PESUGIHAN NYI KEMBAR

PESUGIHAN NYI KEMBAR
Kabur


__ADS_3

Kedua tangan Riani menutup mulut yang sudah hampir muntah. Tak tahan membayangkan apa yang akan terjadi malam ini, Riani segera beranjak dari duduknya.


"Maaf," ujarnya cepat seraya melangkah ke belakang.


Riani berjalan ke arah kamar kecil. Ia berdiri menatap ambang pintu kamar kecil dengan Fella yang berdiri di sana.


Fella tersenyum, lantas menganggukkan kepala dengan sangat lembut.


Akan tetap Riani masih ragu untuk pergi. Hubungannya dengan Bayu sudah berjalan dengan sempurna dan Riani juga mencintai laki-laki itu.


Riani menoleh ke arah pintu belakang rumah keluarga Suwiryo yang masih terbuka karena dirinya yang keluar. Dari dalam sana terlihat Utari yang berjalan keluar.


"Riani, kamu lagi apa? Ritualnya bentar lagi dimulai," ujar Utari dari dalam sembari melangkah keluar.


"Segera sebelum terlambat, Riani," bisik Fella, tangannya mengarah ke kanan, sebuah jalan setapak ada di sana untuk pelarian malam ini.


Rasa cinta Riani terhadap Bayu memang sudah mekar. Riani juga tak ingin cinta itu layu begitu saja. Ia ingin mempertahankan hubungan yang baru beberapa saat ia bangun bersama Bayu, ia ingin tetap bersama laki-laki itu, namun, haruskah Riani melalukan apa yang Bayu dan keluarga inginkan?


Riani tidak ingin pergi, namun ia juga tidak ingin menjalani ritual yang akan dimulai sebentar lagi.


Dalam keraguannya, Utari semakin mendekat.


Dan Riani memilih untuk kabur.


Kedua kakinya berlari menyusuri jalan setapak. Sementara Fella menemani dirinya dengan ... terbang. Menyeramkan, tapi hal ini sudah menjadi pilihan yang diambil oleh Riani.


"Kesana!" ujar Fella memberikan arah.


Riani berbelok, lantas memasuki lorong alami dari pohon-pohon. Alam semakin gelap usak Riani masuk ke dalam hutan belantara dengan pohon-pohon rindang di sekitar tempat ia berdiri.


"Ki--kita di mana, Fella? A--aku takut," ujar Riani yang memperhatikan sekitar.


"Jangan lihat kemana-mana, Ri, lihat saja ke depan."


Riani mengangguk menuruti perkataan Fella.


"Riani ... tunggu!"


Menoleh ke belakang, Riani melihat seseorang yang berlari mengikuti dirinya.


Dari suara yang dilontarkannya, terdengar jelas jika itu adalah Bayu.


"Lari terus, Ri, lari!"


"Riani ... Riani." Bayu tak henti-hentinya terus memanggil nama Riani.


Sementara Riani terus berlari, menembus hutan, menapaki tanah yang lembab.


Menoleh ke belakang untuk yang kedua kali, Riani melihat Bayu yang semakin jauh. Di belakangnya, terlihat beberapa orang dengan senter dan obor sebagai penerangan.


"Lebih cepat, Riani."

__ADS_1


Kedua kaki Riani sudah merasa sakit, jantungnya berdegup kencang dengan nafas yang tak beraturan. Ruani merasakan kedua lututnya semakin lemas seiring dengan ia yang terus mengayunkan kedua kakinya.


"A--aku ... a--aku ng--nggak ku--kuat lagi, Fel." Riani terjatuh saat pandangan matanya juga semakin buram.


Sebelum memejamkan mata, Riani bisa melihat Fella yang berdiri di atasnya.


Langit malam bertabur bintang adalah hal terindah yang dilihat oleh Riani sebelum akhirnya kedua matanya hanya melihat sebuah ruang gelap tak berujung.


"Di sana, dia di sana!"


"Riani ... Riani ...."


Suara Bayu dan orang-orang yang mengejar pelarian Riani masih terdengar meskipun yang Riani lihat saat ini hanyalah kegelapan.


Dan beberapa detik kemudian, Riani tak tahu lagi apa yang terjadi.


Dalam waktu yang sangat singkat, beberapa detik saja, Riani tak lagi merasa lelah dan lemas seperti yang sebelumnya ia rasakan. Bahkan kali ini, Riani merasa tubuhnya lebih enteng.


Riani bisa melihat Fella yang tengah berdiri tidak jauh darinya. Fella tersenyum, lantas bergerak menjauh.


