Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Kirana tidak menemukan Sebastian di kamar saat ia baru saja selesai mandi. Waktu menunjukan hampir jam enam sore. Kirana yang malas masak hari ini berniat memesan makanan lewat aplikasi.


Kirana keluar kamar dan mendapati Sebastian sedang rebahan di sofa. Perlahan ia mendekati suaminya yang memejamkan mata dengan wajah yang terlihat cukup lelah. Kirana pun menghela nafas panjang.


Tidak ingin menganggu istirahat suaminya, akhirnya Kirana memesan makanan tanpa berdiskusi dengan Sebastian. Sekitar 30 menit kemudian, pesanan makanan dengan menu jepang lagi sudah tiba di lobby apartemen.


Kirana pun bergegas turun untuk mengambil pesanannya, karena kebijakan dari apartemen, pengantar makanan hanya boleh mengantar sampai di resepsionis.


“Bee, makan dulu. Aku sudah pesankan makan,” ujar Kirana saat masuk kembali dan mendapati Sebastian sudah duduk di sofa.


Pria itu beranjak bangun dan menuju kamar mandi yang ada di luar untuk membasuh wajahnya. Sesudah itu ia menyusul Kirana yang sudah lebih dulu menyiapkan makanan di meja makan.


Selama makan Sebastian masih dalam mode diamnya diam dan tidak bicara sepatah kata pun pada Kirana, membuat wanita itu bertambah kesal. Bahkan selesai makan pun Sebastian tetap dalam aksi mogok bicaranya.


Selesai mencuci piring dan merapikan dapur, Kirana mendekati dan duduk di sebelah Sebastian yang sedang menonton televisi.


“Bee, kok kamu jadi yang ngambek seperti ini ?” tanya Kirana dengan nada ketus.


Sebastian diam saja, seolah tidak mendengar ucapan Kirana.


“Bee !” Kirana memukul bahu suaminya sampai akhirnya pria itu menoleh.


“Aku yang dibuat kesal sama ulat bulu, kamu yang mogok bicara begini.”


Sebastian hanya menghela nafas lalu kembali lsnjut menonton televisi.


Dengan agak kasar Kirana merebut remote yang dipegang Sebastian dan mematikan televisi. Sebastian kembali menoleh dengan wajah yang mulai berubah kesal.


“Aku sedang capek Kirana, bukan waktunya kita berdebat soal siapa yang benar atau salah.” Sebastian beranjak bangun namun Kirana menarik tangan suaminya dengan kasar hingga Sebastian duduk kembali ke sofa.


“Kirana !” bentak Sebastian dengan wajah kesal.


“Kenapa ? Mau marah lagi ? Kamu lebih percaya pada laporan ulat bulu kamu daripada mendengar penjelasan istrimu sendiri ?” Kirana balik bertanya dengan nada tinggi juga. Bahkan badannya condong ke arah Sebastian sambil bertolak pinggang.


“Bukan masalah laporan Deana yang membuat aku kesal !” Sebastian kembali menjawab dengan nada tinggi. “Tapi sikapmu yang selalu lari pada Steven setiap kali sedang ada masalah denganku !”


“Ooo jadi itu yang namanya Deana,” ujar Kirana dengan nada sinis. “Dan sekarang kamu alihkan masalah kita pada Steven. Iya ?”

__ADS_1


“Bukan mengalihkan, tapi kenyataan !” Sebastian menatap tajam ke arah Kirana. “Kenapa kamu seperti sengaja menempel pada Steven setiap kali sedang bermasalah denganku ? Aku sendiri tidak pernah menanggapi para wanita itu termasuk Deana !”


“Aku tidak sengaja bertemu dengan Steven !” Kirana mulai berteriak. “Bukan aku yang mengatur kehadiran Steven tiap kali kita bermasalah !”


“Dan seharusnya kamu tidak memilih menerima ajakannya untuk makan siang bersama ! Kalau hatimu sedang kesal, bukankah lebih baik kamu pulang dan beristirahat untuk menenangkan pikiran, bukannya malah pergi mencari ketenangan dengan pria lain !”


