PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Kosong


__ADS_3

"Kamu kenapa sih, Ri?!" Suara Bayu juga terdengar kesal. "Kamu lihat anak kecil itu, dia juga sampai tiduran. Itu juga, masih muda, tapi santuy aja, cewek lagi. Kamu nggak mau negur mereka?!


Pandangan mata Riani melihat ke arah orang-orang yang tadi dibicarakan oleh Bayu. Tentu saja mereka bebas melakukannya karena di hadapan mereka tidak ada penumpang lain. Sedangkan Bayu, salah satu kakinya mengenai baju berwarna lilac yang dikenakan oleh perempuan itu.


"Tapi bangku di depan mereka kan kosong, Bay, ya mereka bebas aja lah mau gimana juga."


"Ini kan juga kosong, Sayang, apa bedanya dengan mereka?"


Riani terdiam mendengar ucapan Bayu, ia menoleh ke arah perempuan dengan perut yang besar dibalik baju yang dikenakannya itu. Terlihat perempuan itu memberikan senyuman, tatapannya semakin tajam melihat ke arah Riani.


Kedua tangan Riani segera memindahkan dua kaki Bayu, meskipun laki-laki itu menolak.


"Udah nurut aja, Bay!" kesal Riani.


"Ya kenapa emangnya, Ri?!"


Perdebatan antara mereka terjadi dengan suara yang sedikit berbisik karena tidak ingin mengganggu penumpang yang lain.


"Ada perempuan di depan kita, Bay, dia lagi hamil!"


"Riani, kamu gila?!"


Riani tenggelam dalam kebisuan. Ia tak menyangka jika Bayu akan mengatakan hal yang sama seperti teman-temannya di tempat kerja. Pandangan matanya memburam, Riani yakin jika Bayu bisa melihat dua mata yang mulai berkaca-kaca.


Tidak ingin menangis di hadapan, laki-laki itu, Riani memutuskan untuk membuang pandangan matanya ke arah luar jendela.


Bersamaan dengan itu Bayu menyadari kesalahannya. Sebelumnya ia lupa jika Riani bisa meihat makhuk tak kasat mata dan perkataan tadi keluar dari mulutnya begitu saja karena terlalu kesal.


"Riani, maaf," ujar Bayu, berusaha untuk membalikkan posisi Riani agar kembali melihat ke arahnya.


Namun dengan sekuat tenaga, Riani terus mempertahankan posisinya saat ini. Ia tidak ingin melihat ke arah Bayu karena sedang menangis.


Bayu terus memaksa hingga Riani tak bisa menolaknya lagi. Tubuh Riani masuk ke dalam pelukan Bayu, laki-laki itu mengusap kepalanya dengan lembut.


"Maafkan aku, Riani ... maafkan aku, aku tidak sengaja."


Riani masih saja terisak. Ia tak merespon permintaan maaf dari kekasihnya.


Perempuan yang tengah hamil itu mengusap lutut Riani dengan lembut.


"Hati-hati." Ia masih saja mengatakan hal yang sama.

__ADS_1


Tanpa sadar, Riani telah jatuh terlelap. Saat membuka mata, Riani masih dalam pelukan kekasihnya.


Riani beranjak, ia mengusap kedua mata dan pipi yang sudah tidak lagi basah. Melihat ke arah Bayu, laki-laki itu juga terlelap. Melihat ke arah perempuan yang ada di hadapannya, dia sudah tidak ada.


"Kemana dia pergi?" tanya Riani, ia sedikit beranjak dari duduknya untuk melihat sekitar, barangkali ia masih bisa menemukan sosok itu yang masih ada tidak jauh di sekitarnya. Namun hasilnya nihil.


"Kamu cari apa, Ri?"


Suara berat itu membuat Riani menoleh, ia mendapati Bayu yang tengah mengusap kedua mata.


Riani menggelengkan kepala. "Nggak kok." Ia kembali duduk di atas bangkunya.


Suara petugas laki-laki memberitahukan bahwa kereta akan berhenti pada pemberhentian selanjutnya. Beberapa penumpang mulai bersiap untuk turun, begitu juga dengan Bayu dan Riani.


"Akhirnya sampai juga," lirih Bayu sembari mengangkkat tas yang sebelumnya ia letakkan di kursi yang ada di depannya.


