
"Dia harus mati, dia harus mati."
Riani terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang sembari mencekik dirinya sendiri. Kedua matanya putih tanpa bola mata, menyeramkan.
"Lepasin temenku! Lepasin dia! Dia nggak salah!" Nindira berusaha membuka kedua tangan Riani yang terus mencekik lehernya sendiri.
Namun Riani justru terkekeh, semakin lama semakin terdengar keras.
"TAHU APA KAMU?!"
Suara sepeda motor Bhanu terdengar lirih karena ada banyak suara yang saat ini terdengar. Pintu ruangan terbuka dan saat menoleh ke belakang, rupanya Difki yang datang.
"Bang Bhanu mana?" tanya Nindira, pandangan matanya melihat ke arah belakang Difki.
"Belum ke sini, dia baru selesai kajian tadi."
Nindira mendengus sebal. Ternyata suara sepeda motor yang ia dengar tadi adalah milik Difki. "Bantuin aku dong, kuat banget nih Riani."
Difki turut berupaya untuk mencegah Riani mencengkram lehernya sendiri. Benar apa yang dikatakan Nindira, tenaga Riani cukup kuat.
"Kita bawa ke bawa aja, biar di bawah semuanya."
"Gimana caranya?"
"Udah ... pelan-pelan," ujar Nindira yakin. "Ayo, bantuin cepet."
Riani dituntun untuk berjalan ke bawah, Sella nampak sudah tenang dengan air mata yang keluar dari sudut kedua matanya, sementara Rita duduk di sofa tidak jauh dari Sella dan masih menyisir dengan kedua tangan dan tertawa cekikikan yang terdengar sangat menyeramkan.
"Dia kerasukan juga?" tanya Pak Abdul yang melihat kedatangan Nindira dan Difki yang membawa Riani.
Nindira menganggukkan kepala.
"Sebentar lagi ustadz dan beberapa warga datang, mungkin bisa lebih membantu."
Telihat dari raut wajah Pak Abdul juga sebenarnya ia juga khawatir, apalagi anak perempuannya juga turut kerasukan. Hanya saja dari nada suaranya bisa terdengar jika ia berupaya untuk tetap tenang.
Suara sepeda motor kembali terdengar, Riani sangat yakin jika yang datang kali ini tidak lain adalah Bhanu -- kakaknya.
"Assalamualaikum," ucap Bhanu di depan pintu. Pandangan matanya melihat ke arah sekitar dan mendapati beberapa orang berada di ruang keluarga. Seketika itu ia tahu dengan apa yang tengah terjadi. "Astaghfirullahal'adzim."
Kedatangan Bhanu seakan menjadi angin segar bagi mereka semua. Bayu mulai membaca ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur'an dengan diawali dengan surah Al-fatihah.
Baik Sella, Rita maupun Riani semuanya bereaksi, mereka bertiga berteriak kesakitan.
Sementara Pak Abdul, Nindira dan juga Difki membantu Bhanu. Ketiganya siap siaga jika Bhanu membutuhkan.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Melihat ke arah pintu masuk, terlihat seorang laki-laki dan perempuan dengan pakaian tertutup. Pak Abdul beranjak dari duduknya dan menyambut kedatangan mereka.
"Silahkan, Pak Ustadz."
Kedatangan Bapak dan Ibu Ustadz sangat membantu Bhanu dalam proses penyembuhan ini. Apalagi beberapa warga juga turut membantu membacakan ayat suci di masing-masing ruangan yang ada dalam rumah Riani.
Proses ini berlangsung hingga pukul delapan malam. Bhanu menyudahi bacaannya.
"Siapa namanya?" tanyanya lirih kepada Pak Abdul.
"Sella," jawab Pak Abdul dengan segera.
"Sella ... Ibu ... Riani ...."
Ketiganya seperti baru bangun dari tidur, menoleh ke kanan dan ke kiri kebingungan karena ada banyak orang di rumahnya.
"Ada apa ini rame banget?" tanya Sella sembari mengernyitkan dahi.
"Minum dulu, Nak." Pak Abdul memberikan teh manis hangat yang sudah dibuatkan oleh salah satu tetangga kepada Sella, kemudian Rita dan juga Riani.
Ketiganya menyesap teh tersebut dengan perlahan-lahan. Ketiganya masih tampak kebingungan, apalagi ada beberapa orang yang tidak mereka kenali.
"Istirahat saja dulu, Nak. Ayah mau bicara ke Pak Ustadz sama Bu Ustadz."
