Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Pamitan


__ADS_3

Sebastian sedikit uring-uringan di ruangannya dan membatalkan beberapa pertemuan internal, membuat Dion sedikit bingung menghadapinya.


 


“Ada masalah, Pak Bas ? Apa urusan Rumah Sakit Pratama belum bisa ditangani ?” tanya Dion hati-hati saat keduanya sedang duduk berhadapan di meja kerja Sebastian untuk mengurus penandatanganan beberapa dokumen.


 


“Ini lebih bahaya dari hacker,” gerutu Sebastian sambil menggerakan penanya di bagian yang sudah ditandai oleh Dion.


 


“Apa Aldo dan timnya tidak bisa menangani Pak ? Atau mungkin Pak Bara, Pak Evan dan Pak Samuel perlu turun tangan ?”


 


Sebastian menghela nafas dan meletakan penanya dengan sedkit kasar. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kusi kerjanya.


 


“Kirana sedang bertemu dengan Steven,” akhirnya Sebastian mengungkapkan sumber masalahnya membuat Dion bisa menarik nafas sedikit lega.


 


Rupanya bukan masalah pekerjaan yang membuat hati bossnya ini gundah gulana, tapi masalah cinta segitiga yang sepertinya belum juga ada endingnya.


 


“Kenapa Bapak tidak ikut menemani Kirana, eh maksud saya Ibu Kirana,” Dion memberi saran dan meralat panggilannya.


 


Melihat mood Sebastian yang sedang kurang bagus dan sepertinya membutuhkan pelampiasan, akan lebih baik bagi Dion tidak mencari gara-gara daripada kena semprot hanya karena memanggil istri bossnya dengan nama saja.


 


“Masalahnya daddy yang meminta saya  untuk tidak ikut dulu dan boleh menyusul tapi dibuat seolah-olah tidak sengaja bertemu,” ujar Sebastian sambil menarik nafas panjang.


 


“Kalau begitu kenapa tidak menunggu di dekat tempat mereka janjian, Pak ? Setelah setengah jam Pak Bas bisa pura-pura muncul dan langsung duduk bergabug,” usul Dion.


 


Sebastian mengerutkan dahi dan menatap ke arah asistennya itu. Dion sempat ketar-ketir, takut salah memberi usulan karena sudah bisa dipastikan kalau pria di depannya akan mengeluarkan semburan api kalau sampai usulan Dion malah menyulut emosi.


 


“Minta Tomo bersiap di lobby,” wajah Sebastian tidak lagi ditekuk, malah berubah sedikit cerah. Dion mengangguk sambil menarik nafas lega.


 


“Selesai menandatangani dokumen ini, kita langsung menyusul mereka,” ujar Sebastian dengan penuh semangat mengambil dokumen lain yang perlu ditandatanganinya.


 


“Kita, Pak ?” Dion memastikan ucapan Sebastian.


 


“Iya kita,” tegas Sebastian. “Kalau saya sampai lupa diri, kamu harus mencegah saya memukul Steven supaya saya tidak kena tuntutan, tapi kalau sampai Steven yang memukul saya sampai babak belur, kamu membantu saya menghajarnya.”


 


Dion menahan tawanya namun hanya berani menganggukan kepalanya. Boss nya ini memang sudah bucin berat pada istrinya, sampai kadang tingkahnya susah dipahami kalau sudah menyangkut urusan cemburu.


 


Tigapuluh menit kemudian, keduanya sudah berada di dalam mobil yang disopiri oleh Pak Tomo dan siap membawa mereka menuju rumah makan Jepang yang pernah didatangi Steven dan Kirana saat bertemu dengan Deana.


 


**


**


 


Sementara di restoran, Kirana dan Steven mulai menikmati pesanan mereka yang baru saja disajikan. Terlihat Steven begitu perhatian pada Kirana hingga siapapun yang melihatnya pasti mengira kalau dokter muda itu adalah suami wanita yang sedang hamil besar itu.


 


“Hal penting apa yang mau kamu sampaikan Steve ?” tanya Kirana sambil menikmati sushinya.


