebastian.



Daddy Richard tertawa, sementara Dion dan Amir hanya senyum-senyum, tidak berani ikut berkomentar atau tertawa dengan suara.


 


“Siapa tahu kamu cari selingan karena istrimu lagi susah dibajak,” ledek daddy Richard sambil tertawa.


 


“Justru aku sedang menganggumi keberanian istriku melawan wanita yang mengaku-ngaku sebagai mantan pacarku,” ujar Sebastian dengan wajah bangga.


 


“Coba Daddy lihat,” Sebastian mengulurkan handphonenya yang langsung diterima oleh daddy Richard. “Kirana bisa membuat Deana sampai tidak bisa berkata-kata.”


 


Dion yang mendengar nama Deana menarik nafas lega. Ia pikir kalau video yang sedang dilihat oleh Sebastian dan sekarang Tuan Richard adalah kiriman dari Milan atau Aldo.


 


“Siapa lagi ini ?” daddy Richard mengerutkan dahi saat melihat Deana.


 


“Keponakannya Om Alexander, namanya Deana Binawan. Dia temannya temanku saat masih kuliah di Amerika. Aku sendiri tidak terlalu mengenalnya dan tidak berminat untuk mengenalnya juga.”


 


“Anaknya Aldi Binawan ?” tanya daddy Richard sambil mengembalikan handphone milik Sebastian.


 


“Aku tidak terlalu mengetahui nama orangtuanya, Dad. Masalah dia keponakan om Alexander saja baru aku tahu saat mereka minta waktu untuk menjajaki kerjasama.”


 


“Jadi wanita ini sekarang jadi klien perusahaan?”


 


“Aku tolak, Dad,” Sebastian menggeleng. “Aku juga sudah jelaskan alasannya pada om Alex dan Aleandro. Mereka menyerahkan sepenuhnya pada keputusanku dan tidak akan mempengaruhi kerjasama kami.”


 


“Kalau dilihat dari rekaaman tadi, epertinya dia sudah pernah bertemu dengan Kirana sebelum di sini.”


 


“Iya di supermarket saat Kirana sedang berbelanja sendirian. Waktu itu Kirana sempat dibuat kesal setengah mati dan yang membuat aku kesal justru munculnya Steven sebagai malaikat penolong Kirana,” gerutu Sebastian dengan wajah kesal.


 


“Sepertinya Kirana memiliki jodoh yang kuat dengan Steven,” sahut daddy Richard sambil tertawa. Dion dan Amir yang sudah tahu kalau Sebastian akan protes kembali ikut tersenyum.


 


“Daddy !” raut wajah Sebastian bertambah kesal mendengar ucapan daddy Richard. “Apa Daddy berharap kalau Steven dan Kirana jadian ? Aku tidak akan rela melepaskan istriku sekalipun Steven memohon.”


 


“Ya..ya… ya.. Ternyata kamu lebih posesif pada Kirana daripada saat menjalin hubungan dengan Shera,”  ledek Daddy Richard sambil terkekeh.


 


“Tentu saja karena setelah dipikir-pikir, sepertinya aku tidak terlalu mencintai Shera seperti aku mencintai Kirana. Dulu tidak masalah kalau jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Aku tidak merasa terganggu dengan rasa rindu dan perasaan was-was. Sejak dengan Kirana, ada sesuatu yang baru pernah aku rasakan, Dad.”


 


“Sepertinya itu gejala bucin, istilah anak muda jaman now,” ledek daddy Richard.


 


“Dapat istri yang masih muda memang harus lebih was-was, Pak Bas.” Amir ikut buka suara dengan nada menggoda Sebastian.


 

__ADS_1


“Apalagi saingan terberat Pak Bas adalah dokter Steven yang siap menunggu Kirana sekalipun statusnya janda beranak,” Dion ikut menimpali sambil tertawa pelan.


 


“Masih betah kerja kan, Yon ?” tanya Sebastian dengan suara galak. “Jangan coba-coba menyebut nama Steven saat sedang berbicara dengan Kirana. Berani kamu bicara lagi soal Steven, langsung surat penugasan mengurus proyek di Kalimantan.”


