Pesona Duda Perjaka

Pesona Duda Perjaka
Bab 49 Will You Marry Me ?


__ADS_3

Kirana masih terdiam di bangku penumpang depan. Bukan karena memikirkan ucapan Shera, melainkan perlakuan Sebastian


“Kiran,” Sebastian menyentuh lengan kekasihnya dan menciumnya dengan mesra. “Kamu keren tadi. Shera sampai dibuat tidak berkutik.”


Kirana menoleh sambil mengernyit.


“Kamu tadi ngintip, Bee ?”


Sebastian mengangguk sambil tersenyum.


“Dasar tukang intip. Kemana-mana sukanya ngintipin orang,” omel Kirana.


“Iihh siapa yang suka ngintipin orang. Aku tuh mengawasi kamu karena khawatir calon istriku kenapa-napa, jadi bukan intip orang sembarangan.”


Kirana menatap Sebastian dari samping sambil mencibir. Dilihatnya mulut Sebastian mengucapkan I Love You tanpa suara dan pandangannya masih fokus ke depan.


“Gombal,” Kirana tersipu sambil tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke samping.


“Siapa yang gombal, Honey. Bukannya cewek memang suka pernyataan cinta dari kekasihnya ? Nanti kalau kita sudah menikah, jadikan itu kalimat wajib setiap pagi dan sebelum tidur.”


“Iih kayak minum obat aja,” Kirana tertawa.


“Memang itu obatnya pernikahan, Honey. Diucapkan pagi hari biar semangat menjalani aktivitas, dan sebelum tidur, biar mimpinya pasangan sendiri bukan orang lain.”


Kirana tergelak sambil menutup mulutnya.


“Kamu nggak salah minum obat kan, Bee ? Kok jadi alay banget sih ? Lebay deh,” Kirana mencibir lalu tertawa pelan.


“Dibilangin sama yang lebih tua nggak mau dengar ya ? Bukannya melehoy malah dibilang alay.”


“Ya ampun Bee,” Kirana jadi tergelak lagi. “Ternyata CEO garing kayak kamu tahu juga ya bahasa gaul sekarang. Pakai kata melehoy segala lagi. Pasti diajarin sama Pak Sam.”


“Bukan diajarin, tapi keseringan dengar dia ngomong kosa kata baru.”


Kirana tersenyum dan menggigit bibir bawahnya menahan gemas. Namun akhirnya ia merangkul lengan Sebastian dari samping dan menyenderkan kepalanya di lengan pria itu. Maunya di bahu Sebastian, tapi posisinya sedikit tinggi, membuat Kirana malah tidak nyaman.


“I love you too, Bee,” gumam Kirana pelan.


Sebastian tersenyum dan mencium kepala Kirana sekilas. Mobil Sebastian memasuki restoran yang sudah dipesan oleh pria itu.


“Bee, kok tumben makannya di tempat seperti ini ?”


Kirana memandang bangunan restoran yang cukup mewah di depannya.

__ADS_1


“Makan spesial buat orang yang spesial dalam hidupku,” Sebastian menggandeng tangan Kirana dan mengajaknya masuk.


Pelayan mengantar keduanya ke meja yang sudah dipesan khusus oleh Sebastian.


Kirana masih membolak balik menu yang diberikan oleh pelayan tadi sesaat setelah mereka duduk. Ia bingung ingin memesan makanan yang mana. Harga yang tertera di menu membuatnya berpikir dua kali untuk memilih makanan. Bahkan menu termurah pun bisa untuk biaya makannya seminggu.


“Kiran,” panggilan Sebastian membuat ia mendongak dan menatap kekasihnya. “Sudah tahu mau pesan yang mana. ?”


Kirana menggeleng. “Aku masih bingung.”


Sebastian tertawa pelan, ia tahu penyebab Kirana bingung menentukan pilihan. Selama mereka berpacaran, Kirana memang anti dibawa ke tempat-tempat mewah yang harga makanannya. bisa menguras isi dompet menurut ukurannya..


Akhirnya Sebastian memesankan makanan dan minuman kesukaan Kirana tanpa menanyakan terlebih dahulu. Gadis itu pasti akan mengomel dan menolaknya.


“Bee, kok nggak bilang-bilang sih mau ajak makan ke tempat seperti ini ?” Kirana mencondongkan badannya sambil melirik ke meja kanan dan kiri.


“Memangnya kenapa ?”


“Wanita-wanita yang datang cantik-cantik pakai gaun dan berdandan, nggak kayak aku. Pakai baju kantoran sama lelaki tampan dengan jas nya. Berasa jadi kayak pelakor yang lagi selingkuh sama suami orang,” Kirana bicara dengan nada pelan.


Sebastian terkekeh mendengar ucapan Kirana.


“Kamu bukan pelakor, tapi penggoda iya. Dari kecil suka banget kan menggoda aku, pakai pura-pura mau ambil mangga segala. Padahal kamu udah ngintip dari balik pagar dan melihat ada cowok cakep lagi duduk di sana.”


“Dasar anak nakal,” Sebastian menyentil kening Kirana. “Masih SD aja sudah kepikiran mau digendong cowok yang belum dikenal.”


Kirana terkekeh sambil mengusap keningnya.