 


“Aku mau pamit Nana,” sahut Steven.  “Papa sudah menyetujui dan aku sudah menandatangani surat persetujuan untuk ikut dalam tim sukarelawan ke Papua.”


 


“Lalu bagaimana dengan Raven ?”


 


Kirana tidak terkejut sama sekali karena Steven pernah memberitahukan soal rencananya ini dan bukan Shera yang menjadi pemikiran Kirana melainkan bocah berusia tiga tahun yang baru saja bahagia karena memiliki seorang ayah, sekarang akan ditinggal kembali entah untuk berapa lama.


 


“Raven masih memiliki kedua opa dan omanya yang pasti akan merawat dan memberikan perhatian untuk mereka,” sahut Steven sambil tertawa pelan. “Mama sudah mulai menerima Raven sebagai cucunya dan sering bergantian merawat bocah itu di rumah orangtuaku.”


 


“Lalu Shera ?”


 


“Aku juga nggak tahu,” Steven menggeleng. “Dia jarang pulang dengan alasan sibuk pekerjaan dan lebih senang memilih pulang ke rumah orangtuanya.”


 


“Apa kalian tidak punya rumah sendiri ?” Kirana mengerutkan dahinya.

__ADS_1


 


“Aku sudah menyediakan apartemen untuk kami tempati bersama Raven dan menyediakan pelayan untuk membantu Shera, tapi tidak ada perkembangan dalam hubungan kami.”


 


“Mungkin karena sikapmu masih terlalu dingin padanya, Steve. Terimalah kenyataan kalau sekarang Shera adalah istrimu, ibu dari Raven yang adalah anakmu juga.”


 


Steven terdiam dan menikmati udon-nya tanpa mau menanggapi ucapan Kirana. Sampai saat ini, memasuki usia enam bulan pernikahannya dengan Shera, Stven masih belum bisa membuka hatinya untuk wanita itu.


 


Kirana ikut diam dan masih menikmati sushinya. Sejak tadi ia menahan diri untuk tidak makan berlebihan mengingat usia kandungannya yang makin membesar, memasuki usia 30 minggu. Kalau memungkinkan ia ingin melahirkan normal  karena itu perlu menjaga berat badan bayinya agar tidak berlebihan.


 


Dua minggu lalu setelah acara tujuh bulanan, Kirana sudah memeriksakan diri kembali ke dokter Wanda dan terlihat kalau kedua bayi mereka sudah hampir mencapai berat badan yang cukup.


 


“Kamu semakin cantik, Nana,” ucap Steven memecah keheningan.


 


“Tentu saja istriku semakin cantik apalagi sebentar lagi akan menjadi mami dua penerus Sebastian Pratama.”


 


Kirana terkejut saat melihat suaminya sudah berdiri di samping meja mereka. Tanpa sungkan Sebastian merangkul Kirana lalu mencium kening istrinya dan duduk di bangku sebelah Kirana.


 


Steven tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Terlihat kalau Sebastian begitu posesif pada istrinya dan tingkat kebucinan sepupunya ini masuk dalam level yang cukup tinggi.


 


“Kamu kok bisa ada di sini, Bee ? Daddy bilang kamu ada meeting sampai sore ?” Kirana menatap suaminya sambil mengangkat kedua alisnya.


 


“Ada perubahan tempat meetingnya di dekat-dekat sini dan bisa selesai lebih awal, makanya aku langsung menyusul biar bisa sekalian makan siang sama kamu.”


 


“Jangan bilang kamu sengaja menyusulku ?” Mata Kirana menyipit menelisik wajah suaminya.


 


Firasatnya mengatakan kalau suaminya yang posesif ini pasti sengaja menyusulnya kemari, apalagi bisa mendadak datang tanpa Dion.


 


“Jangan berprasangka buruk pada suami sendiri,” sahut Sebastian santai sambil mengambil sumpit dan ikut menikmati sushi yang ada di depan Kirana.


 


 


“Tuh kan kamu lihat sendiri kalau aku datang bersama Dion. Mana aku berani membantah permintaan daddy untuk membiarkanmu bertemu dengan Steven,” ujar Sebastian dengan muka dramanya melirik ke arah Dion.


