
Tidak ada orang di sekitar rumah dari bilik bambu itu. Sepi, pintunya dikunci.
"Pegang tanganku," ujar Fella.
Riani menurut, ia mengganggam uluran tangan Fella. Telapak tangannya terasa sangat dingin saat bersentuhan dengan telapak tangan Fella. Ini adalah pertama kalinya ia bisa menggenggam tangan sosok yang biasanya tak bisa ia genggam.
Tak lagi melangkah, Riani merasa tubuhnya yang ringan tertarik oleh Fella. Kedua mata Riani terpejam tatkala ia hendak menabrak dinding rumah, namun ternyata ia tak merasakan apapun.
Fella melepaskan genggaman tangannya dari Riani saat keduanya sudah berhasil masuk ke dalam rumah. Keadaannya sama seperti di luar, sepi, tak ada satu orang pun yang terlihat.
"Dimana orang-orang itu?" tanya Fella sembari menyapukan pandangan ke sekitar.
Sementara pandangan mata Riani melihat ke arah kamar dengan pintu yang terbuka dan tubuhnya yang terbaring di atas tempat tidur.
"Jadi kaya gini, kalau ada sesuatu terjadi kepadaku seisi rumah ini nggak ada yang perduli?" lirih Riani yang mendekat ke arah tubuhnya sendiri.
Namun dengan segera tangan Riani ditarik untuk mundur kembali.
"Jangan mendekat dulu."
"Emangnya kenapa?" Riani mengernyitkan dahi.
"Nanti kamu bisa sadar."
Suara pintu yang terbuka mengagetkan mereka berdua. Terlihat Bayu yang masuk ke dalam rumah dan menghampiri tubuh Riani. Tangannya memegang pipi, lengan dan beberapa tubuh yang lain, seakan sedang memeriksanya.
Tak ingin jika Bayu sampai bertindak terlalu jauh seperti kemarin, Riani melangkah maju. Namun lagi-lagi, Fella menahan dirinya.
"Aku nggak bisa diam aja kaya gini, Fel, aku takut bakalan dapat pelecehan lagi dari dia."
"Tenanglah, Ri, biar aku yang mengurus ini."
Riani diminta menunggu di tempat yang sama sementara Fella mendekat ke arah Bayu. Fella membisikkan sesuatu dan beberapa detik kemudian Bayu segera beranjak dari duduknya.
"Kamu abis ngomong apa ke dia?" tanya Riani yang merasa penasaran.
Sementara Fella hanya menunjukkan senyumannya.
Pada saat Bayu membuka pintu rumah, terlihat pula Suwiryo dan Utari yang sepertinya baru pulang dari ladang. Hari ini mereka tak menghabiskan seharian waktu mereka untuk bekerja.
__ADS_1
"Gimana ini, Pak? Riani masih juga belum sadar."
"Kalau gitu kita pulangkan saja dia ke kota."
"Tapi aku mau ngomong apa di depan ibunya Riani, Pak, Bu, aku belum nemuin alasan apapun."
"Bilang aja kalau Riani kabur dari rumah dan ditemukan pingsan di tengah hutan," jelas Utari.
"Terus, kalau Tante Rita nanya kenapa dia bisa kabur dari rumah gimana?" Bayu kembali bertanya.
"Ehm, iya juga ya," ujar Utari yang lantas menggigit jari-jari tangannya.
Sementara Bayu menggaruk kepala yang sebenarnya tak terasa gatal.
"Oh," ujar Suwiryo yang nampak menemukan sebuah ide. "Bilang saja kalau dari kemarin Riani sakit dan akses puskesmas atau rumah sakit di sini cukup jauh, terus pas lagi di perjalanan pulang dia pingsan dan belum sadar sampai sekarang."
Bayu terdiam sejenak. "Kalau begitu aku mau ke rumah Manda dulu buat sewa mobilnya."
Laki-laki itu pergi dari rumah. Sementara Suwiryo dan Utari masuk ke dalam rumah. Keduanya berdiri di depan kamar dengan tubuh Riani yang ada di dalam.
"Dia lagi ada di dimensi lain." Suwiryo berkata dalam.
Tubuh Riani dimasukkan ke dalam mobil dengan posisi terbaring dan kepalanya berada di pangkuan Bayu. Setelah berhasil memasukkan Riani ke dalam mobil, Manda lantas memasukkan beberapa tas berisi barang-barang ke dalam bagasi.
