Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 59 Makan Siang


__ADS_3

Steven membawa mommy Amelia dan Kirana ke salah satu mal yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Lalu lintas di Jakarta pada siang hari tidak terlalu padat, hingga cukup dalam waktu 20 menit mereka sampai di tempat yang dituju.


Steven yang ternyata sudah memesan tempat saat mereka dalam perjalanan, langsung disambut oleh Manajer Restoran dan langsung mengantar mereka


ke meja yang telsh disiapkan.


Menu makan siang hari ini ternyata adalah makanan Jepang dengan menu shabu-shabu dan yakiniku.


“Favorit auntie belum berubah, kan ?” Tanya Steven sambil menarik bangku untuk mommy Amelia.


Mereka ditempatkan di meja bundar yang ada dekat kaca namun jauh dari pintu masuk. Tempat favorit Steven bila datang kemari dengan rekan kerja atau teman-teman dokternya.


“Bagaimana pekerjaanmu, Steven ? Apa terlalu sibuk sampai tidak sempat mencari pacar?”


Steven tertawa sambil melirik Kirana yang masih sibuk memanggang daging.


“Sebetulnya aku sudah punya wanita idaman sejak lama, Auntie. Tapi sepertinya cintaku bertepuk sebelah tangan.”


“Oooo.. beruntungnya gadis yang dicintai oleh dokter hebat, tampan dan mapan seperti kamu. Perlu alasan apa lagi sampai ia menolakmu ?”


Mommy Amelia melirik Kirana yang bersikap biasa-biasa saja. Calon menantunya itu sibuk memberikan daging yang sudah matang untuk mommy Ameiia.


“Mungkin karena sempat kelamaan aku tinggal, Auntie,” Steven kembali melirik Kirana sambil tertawa pelan.


Semua yang dilakukan oleh Steven tidak luput dari perhatian mommy Angela. Cerita Sebastian tidak mungkin diabaikan begitu saja, dan mommy Amelia akan melakukan tugasnya sebagai seorang ibu yang tidak akan membiarkan putra tunggalnya tersakiti lagi karena masalah cinta.


“Memangnya kamu tinggal begitu saja ?” Mommy Amelia tertawa pelan. “Kamu gantung cinta orang ?”


“Bukan digantung Auntie, tapi aku kurang tegas menyatakan perasaan. Aku pikir gaids manis itu masih terlalu kecil untuk diajak bicara cinta,” Steven menatap ke arah panggangan daging yang ada di depannya dengan pikiran menerawang pada masa lalunya.


“Aku pikir gadis itu akan memahami tanda-tanda cinta yang kutunjukkan, tapi ternyata dia tidak menganggap perhatianku sebagai cinta.”


Mommy Amelia tertawa dan mulai menikmati daging panggang dan semangkuk shabu-shabu yang disiapkan Kirana.


“Makan dulu, Mom, mumpung dagingnya masih panas,” Kirana meletakan kembali tiga potong daging di piring lauk mommy Amelia.


“Kamu juga makan dulu, sayang,” Mommy Amelia tersenyum pada Kirana. “Lauk di piring mommy sudah cukup banyak.”


Kirana mengangguk sambil tersenyum dan mulai menyantap makan siangnya. Steven tersenyum getir melihat pemandangan di depannya. Seandainya mama Rosa bisa menjalin hubungan baik dengan Kirana sejak dulu, mungkin yang ada di depannya sekarang bukan Auntie Amelia, tapi mamanya sendiri.


“Jadi kapan kamu akan mencari pacar, Steven ?” Tanya mommy Amelia di tengah-tengah makannya.


“Aku masih berusaha meyakinkan dirinya untuk mencintaiku juga, Auntie. Aku ingin ia bisa melihat ketulusan hatiku.”


“Apa gadis itu belum menikah atau punya pacar ?”


Steven tertawa dan meneguk minumannya sebelum menjawab pertanyaan mommy Amelia.


“Sebetulnya sudah mempunyai kekasih, Auntie. Tapi bukankah orang bilang selama janur kuning belum melengkung masih bisa ditikung ?” Steven kembali tertawa

__ADS_1


Uhhukk.. Uhhuukk..


Kirana tersedak makanannya. Steven reflek mendekat dan menepuk punggung Kirana, namun segera gadis itu menggeser badannya. Mommy Amelia memberikan gelas minuman untuk Kirana.


“Pelan-pelan makannya, sayang,” ujar mommy Amelia sambil mengusap-usap punggung Kirana.


“Tersedak daging, Mom,” Kirana yang sudah kembali normal menerima tissue yang diberikan oleh mommy Amelia.


“Mommy tidak akan meminta yang ada di piringmu,” goda mommy Amelia sambil tertawa pelan. “Jadi makannya pelan-pelan.”


Kirana hanya tersenyum sambil tersipu malu. Hatinya merasa bahagia karena selalu mendapat perhatian dan kasih sayang dari calon mertuanya.


