PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Kamar Mandi


__ADS_3

Sella kembali melanjutkan aktivitasnya, semua lauk sudah dipindahkan ke dalam mangkuk dan piring. Seulas senyum nampak pada wajah Sella, ia merasa senang atas hasil masakannya sendiri.


Hening dan mencekam, Sella menoleh ke arah kamar mandi. Pintunya masih tertutup yang artinya Riani masih ada di dalam sana karena ia juga belum melihat Riani keluar.


"Riani lagi apa sih di dalem? Lama banget, mana nggak ada kedengeran suara apa-apa lagi."


Rasa penasaran membuat Sella mendekat ke arah pintu kamar mandi. Pintunya tak tertutup sempurna sehingga Sella bisa melihat sedikit bagian dalam kamar mandi dari arah luar.


"Riani," panggil Sella ragu, pasalnya ia tak melihat ada siapapun di dalam toilet itu. "Ri, kamu ngapain di dalam lama banget?" tanya Sella, tapi tak ada jawaban apapun di dalam kamar mandi.


Tangan Riani perlahan mendorong pintu tersebut hingga terbuka, namun tak bisa terbuka sempurna karena seperti ada yang mengganjal di bagian belakangnya.


"Hahahaha." Sella terkekeh. "Nggak lucu, Ri."


Bukan karena lucu atau tidak, melainkan Sella tertawa hanya untuk meminimalisir rasa takut dan tegang dalam dirinya.


Langkah kedua kaki Sella masuk ke dalam toilet, hatinya setengah yakin jika yang ada di balik pintu itu adalah Riani.


"AAA!!!"


Suara teriakan itu didengar oleh Riani. Laptop dalam pangkuannya di letakkan di atas permukaan ranjang dan ia segera lari menuju ke sumber suara.


Kedua kakinya begitu cepat menuruni tangga, suara itu seperti berasal dari dapur.


"Sella, ada apa, Sel?" tanya Riani yang menyadari keberadaan teman baiknya itu di depan kamar mandi.


Tangan Sella menunjuk ke arah kamar mandi dengan pintu yang tertutup tidak terlalu rapat.


"Kenapa? Ada apa, Sel?" tanya Riani kembali, ia tidak mengerti.


Pintu tersebut didorong hingga terbuka sempurna, namun Riani tak melihat apapun. Sementara Sella masih ketakutan, tubuhnya bergetar dengan tangan yang dingin mengganggam tangan Riani kuat.


Seketika itu, Sella demam.


"Aku panggil ayah kamu dulu ya," ujar Riani setelah memapah Sella untuk beristirahat di atas sofa ruang keluarga.


Riani berjalan keluar rumah, tujuan utamanya adalah rumah Sella yang tidak begitu jauh. Tanpa alas kaki karena terburu-buru, Riani merasakan sakit sekaligus geli saat batu-batu kecil mengenai kedua kakinya.


"Assalamualaikum, Pak Abdul." Riani melihat ada dua orang perempuan di dalam rumah.


"Eh, Riani," ujarnya yang tengah menulis sesuatu.


"Kalau gitu saya pamit ya, Pak," ucap salah satu dari dua perempuan itu.


Keduanya tersenyum ke arah Riani yang masih berada di teras rumah.


"Ada apa, Riani? Masuk." Pak Abdul merapikan buku-buku di atas meja. "Bukannya tadi Sella ke rumah kamu?"


"Nah, itu, Pak. Nggak tahu Sella kenapa tapi tadi teriak terus sekarang ketakutan gitu."


Mendengar penjelasan Riani, Pak Abdul sontak beranjak dari kursinya. "Kita ke rumah kamu sekarang!"


Langkah kedua kaki Pak Abdul cukup cepat membuay Riani sedikit tertinggal.

__ADS_1


"Riani," panggil seseorang saat Riani hendak sampai di gerbang pintu rumahnya.


Suara itu sangat tidak asing dalam indra pendengaran Riani. Rasanya Riani tidak ingin menoleh, tapi ia sudah kepalang-tanggung dan tertangkap basah.


"I--Ira."


"Benar kan dugaan aku selama ini kalau kamu di rumah. Kamu kenapa sih, Ri? Kenapa kamu menghindar?" Nindira berkata dengan suara yang keras.


"Ssttt ...." Riani menempatkan telunjuknya pada bibir. "Jangan keras-keras. Ayo masuk dulu."


Tangan Riani menggenggam lengan Nindira, keduanya masuk ke dalam teras rumah sementara Pak Abdul sudah berada di dalam untuk membantu anak perempuannya.


"Maafkan aku, Ra." Riani menunduk bersalah.


"Nggak seharusnya kamu kaya gini, Ri. Malah aku jadi pusinh cariin kamu tahu nggak?!"


"Maafin aku, Ra." Riani semakin menundukkan kepala. "Aku nggak tahu harus ngomong kaya gimana ke kamu, di sisi lain aku juga nggak mau ngerepotin kamu terus."


"Ya ampun, Ri. Aku sama sekali nggak ngerasa direpotin sama kamu, sumpah." Nindira mengusap lengan Riani. "Apa Tante Rita datang ke kost-an dan jemput kamu paksa?"


Pandangan mata Riani terangkat, ia menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri yang memilih untuk pulang."


