
Sudah 3 hari ini komunikasi Sebastian dan Kirana tidak berjalan dengan lancar. Bukan hanya karena perbedaan waktu yang membuat mereka tidak bisa berbicara lewat panggilan telepon, tetapi kesibukan Sebastian mengurus pekerjaannya di sana.
Kirana baru saja selesai mandi dan masuk ke kamarnya. Ia langsung mendekati nakas dan mengecek handphonenya. Belum ada balasan dari Sebastian bahkan pesan yang dikirimnya belum terbaca. Jam 8 malam di Jakarta berarti jam 7 pagi di sana.
Baru saja Kirana meletakkan kembali handphonenya, nada panggilan masuk terdengar. Bukan nama Sebastian yang muncul, membuat Kirana enggan mengangkatnya.
Ia mengabaikan panggilan telepon itu sampai akhirnya notifikasi pesan masuk berbunyi di handphonenya.
NN : malam Kirana, ini Tante Mira, omanya Raven. Apa bisa tante bicara denganmu ?
Tanpa membalas pesan, Kirana langsung menghubungi kembali nomor panggilan yang sudah beberapa kali diabaikannya.
“Malam Tante, maaf saya jarang angkat telepon dari nomor yang tidak dikenal.” Sapa Kirana saat panggilannya sudah tersambung.
“Tidak apa-apa Kirana, Tante juga suka begitu.”
“Ada yang bisa saya bantu, Tante ?”
“Raven sakit, Kiran, sampai dirawat di rumah sakit. Dan sepertinya Raven membutuhkanmu saat ini.”
Tante Mira bicara dengan hati-hati.
“Shera ?” Kirana mengangkat alisnya sebelah meski Tante Mira tidak bisa melihatnya.
“Shera sedang ada pekerjaan di Singapura. Tante sudah kasih kabar tapi belum ada balasan. Dan sejak tadi sore Raven memanggil-manggil mama, padahal selama ini ia memanggil Shera dengan sebutan mommy. Jadi tante pikir kalau yang ingin ditemui Raven adalah kamu.”
Kirana terdiam mendengar ucapan Tante Mira. Kalau ikut suara hati, rasanya ia enggan menanggapi karena berarti akan berurusan dengan Shera. Mengingat kelakuan mantan istri Sebastian yang hampir saja merusak hubungan Kirana dengan mantan suaminya, rasanya Kirana ingin jauh-jauh dari segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita itu.
“Kirana,” panggilan Tante Mira memecah kebisuan di antara mereka.
“Apakah Om dan Tante bisa minta tolong kamu supaya datang membesuk Raven di rumah sakit ?”
Kirana menghela nafas. Antara prinsip dan nuraninya saling berperang.
“Saya akan ijin dulu sama Sebastian, Tante.”
“Terima kasih Kirana. Semoga Sebastian mengijinkan. Tante akan kirim nomor kamar Raven lewat wa.”
“Selamat malam, Tante.”
Kirana duduk di atas kasurnya setelah pembicaraannya dengan Tante Mira berakhir. Hati kecilnya merasa kasihan dengan Raven. Anak dua tahun itu terlihat merindukan kasih sayang ibunya. Shera kurang memperhatikannya, bahkan terlihat kalau ia mengabaikan kehadiran Raven dalam hidupnya.
Akhirnya Kirana memutuskan untuk menelepon Sebastian. Mungkin lebih baik berbicara langsung daripada lewat pesan.
Lebih dari lima kali, panggilan Kirana selalu berakhir di kotak suara. Ia pun mencoba menghubungi Dion yang mendampingi Sebastian, namun sama saja, beberapa kali panggilan ke nomor Dion berakhir juga di kotak suara.
__ADS_1
Kirana merebahkan badannya yang terasa lelah. Ketidakhadiran Sebastian di kantor tidak membuat pekerjaannya lebih ringan.
Pengambilan keputusan-keputusan penting yang hanya bisa dilakukan oleh Sebastian atau Daddy Richard, membuat Kirana bersama dengan Amir, Echi dan Marsha bergantian lembur untuk mengurus dari sisi administrasinya. Perbedaan waktu membuat mereka justru lebih banyak pekerjaan menjelang sore dibandingkan saat siang hari.
Kirana hampir saja terlelap saat handphonenya kembali berbunyi. Setengah mengantuk ia mengambil benda pipih itu dari meja nakas.
Kembali nama Tante Mira yang menghubunginya bukan Sebastian atau Dion.
“Halo Tante,” Kirana bangun dari tidurnya namun tetap duduk di atas kasur. Diliriknya jam dinding di kamar, hampir jam 10 malam.
“Kirana, apa kamu bisa datang sekarang ? Raven mendadak panas tinggi dan sempat step. Dia terus menyebut mama,” terdengar isak tangis di sela-sela ucapan Tante Mira.
“Saya segera ke sana, Tante.”
Kirana bergegas bangun menuju lemari pakaian dan berganti baju. Ia juga menyiapkan pakaian ganti dan peralatan mandi untuk jaga-jaga jika harus menginap dan berangkat ke kantor dari rumah sakit.
Kirana pergi dengan taksi ke rumah sakit. Sebelumnya ia sudah pamit dengan papa Heru yang masih terjaga. Hanya cerita singkat supaya orangtuanya tidak salah paham.
Sampai di rumah sakit, Kirana bergegas naik lift ke lantai 9, khusus untuk kamar vvip.
