
"Kemarin kata Mba Dwi ada Nindira ke sini nyariin kamu, Ni," ujar Rita membuka pembicaraan saat makan siang.
Riani terdiam sejenak. "Iya, dia mau minjem tas," jawabnya berbohong.
"Udah kamu pinjemin?"
"Udah kok." Roti panggang di piringnya sudah habis tak tersisa. Riani beranjak dari duduknya. "Aku berangkat dulu ya, Bu."
Usai mencium punggung tangan Rita, Riani bergegas keluar dari rumah. Ia masih tetap berperilaku seperti biasanya, seperti saat ia masih bekerja.
Baru saja membuka pintu rumah, Riani mendapati sebuah kotak berada tepat di depan pintu.
"Apa ini?" tanya Riani lirih. "Untuk Riani." Ia membaca tulisan yang berada di atas kotak tersebut.
Kotak berwarna hitam dengan pita merah itu tidak terlalu besar. Riani yang merasa penasaran segera membuka ikatan pita lantas membuka tutup kotaknya.
Sebuah boneka kecil berwarna putih polos, tak ada hudung, mulut, telinga ataupun rambut, hanya ada mata hitam legam berbentuk bulat.
Kotak kado dan boneka seukuran genggaman tangan itu ia lemparkan.
"Sialan! Siapa sih orang iseng-iseng begini," kesal Riani yang kemudian membuang boneka dan kotak kado itu di dalam tong sampah depan rumah.
Seharian ini Riani menjalani hari seperti biasa. Uangnya hanya tersisa sedikit, selain berjalan-jalan saja, Riani juga nencari-cari lowongan pekerjaan yang mungkin ada.
"Dibutuhkan pegawai." Riani membaca salah satu poster yang ada tembok sebuah toko.
Ia mengambil poster tersebut, lantas berlari menuju alamat yang tertera dalam poster itu.
Sebuah restoran makanan cepat saji ada di hadapan Riani. Bangunan besar dengan tiga lantai berwarna putih yang aesthetic itu tampak ramai dengan orang yang mulai berdatangan.
"Halo, apa benar restoran ini sedang membutuhkan karyawan?" tanya Riani pada seorang pegawai yang berjaga di kasir.
"Oh, iya, bawa syarat-syarat untuk lamarannya?"
Riani menggelengkan kepala. "Belum saya siapkan sih, saya mau konfirmasi dulu apa lowongannya masih tersedia?"
Pegawai itu menanggapi Riani dengan ramah. "Masih kak, sampai lusa."
Usai mendapatkan jawaban Riani keluar dari restoran. Ia mengambil smartphone yang ada di dalam tas.
"Halo, Ra?"
"Iya, kenapa, Ri?"
"Kamu libur?"
__ADS_1
"Iya, gimana?"
"Oke, aku ke kost-an kamu sekarang ya, tunggu, jangan kemana-mana."
Riani bergegas menuju ke tempat kost Nindira. Tidak mungkin baginya untuk pulang ke rumah saat ini. Jam pulang kerja masih sekitar tiga jam lagi.
"Kamu kenapa, Ri?" tanya Nindira yang rupanya sudah menunggu di depan kamar kost.
"Aku mau lamar kerja di restoran, Ra. Kamu bisa bantu aku?"
Nindira mengangguk pasti. "Ayo masuk."
Setelah kurang lebih dua jam berkutat dengan dokumen-dokumen. Akhirnya Riani selesai menyiapkan lamaran yang akan dia berikan ke pihak restoran.
Dengan amplop coklat pemberian Nindira, Riani memasukkan segala persyaratan untuk melamar kerja.
"Kamu mau ke restoran itu lagi, Ri?"
Riani mengangguk. "Iya, semoga aja diterima ya, Ra. Kamu doain aku."
"Pasti, Ri. Aku pasti doain kamu." Nindiran terdiam sejenak. "Eh kamu udah makan belum?"
"Udah kok tadi pagi," jawab Riani sembari memasukkan amplop coklat itu ke dalam tas.
"Kok tadi pagi sih? Kan ini udah siang." Nindira beranjak dari duduknya, lantas mengambil sesuatu dari dalam lemari. "Bikin mie yuk."
"Ayolah, temenin aku, Ri. Kita makan mie ini berdua, aku yang bikin deh."
