PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Membujuk


__ADS_3

Riani beranjak dari duduknya saat melihat Sella yang menuruni anak tangga. Pandangan mata Riani melihat ke arah perempuan itu berada.


"Gimana, Sel?" tanya Riani, kedua matanya berbinar dengan sedikit harapan.


Namun cahaya dalam mata Riani itu seketika redup saat ia melihat Sella menggelengkan kepalanya, tidak ada lagi harapan untuknya bisa membawa ibu ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang lebih baik.


"Tetap nggak mau, Ri." Sella berkata lirih.


Langkah kedua kakinya mendekat ke arah Riani.


"Aku juga udah coba berkali-kali, Sel. Apa ... aku setuju aja untuk dinikahkan sama Bayu?"


"Kalau kamu nggak mau buat apa juga, Ri, nanti yang ada kamu bakal menderita sepanjang hidup kamu bersamanya."


Riani sudah memikirkan ini sejak awal, jika ia menikah dengan Bayu dia tidak akan pernah bahagia karena bukan Bayu yang dia mau. Apalagi laki-laki itu juga sudah jahat kepadanya. Tapi jika sama-sama egois seperti ini, kapan Rita akan mendapatkan perawatan medis yang baik untuk kesehatannya?


"Terus ibuku ngomong apa lagi ke kamu?"


Sella terdiam sejenak, ia lantas menggelengkan kepala dan tersenyum. "Nggak ada sih cuma kaya gitu aja, Ri. Aku ajak Tante Rita ngomong juga dia nggak respon omongan aku sekuanya, jadi ya lumayan susah juga."


"Oh, gitu ya." Riani mengangguk lemah.


Tangan Sella menepuk bahu Riani. "Kamu yang sabar ya, Ri. Kamu coba pikir-pikir lagi deh mana pilihan yang terbaik."


Riani hanya mengangguk lemah.


"Kalau gitu aku balik dulu ya, Ri."


"Makasih ya, Sel."


"Sama-sama, nanti kalau butuh apa-apa ngabarin aku aja, aku siap kok nolongin kamu."


Riani tersenyum. "Iya, makasih ya, Sel, sekali lagi."


"Santai aja, Ri. Aku balik dulu ya, bye!"


Sella berjalan menuju pintu, itu membuka dan menutup pintu tersebut kembali.


Berada di dalam rumah sendirian cukup membosankan juga. Sudah cukup banyak video yang ada dalam sebuah kanal yang ditonton oleh Riani.


Kedua mata Riani memerah, ia merasa mengantuk. Meskipun begitu, ia tidak ingin tidur karena harus memasak untuk makan malam nanti.


"Jam lima," lirih Riani, ia beranjak dari tempat tidurnya. "Kalau gitu aku mau beres-beres dulu deh."


Semua pekerjaan dilakukan oleh Riani sekarang, melelahkan namun mau bagaimana lagi? Ia juga tidak punya banyak uang untuk membayar pegawai atau Mba Dwi agar kembali bekerja di sini.


Sebuah sapu lidi sudah ada dalam genggaman tangan Riani, langkah kedua kakinya berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Baru saja pintu dibuka, Riani mendapati sepeda motor yang masih berada di kejauhan sana.


"Kak Bhanu ... Ira?"


Pintu rumahnya kembali ditutup rapat-rapat.


"Semoga aja mereka nggak tahu aku tadi buka pintu," ujar Riani, yang lantas membuka sedikit kordennya untuk mengintip keluar.


"Riani ... Riani ...." Nindira mulai memanggil-manggil nama Riani.


Sementara di balik pintu, Riani sibuk dengan smartphone-nya. Ia berusaha untuk mengirim pesan singkat kepada Sella.


Riani: Sel, ada temenku di luar. Tolong bilangin dong aku nggak ada di sini, kalau ditanya bilang aja nggak tahu.


Sella: Iya aku juga denger ada yang panggil nama kamu, bentar.


Pesan balasan dan Sella tidak lagi dibalas oleh Riani. Di balik pintu rumah, Riani menunggu Sella yang mungkin sebentar lagi akan keluar dari rumahnya.


"Cari siapa, Kak?" tanya Sella, suaranya terdengar lirih dari dalam rumah Riani.