"Kenapa? Karena kamu nggak mau ngerepotin aku lagi? Harus berapa kali sih aku bilang ke kamu kalau kamu sama sekali nggak ngerepotin aku, Ri."


"Salah satunya itu, tapi aku ada alasan lain yang nggak bisa aku omongin ke kamu waktu itu." Riani kembali menunduk.


Sementara Nindira tak bisa lagi mengatakan apapun. Dalam hatinya penasaran, namun lebih baik ia tidak tahu karena Riani juga tidak menghendakinya.


Selama beberapa saat hanya ada keheningan di antara mereka berdua.


Mengingat pada saat ia hendak balikan dengan Bayu pun, Nindira sudah sangat melarang dan memperingati dirinya. Riani hanya takut jika Nindira semakin menyalahkan dirinya.


Namun di sisi lain, selama ini Nindira sudah sangat baik kepadanya. Sebenarnya ia tidak ingin menyembunyikan apapun kepada Nindira.


"Riani," panggil Pak Abdul.


Kedua perempuan yang tengah duduk di teras itu menoleh.


"Kenapa, Pak?"


"Ibu kamu ...." Pandangan matanya melirik ke arah Nindira, sepertinya Pak Abdul merasa tidak nyaman untuk mengatakannya di depan orang lain. "Ehm ... i--itu ibu kamu."


"Kenapa ibuku, Pak?"


Riani segera beranjak, ia berlari masuk ke dalam rumah disusul oleh Pak Abdul. Nindira yang merasa penasaran juga akhirnya turut masuk ke dalam.


Di dalam kamar, Rita nampak duduk sembari mengusap-ngusap rambutnya. Padahal rambutnya sudah pendek sehingga kedua tangan Rita itu seakan-akan sedang mengusap rambut yang tak terlihat.


Tatapan matanya kosong sembari terus berkata, "Riani ... Riani ...." Dengan senyum yang menyeramkan.


"I--Ibu ... Ibu ke--kenapa, Bu?"


Tatapan mata kosong itu melihat ke arah Riani, seketika itu Riani yang hendak mendekat kembali memundurkan langkah kakinya.

__ADS_1


Ia menabrak Nindira yang berada tidak jauh dari ambang pintu.


"Astagfirullah." Nindira segera menarik tangan Riani. "Biarkan Tante Rita sendiri dulu."


Di bagian bawah, suara keributan terdengar. Sella berteriak-teriak keras sementara Pak Abdul berusaha untuk menyadarkannya.


"Istighfar, Nak. Istighfar, Sella." Pak Abdul berkata tegas sembari terus menahan tubuh Sella yang hendak memberontak.


Suasana rumah yang tadinya hening dan tenang kini berubah mencekam.


"Riani ... Riani ...." suara Rita terdengar mendekat, rupanya ia sedang berjalan dan hampir keluar dari kamar. "Sebentar lagi kamu akan menjadi temanku di sini, Riani."


"Aaarrggghh, mati ... dia harus mati!!!"


Suara itu bersahut-sahutan, berasal dari Rita yang ada di lantai dua dan Sella yang ada di lantai pertama.


Sementara itu Riani terdiam, ia terpaku melihat ke arah dua orang terdekatnya yang seketika berubah menjadi menyeramkan.


Nindira yang masih tersadar segera menarik tangan Riani, ia masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada di belakang mereka.


"Biar aku panggil Bang Bhanu," ujar Nindira yang lantas mengambim smartphone di dalam tas selempangnya.


Panggilan suara satu kali terdengar tengah berusaha terhubung.


Sebenarnya Nindira juga merasa ketakutan, apalagi suara-suara dari Rita dan Sella yang tengah kerasukan masih terus mengganggu.


"Jangan sampai kosong pikiranmu, Ri," ujar Nindira seraya menepuk pundak Riani.


Riani hanya membalasnya dengan anggukkan kepala.


"Duh, kalau lagi penting gini kenapa orang-orang susah banget ditelepon sih?!" kesal Nindira, ia lantas kembali berusaha menghubungi kakaknya.


Panggilan suara yang kedua masih belum bisa terhubung dengan Bhanu. Nindira tak putus asa dan kembali mengulangi panggilan suara itu.


"Halo," ujar Bhanu dingin.


"Ke rumah Riani sekarang, Bang!"


"Ngapain?" tanya Bhanu enteng.


"Ke sini aja dulu, bawa Difki juga buat bantuin."


"Masih kajian."


"Ih, ke sini aja dulu lebih genting, Bang. Cepetan ke sini!"


Nindira merasa kesal, situasi di rumah Riani semakin tak kondusif.


Pandangan mata Nindira melihat ke arah Riani yang berdiri membelakanginya, Riani nampak berjalan ke depan menjauh darinya.


"Ri, kamu mau ke mana?" tanya Nindira, namun tak mendapat respon apa-apa. "Ri."


Nindira mengejar langkah Riani, ia berdiri di depan Riani dan mendapati tatapam matanya kosong dengan bola mata yang sudah tidak ada lagi.

__ADS_1


"Ri--Riani, ka--kamu--" Belum sempat Nindira menyelesaikan kalimatnya, Nindira sudah berteriak kencang.


"AAA!!! TO--LONG ...!"


__ADS_2