PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Usil


__ADS_3

Suara pintu kamar yang dibanting terdengar keras dan bahkan menggema, setelah itu tidak ada lagi suara ketuka pada pintu dan Riani bisa beristirahat dengan tenang.


Hari berganti dan berlalu seperti biasanya. Jam pulang kerja tiba dan Riani menghentikan sebuah angkutan umum yang kebetulan melintas tepat di depan restoran.


Riani turun dari kendaraan itu sebelum sampai di tempat kost-nya, ia berjalan kaki menuju ke salah satu minimarket terdekat untuk membeli beberapa barang.


Langkah Riani terhenti, ia bersembunyi di balik sebuah mobil hitam yang kebetulan terparkir di pinggir jalan tidak jauh dari minimarket tersebut berada.


"Ibu sama siapa sih itu?" lirih Riani masih memperhatikan ke arah dua orang yang sedang berjalan beriringan. "Pak Abdul?" Kedua matanya memicing. "Mana mesra banget lagi kelihatannya mereka, apa jangan-jangan mereka cinlok lagi?"


Langkah Rita dan Abdul semakin mendekat ke arah persembunyian Riani, hal tersebut membuat Riani segera bersembunyi di balik mobil hitam itu.


"Terima kasih banyak loh, Pak, nanti lagi ya, hihi."


"Iya tenang aja, saya juga masih kangen sebenarnya."


Keduanya berbicara sembari terus berlalu.


Riani yang tak sengaja mendengar percakapan itu mengerngitkan dahi sekaligus merasa jijik. "Ada apa di antara mereka berdua? Kenapa topik pembicaraan mereka kaya gitu banget sih?!"


Sementara itu Rita dan Abdul sudah sampai di tempat di mana motor Abdul diparkir, letaknya tidak begitu jauh dari tempat Riani bersembunyi.


Saat Rita menghentikan langkah dan seperti hendak melihat ke arahnya, Riani segera keluar dari persembunyiannya dan berjalan membelakangi arah kedua orang itu berada.


Langkahnya berjalan dengan cepat masuk ke dalam minimarket. Dari balik dinding kacanya, Riani memperhatikan dua orang itu yang sepertinya tidak menyadari keberadaan Riani. Mereka berdua berboncengan meninggalkan area sekitar minimarket, entah kemana mereka akan pergi.


"Permisi," ujar salah satu pegawai.

__ADS_1


Riani terkejut melihatnya, ia segera bergeser sedikit. "Oh, ehm ... i--iya silahkan."


Keranjang belanjaan yang tersedia diambil oleh Riani untuk menyimpan belanjaannya sementara. Lantas ia berkeliling minimarket untuk mencari barang-barang yang mungkin akan dia butuhkan selama tinggal sendirian.


Satu keranjang penuh dengan barang-barang sudah ada dalam genggaman Riani setelah setengah jam melihat-lihat isi yang ada dalam minimarket tersebut. Keranjang yang semula enteng karena tidak berisi apa-apa kini menjadi sangat berat.


Keranjang itu diletakkan begitu saja di atas lantai sementara Riani menyiapkan kartu debitnya untuk membayar semua yang sudah masuk ke dalam keranjang. Tersisa tiga antrian lagi di depan Riani dan mereka tidak membeli sebanyak yang Riani beli.


Keluar dari minimarket, kartu debitnya sudah kosong tapi sekarang kedua tangannya sibuk menenteng plastik besar yang berisi banyak barang belanjaan.


"Sebentar lagi, nggak jauh juga kok sampai kost-an." Riani tergopoh-gopoh membawanya.


Beberapa kali Riani memutuskan untuk beristirahat sembari mengatur nafasnya yang berantakan. Kantong plastik yang dia bawa cukup berat hingga membuatnya kewalahan.


Suara klakson sepeda motor membuat Riani menoleh. Sebuah sepeda motor berwarna merah dan hitam melaju perlahan tidak jauh darinya.


Entah kenapa setiap kali bertemu, Riani selalu merasa gugup. Rasanya seperti tak bisa mengontrol dirinya sendiri.


Riani menggelengkan kepalanya. "E--enggak usah."