Rasanya sangat aneh, tubuhnya sangat mudah digerakkan kali ini. Apalagi saat melihat langit masih gelap dan ... Bayu serta beberapa rombongan yang mencarinya semakin mendekat.


"Ayo, Fel!" ujar Riani yang merasa khawatir tertangkap dalam pelariannya. Ia menggenggam tangan Fella untuk bersama-sama berlari, namun justru Fella tetap diam di tempat.


"Kamu tidak perlu pergi lagi, Riani."


Mendengar hal tersebut, Riani mengernyitkan dahi. Ia melihat ke arah yang sama seperti Fella. Di sana, di antara semak belukar yang tumbuh liar di sekitar pohon besar, tubuhnya terbaring meringkuk.


Fella mengangguk.


"A--aku udah mati?!" Riani tak percaya jika ini sudah terjadi. Ia tidak ingin mati di usianya yang masih sangat muda seperti ini.


"Hahahaha ... Hahahahaha." Fella justru tertawa terbahak-bahak. "Kamu juga pingsan aja, Fel, mungkin sampai beberapa hari ke depan. Kamu koma."


"Koma?"


Fella menganggukkan kepalanya.


"Ke--kenapa bisa?" tanya Riani yang masih tidak mengerti.


"Aku tahu jika kamu tidak akan sanggup lagi untuk berlari, itulah sebabnya saat kamu pingsan karena kelelahan tadi aku segera mengambil kesempatan untuk membawamu keluar dari jasadmu."


"Ta--tapi a--aku masih bisa balik lagi, kan?" Fella mengangguk. "Kamu tenang saja."


Riani melihat tubuhnya sendiri yang sedang meringkuk dan kemudian ditemukan oleh salah seorang rombongan. Dia memanggil Bayu dan memberitahukan apa yang sudah ia temukan.


Beberapa orang membawa tubuh Riani, salah satunya adalah Bayu.


"Ayo, kita juga pergi dari sini."


"Kita mau ke mana?"

__ADS_1


Fella tak menjawab perkataan Riani, ia berjalan menembus gelapnya hutan.


Hingga akhirnya terlihat di balik sebuah pohon yang rindang, sebuah telaga yang indah dengan kunang-kunang yang terbang dengan cantiknya.


"Wah, aku nggak pernah lihat sebuah tempat di malam hari yang seindah ini."


"Aku juga baru menemukannya kemarin."


"Iya kah?"


Fella mengangguk. "Kemarin aku lagi duduk di sini pas aku mutusin buat ke rumah Bayu." Ia menghentikan ucapannya sejenak. "Maaf, kemarin aku nggak bisa bantu kamu, Ri."


"Ja--jadi kamu beneran datang?"


"Iya, tapi aku terlalu lemah buat lawan Nyi Kembar."


"Nyi Kembar?" Riani mengernyitkan dahi setelah mendengar nama yang tak begitu asing dalam pendengarannya.


Fella mengangguk. "Perempuan berkebaya merah itu adalah Nyi Kembar. Kamu lihat wajahnya seperti ada dua kan?"


"I--iya, sih, ta--tapi kenapa ...."


"Desa ini adalah tempat di mana Nyi Kembar berasal."


Kedua mata Riani terbuka dengan mulutnya yang membentuk seperti huruf O. "Ja--jadi--"


"Iya, Nyi Kembar berasal dari sini."


"La--lalu kenapa dia bilang mau bantu aku?"


Fella terkekeh. "Itu hanya tipu dayanya saja, dia tidak akan tidak meminta imbalan setelah membantu kamu."


"Di--dia juga bilang begitu. Ta--tapi kenapa a--aku? Ke--kenapa dia menawarkan bantuan kepadaku?"


"Mungkin keluargamu atau orang terdekatmu ada yang menggunakan dia."


Pikiran Riani seketika teringat dengan Sella dan Pak Abdul. Hubungan dia dan Sella serta Pak Abdul cukup dekat. Tidak menutup kemungkinkan jika memang Nyi Kembar datang kepadanya karena Riani dekat dengan mereka berdua. Hal ini berarti ... dugaan Riani adalah benar.


Perlahan-lahan langit semakin terang, Riani tak merasakan ngantuk sama sekali selama di telaga ini.


Di ujung timur sana, semburat jingga mulai terlihat.


"Kamu mau pulang?" tanya Fella memberikan tawaran.


Riani mengangguk.


"Ke rumah Bayu atau ke rumahmu sendiri?"


"Emang bisa kalau langsung ke rumahku sendiri?"


Fella tersenyum. "Bisa aja, tapi lebih baik kita ke rumah Bayu dulu untuk melihat bagaiamna keadaan tubuhmu."

__ADS_1


__ADS_2