Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 36 Pertemuan di Mal


__ADS_3

Sudah 3 hari ini Sebastian pergi dan hampir tidak memberi kabar. Bahkan di jam 1 pagi, pesan yang dikirim Kirana tetap centang satu.


Pertemuan dengan Sebastian terakhir 4 hari yang lalu, sehari sebelum keberangkatannya, itupun hanya 30 menit di pagi hari.


Kirana mengirim banyak pesan pada Sebastian yang lama baru terbaca, dan semua jawabannya sama hanya 1 kalimat : I LOVE U, HONEY ❤️.


Kirana menggerutu saat pagi ini lagi-lagi hanya jawaban itu yang ia dapatkan. Sepertinya Sebastian sudah membuat kalimat itu sebagai satu jawaban otomatis di aplikasi pesannya.


Akhirnya Kirana memutuskan untuk menerima ajakan Echi dan Marsha untuk pergi ke Mal. Selain menghilangkan rasa kesalnya, Kirana baru menyadari kalau sudah lama tidak menginjakan kaki di mal untuk sekedar cuci mata atau berbelanja.


Sebastian tidak terlalu suka suasana mal terutama di akhir pekan. Selain karena ramai, kemungkinan bertemu dengan kenalan bisnis atau kliennya lebih besar. Pria itu malas jika harus mengisi waktu santainya dengan obrolan seputar pekerjaan. Bagi Sebastian, akhir pekan adalah waktu mengistirahatkan otaknya yang lelah berpikir dari Senin sampai Jumat.


Jam 12 siang, Kirana sudah melihat Echi yang membawa kedua anaknya bersama babysitter sedang berdiri dekat lobby sedang membuka baby stroller.


Marsha datang 15 menit kemudian, setelah Kirana dan Echi beserta anak-anaknya sudah menunggu di foodcourt.


Suasana Mal cukup ramai, tetapi masih cukup tempat untuk mereka duduk dan makan di sana.


“Kamu sudah bilang sama Pak Bas kan, Ki ?” Tanya Echi saat mereka sudah mulai makan.


“Nggak bilang,” jawab Kirana santai.


“Elo yakin, Ki ?” Marsha ikutan buka suara.


“Biar saja dulu, sudah 3 hari ini kirim pesan juga susah, hanya centang satu. Dan sepertinya Pak Bas tidak punya waktu untuk membaca pesanku. Dari sekian banyak pesan yang aku kirim, selalu hanya 1 kalimat balasannya i love you,” Kirana tertawa getir.


“Yang sabar, Ki,” Echi menepuk-nepuk bahu Kirana. “Calon suami sedang tugas di daerah yang memang belum secanggih Jakarta. Mungkin susah sinyal.”


Kirana tersenyum dan menggangguk. Mulutnya sedang mengunyah makanan.


“Gue yakin kok kalau Pak Bas itu pria setia,” celetuk Marsha.


”Sha, jangan jadi kompor deh !” Omel Echi sambil melotot. Kirana pun tertawa.


“Nggak kepikiran ke sana kok, Mbak Sha. Cuma berasa sepi aja. Biasanya kan Pak Bas rajin kirim pesan atau telepon. Ini sudah hampir 4 hari, hanya satu jawaban.”


Marsha dan Echi tertawa sambil berpandangan.


“Duh yang lagi kangen berat sama calon suami,” ledek Marsha.


“Ih Mbak Sha, belum calon suami dong, belum resmi dilamar,” elak Kirana, sementara kedua seniornya masih tertawa.


Kirana baru saja keluar dari toilet aetelah selesai makan. Marsha sedang menemani Echi yang membawa kedua anaknya ke area permainan anak-anak di lantai dasar. Kirana berdiri di pilar mal sambil menghubungi Marsha untuk janjian bertemu.

__ADS_1


“Ma..ma..” Kirana terkejut saat melihat ke bawah kakinya saat melihat bocah lelaki sedang menarik-narik ujung roknya.


Kirana mematikan telepon dan dahinya berkerut sambil menatap bocah lelaki yang tersenyum dan memanggilnya mama.


Kirana berjongkok dan bocah lelaki itu langsung merangkul lehernya dan merebahkan kepalanya di bahu Kirana.


“Raven,” gumam Kirana.


“Ma.. ma…” Raven mengangkat kepalanya dan menatap wajah Kirana sambil tertawa. Kedua tangannya masih bertautan di leher Kirana.


“Raven… Raven…” Kirana menoleh dan mendapati seorang babysitter bersama Tante Mira sedang mencari-cari bocah lelaki yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kirana.