“Tapi pria itu sepupumu sendiri, Bastian !” Kirana yang makin emosi hanya memanggil nama suaminya tanpa embel-embel apapun.


“Dan sepupuku itu adalah pria yang masih sangat mencintaimu sampai detik ini !” Sebastian beranjak bangun namun masih menatap tajam ke arah Kirana.


Kirana pun ikut bangun dan tanpa gentar berdiri berhadapan dengan Sebastian masih sambil bertolak pinggang.


“Dan aku tidak pernah mencintainya sekalipun,” desis Kirana dengan mata mulai berembun.


“Jadi kamu pikir kalau hanya Steven yang mencintaimu kamu boleh seenaknya menjadikannya teman curhatmu, tempat pelampiasan kekesalanmu karena masalah dengan suamimu. Begitu ?”


Kirana mengepalkan kedua tangannya di samping dan menggigit bibir bawahnya.


“Apa kamu pikir perasaan Steven akan menerima begitu saja kesedihan hatimu ? Ungkapan kekesalanmu karena masalah di antara kita adalah celah baginya untuk merebut hatimu, mencari simpatimu yang lama-lama akan membuatmu lebih nyaman dengannya. Jangan bersikap naif Kirana ! Aku sangat amat yakin kalau Steven masih sangat mencintaimu.”


Kirana terdiam, kepalan tangannya mulai terbuka. Ucapan Sebastian memang benar, namun gengsi bagi Kirana untuk mengiyakan, bahkan di saat makan di restoran tadi Steven sempat mengatakan perasaannya juga.


Sebastian berdecih dan mendengus kesal sambil menyugar rambutnya dengan kasar.


“Lalu apa kamu juga bisa tenang kalau saat ini aku malah lari ke Renata atau Deana atau bahkan Shera saat ada masalah denganmu ?” tanya Sebastian dengan tegas dan senyuman sinis.


Kirana tercengang, hatinya langsung panas mendengar ucapan Sebastian. Tentu saja ia tidak akan menerima kalau sampai tahu Sebastian malah lari ke salah satu wanita penggemarnya, bukan kepada Bara atau Samuel atau Evan atau bahkan Dion.


“Supaya kamu tahu Kirana, aku tidak pernah memberikan celah sedikitpun untuk wanita-wanita yang kamu sebut ulat bulu itu ! Masalah sikapku dengan Renata saat di rumah sakit lebih pada rasa terkejut karena harus bertemu lagi dengannya setelah sekian tahun dia menghilang dari kehidupanku. Membayangkan aksi nekat yang pernah dilakukan Renata dan Reina, rasanya aku harus berpikir keras bagaimana kali ini menghadapinya jika mereka menggila lagi. Apalagi sekarang aku sudah tidak sendirian, sudah ada kamu sebagai istriku. Para wanita semacam itu pasti akan menyerangmu lebih dahulu karena menganggap kamu adalah kelemahanku.”


“Tapi aku tidak melakukan apapun dengan Steven !” sahut Kirana kembali dengan nada keras.


“Kami makan di tempat terbuka, tidak sembunyi-sembunyi bahkan tidak hanya berdua. Ada Raven san babysitternya,” lanjut Kirana masih dengan nada ketus.


Sebastian berdecih dengan sinis seolah merendahkan ucapan Kirana.


“Dan membiarkan anak Steven memanggilmu mama dan memanggil lelaki itu papa ? Apa kamu ingin menempelkan tulisan BUKAN SUAMI ISTRI di bajumu ? Orang akan menganggap kalian keluarga bahagia hanya dengan melihat tanpa perlu bertanya.”

__ADS_1


Kirana menghela nafas. Ia masih berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.