 


Dion menyapa Steven dan Kirana lalu berbicara sebentar dengan Sebastian soal pekerjaan.


 


“Kalau meeting sore ini sudah dibatalkan kamu langsung balik kantor Nanti saya bisa naik taksi dengan Kirana,” ujar Sebastian pada asistennya.


 


Dion mengangguk dan langsung pamitan dengan ketiga orang yang ada di depannya.


 


Padahal seharian ini memang tidak ada meeting dengan pihak luar, hanya dengan internal MegaCyber dan jadwalnya sudah diatur sebelum makan siang, namun dibatalkan karena Sebastian sedang galau.


 Setelah Dion pergi, Sebastian memanggil pelayan untuk memesan menu makan siangnya dan tetap duduk di situ bersama Steven dan Kirana.


 


“Apa ada hal penting yang mau kamu bicarakan dengan istriku, Steve ?” tanya Sebastian.


 


“Sudah aku sampaikan tadi, Bas. Aku akan menerima tawaran tugas di Papua sebagai tenaga  sukarelawan. Kerjasama beberapa departemen di Indonesia dengan WHO dan UNICEF.”


 


“Sepertinya bakal lama kamu tugas di sana, Steve ?” tanya Sebastian tanpa mampu menutupi wajah bahagianya karena istrinya akan jauh dari penggemar setianya ini.


 


“Belum tahu, Bas. Kalau di perjanjian, penugasannya hanya setahun.”


 


“Aku tadi sempat bicara dengan Steven mengenai Raven, Bee. Kasihan bocah itu. Lagi senang-senangnya karena sekarang punya papa, harus  ditinggal lagi sama papanya cukup lama, jauh juga jaraknya, “ ujar Kirana dengan suara sendu.


 


“Kan masih ada Shera, Honey. Dia itu kan ibu kandungnya,” sahut Sebastian mengelus kepala istrinya dengan sayang.


 


“Sudah hampir sebulan ini Shera jarang menampakan dirinya, Bas. Dia hanya mengirimkan pesan kalau sedang sibuk dengan pekerjaannya.”


 


Sebastian mengerutkan dahinya, teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu saat ia dan Kirana membantu Shera melepaskan diri dari orang-orang yang mengejarnya.

__ADS_1


 


“Kamu yakin dia sibuk dan bukan melarikan diri ?” tanya Sebastian dengan mata menyipit.


 


“Maksud kamu gimana, Bas ?”


 


Kirana juga sempat menautkan kedua alisnya mencoba mencerna ucapan suaminya. Matanya terbuka lebar saat teringat bagaimana situasi pertemuan terakhirnya dengan Shera.


 


“Sepertinya Shera sedang ada masalah dengan kliennya, Steve,” ujar Kirana. “Beberapa waktu yang lalu, aku dan Mas Bas membantunya kabur dari kejaran orang.”


 


Steven hanya tersenyum tipis dan meletakan sumpitnya. Ia bahkan dengan santai mengelap mulutnya dengan tisu.


 


“Aku tidak terlalu tahu dan tidak mau tahu urusan pekerjaan Shera  selama ia tidak berinisiatif untuk menceritakannya padaku. Sudah aku katakan padanya sejak awal, meskipun status kami adalah suami istri yang sah, tapi entah sampai kapan aku belum bisa menganggapnya sebagai istriku.”


 


“Jangan jadi pengecut, Steve,” tegur Sebastian. “Biar bagaimana saat dia sudah sah menjadi istrimu, masalahnya adalah masalahmu juga. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Shera, bukan masalah dirimu yang harus dipikirkan, tapi Raven yang statusnya anak kalian berdua.”


 


Steven hanya terdiam sambil menikmati teh hangatnya perlahan. Sampai saat ini hatinya belum mampu menerima Shera sebagai istrinya.


 


“Akan aku pertimbangkan nasehat kalian,” ujar Steven sambil tersenyum dengan sedikit terpaksa. “Aku tidak ingin merusak tujuan awalku bertemu dengan Kirana hari ini. Dan kebetulan kamu juga ada di sini, aku ingin pamit dan jangan lupa doakan aku di tempat tugas yang baru.”


 


“Kapan berangkatnya, Steve ?” tanya Kirana.