 


“Jangan begitu,” ujar daddy Richard sambil senyum-senyum. “Apa kamu nggak kasihan kalau Dion harus memperpanjang masa lajangnya kalau sampai dikirim ke Kalimantan.”


 


“Siapa tahu jodohnya memang di sana,” sahut Sebastian dengan wajah sebal.


 


Daddy Richard hanya tertawa dan ternyata ikut turun di lantai 15.


 


“Daddy mau ketemu menantu dulu dan menyapa calon cucu Daddy,” ujar Daddy  Richard mendahului Sebastian keluar lift yang sudah ditahan pintunya oleh Dion.


 


 


“Daddy !”


 


Kirana yang baru saja berjalan dari arah pantri langsung menyapa ayah mertuanya dengan wajah bahagia. Daddy Richard langsung merentangkan tangannya dan memberikan pelukan sapaan pada menantunya.


 


“Apa kabarnya menantu dan cucu Daddy ?” Daddy Richard melirik ke arah perut Kirana.


 


“Baik, Dad. Hanya saja beberapa hari ini bawaanya lagi nggak mau jauh dari papinya. Kalau terlalu lama jauh, mereka terus bergerak dan terasa tidak nyaman.”


 


“Sepertinya cucu Daddy mau menjaga papinya supaya tidak melirik-lirik wanita lain,” ledek Daddy Richard sambil tertawa. Muka Sebastian langsung terlihat sebal dan menggumam tidak jelas.


 


“Mau makan siang bareng ?” tawar Daddy Richard sambil menatap Sebastian dan Kirana bergantian.


 


 


“Kiran ikut gimana Mas Bas aja, Dad,” Kirana melirik suaminya sambil tersenyum.


 


“Boleh Dad,” Sebastian langsung menyahut. “Apa mau sekalian ajak Mommy ? Biar Tomo menjemputnya dulu dan langsung bertemu di restoran ?”


 


Daddy Richard berpikir sejenak dan langsung mengeluarkan handphonenya. Rupanya Daddy langsung menghubungi mommy Amelia dan mengajaknya makan siang sesuai rencana Sebastian.


 


“Mommy mau,” ujar daddy Richard setelah menutup panggilan handphonenya. “Kalau begitu Daddy balik ke ruangan dulu. Sekitar sejam lagi kita baru berangkat.”


 


Sebastian dan Kirana mengangguk dan menunggu sampai daddy Richard masuk ke dalam lift ditemani oleh Amir.


 


Sesudah itu, Sebastian merangkul istrinya dan membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya.


 


“Kenapa senyum-senyum gitu ? Habis dapat ulat bulu baru lagi ?” wajah Kirana cemberut karena sejak tadi melihat wajah Sebastian senyum-senyum dan terlihat lebih cerah dari biasanya.


 


“Lagi bahagia banget,”  sahut Sebastian singkat sambil membukakan pintu untuk istrinya.


 


“Bukannya biasa kamu pusing menjelang RUPS ? Kok hari ini malah senyam senyum begitu ? Apa karena Deana masih belum menyerah mendapatkanmu, sampai berani banget datang kemari sendirian.”


Sebastian hanya tertawa mendengar omelan istrinya yang makin cemberut dengan bibir mamyun.


 

__ADS_1


Begitu pintu tertutup, Sebastian langsung memeluk Kirana dan mencium kening istrinya.


Rasanya lebih pribadi kalau memanjakan istrinya di ruang tertutup, biarpun Dion sudah sering melihat Sebastian memeluk bahkan mencium Kirana, tapi semuanya dalam situasi tidak disengaja, kecuali saat Sebastian lagi ngidam aneh sampai akhirnya Dion harus melihat adegan yang membuat jiwa jomblonya meronta.


 


“Bahagia karena istrinya Sebastian Pratama kelihatan keren banget pas lagi ngusir ulat bulu,” ujar Sebastian sambil terkekeh dengan posisi Kirana masih dalam pelukannya.