Sementara Pak Abdul beranjak dari duduknya, ia mendekat ke arah dua ustadz yang ternyata merupakan pasangan suami istri.
"Pak, Bu, boleh ikut saya ke depan?"
Ketiganya berjalan menuju teras rumah.
"Terima kasih banyak atas bantuannya ya, Pak, Bu."
"Sama-sama, tapi rumah ini harus sering digunakan untuk beribadah seharusnya."
"Ehm ... nanti biar saya bicarakan kepada pemiliknya. Terima kasih atas masukannya, Pak, Bu."
"Sama-sama." Bu Ustadz yang kali ini menimpali. "Saya sama Bapak pamit dulu ya, Pak Abdul. Lagian udah banyak orang juga yang nemenin Ibu Rita dan Mba Riani."
"Ini ...." Pak Abdul merogoh saku, mengambil sesuatu yang sudah dia siapkan. "Ada sedikit rezeki untuk Bapak dan Ibu."
"Oh, nggak usah repot-repot, Pak." Pak Ustadz enggan menerima.
"Udah nggak papa, Pak. Makasih banyak udah bantu saya sama keluarga Ibu Rita."
__ADS_1
"Kebanyakan ini, Pak. Satu aja."
"Nggak papa, Pak. Buat Pak Ustadz sama Bu Ustadzah juga."
"Nggak perlu, Pak, satu aja. Ini saya balikin satunya. Makasih ya, Pak, saya sama Ibu pamit." Pak Ustadz segera menggandeng tangan istrinya menjauh dari rumah Rita.
"Makasih banyak, Pak." Pak Abdul sedikit berteriak.
Sementara di waktu yang bersamaan, beberapa warga juga pamit pulang karena hari sudah malam. Di dalam rumah hanya tersisa Sella, Rita, Riani, Difki, Nindira dan juga Bhanu karena Pak Abdul masih berada di teras.
"Sebenarnya ada apa sih, Ri?" Nindira mulai bertanya, pandangan matanya beralih ke arah Sella. "Kamu nyembunyiin Riani dari aku ya?!"
"Hah?" Sella tampak terkejut. "E--enggak gitu." Ia melihat ke arah Riani.
"Aku yang minta dia buat nutupin semuanya," tegas Riani.
"Tapi kenapa kamu harus ngelakuin semua ini, Ri?!" tanya Nindira sekali lagi, pertanyaannya di teras tadi sore belum sempat dijawab oleh Riani.
Riani menundukkan kepala, lagi-lagi ia merasa ragu untuk mengatakannya.
Semua pasang mata malihat ke arah dirinya, sudah tidak ada kesempatan lagi untuk menyembunyikan apapun yang dia rasa.
"A--aku ... hamil."
"APA?!"
Nindira dan Difki bersuara hampir bersamaan. Keduanya lantas saling berpandangan.
Apa yang dirasakan oleh Nindira sepertinya memang benar. Difki menyukai Riani, bukan menyukai dirinya.
Kedua mata mereka saling bertemu beberapa saat. Terlihat jelas mata Difki memancarkan kekecewaan.
Sella turut diam menunduk, ia tak bisa mengatakan apapun. Namun tidak dengan Rita.
"Riani hamil anak Bayu," ujar Rita dengan begitu bangganya. "Bulan depan mereka menikah."
"IBU!" bentak Riani, ini pertama kalinya ia membentak ibunya dan di hadapan orang lain.
Beberapa saat setelahnya, Riani merasa menyesal, tidak seharusnya ia melakukan itu. Melihat ke sekitar, semua pasang mata ternyata tertuju padanya.
Riani merasakan dadanya sesak menahan air mata. Tak kuasa untuk menahannya lebih lama, Riani beranjak dan pergi ke kamar.
"Riani ...." Nindira berusaha menghentikannya.
Namun ia sendiri dihentikan oleh Sella. Tangan Sella menggenggam lengan Nindira dengan erat. Ia menggelengkan kepalanya. "Biarkan aja dulu dia sendirian, dia perlu waktu untuk itu."
__ADS_1
"Tapi dia juga--"
"Aku tahu, tapi dia juga butuh waktu sendiri dulu. Nanti kalau sudah tenang dia pasti bicara pada aku atau kamu. Begitulah dia, aku mengenalnya sedari dulu, sejak kecil," potong Sella yang kemudian berkata dengan lembut. "Mungkin memang menikah adalah jalan yang terbaik untuk dia dan ibunya."