
Pernikahan Sebastian dan Kirana sudah berjalan hampir dua bulan. Steven akhirnya bersedia menikahi Shera tanpa pesta sesuai dengan salah satu syarat yang diberikan oleh Steven.
Sejak menikah, Sebastian memilih tinggal di apartemen meski mommy Amelia sudah melarangnya, karena rumah keluarga Sebastian cukup besar bahkan bila Sebastian menambah anak sekalipun.
Dengan alasan ingin menikmati masa bulan madu sebelum mereka memiliki momongan sekalian belajar hidup mandiri, Sebastian akhirnya mendapat ijin dari mommy Amelia untuk tinggal berdua dengan Kirana.
Selama tinggal di apartemen, keduanya juga memilh tidak menggunakan jada ART yang tinggal di dalam tetapi tetap memakai tenaga ART harian. Itu semua adalah permintaan Sebastian dengan pikiran mesumnya tidak ingin terganggu dengan kehadiran orang ketiga di dalam rumah supaya mereka bisa menikmati kemesraan berdua tanpa khawaitr dilihat orang lain.
Namun sudah dua hari ini Sebastian dibuat resah karena Kirana mogok bicara dengannya. Bukan hanya itu, bahkan Kirana juga tidak mau tidur sekamar dengan Sebastian dan memilih kamar kosong yang ada di apartemen. Akibatnya Dion ikut dibuat pusing karena Sebastian membatalkan semua meeting pagi dan baru sampai di kantor sekitar jam 11.
“Honey, buka dong pintunya, dong. Kamu kenapa sih dua hari ini membiarkan aku tidur sendiri ? Kamu nggak kasihan sama aku yang kedinginan dua malam ini ?”
Sebastian sudah memegang kunci cadangan, tapi tidak bisa digunakan karena kunci pintu itu sendiri masih menggantung di lubang kuncinya.
“Honey, aku bersedia mendengarkan semua keluh kesahmu. Aku sengaja tidak ke kantor dan siap menjadi pendengarmu, sayang,” rayu Sebastian di depan pintu.
Pria itu langsung melebarkan senyumnya saat mendengar suara langkah menuju ke arah pintu.
Tidak lama pintu kamar terbuka dan terlihat wajah Kirana yang sedang cemberut dengan bibir mengerucut.
“Tidak ada gunanya kalau kamu hanya jadi pendengar. Aku butuh tindakan nyata, bukan harapan palsu !” omel Kirana dengan wajah emosi yang justru membuat Sebastian ingin tertawa, tapi ditahannya supaya Kirana tidak bertambah marah.
“Tindakan nyata apa yang kamu inginkan dariku ?” Sebastian membungkukan badannya hingga wajah mereka tepat berhadapan berdua.
“Pasti hanya janji-janji surga,” gerutu Kirana.
Sebastian tersenyum dan langsung memeluk istrinya.
”Jangan janji-janji surga, tapi indahnya surga dunia akan kuberikan padamu pagi ini,” bisik Sebastian tepat di telinga Kirana hingga membuat gadis itu bergidik kegelian.
Sebastian mulai memberikan ciuman di bibir Kirana dan tanpa malu wanita itu membalasnya dan mengalungkan tangannya di leher Sebastian. Sayangnya kehangatan di pagi hari itu langsung terhenti kurang dari lima menit karena Kirana melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Sebastian.
“Bee !” pekik Kirana dengan wajah ditekuk. “Aku ini lagi dalam mode marah, lagi kesal sama kamu. Kenapa kamu main cium-cium aku,” omel Kirana dengan cemberut.
Sebastian tidak lagi mampu menahan tawanya. Ia gemas dengan istrinya yang sedang uring-uringan ini. Bahkan wajah emosi Kirana semakin membuat Sebastian ingin memangsanya.
Tanpa bilang apa-apa, Sebastian langsung menggendong Kirana ala bridal styte menuju kamar mereka.
“Bee !” pekik Kirana tapi tidak berani berontak karena takut jatuh berdua dengan Sebastian.
Suaminya itu tidak menjawab hanya mengangkat alis dsn dagunya bergerak dengan senyum menggoda di wajahnya.
__ADS_1
Dengan kemampuannya yang semakin terasah, akhirnya Sebastian mampu membuat Kirana yang awalnya menolak dan mengomel akhirnya pasrah dan menikmati surga dunia pagi ini.
Sebastian menarik Kirana dalam pelukannya setelah hampir satu jam berolahraga di tempat tidur. Kali ini Kirana sudah tidak dalam mode marah melainkan wajah yang terlihat lelah.
“Sekarang ceritakan mana tindakanku yang membuatmu kesal ?” Satu tangan Sebastian menjadi bantal kepala Kirana sementara tangan lainnya mengusap-usap punggung mulus istrinya.
“Aku ingin kerja ! Aku bosan hanya menghabiskan waktu tanpa melakukan sesuatu sambil menunggumu pulang kerja. Belum lagi kalau kamu sedang meeting sampai malam. Aku bisa cepat tua sebelum waktunya,” omel Kirana panjang lebar.
Sebastian tersenyum mendengar permintaan istrinya. Ini bukan yang pertama kalinya. Memang sejak menikah, Kirana dilarang bekerja oleh Sebastian. Pekerjaannya di cafe Feliks ditinggalkan atas permintaan Sebastian, dan sebagai gantinya pria itu memberikan Kirana tambahan uang sebesar gaji yang diperolehnya selama bekerja.
Sebastian tidak ingin Kirana terlalu lelah, belum lagi pria hampir berusia 30 tahun ini sering tidak bisa menahan rasa cemburunya saat Kirana sedang bekerja di cafe. Bukan hanya pemilik cafe yang begitu baik padanya, tapi beberapa pengunjung pria adalah penggemar Kirana yang sering tanpa sungkan meminta Kirana untuk menjadi pelayan mereka selama makan dan minum di situ.