“Jangan terlalu naif menganggap Steven akan baik-baik saja dan membiarkanmu bersedih karena masalah denganku. Bukan tidak mungkin ia akan berubah pikiran dan berniat merebutmu dariku, karena aku tahu kalau ia terpaksa menikahi Shera. Pernikahannya dengan Shera hanya karena tanggungjawab dan permintaan uncle Raymond. Kalau sampai hal ini terjadi, aku tidak akan menahanmu lagi, aku akan melepasmu untuk Steven.”


Kirana membelalakan mata karena tidak percaya dengan ucapan Sebastian yang terakhir. Apa begitu mudah bagi Sebastian untuk melepaskannya hanya demi Steven yang tidak pernah Kirana cintai ?


Sebastian kembali menghela nafas dan melewati Kirana begitu saja. Ia mengambil jaket yang ada di lemari dekat pintu keluar dan menyambar kunci mobilnya lalu keluar meninggalkan apartemen.


Kirana melirik ke arah meja depan sofa dimana handphone Sebastian masih tergeletak di sana.


Kirana menghempaskan tubuhnya ke sofa dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu mulai menangis.


Ia merasa jadi seorang istri yang egois karena hanya fokus pada wanita-wanita yang selalu mendekati suaminya tanpa berusaha percaya pada Sebastian dan mencoba berdiskusi untuk menghadapinya bersama-sama.


Tiba-tiba ketakutan meliputi hatinya. Bagaimana kalau Sebastian malah menemui salah satu ulat bulu itu dan menjadikan mereka teman curhat, lalu akhirnya mereka jadi dekat, lalu…. Kirana menggeleng, enggan membayangkan pikiran buruknya.


Ia merebahkan diri di sofa dan mulai menangis sesunggukan. Bahkan ia tidak bisa menanyakan keberadaan Sebastian karena handphone suaminya ditinggal di apartemen.


Kirana masih menangis dengan pikiran buruknya dan hatinya yang tidak karuan. Sepertinya bukan sekedar karena hormon kehamilannya, tapi usia dan pengalamannya dalam sebuah hubungan membuatKirana harus belajar menjadi lebih dewasa.


Entah berapa lama Kirana menangis, hingga akhirnya ia tertidur di sofa.


Sebastian membuka apartemen setelah beberapa saat mencari angin segar untuk menenangkan pikirannya.


Sebastian sempat berdiam diri di dalam mobil sambil menangkup wajahnya di setir. Ia tidak berniat mendatangi siapapun saat ini.


Saat menyadari kalau ia tidak membawa handphone dan dompet serta pakaiannya hanya celana pendek rumah dan kaos oblong, Sebastian memilih untuk membeli kopi hangat di cafe yang ada di dekat lobby apartemen. Untung saja masih ada uang selipan di laci mobilnya.


Setelah pikirannya sudah tenang kembali, Sebastian memilih kembali ke apartemennya karena tidak ingin terlalu lama meninggalkan Kirana sendirian. Apalagi saat ia pergi tadi, suasana hati Kirana sedang tidak baik-baik saja.


Dilihatnya Kirana tertidur di sofa dengan sisa-sisa air mata yang masih menempel di wajahnya. Istrinya tertidur sambil menggenggam handphone milik Sebastian.


Sebastian menghela nafas, ia menyesal telah membentak Kirana beberapa kali. Sebastian sampai lupa kalau saat ini istrinya sedang hamil muda, suasana hatinya sering berubah-ubah dan terkadang merasa tidak nyaman.


Perlahan ia mengangkat tubuh Kirana untuk memindahkannya ke dalam kamar. Diciumnya kening Kirana cukup lama setelah istrinya sempat menggeliat saat tubuhnya sudah di atas ranjang dan akhirnya kembali tidur dengan tenang.


Meski hati Sebastian sudah tidak sekesal tadi, ia tetap memilih tidur di sofa untuk benar-benar menenangkan hatinya yang gundah dengan masalah Steven.

__ADS_1


Tidak lama Sebastian pun tertidur di sofa dengan posisi yang kurang nyaman. Minuman kopi yang sempat dinikmatinya tidak mempengaruhi rasa kantuk yang menyerang karena kelelahan fisik dsn hatinya.


__ADS_2