"Naik ke sini, Ri," ujar Fella yang kemudian dengan mudahnya terbang ke bagian atas mobil.
Riani mengulurkan tangan, ia tak bisa terbang selayaknya Riani. "Bantu aku."
Keduanya kini sudah berada di bagian atas mobil yang perlahan mulai bergerak. Dari atas mobil, Riani melihat Suwiryo dan Utari yang segera masuk ke dalam rumah usai mobil yang dikendarai Manda bergerak pergi.
Udara pagi tak dirasakan oleh Riani. Rambutnya memang terbang karena diterpa angin, namun ia tak merasakan adanya angin itu.
Di pagi hari, desa ini tampak lebih indah. Hamparan sawah yang luas bisa terlihat di sepanjang perjalanan.
Mobil yang dikendarai oleh Manda melewati barisan para petani yang sedang berjalan menuju ke sawah atau ladang masing-masing. Mobil di sini sangat jarang dan mungkin merupakan barang yang sangat mewah, terlihat dari tidak ada banyak mobil yang berlalu-lalang serta pandangan mata yang takjub saat melihat mobil melewati mereka.
Wilayah desa tidak terlalu luas. Setelah melewati gapura desa yang dibuat dari bambu, sekeliling jalan merupakan hutan-hutan.
Tak ada lagi orang yang bisa dijumpai sepanjang perjalanan. Kali ini perjalanan cukup membosankan karena hanya ada pohon-pohon yang bisa dilihat sejauh mata memandang.
__ADS_1
"Huhhh ...." Fella menghembuskan nafas, lantas membaringkan tubuhnya.
"Emang bisa begitu?" tanya Riani yang ingin melakukan hal itu juga.
"Coba saja," ujar Fella dengan mudahnya.
Melihat ke bagian atas, daun-daun dari pohon yang tinggi menjulang itu terlihat kecil. Di bagian belakangnya langit biru pagi hari terlihat sangat indah dengan sesekali juga terlihat segerombolan burung berwarna putih yang terbang melintas. Indah.
"Riani, bangun, Ri."
Kedua mata Riani terbuka. Ia mendapati Fella yang sudah kembali duduk.
"Kita sudah sampai," lanjut Fella.
Setelah memposisikan tubuhnya menjadi duduk juga. Riani melihat ke sekitar. Benar apa yang dikatakan oleh Fella, kini mobil yang dikendarai oleh Manda sudah berada tepat di depan rumahnya.
Tidak ada seorang pun yang terlihat selain Dwi yang berdiri di dekat pintu gerbang yang sudah terbuka. Dengan dibantu oleh Manda, Bayu membawa masuk tubuh Riani dan merebahkan tubuh itu di dalam kamar.
"Gimana ceritanya kok bisa sampai begini?" tanya Dwi dengan raut wajah yang khawatir.
"Dia kabur, terus pas ditemuin di hutan udah nggak sadar gini. Kata Bapak sih dia lagi dibawa ke dimensi lain."
"Aduh ... duh ... kenapa bisa begini? Kamu jalanin ritual itu?"
Bayu menganggukkan kepala. "Aku pengin segera menikah sama dia."
"Kamu sih nggak sabar dulu! Kalau dia nggak kuat terus jadi gila gimana?!"
"Ya gimana? Dia juga aku lihat-lihat udah cinta sama aku." Bayu menghentikan kalimatnya sejenak. "Nanti kamu jangan bilang ke Tante Rita tentang apa yang sebenarnya terjadi ya, Mba. Bilang aja dia sakit terus pas di perjalanan pulang di pingsan."
Dwi menganggukkan kepala.
"Ngomong-ngomong ... di mana Tante Rita? Kok aku nggak lihat dia?"
"Lagi ke rumah Pak Abdul," jawab Dwi yang lantas berjalan mendekat ke arah meja makan, dia memberikan segelas air untuk Bayu dan juga Manda.
"Di mana tuh?" tanya Bayu.
Sementara Manda menerima segelas air putih dengan gerakan yang sopan. "Terima kasih," ujarnya lembut.
__ADS_1
"Hah? Ngapain Ibu ke rumah Pak Abdul?" ujar Riani lirih. "Tumben banget Ibu ke rumah Pak Abdul. Biasanya juga nggak pernah." Riani melihat ke bagian luar rumah, sepi. "Ngomong-ngomong, Fel, emang kalau orang masuk ke dimensi lain bisa jadi gila?"