“Memangnya kamu mau kerja apa ?” tanya Sebastian sambil senyum-senyum namun tidak terlihat Kirana.
Posisi Kirana menempel di dada bidangnya yang terbuka. Meski mengomel, tangan Kirana tetap memeluk suaminya bahkan bibirnya sesekali menciumi dada Sebastian.
“Apa saja yang penting bisa menghilangkan kebosananku, Bee.”
“Kalau menemani aku ke kantor selama sampai ada Sebastian junior,mau ?”
Kirana merenggangkan pelukannya lalu mendongak. Ditatapnya wajah suaminya dengan mata berbinar.
“Aku mau, Bee. Aku mau,” Kirana menjawab penuh semangat dengan senyum mengembang di wajahnya.
“Mulai hari ini, ya ?” sahut Kirana dengan senyuman yang makin mengembang.
“Tapi Bee, apakah aku tidak akan mengganggumu kalau hanya duduk manis di ruanganmu tanpa bekerja ?” wajah Kirana berubah sendu.
Sebastian tertawa dan menoel hidung Kirana dengan gemas. Entah mengapa istrinya ini lagi suka merajuk akhi-akhir ini.
“Mana mungkin menggangguku, malah kamu akan menjadi vitamin bagiku,” sahut Sebastian sambil mencium bibir Kirana sekilas.
“Kalau soal pekerjaan, kamu itu kan istri pemilik MegaCyber, jadi suka-suka kamu aja mau kerjain apa selama di kantor. Tidak perlu tandatangan surat kontrak atau perjanjian kerja, karena aku tidak mau kamu jadi karyawan permanen di sana. Aku ingin cepat-cepat punya anak darimu supaya kamu tidak bosan karena sendirian lagi dan punya kesibukan baru,” ujar Sebastian sambil tertawa pelan.
“Memangnya buat anak seperti mama bikin kue ? Tinggal dicampur semua bahan, dikocok mixer lalu dipanggang sampai matang,” gerutu Kirana.
Sebastian tertawa dan menciumi semua bagian wajah istrinya, kebiasaan yang masih dibawanya sejak pacaran sampai menikah.
“Kalau begitu kita harus sering-sering mencampur bahannya dan mengolahnya dengan baik biar semakin cepat jadinya,” posisi Sebastian sekarang sudah mengukung Kirana sambil tersenyum smirk.
Baru saja bibir mereka menyatu, terdengar suara handphone Sebastian yang ada di samping nakas begetar.
__ADS_1
“Bee, handphonemu berbunyi,” Kirana melepaskan ciuman mereka.
“Biarkan saja paling juga Dion, dari kemarin dia bolak balik menelepon.”
Wajah Sebastian sudah kembali mendekat saat handphonenya kembali bergetar. Sambil mendengus kesal akhirnya Sebastian bergeser dan mengambil handphonenya.
Ternyata nama daddy Richard yang terlihat di layar handphonenya.
“Daddy,” ujar Sebastian memperlihatkan handphonenya pada Kirana.
“Cepar diangkat, Bee.”
Belum sempat terangkat, panggilan itu sudah terputus. Sebastian mengetik pesan untuk daddy Richard.
“Bee, coba hubungi balik, mungkin penting,” ujar Kirana sambil mengerutkan dahinya saat melihat Sebastian malah meletakkan handphonenya di nakas.
“Nanti saja, daddy pasti akan mengerti. Aku sudah mengirimkan pesan padanya, nanti aku akan menghubungi kembali.”
Kali ini, bukan hanya dalam posisi tanpa suara, Sebastian malah mematikan handphonenya.
“Aku paling tidak suka kalau bekerja setengah-setengah, harus sampai tuntas. Jadi akan aku tuntaskan pekerjaanku yang tertunda, sayang.”
“Bee !” pekik Kirana saat Sebastian sudah kembali mengukungnya. “Ini sudah siang,” protes Kirana.
“Mau pagi, siang atau malam, sudah jadi kebiasaanku mengerjakan sesuatu sampai tuntas.”
Tanpa menunggu jawaban atau protes Kirana, Sebastian kembali memberikan ciuman hangat di bibir istrinya dan menyatukan cinta mereka yang tidak akan ada habisnya.
Sementara di rumah keluarga Richard Pratama, mommy Amelia terlihat mengomel membaca pesan yang dikirim oleh Sebastian.
Tadi bukan daddy Richard yang menghubungi, melainkan mommy Amelia yang sengaja menggunakan handphone suaminya.
Mommy sempat mendengar pembicaraan daddy Richard dengan Echi yang memberitahukan kalau Sebastian merubah semua jadwal meeting paginya selama minggu ini karena ada keperluan pribadi.
Khawatir terjadi sesuatu dengan anak dan menantunya, mommy Amelia sengaja menghubungi Sebastian langsung dan bukan Kirana.
Bukannya mendapat jawaban langsung dari mulutSebastian, malah pesan singkat yang membuat mommy Amelia menggelengkan kepala.
Sebastian : nanti aku hubungi kembali, Dad. Lagi tanggung produksi menambah anggota keluarga untuk daddy dan mommy.
Meski sempat menggerutu, namun senyuman memgembang di wajah wanita baya yang masih terlihat cantik itu.
__ADS_1
Senangnya hati mommy Amelia karena amelihat Sebastian begitu bahagia dengan pernikahan keduanya. Belum lagi semangat mereka ingin segera memberikan cucu untui kedua orangtuanya, membuat hati mommy Amelia jadi tidak sabaran.