Riani juga melakukan hal yang sama. Ia memasukkan smartphone ke dalam tas selempangnya. Botol air mineral yang masih tersisa setengah juga dimasukkan ke dalam tas besar yang nantinya akan dibawa oleh Bayu.


Perlahan kereta berhenti dan penumpang yang turun di stasiun tersebut mulai berjalan keluar.


"Kamu lapar nggak, Sayang?" tanya Bayu kala keduanya melewati sebuah kedai roti.


Riani menggelengkan kepala. "Kita juga bawa roti di tas.


Riani menganggukkan kepala.


Di luar stasiun, beberapa tukang ojek mulai menawarkan jasanya. Namun penawaran mereka semua ditolak oleh Riani karena Bayu sudah meminta seseorang untuk menjemputnya di stasiun.


"Kita ke sana, Ri," ujar Bayu, ia lantas mendekatkan smartphone-nya ke salah satu telinga.


Suara panggilan yang berusaha terhubung terdengar juga oleh Riani.


"Halo."


"Kamu di mana, Man?"


"Aku masih di jalan nih, bentar lagi sampai. Tunggu aja di depan toko sepatu."


"Ya udah oke, kamu ngebut ya."


"Siap ...."

__ADS_1


Panggilan suara dimatikan.


"Siapa?" tanya Riani usia Bayu memasukkan smartphone itu kembali ke dalam tas.


"Adik sepupu aku, namanya Manda."


"Manda?" Riani mengernyitkan dahi. "Kok suaranya cowok?"


"Ya emang cowok, Sayang. Nama lengkapnya Manda Raharjo."


Riani menganggukkan kepala. "Aku juga punya temen namanya Manda pas di sekolah, tapi dia cewek, namanya Amanda Putri."


"Beda orang berarti," celutuk Bayu.


"Ya jelas beda lah, orang dia cewek. Saudara kamu kan cowok. Lagian juga jauh, nggak mungkin saudara kamu sekolah di sekolah aku juga!" kesal Riani.


Sementara Bayu justru terkekeh.


Langkah kaki mereka berdua sampai di toko sepatu yang tadi dibicarakan oleh Bayu dan juga adik sepupunya.


"Eh, Bayu, kamu darimana?" tanya seorang perempuan yang keluar dari toko sepatu itu. "Nih, duduk dulu," lanjutnya memberikan bangku plastik. "Ini siapa, Bay?"


Riani tersenyum saat pandangan matanya bertemu dengan tatapan mata perempuan itu.


Sementara Bayu menghembuskan nafas sembari mendudukkan tubuhnya di atas kursi plastik yang sudah disediakan. "Habis dari kota. Dia calon aku."


"Cantik banget, Bay," ujar perempuan itu yang masih menatap ke arah Riani. "Namanya siapa?" Ia menjulurkan tangan.


"Riani," jawab Riani dengan senyuman. Sama seperti perempuan itu, Riani juga memperhatikan perempuan yang dirasa tidak asing dalam ingatannya. Ia merasa seperti telah melihat perempuan yang sama, tapi entah kapan dan di mana."


"Ibu buatin minum ya, Bay. Es teh mau?"


"Terserah aja, Bu, air putih aja juga nggak papa."


"Ya udah, Ibu buatin dulu ya."


Bayu menganggukkan kepala, sementara Riani memperhatikan perempuan dengan tubuh yang sedikit berisi masuk ke dalam toko sepatu dan menghilang usai melewati sebuah tirai berwarna ungu.


"Dia siapa? Kayanya kamu kenal deket sama dia." Riani menoleh ke arah Bayu.


"Awalnya sih bukan siapa-siapa, Ri, tapi waktu itu aku nggak sengaja nemu cincin emas pas ada tragedi kecelakaan kereta di sekitar desa. Aku dimimpiin perempuan hamil dan dia suruh aku buat ngembaliin cincin itu ke sini, ternyata bener, dia menantunya ibu itu. Jadi deh deket kaya sekarang, kalau aku habis pergi ke mana aku selalu mampir ke sini pas nunggu jemputannya. Dia sangat menyayangi menantunya itu, sayang banget menantunya nggak hidup lama. Mana dia juga lagi mengandung cucu pertama buat ibu itu," jelas Bayu.

__ADS_1


Perempuan hamil, kereta, cincin. Riani mengernyitkan dahi. "Cincinnya ada inisial huruf H-nya nggak?"


__ADS_2