 


“Kebiasaan,” gerutu Kirana.


 


“Kebiasaan gimana ?” Sebastian melerai pelukannya dan menatap Kirana dengan alis menaut.


 


“Masih aja diam-diam suka ngawasin aku. Sebelumnya pakai alat pelacak biar tahu aku ada dimana, sekarang lagi rapat aja masih sibuk mantau CCTV. Apa jangan-jangan di dalam ruangan kamu ini juga ada CCTV-nya ?” Kirana menatap Sebastian dengan mata memicing dan wajah curiga.


 


Sebastian tertawa dan menggandeng Kirana untuk mengajaknya duduk di sofa. Kebiasaannya memangku Kirana belum berubah. Kirana sempat beberapa kali menolak karena merasa berat badannya sedang dalam fase bertambah setiap minggu selama masa kehamilan. Apalagi calon anak mereka langsung dua.


 


“Tentu saja aku akan selalu mengawasi  kamu biar dari jauh. Bukan karena nggak percaya, tapi khawatir karena banyak ulat bulu yang datang gangguin kamu, dan macan ompong yang siap-siap nerkam kamu.”


 


“Macan ompong ?”


 


“Iya kan udah ada satu tuh, Steven,” Sebastian terkekeh. “Samuel juga. Kalau aku diam aja pasti langsung nyosor kamu.”


 


Kirana tertawa pelan dan mengalungkan sebelah tangannya pada leher Sebastian.


 


“Siapa tahu aja aku diawasi terus karena pengalaman buruk sama Shera, makanya susah percaya sama istri sendiri,” Kirana mencibir.


 


“Bukan karena Shera tapi lebih tepatnya Steven. Sejak kejadian Steven, aku semakin yakin kalau istriku ini adalah wanita yang setia dan tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu pria-pria lain. Tapi aku nggak percaya dengan pria-pria yang berusaha mendekatimu. Sudah ada buktinya dengan kejadian di hotel, kan ? Coba kalau mommy tidak punya orang yang mengawasi kamu terus, bisa-bisa yang ada di sini,” Sebastian mengusap perut Kirana, “Bukannya benih Sebastian Pratama tapi Steven.”


 


“Iiihh amit-amit deh,” Kirana ikut mengusap-usap perutnya dengan dahi berkerut. “Aku masih suka ngeri kalau ingat kejadian itu. Selama ini aku hanya tahunya dari cerita atau film, ternyata setelah mengalami sendiri, kadang bergidik sendiri. Obat itu benar-benar tidak kasat mata dan tidak ada rasa-rasa aneh gimana gitu.”


 


Sebastian menarik tengkuk Kirana dan memberikan ciuman panjang di bibir istrinya itu. Kirana pun membalasnya dengan penuh cinta. Tapi tidak berlanjut seperti biasanya karena Sebastian melepaskannya terlebih dahulu.


 


“Ada beberapa kerjaan yang perlu aku selesaikan dengan Dion,” Sebastian menyelipkan rambut Kirana ke belakang telinganya. “Kamu tunggu sebentar, ya. Daddy juga sedang  menyelesaikan pekerjaannya.”


 


Kirana mengangguk dan membiarkan Sebastian memindahkannya ke atas sofa.


 


“Bee,” Kirana menahan tangan Sebastian. “Selesai makan siang , mommy pasti akan mengajak aku pergi belanja ke mal. Apa boleh kalau hari ini aku maunya sama kamu aja di kantor ? Lagi malas jalan-jalan ke mal.”


 


Sebastian tersenyum dan mengangguk. Dibelainya rambut Kirana dengan lembut.


 


“Yang lagi mau nempel terus sama papinya babies atau maminya ?” ledek Sebastian.


 


“Dua-duanya dong, Bee. Kan dede bayinya di dalam perut mami, jadi hatinya masih satu paket,” sahut Kirana sambil tertawa pelan.


 


Sebastian ikut tertawa dan berjalan menuju meja kerjanya, lalu memanggil Dion lewat telepon yang ada di mejanya.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2