PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Janggal


__ADS_3

Hingga pukul delapan pagi, Riani masih tetap terjaga. Ia menghabiskan waktu dengan melihat-lihat akun sosial medianya.


"Riani," lirih Rita.


Merasa ada yang memanggil namanya, Riani menoleh ke arah sumber suara. Melihat ibunya telah membuka mata, Riani segera beranjak dari duduknya.


"Ibu ... aku kangen," ujar Riani yang lantas memeluk tubuh ibunya yang masih terbaring itu dengan erat. "Gimana keadaan ibu sekarang?"


Rita tersenyum. "Ibu baik-baik aja kok, Ni, mungkin nanti kalau dokter cek keadaan ibu juga dia udah bolehin pulang."


"Ibu mau apa? Ibu belum makan loh dari kemarin. Ibu mau aku belikan bubur ayam?"


"Boleh." Rita mengangguk.


Mendengar Rita mengiyakan tawarannya, Riani tersenyum. "Ibu tunggu di sini ya, aku belikan sebentar di depan."


Sembari berjalan menyusuri lorong, Riani merasa semakin aneh. Ibunya seketika terlihat membaik setelah sebelumnya mengalami sakit yang aneh. Semua ini sangat aneh dan Riani baru menyadari itu.


Sejak kemarin Rita selalu terbangun dengan keadaan tubuh yang kaku, pandangan mata melihat ke arah yang sama dan bibir terbuka seakan hendak mengatakan sesuatu, namun sekarang sudah terlihat baik-baik saja seperti tidak terjadi apa-apa. Mungkinkan secepat itu proses penyembuhannya?


"Ma--maaf," ujar Riani usai menabrak sesuatu. Ia melihat ke depan, seorang laki-laki tampan dengan kemeja lengan pendek berwarna biru berdiri di hadapannya.


Laki-laki itu tersenyum sembari menggelengkan kepala. "Nggak papa kok."


"I--iya."


Jantung Riani berdegup cepat tatkala pandangan matanya bertemu dengan sepasang mata hitam milik laki-laki itu. Entahlan, Riani memilih untuk segera pergi.


Beberapa kali melangkahkan kaki untuk menjauh, Riani kembali menoleh. Ia melihat punggung laki-laki itu yang berjalan lurus ke depan. Tanpa disadari, bibirnya tersenyum.


"Enak nggak, Bu?" tanya Riani sembari menyantap bubur ayam milik sendiri.


Rita juga nampaknya sangat menikmati bubur ayam yang sudah dibeli oleh Riani. Ia menyantap dengan cepat seperti orang yang sehat. "Enak, enak banget. Makasih ya, Ni," ujar Rita terus fokus dengan makanannya.


Melihat hal itu, Riani hanya bisa tersenyum.


'Emangnya orang sakit bisa selahap itu kalau makan?'


Pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan dua orang laki-laki dan perempuan yang hendak masuk ke dalam. Pandangan mata Riani kembali bertemu dengan sepasang mata itu, sepasang mata yang mampu membuat jantungnya berdegup cepat.


"Dwi?" Rita terkejut melihat kedatangan asisten rumah tangannya.


Sementara pada waktu yang bersamaan, pandangan mata Riani masih tetap bertemu dengan sepasang mata itu.


Riani bisa melihat dengan jelas kedua alis tebal yang menambah ketegasan matanya. Ia juga melihat hidung yang lebih mancung dari orang lain pada umumnya dan bibir yang tersenyum kepadanya. Ya, dia memberikan senyuman kepada Riani.


Tentu saja jantung Riani berdegup semakin tak karuan. Riani bisa merasakan itu dengan sangat jelas. Seketika perutnya terasa mual, ia merasa kenyang dan tidak lagi bernafsu untuk menghabiskan bubur ayam yang ia letakkan di atas pangkuan.


"Nyonya ... Apa kabar? Kenapa kok dibawa ke rumah sakit lagi, Nya?" Dwi meletakkan barang bawaannya di atas lantai, ia menghamburkan diri ke arah ranjang pasien.


Seketika raut wajah Rita terlihat sangat kesal. Perempuan itu sedikit melirik ke arah Riani yang kemudian segera menarik pandangan matanya kembali usai menyadari jika Riani juga sedang melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Nggak tahu nih, tiba-tiba kemarin pusing banget terus pas bangun udah ada di sini," ujar Rita dengan senyuman.


Sementara Dwi yang tadinya nampak khawatir seketik terdiam.


"Ini siapa, Dwi?" tanya Rita kemudian.


Dwi menoleh ke arah laki-laki di belakangnya, ia kembali melihat ke arah majikannya. "Oh, dia Bayu." Dwi beralih ke arah laki-laki itu, ia memberikan kode berupa lirikan mata. "Yu!"


"Ta--Ibu, eh, Nyo--nyonya," sapa Bayu yang terlihat gugup.


"Panggil Tante aja nggak papa." Rita tersenyum sembari menerima jabatan tangan laki-laki itu.