"Kalau gitu aku makin nggak enak sama kamu."
"Ya ampun, Ri, kaya sama siapa aja. Udah, nanti aku anterin kamu ke restoran sama ke rumah deh."
"Yah, Ra--"
"Ssttt, udah nurut aja."
Nindira berjalan menuju ke dapur. Kompor satu tungku dengan panci kecil berisi air di atasnya dinyalakan.
"Kamu mau yang pedes banget apa yang pedes aja, Ri?" tanya Nindira dengan sedikit berteriak karena ia sekarang sudah ada di dapur.
Tas yang tadinya sudah menggantung di salah satu bahu Riani dilepaskan kembali dan diletakkan di atas permukaan lantai kamar kost begitu saja. Riani beranjak dari duduknya, lantas melangkah ke sebuah ruangan kecil yang dijadikan dapur oleh Nindira.
"Pedes banget," ujar Riani. "Sini aku bantu tuangin bumbunya."
"Kayanya ditambah telur enak deh, kamu lanjutin ini ya aku beli dulu," ujar Riani.
__ADS_1
"Lah, kalau nggak ada mah nggak usai, Ra."
"Udah nggak papa," ujar Nindira sembari berjalan keluar kamar.
Menyantap mie instan pedas di siang hari dengan air es memang sangat menyegarkan. Tapi setelah itu, Riani merasa mengantuk dan kekenyangan.
Mangkuk bekas makan mereka berdua masih tergeletak begitu saja, sementara keduanya mendinginkan tubuh dengan kipas angin dan bersantai sembari menonton video dalam smartphone masing-masing.
Tak ada perbincangan antara Riani dan Nindira lagi, mereka berdua sudah sibuk dengan dunianya masing-masing.
***
Kedua mata Riani terbuka dan ia berada di dalam kamarnya. Kedua alis Riani mengernyit, hampir menyatu.
"Kok aku udah di kamar aja?" lirih Riani beranjak dari tempat tidur.
Ia berjalan menuju ke tempat saklar untuk menyalakan lampu, namun lampu kamarnya tak mau menyala.
Dengan pencahayaan yang minim, Riani berusaha mencari-cari smartphone yang kemudian dia temukan di atas tempat tidurnya.
Lampu flash dari smartphone yang sudah ada dalam genggaman sedikit membantu Riani. Namun kedua alis perempuan itu semakin mendekat.
"Kenapa kamarku berdebu dan kotor kaya gini?" lirih Riani.
Ia berjalan keluar dari kamar untuk melihat keadaan ruangan yang lain yang ternyata sama saja. Ada banyak debu yang bisa dilihat oleh Riani melewati cahaya flash smartphone-nya. Tidak hanya itu, semua permukaan benda di dalam rumah ini juga diselimuti oleh debu. Beberapa sarang laba-laba juga kerap dilihat meskipun sang arsitektur tidak ada di sekitar mahakaryanya.
Rumah ini terasa sangat asing, berdebu, kotor dan seperti telah ditinggalkan sejak lama.
Sebuah suara alunan musik yang menenangkan terdengar dari ruang kerja ayahnya.
Merasa penasaran, Riani masuk ke dalam ruangan itu. Ia melihat ayahnya yang sedang duduk dengan ibunya yang berdiri di sebelahnya.
Keduanya terdiam, tak melakukan apapun.
"Yah ... Bu," panggil Riani, namun keduanya seperti patung.
Alunan musik yang menenangkan itu masih terdengar dan Riani mengikuti sumber suaranya. Rupanya suara alunan musik itu berasal dari sebuah radio tua yang memang suka dikoleksi oleh ayahnya.
Riani mematikan radio itu, namun tiba-tiba ada suara keributan dari lantai bawah. Baru saja hendak keluar ruangan untuk memeriksa apa yang terjadi di sana, tiba-tiba sekelebat bayangan terlihat masuk dari arah dari arah pintu.
Cahaya flash segera diarahkan ke pintu ruangan, namun bayangan itu bergerak cepat dan saat Riani mencarinya lagi, ia tak menemukannya.
"Aaarrrgggghh!!!"
Riani mengarahkan cahaya flash dari smartphone-nya ke sumber suara.
__ADS_1
"AAA!!!" teriak Riani histeris. "AYAH ...!"