 


“Inginnya sih nunggu sampai kamu lahiran. Aku ingin jadi dokter yang akan mengurus anak-anak kalian untuk pertama kalinya saat mereka menghirup udara dunia.”


 


“Tidak boleh !” tegas Sebastian. “Aku sudah meminta tante Wanda untuk mencarikan dokter anak perempuan. Atau minimal bukan kamu yang menjadi dokter anaknya.”


 


Raut wajah Sebastian berubah sedikit sangar. Dia tidak rela membiarkan Steven bersama istrinya pada saat melahirkan. Sekalipun Steven seorang dokter dan terbiasa dengan anatomi manusia, tapi untuk Kirana, Sebastian tidak rela membiarkan sepupunya itu mengintip istrinya.


 


“Bee, Steven ini kan dokter anak, bukan obgyn,” ujar Kirana sambil merangkul lengan suaminya.


 


“Boleh jadi dokter anak-anak kita setelah mereka lahir, tapi tidak boleh ikut sebagai tim dokter saat proses melahirkan berlangsung,” tegas Sebastian dengan wajah yang tidak bisa terbantahkan.


 


“Dasar duda posesif !” ledek Steven sambil tertawa.


 


“Bagaimana aku bisa menghapus rasa curigaku padamu. Aku tahu kalau kamu masih belum bisa menghapus nama Kirana dari dalam hatimu.”


 


“Bee !” potong Kirana sambil melotot menatap suaminya, namun Sebastian mengabaikannya dan tetap menatap Steven dengan wajah tegas.


 


“Jadi aku tidak rela kamu dekat-dekat dengan istriku pada saat ia melahirkan. Cukup kamu ada di luar saja dan hanya aku satu-satunya suami Kirana yang boleh mendampinginya. Lebih baik kamu pikirkan saja masalah Shera. Siapa tahu dengan kesibukan belajar mencintai Shera kamu bisa mengikis habis perasaanmu pada istriku.”


 


“Bee,” protes Kirana kembali. Kali ini Sebastian menoleh dan memandang Kirana.


 


“Kalau memang Steven sudah tidak punya perasaan apapun padamu, untuk apa dia sampai menemui daddy dan meminta bantuan daddy membujuk aku memberikan ijin padanya bertemu berdua denganmu ? Tujuan utama Steven adalah pamit denganmu. Lalu apa masalahnya kalau aku ikut juga hadir bersamamu, apalagi hubungan kami adalah sepupu dekat.”


 


Kirana hanya menghela nafas tidak mampu membantah ucapan Sebastian. Apa yang yang dikatakan Sebastian memang betul, dan Kirana pasti akan berpikir yang sama kalau sampai ia berada di posisi Sebastian.


 


“Dan aku sangat senang kamu menyusulku kemari, Bee,” bisik Kirana dengan suara mesra. “Meski aku tahu kamu berbohong dengan semua jadwal meetingmu. Aku sudah menyogok Mbak Widya dan sebagai sesama wanita yang memiliki suami, sudah pasti Mbak Wid lebih memilih membantu daripada membohongiku.”


 


Sebastian menatap istrinya yang sudah menjauhkan wajahnya dengan senyuman penuh cinta. Diusapnya pipi Kirana tanpa mempedulikan wajah kesal Steven yang melihat kemesraan mereka berdua.


 


“Terima kasih karena membiarkan aku membohongimu,” bisik Sebastian di telinga Kirana dengan suaea sedikit mendesah, membuat istrinya itu bergidik karena geli.


 


“Terima kasih juga sudah menyusulku, Bee. Kamu terlihat menggemaskan kalau sedang cemburu seperti itu,” Kirana balas memberikan bisikan mesra membuat Sebastian merasakan panas di wajahnya.


 


Senyum makin mengembang di wajah mantan duda tampan itu mendapat perlakuan mesra istrinya dan membiarkan Steven yang semakin menekuk wajahnya.


Steven terlihat kesal karena usahanya tidak sepenuhnya berhasil. Suami Kirana yang posesif ini tidak memberikan celah untukknya berduaan dengan Kirana.


 

__ADS_1


 


__ADS_2