"Riani, dia ada di rumah nggak ya?" jawab Nindira.


Dari balik pintu rumah, Riani bisa mendengar percakapan antara keduanya.


"Rumah itu udah kosong dari beberapa hari lalu, pemiliknya pergi."


"Nggak tahu deh, tapi sekarang udah kosong rumahnya."


"Ehm, ya udah deh, maksih ya."


Mendengar percakapan di antara Nindira dan Sella yang sepertinya sudah berakhir, Riani kembali mengintip dari balik korden. Namun justru ia melihat Ninidira yang juga sedang melihat ke arah jendela yang sama. Kedua mata mereka sempat bertemu beberapa detik sebelum akhirnya Riani kembali bersembunyi.


"I--itu tadi kaya ada orang," ujar Nindira cepat.


Di balik pintu rumah, Riani menepuk kepalanya sendiri. Ia merasa cukup bodoh karena mengintip tadi.


"Hah? Ma--masa sih? Nggak ada, udah kosong."


"Nggak, tadi beneran aku lihat kaya ada yang ngintip."


"Di mana?"


"Itu di situ, jendela sebelah kiri."


"Tapi rumah ini udah kosong, nggak ada siapapun lagi di dalamnya."


"Emang iya? Tapi tadi aku beneran lihat kaya ada yang ngintip."

__ADS_1


"Mungkin itu cuma perasaan aja kali."


Tidak ada lagi percakapan di antara Nindira dan Sella, meskipun begitu kali ini Riani tak ada sedikitpun keinginan untuk kembali mengintip.


"Tapi tadi beneran ada loh, aku nggak salah lihat. Di situ, di jendela itu."


"Terserah deh kalau nggak percaya, tapi emang nggak ada orang lagi di rumah ini. Pemiliknya kabur, nggak tahu juga deh kemana. Kalau nggak percaya ya tungguin aja sampe besok juga nggak bakal ada yang keluar rumah."


"Tapi beneran loh aku nggak bohong. Kamu lihat juga nggak, Bang?"


"Sayangnya nggak."


"Huh ... ya udah deh emang mungkin perasaan aku aja, tapi beneran tadi aku lihat ada orang di situ."


Riani masih berdiri diam di balik pintu rumah. Tidak lama kemudian terdengar suara sepeda motor yang dinyalakan kemudian suara itu menjauh. Bersamaan dengan itu sebuah pesan singkat masuk ke dalam smartphone Riani.


Sella: Mereka udah pergi.


Sella: Kamu tadi ngintip keluar?


Riani: Syukurlah.


Riani: Iya, maaf ya, Sel. Aku kira Ira nggak lagi lihat ke arah rumah.


Sella: Oh, ya santai aja. Aku sempat parno tadi, hahaha.


Riani: Itu tadi aku kok, makasih ya, Sel.


Smartphone di tangannya kembali dimatikan, Riani mengintip kembali dari balik jendela, kali ini dengan lebih berhati-hati. Sepi, tak ada siapapun lagi di depan rumah.


"Huh, semoga aja nggak ada yang lihat aku nyapu halaman." Riani perlahan membuka pintu rumahnya, ia keluar dan mulai membersihkan halaman rumah dengan sangat hati-hati.


Pukul setengah tujuh malam, Riani mulai memasak di dapur. Tidak ada keahlian apapun dalam memasak membuat Riani harus menggunakan smartphone-nya untuk resep masakan yang mudah dan enak.


Sembari memasak, Riani mendengarkan musik agar tidak terlalu sepi.


"Masa apa, Ni?"


"Capcay, nanti kita makan bareng-bareng ya, Yah."


Suara lagu yang terputar seketika terhenti. Bulu kuduk Riani meremang. Detik ini juga Riani menyadari jika ia tadi berbicara dengan ayahnya tapi ia juga baru ingat bahwa ayahnya sudah tiada.


Tanpa menoleh, Riani merasakan seperti ada yang duduk di meja makan. Nafas Riani seketika berat, ia merasa takut untuk menoleh ke belakang, bibirnya kelu tak bisa berteriak.


Meskipun begitu, dikarenakan rasa penasaran serta rindu kepada ayah, Riani memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.


"A--ayah."

__ADS_1


__ADS_2