Pelayan pun mengantarkan pesanan mereka. Kirana mengernyit saat ada rangkaian bunga tangan di atas troli makanan.


Sebastian mengambil bunga tangan itu lalu berlutut di depan Kirana sementara seorang pianis mulai memainkan musik romantis.


“Bee,” panggil Kirana pelan dan menyuruh Sebastian bangun.


“Kirana Gunawan,” Sebastian mengeluarkan kotak kecil dari saku jasnya dan membukanya di hadapan Kirana. “Will you marry me ?”


Kirana terkejut dengan perlakuan Sebastian saat ini. Belum juga 24 jam ia dibuat tercengang dengan ciuman Sebastian di cafe, dan sekarang pria itu melamarnya padahal hubungan mereka belum sampai 6 bulan.


Kirana merasa ragu memberi jawaban apa pada Sebastian, Hati kecilnya ingin terus bersama pria itu bahkan menjadi istri yang dicintainya, tapi kejadian belakangan ini, ucapan Steven dan perkataan Shera hari ini, membuat Kirana ragu untuk menjawab YA.


“Kirana,” panggil Sebastian kembali.


Kirana mengangakat wajahnya menatap Sebastian. Ia sempat melirik ke sekiling ruangan. Beberapa pengunjung dan pelayan memperhatikan mereka.

__ADS_1


Meski hatinya ragu-ragu namun tidak ingin mempermalukan Sebastian, akhirnya Kirana tersenyum dan mengangguk, membuat beberapa tamu dan pelayan yang ikut menyaksikan memberikan tepuk tangan.


Kirana tidak mampu menahan harunya saat Sebastian menyematkan cincin emas putih dengan berlian kecil di jari manisnya. Dan kembali tanpa ragu apalagi malu, Sebastian mencium bibir Kirana tanpa **********.


“I love you Kirana. Terima kasih karena sudah menerimaku.” Sebastian mengusap pipi Kirana dan menghapus cairan bening yang keluar dari sudut matanya.


Kirana memeluk leher Sebastian dan berbisik di telinga kekasihnya.


“Terima kasih juga telah memilih aku, Bee.”


Sebastian memeluk pinggang Kirana yang masih duduk di kursi. Beberapa saat kemudian mereka melerai pelukannya dan Sebastian kembali duduk di kursinya. Pianis masih memainkan lagu yang mendukung suasana romantis di restoran itu.


Semua pengunjungnya memang pasangan dan belum terlihat oleh Kirana ada rombongan keluaga di situ.


Keduanya mulai menikmati makanan steak dan lemon squash kesukaan Kirana.


“Aku akan minta mommy dan daddy melamar secara resmi pada papa dan mama .”


“Apa mereka benar-benar merestui hubungan kita, Bee ?” lirih Kirana.


“Honey,” Sebastian meraih jemari Kirana. “Kok kamu jadi ragu begitu ? Malah mommy mendesakku untuk segera meresmikan hubungan kita.” Diusapnya punggung tangan Kirana.


“Aku sering tidak percaya diri, Bee. Bukan hanya dari sisi materi, namun pendidikan aku juga tidak setara denganmu.” Kirana masih memotong steaknya sambil menunduk.


“Honey, kemana Kirana yang aku kenal sebagai wanita kuat dan selalu percaya diri ?”


“Kejadian belakangan ini sepertinya menyadarkan diriku di hadapanmu.” Kirana menatap Sebastian dengan wajah sendu.


“Kirana sayang, aku akan membereskan masalah fotoku dengan Esti. Dan soal omongan Shera, bukannya tadi kamu sendiri yang menemukan jawabannya ? Sekalipun ada berpuluh-puluh Shera yang cantik dan pintar di mata banyak orang, aku tidak memilh mereka, tetapi aku memilihmu. Karena bukan kecantikan fisik yang membuat aku begitu dalam mencintaimu, tapi apa yang ada di dalam hatimu. Ketulusanmu, sikapmu yang apa adanya dan cintamu padaku itulah yang membuat aku selalu ingin menjadi bagian hidupmu.”


Kirana tersenyum kaku dan membalas genggaman jemari Sebastian.


“Aku tahu bahwa di masa depan, akan selalu ada orang yang mencoba menggoyahkanmu bahkan berusaha menyingkirkanmu dari hidupku, karena rasa iri dan dengki. Jangan biarkan mata dan hatimu membias ke lain arah. Tetaplah memandangku dan temukan selalu cintaku yang semakin hari akan terus bertambah. Jadikan itu kekuatan bagimu, karena setiap kali kamu menatap mataku, hanya ada dirimu di dalam pandanganku.”


“Ingatkan aku selalu saat aku kehilangan rasa percaya diri, Bee.”


“Selalu Kirana,” Sebastian mengeratkan genggamannya. “Selama aku masih bernafas, aku akan selalu ada hanya untukmu.”


“Terima kasih, Bee. Terima kasih karena sudah mencintaiku.”


“Terima kasih juga L, Honey, sudah mau menerima duda rasa perjaka ini,” Sebastian mengedipkan sebelah matanya.


Kirana tertawa. Sebastian selalu tahu bagaimana membuat mood Kirana menjadi lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2