“Tante Mira !” Kirana memanggil wanita baya yang diremuinya di rumah sakit waktu itu. Raven sendiri sudah berada dalam gendongannya.


Sebastian yang sempat emosi waktu itu, akhirnya bercerita pada Kirana kalau yang mereka temui di rumah sakit adalah orangtua Shera, Om Herman dan Tante Mira.


Melihat dari usia bocah lelaki yang digendong oleh Kirana saat itu, Sebastian yakin kalau bocah lelaki iti adalah anak Shera.


“Apa kabar ?” Sapa Tante Mira saat Kirana sudah berdiri di depannya dan cucunya berada dalam gendongan wanita itu.


“Baik Tante. Maaf kalau waktu itu saya belum sempat memperkenalkan diri. Nama saya Kirana, Tante.”


Kirana mengulurkan tangan kanannya sementara tangan kirimya menyangga Raven yang masih digendongnya.


“Om tidak ikut hari ini, Tante ?”


“Tidak, sedang main golf dengan teman-temannya,”jawab Tante Mira sambil tersenyum.


“Tante hanya bertiga ?”


“Shera sedang berbelanja.”


“Kamu sendiri sedang bersama Sebastian ?”


Kirana menggeleng sambil tersenyum.


“ Pak Bas… maaf … maksud saya Sebastian sedang di luar kota, Tante. Saya lagi jalan-jalan santai dengan teman-teman kantor.”


Babysitter yang merawat bocah itu sedang membujuk Raven untuk pindah ke dalam gendongannya, tetapi bocah itu menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya.


Handphone Kirana berbunyi. Dengan satu tangan dijawabnya panggilan dari Marsha, dan Kirana pun memberikan penjelasan singkat kondisi dan posisinya berada saat ini. Echi dan Marsha memutuskan untuk mendatangi Kirana.


“Nyonya Mira,” dengan wajah terkejut, Echi menyapa wanita yang sedang berbincang dengan Kirana.

__ADS_1


Echi dan Marsha pun menganggukan kepala mereka pada Tante Mira yang mereka kenal cukup lama.


“Apa kabar Echi ? Marsha ?” Tante Mira mengulurksn tangannya dan dibalas bergantian oleh Echi dan Marsha.


“Kami baik dan masih menjadi sekretaris Tuan Richard, Nyonya,” sahut Marsha sambil terkekeh.


“Loyalitas kalian memang tidsk perlu diragukan,” Tante Mira tertawa sambil memberikan jempolnya.


“Sendiri saja, Nyonya ?” Tanya Echi.


“Dengan Shera,” jawab Tante Mira. “Jangan panggil Nyonya dong, sama saja dengan Kirana, panggil tante,” ujar Tante Mira sambil tertawa pelan.


“Belum biasa Nyonya… eh Tante.” Sahut Marsha dengan canggung membuat Tante Mira kembali tertawa.


“Ini anak ….?” Echi menunjuk Revan yang merangkul leher Kirana dengan sebelah tangannya.


“Anaknya Shera,” Tante Mira langsung menyahut.


Echi dan Marsha memandangi Raven yang sedang tertawa sambil menjahili Kirana dengan menoel-noel hidung dan dagu gadis itu. Kirana pun membalas sambil tertawa.


Kedua senior Kirana ini tampak mengerutkan dahi saat mengamati wajah Raven.


“Maaf kalau sudah mengganggu acara kalian,” Tante Mira memecah suasana yang sempat hening.


“Raven, ayo gendong sama sus, kita beli es krim,” bujuk Tante Mira dan dijawab dengan gelengan oleh bocah itu.


“Raven sama oma dan sus dulu ya,” Kirana ikut membantu membujuk, tapi lagi-lagi bocah itu menggeleng dan kembali memeluk leher Kirana dengan erat.


“Ma…ma…” panggilan Raven yang terpatah-patah kembali membuat Echi dan Marsha sedikit kaget.


Kirana dan Tante Mira masih berusaha membujuk Raven yang mulai mengeluarkan air matanya.


Marsha yang sudah sering menghadapi anak-anak Echi langsung memutar bola matanya. Senjata pamungkas anak-anak.


Echi pun akhirnya turun tangan ikut membantu. Tapi bujukan beli mainan pun tidak mempan bagi Raven.


“Raven !”


“Nana !”


Kedua panggilan bersamaan itu membuat kesibukan membujuk Raven terhenti. Semuanya menoleh ke arah suara.


Terlihat Shera sedang berdiri dengan beberapa kantong belanjaan dan Steven ada di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2