Hari ini angin bertiup kencang membuat sinar matahari tidak begitu terasa menyengat kulit. Riani duduk di salah satu bangku panjang, ia melihat-lihat sosial media untuk mengisi waktu luangnya.


"Hey," ujar Bayu, ia mendekat. "Nih, untuk kamu."


Akhirnya yang ditunggu-tunggu telah datang. Riani menyimpan kembali smartphone di dalam tas selempang dan menerima satu cup es krim pemberian dari Bayu.


"Kamu suka es krim stroberi?" tanya Bayu sembari menyendokkan es krim milik sendiri.


Riani mengangguk. "Dulu almarhum ayahku sering membeli es krim ini untukku."


"Maaf." Bayu menunduk.


"Santai aja," ujar Riani dengan sedikit tertawa. "By the way kamu datang dari desa bareng sama Mba Dwi?"


"Iya, aku adiknya."


Bayu terkekeh. "Aku adik sepupunya, dia emang anak tunggal."


"Oh." Riani menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Terus emangnya kamu mau cari kerja apa di sini?"


"Kerja apa aja yang penting halal, kamu sendiri kerja di mana?"


"Aku kerja di mall."


"Enak dong bisa ke mall tiap hari."


Riani terkekeh. "Iya juga, tapi kalau libur jadi nggak pengin ke mall soalnya udah bosan."


"Terus penginnya kemana?"


"Ya ke tempat lain, pengin cari yang seger-seger kaya ke taman, pantai, kebun, gitu deh pokoknya yang jauh dari hiruk pikuk kota."


"Bulan depan kalau aku ada kesempatan buat pulang mau nggak kalau aku ajak kamu ke desa?"


Riani terdiam sesaat, ia memperhatikan Bayu selama beberapa detik. "Emangnya nggak papa?"


"Nggak papalah, emangnya kenapa?"


"Iyakan aku bukan siapa-siapa kamu, terus juga takutnya nanti orang sana pada nanya."

__ADS_1


"Kan kamu temanku, aku tinggal bilang ke mereka kalau kamu temanku. Jangan-jangan ... kamu nggak mau ya temenan sama aku?"


"Hah? Bu--bukan, bukan gitu maksudku."


"Hahaha." Bayu terkekeh melihat Riani yang nampak khawatir. "Aku tahu kok, Ri, bercanda aja."


Riani memukul lengan Bayu. "Nggak lucu!"


"Hahahaha." Bayu masih saja terkekeh. "Oh ya, kamu hari ini nggak kerja?"


"Aku berangkat nanti siang jam satu, kenapa emangnya?"


"Kirain libur, tadinya aku mau minta kamu buat nemenin aku jalan-jalan di sekitar kota. Soalnya kan aku masih baru di sini."


"Hem, kalau hari ini nggak bisa, Bay, sorry ya. Tapi kalau besok sore bisa, besok aku berangkat siang soalnya, gimana?"


"Iya udah besok sore aja nggak masalah, pas banget lagi malem minggu."


"Wah iya, kalau gitu aku ajak kamu festival aja, di sana rame banyak orang jualan, tempatnya juga bagus, seru pokoknya."


"Terserah kamu mau ajak aku kemana aka, Ri, aku ngikut."


"Oke."


"Eh, sini cup es krim kamu. Udah habis kan?"


Riani mengangguk, ia menyerahkan cup yang sudah kosong itu.


Dari tempatnya duduk, Riani melihat Bayu yang berjalan menjauh darinya. Punggung yang lebar itu terlihat menggoda.


'Ya ampun, Riani, kendalikan pikiranmu!'


"Ayo balik ke ruangan," ujar Bayu yang masih berdiri.


"Hah? Sekarang?"


Bayu menganggukkan kepala. "Emangnya kamu mau kemana lagi?"


"Ehm, aku mau ke toilet sebentar."


"Kalau gitu aku tunggu kamu di sini."


Riani berjalan menuju ke toilet yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Ia memasuki ruangan yang senyap. Sebenarnya ia tidak ingin buang air kecil, jadi ia hanya berhenti di depan cermin dan mencuci tangan.


Sayup-sayup terdengar suara tangisan perempuan dari salah satu bilik yang tertutup. Ada perasaan takut, namun menyadari pintu bilik tertutup, Riani yakin ada seseorang di dalamnya.


Tidak ingin ikut campur dan mendengar tangisan itu lebih lama, Riani berniat untuk segera keluar dari toilet.


"Aaa!!!" Riani berteriak tatkala ia menoleh dan mendapati seorang perempuan yang masuk ke dalam toilet.


Perempuan itu terkekeh melihat Riani yang terkejut. "Hahahaha, maaf ya bikin kamu kaget."

__ADS_1


"I--iya." Riani mengangguk, ia memperhatikan perempuan itu yang berjalan dan masuk ke dalam bilik toilet dengan pintu yang tertutup. "Loh, bukannya ...?"


__ADS_2