"Ya udah," ujarnya enteng yang kemudian kembali memutar gas pada sepeda motornya.


Sementara masih di tempat yang sama, Riani menepuk kepalanya sendiri. "Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa nggak terima bantuannya aja si, Ri?!" kesal Riani pada dirinya sendiri. "Udah tahu berat bawa beginian, pake acara nolak bantuan segala!"


Akhirnya setelah perjalanan yang cukup melelahkan, Riani sampai di halaman depan rumah kost-nya. Tangannya masuk ke dalam tas selempang merogoh untuk mencari sesuatu.


Kunci pintu ditemukan dan pintu terbuka, Riani membawa masuk kantong plastik berisi belanjaannya itu ke dalam kamarnya sebelum akhirnya nanti ia rapihkan.

__ADS_1


Riani menggantungkan tas selempangnya di tempat yang sama seperti biasa. Sore ini lebih lelah daripada sore kemarin, Riani menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur begitu saja.


Rasanya sangat malas untuk merapihkan semuanya sekarang, Riani memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu.


Hingga akhirnya saat menjelang malam, Riani mulai membongkar belanjaannya. Semua barang ditata dengan rapih dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing.


"Laper juga, aku mau bikin sarden ah," ujar Riani sembari mengambil satu kaleng sarden yang baru saja ia beli.


Keluar dari kamar, keadaan rumah seperti biasanya. Hening, sepi, tak ada suara apapun hingga suara nafas Riani sendiri bisa terdengar dengan jelas.


Tepat pukul tujuh malam, Riani medengar bunyi jam yang berdentang saat sedang menyantap makanan. Mendengar hal yang cukup asing dalam telinganya, Riani menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara.


"Kayanya dari kemarin nggak ada deh suara ini, kaya suara jam di rumah-rumah horor," celetuk Riani yang lantas kembali menyantap makan malam.


Beberapa hari selalu melakukan aktivitas sendirian sebenarnya membuat Riani merasa kesepian, apalagi di rumah kost-nya ini tidak seramai rumah kost biasanya. Orang-orang yang menempati rumah ini sangat anti sosial sepertinya sehingga Riani pun jarang bertemu atau berpapasan dengan mereka.


Usai menghabiskan makan malamnya, Riani mencuci semua peralatan makan dan masak yang telah dia gunakan. Rasanya tidak enak hati jika anak kost selanjutnya hendak memasak tapi justru alat masaknya masih kotor karena belum dicuci setelah dipakai.


Merasa jenuh di dalam kamar, Riani memutuskan untuk berjalan-jalan di bagian dalam rumah. Langkah kakinya menuju ke ruang tamu dan ia menemukan sebuah jam besar seperti lemari yang ada di salah satu sudut ruangan.


"Oh ... ini ya yang bunyi tadi, jam setengah delapan." Riani memperhatikan jam yang cukup antik bagi dirinya. Merasa cukup, Riani mendudukkan tubuhnya di kursi tamu. "Anak kost di sini pada pulang jam berapa ya?" lirih Riani dengan pandangan mata yang melihat ke arah pintu.


Duduk bersandar pada kursi tamu cukup membuat tenang juga, sayangnya tidak ada banyak hiburan dalam kost ini. Anak kost yang lain juga jarang kelihatan sehingga Riani tak bisa berinteraksi dengan mereka dalam waktu luangnya.


Masih belum ingin berada di kamar, Riani merebahkan tubuhnya di atas kursi tamu. Meskipun tidak begitu nyaman, tapi sepertinya hal itu tidak terlalu menjadi masalah bagi Riani.


Jam yang besar itu kembali berdentang mengejutkannya. Riani menatap jam yang berbunyi sesuai waktu sekarang.

__ADS_1


"Jam delapan," lirih Riani, pandangan matanya melihat ke arah pintu. "Anak-anak yang lain belum pada pulang juga ya?" Ia terdiam sejenak. "Tungguin ah, barangkali mereka bentar lagi pada pulang. Lumayan juga buat kenalan sama mereka, dari kemarin nggak pernah lihat mereka. Semoga aja kali ini bisa kenalan sama mereka."


__ADS_2