Perlahan ia membuka pintu kamar sesuai dengan yang disampaikan oleh Tante Mira.
Kirana terkejut saat melihat Steven ada di dalam sana masih memakai snelli. Ia merutuki dirinya yang lupa kalau Raven dirawat di rumah sakit milik keluarga Pratama dan Steven adalah dokter spesialis anak di sini.
“Nana,” gumam Steven dengan wajah sumringah.
“Terima kasih Kirana,” tante Mira langsung memeluk Kirana yang langsung membalas pelukannya.
“Bagaimana keadaan Raven, Tante ?” Kirana mengikuti langkah Tahte Mira yang menggandeng lengannya mendekati ranjang Raven.
“Steven baru saja memberinya obat penurun panas. Untung Raven bisa lebih tenang dan tidur.”
“Nana,” sapa Steven.
“Selamat malam Steven,” Kirana tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
“Kalian saling kenal ?” Tante Mira terlihat agak kaget saat meihat Steven dan Kirana saling menyapa nama.
“Kami pernah satu sekolah, Tante,” ujar Kirana.
“Bukannya usia kamu jauh lebih muda dari Shera ?”
“Saya adik kelasnya Steven, Tante. Beda 4 tahun.”
“Bukan cuma adik kelas, Tante Mira,” ujar Steven sambil tertawa pelan “Hampir jadi calon istri juga,” kelakar Steven.
__ADS_1
“Loh jadi kalian ini mantan pacar ?” Om Herman yang sejak tadi duduk di sofa bangun dan mendekat, lalu merangkul bahu istrinya.
“Eh.. nggg…bukan Om,” jawab Kirana terbata. “Kami hanya teman biasa.”
Om Herman hanya tertawa sambil mengangguk-anggukan kepala sedangkan Tante Mira hanya tersenyum.
“Doakan semoga permintaan saya didengar oleh Kirana, Om,” kelakar Steven sambil tertawa.
“Kalau begitu Om dan Tante pulang saja. Biar saya dan Nana yang menjaga Raven malam ini,” ujar Steven sambil melepas snellinya dan diletakkan pada senderan sofa.
“Eh..” Kirana terkejut mendengar ucapan Steven.
“Aku yakin kalau kamu sudah siap menjaga Raven malam ini,” Steven menunjuk tas pakaian yang masih dijinjing oleh Kirana.
“Tapi Tante…”
“Kalau memang begitu, om dan tante titip Raven ya,” Om Herman yang menangkap maksud Steven tersenyum penuh pengertian, langsung memotong kalimat Kirana.
Rupanya mereka belum tahu kalau Kirana sudah bertunangan dengan Sebastian.
“Maaf Om dan Tante, saya keberatan kalau menunggu berdua dengan Steven. Saya sendiri saja,” ujar Kirana yang membuat Om Herman mengerutkan dahinya.
“Rasanya tidak baik dilihat orang kalau wanita yang sudah bertunangan tinggal bersama dengan pria lain, meski di kamar rumah sakit,” lanjut Kirana menjelaskan.
“Kamu dan Sebastian sudah bertunangan ?” Tante Mira tampak tidak percaya dengan ucapan Kirana . Begitu juga dengan Om Herman yang terlihat sama terkejutnya.
“Saya tidak keberatan menjaga Raven malam ini. Seperti yang Steven bilang kalau saya memang sudah membawa pakaian ganti. Tapi Steven tidak perlu menemani saya. Maaf Om dan Tante, saya ingin menjaga perasaan Sebastian juga.”
“Maaf kami tidak tahu masalah itu Kirana,” Tante Mira mendekati Kirana dan mengusap punggung gadis itu.
“Tante turut bahagia mendengar kalau kamu yang akan menjadi istri Sebastian,” senyum keibuan Tante Mira membuat Kirana merasa lega karena hubungannya dengan Sebastian, mantan menantunya, dapat diterima dengan baik.
“Kalau begitu saya akan menunggu di ruangan saya saja Om, Tante. Jadi kapanpun Raven membutuhkan saya, Kirana bisa langsung memanggil saya.”
Steven terlihat canggung saat Om Herman dan Tante Mira akhirnya mengetahui status Kirana sekarang. Dokter muda itu mengambil kembali snellinya tanpa memakainya dan berjalan menuju pintu kamar.
“Saya permisi dulu,” Steven menganggukan kepalamya. “Minta suster memghubungiku kalau sampai terjadi sesuatu pada Raven, Na.” ujar Steven sambil menatap Kirana. Gadis itu mengangguk.
“Maafkan Tante yang meminta kamu datang Kirana. Tante benar-benar tidak tahu,” terlihat wajah menyesal di raut muka Tante Mira.
“Saya yakin Sebastian akan mengerti, Tante,” Kirana tersenyum sambil meraih jemari Tante Mira.
“Maaf Om juga tidak tahu,” ujar Om Herman tersenyum kikuk.
“Tidak apa-apa, Om. Biar Tante Mira pulang dan beristirahat dulu, malam ini saya akan menjaga Raven.”
__ADS_1
“Besok kami akan kembali pagi-pagi bersama babysitter Raven. Tadi kami suruh dia pulang karena sedang tidak enak badan.” Ujar Tante Mira.
“Nggak apa-apa Tante. Om dan tante istirahat dulu malam ini,” Kirana menrangkul bahu Tante Mira sambil tersenyum. Keduanya keluar dari kamar rawat Raven dan meninggalkan Kirana sendirian.