
Sinar matahari berusaha masuk ke dalam kedua mata yang terpejam. Hari sudah berganti pagi.
Riani membuka matanya dan seketika ia memejamkannya kembali. Matahari sudah hampir berada tepat di atasnya.
Ia mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan cahaya matahari.
Seluruh tubuhnya terasa sakit saat digerakkan, ia meringis kesakitan sembari beranjak dari tudurnya.
Menoleh ke arah sekitar, Riani mendapati gedung rumah sakit yang sepi. Tak hanya itu, ia juga mendapati Bayu dalam keadaan tak sadarkan diri tidak jauh dari tempatnya kali ini.
"Bayu ... Bay!" panggil Riani, namun laki-laki itu tak kunjung bangun. "Aw!" pekik Riani saat menggerakkan tubuhnya dan merasakan sakit yang teramat-sangat pada beberapa bagian.
Riani mengerang kesakitan, tapi tak ada luka yang terlihat pada tubuhnya.
Dengan sekuat tenaga Riani berusaha untuk bisa berada dekat dengan Bayu. Ia mendorong tubuhnya untuk terus bergeser sedikit demi sedikit.
"Bayu."
Perlahan laki-laki itu membuka kedua matanya, ia juga melakukan hal yang sama saat tiba-tiba sinar matahari masuk ke dalam mata.
"A--apa yang udah terjadi, Ri? Ke--kenapa kita ada di sini?" Bayu meringis kesakitan seraya beranjak dari duduknya. "Aw, kenapa badan aku sakit." Salah satu tangannya memijat bahu.
"Ka--kamu nggak inget apa yang terjadi semalam, Bay?" tanya Riani.
Bayu mengernyitkan dahi, ia menggelengkan kepala. "Emangnya apa yang udah terjadi semalam?"
'Kenapa Bayu bisa nggak inget?' batin Riani merasa bingung. "Hm, HP kamu ... ada nggak?"
Bayu merogoh saku celananya. "Ada nih." Benda pipih itu dikeluarkan dari dalam sana. "Kita kok bisa di sini sih, Ri? Terus kenapa badan aku sakit semua kaya gini?"
"Kamu bener-bener nggak inget, Bay?" tanya Riani mencoba untuk meyakinkan laki-laki itu.
Sementara Bayu justru menggelengkan kepalanya dengan dahi yang sedikit mengernyit.
"Coba kamu ingat-ingat lagi apa yang udah terjadi semalam."
Suara angin yang menerpa rerumputan terdengar menenangkan. Bayu masih terdiam, ia berusaha mengingat apa yang baru terjadi semalam.
Namun sayang, ingatannya tak berhasil mengingat apapun. Bayu kembali menggelengkan kepala. "Emang ada apa sih, Ri?" kesal Bayu.
"Ceritanya panjang, Bay." Riani mengetuk dua kali smartphone milik Bayu. Layar ponsel dengan wallpaper bergambar sebuah bangunan terlihat menunjukkan pukul sebelas siang. "Sial, seharusnya aku berangkat pagi hari ini."
Riani berusaha untuk beranjak, ia menahan rasa sakit yang terus dirasakan kala bergerak.
"Riani ... tunggu!" ujar Bayu dengan sedikit berteriak, ia tidak ingin ditinggal sendirian.
***
Satu minggu kemudian, Riani, Rita, Dwi dan Bayu tengah duduk di meja makan. Piring kotor bekas makan malam masih ada di atas meja.
"Gimana kerjaanmu di rumah sakit, Bay?" tanya Rita, memulai pembicaraan.
"Bagus aja sih, Tan, cuma ya masih perlu adaptasi. Baru juga beberapa hari kerja di situ kan," jelas Bayu, ia lantas menyesap air putih yang masih tersisa di gelasnya.
__ADS_1
"Kalau kamu gimana, Ni?"
Riani yang tengah melamun seketika melihat ke arah Rita saat mendengar namanya disebut. "Iya, kenapa, Bu?"
"Huh, kamu ngelamun aja!" tegas Rita.
"Maaf, Bu," ujar Riani menundukkan kepala.
"Kamu lagi mikirin apa sih, Ni? Ada teman kerja kamu yang jahat?"
Riani menggelengkan kepala, sebuah senyum paksa terpasang pada bibirnya. "Nggak kok, nggak ngelamun."
Pandangan mata Rita melihat ke arah Bayu, ia menggerakkan dagunya ke arah Riani. Keduanya lantas tersenyum, seakan menertawakan Riani.
Merasa tidak nyaman, Riani beranjak dari duduknya.
"Mau kemana kamu, Ni?" tanya Rita dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.
"Cari angin aja, Bu." Riani tetap melangkahkan kedua kakinya.