“Apa Bastian sudah menghubungimu lagi ?”


 


Kirana menggeleng dengan wajah sedih. Ia membersihkan keringat dan air mata yang sempat keluar karena tersedak tadi.


 


“Biar nanti mami omeli. Bisa-bisanya membiarkan calon istrinya menahan rindu. Baru tahu rasa nanti kalau sampai ditikung orang.” Mommy Amelia kembali mengusap-usap punggung Kirana.


 


“Tenang Mom, nggak akan gampang menikung Mas Bastian karena cinta saya tidak gampang goyah hanya karena jauh dari Mas Bastian,’ ujar Kirana sambil terkekeh.


 


 


“Kamu dengar kan, Steven ? Auntie merasa lega karena akhirnya Sebastian bisa mendapatkan kembali kehidupan cintanya dan memilih wanita yang sangat mencintainya, meskipun status Sebastian itu duda,” ujar mommy Amelia sambil terkekeh.


 


“Mas Bastian justru bangga dengan statusnya, Mom. Mas Bas selalu bilang kalau dia itu duda rasa perjaka,” sahut Kirana sambil tertawa.


 


Steven ikut tertawa pelan. Hatinya terasa semakin perih melihat kedekatan Kirana dan Mommy Amelia. Bahkan dirinya merasa tersindir oleh percakapan kedua wanita di depannya ini. Kirana yang jelas-jelas mengetahui sosok wanita yang dibicarakan oleh Steven, sengaja menegaskan di depannya kalau cintanya hanya untuk Sebastian.


 


Selesai makan siang, mommy Amelia mengantar Steven dan Kirana kembali ke rumah sakit. Tidak lupa ia berpesan kalau Kirana cukup menemani Raven sampai besok, tidak boleh diperpanjang.



Steven sendiri lebih banyak diam selama perjalanan kembali ke rumah sakit, tapi sepertinya  mommy Amelia tidak terlalu menggubrisnya.


 


“Mommy akan minta Pak Tomo menjemputmu besok siang, di sini,’ ujar mommy Amelia saat mereka sudah sampai di lobby rumah sakit. 

__ADS_1


“Sekalian mommy mau mengajakmu makan siang dengan beberapa teman. Mereka ingin kenalan dengan calon istri Sebastian.’


 


Kirana mengangguk dan memeluk mommy Amelia sambil memberikan ciuman di pipi.


 


‘Mommy hati-hati di jalan.”


 


Kirana melambaikan tangan sampai mobil semakin jauh dari lobby, Steven yang berdiri di sampingnya lebih banyak diam selama mengantar mommy Amelia.


 


“Aku balik dulu ke ruangan, masih ada pekerjaan,” ujar Steven saat mereka sudah kembali masuk ke dalam rumah sakit.


 


“Aku juga mau kembali ke kamar Raven, “ sahut Kirana dengan sikap santai.


Keduanya tetap berjalan bersama sampai di dalam lift, namun tidak ada percakapan.


Steven turun di lantai 3, dimana ruang pribadinya sebagai pemilik rumah sakit berada, dan Kirana melanjutkan sampai ke lantai 9


 


 


Sementara di dalam mobil, mommy Amelia mengambil handphonenya dari dalam tas tangan dan menekan nomor seseorang yang sudah sering dihubunginya.


 


“Cari tahu keberadaan Shera dan kepentingannya di Singapura. Jangan lupa tempatkan seseorang yang bisa menjaga calon menantu saya, jangan sampai lengah. Kalau perlu ditempatkan di rumah sakit selama ia berada di sana.”


 


Orang kepercayaan Daddy Richard itu langsung menyanggupi permintaan Mommy Amelia.


Selesai mengakhiri pembicaraan dengan orang kepercayaan daddy Richard, mommy Amelia mengirimkan pesan pada suaminya untuk memberi kabar perkembangan rencana mereka. Tidak lupa, mommy Amelia menitip pesan supaya Sebastian tetap menjalin komunikasi dengan Kirana, sesibuk apapun pekerjaannya.


Pengalaman daddy Richard dan mommy Amelia di masa muda mereka tentang pihak ketiga dalam rumahtangga sudah cukup banyak. Sudah waktunya mewariskan pengalaman itu untuk Sebastian yang sebentar lagi akan membina rumah tangga.


Usia Kirana yang masih cukup muda membuat gadis itu kurang pengalaman, apalagi Sebastian adalah kekasih pertamanya. Daddy Richard dan mommy Amelia akan mendampingi Sebastian dan Kirana sampai keduanya cukup matang dan kuat.


Apalagi yang menjadi bibit orang ketiga adalah orang-orang terdekat, termasuk Steven yang masih termasuk keluarga dekat.


Tidak ada toleransi bagi daddy Richard dan mommy Amelia sekalipun harus berhadapan dengan kakak kandungnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2