Sebuah pohon mangga besar yang sudah berusia cukup tua ada di halaman belakang rumah. Riani duduk di dekat pintu sembari melihat ke arah batang pohon itu.
"Gila, dasar gila."
"Suka ngomong sendiri, orang gila."
Suara-suara itu terus menggema dalam pikiran Riani.
"Kalimat mereka memang menyakiti hatiku, tapi aku lebih kesepian lagi pas udah ngebiarin Fella pergi," ujar Riani mengungkapkan kekesalannya.
"Kan ada aku."
Riani segera menoleh ke arah sumber suara. Rupanya Bayu sudah ada di ambang pintu.
"Sejak kapan kamu di situ?"
"Sejak ... tadi, mungkin." Bayu melangkah mendekat, ia mendudukkan tubuhnya pada kursi yang berada dekat dengan tempat Riani. "Ada apa sih, Ri? Cerita aja."
Riani menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Menurut kamu kalau orang bisa ngomong sama hantu itu orang gila apa bukan?"
Mendengar pertanyaan Riani, Bayu mengernyitkan dahi. "Ada yang bilang kamu gila?" Riani terdiam membisu selama beberapa detik. "Jawab, Ri."
Riani mengangguk.
Bayu mengusap wajahnya. "Siapa dia?"
"Kamu apa-apaan sih, Bay?!" kesal Riani sembari melihat ke arah laki-laki itu. "Masalahnya bukan di dia, tapi di aku!"
"Kamu nggak salah, Ri."
"Aku salah, Bay, aku salah sebagai manusia bisa melihat makhluk-makhluk itu. Seharunya aku kaya kamu yang nggak bisa lihat mereka, nggak ingat kejadian menyeramkan yang udah kita lalui bersama. Seharusnya aku ...." Riani terdiam, ia terisak. "Seharusnya aku menjadi normal seperti kamu, seperti sebelumnya."
Bayu terdiam beberapa saat. "Tapi itu kan anugrah buat kamu, Ri, bisa saja dengan begitu kamu bisa membantu makhluk-makhluk itu."
__ADS_1
"Udahlah, Bay, aku capek, aku mau tidur." Riani beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.
Pintu kamar dikunci dari dalam, Riani mengambil smartphone yang sedang diisi daya.
Riani: Sel, besok free nggak?
Sella: Iya, kenapa, Ri?
Riani: Temenin aku jalan-jalan, mau?
Sella: Boleh, mau ke mana?
Riani: Besok aja deh, besok aku ke rumah kamu.
***
Pukul delapan pagi, Riani sudah bersiap di depan meja rias. One set berwarna soft blue sudah ia kenakan. Riani juga sudah merias wajahnya dengan make up yang flawless.
Smartphone, dompet, lipstik dan sunscreen spray dimasukkan ke dalam tote bag yang tidak begitu besar berwarna putih dengan gambar awan.
Langkah kaki Riani menuruni tangga.
"Ni?" panggil Rita yang berada di ruang makan.
"Aku mau pergi sama Sella, Bu," ujar Riani yang tetap melangkahkan kedua kakinya mendekati rak sepatu.
"Pergi ke mana?"
"Jalan-jalan aja."
Tidak ingin terlalu banyak mendapat pertanyaan, Riani memutuskan untuk segera keluar dari rumah.
Ia berjalan menuju ke rumah Sella. Di depan rumah sudah terlihat Pak Abdul yang tengah bermain dengan burungnya.
"Sella ada, Pak?"
Laki-laki itu menoleh ke arah Riani. "Oh, ada." Ia lantas melihat ke dalam rumah. "Sella ... Sel, ada Riani, nih." Pak Abdul kembali beralih kepada Riani. "Masuk, Ri."
Seulas senyum tercipta pada bibir gadis itu. "Gimana keadaannya sekarang, Pak? Kata Sella minggu kemarin Pak Abdul sakit?"
"Udah baikkan, kok." Pak Abdul tersenyum.
"Emangnya Pak Abdul sakit apa?"
Laki-laki itu terdiam sejenak, lantas tersenyum dengan sangat terpaksa. "Sakit biasa aja, paling masuk angin."
"Ayo, Ri, tapi kita mampir ke toko aku dulu ya." Sella keluar sembari merapikan barang bawaan di dalam tasnya.
"Toko kamu?" Riani mengernyitkan dahi.
Sella mengangguk. "Iya loh yang deket persimpangan itu kan toko milik keluarga aku, terus sekarang aku yang urus, tapi ada yang jaga sih tiap hari di sana, paling aku bantu-bantu."
Riani terdiam, ia melihat ke arah Pak Abdul yang masih berdiri sembari tersenyum. Ia baru tahu jika toko itu milik keluarga ini. Seketika Riani teringat dengan omongan ibu-ibu di pemakaman ayahnya dulu.
__ADS_1