
Terlihat Fella yang datang dari salah satu sudut ruangan, namun belum sempat mendekat tubuhnya menabrak sosok perempuan berkebaya merah dan seketika terpelanting jauh.
"FELLA!!!"
Riani memejamkan mata, tak kuasa melihatnya.
Entah kapan tertidur, namun Riani terbangun dengan hari yang sudah berganti pagi.
Melihat ke sekitar, Riani tak menemukan keanehan. Semua barang-barang di dalam kamar masih berada di tempatnya masing-masing. Padahal seingatnya, semalam itu kondisi kamar sudah seperti kapal pecah.
Riani menyingkap kain batik yang menutup tubuhnya. Saat beranjak dari tidur, Riani merasakan tubuhnya pegal di beberapa bagian. Tangan Riani merabanya pelan dan setiap kali disentuh, rasa sakit itu semakin kuat.
"Aw!" Riani terkejut saat menyentuh lehernya.
Smartphone yang tergeletak di atas meja diambil dan dinyalakan. Riani membuka kamera yang lantas diarahkan ke bagian belakang leher.
Timer kamera berbunyi tiga kali sebelum akhirnya gambar leher bagian belakang berhasil diambil.
"Nggak ada apa-apa," lirih Riani, ia mengernyitkan dahi karena lehernya tampak normal. Tidak ada luka ataupun memar. "Nggak beres, kayanya aku harus cepet-cepet pulang ke rumah."
Riani berjalan keluar dari kamar.
Kondisi rumah tampak sepi, tak ada satupun orang yang dilihat Riani di sekitar sini.
Namun indra pendengarannya berhasil menangkap suara lirih dari dapur.
Riani mengenakan sandal dan menghampiri ruangan itu. Tampak Utari yang tengah melakukan rutinitas setiap paginya.
"I--ibu," panggil Riani lirih.
"Eh, kamu udah bangun, Nduk?" Utari menoleh, ia tesenyum.
"Udah, Bu," jawab Riani seraya menganggukkan kepala. "Ibu mau ngantar makan siang?"
"Iya nih, kenapa?"
"Oh, Bayu di mana, Bu?" tanya Riani yang sedari tadi belum melihat keberadaan laki-laki itu.
"Udah pergi ikut Bapak, kamu tadi dibangunin sisah banget sih."
Riani terkekeh. "Ehm ... a--aku boleh ikut?" ucap Riani ragu.
"Boleh, boleh, ini kamu bawa keranjang ini ya," jelas Utari sembari mengangkat sebuah keranjang dari anyaman plastik. "Isinya lauk, nggak berat."
__ADS_1
"Ehm ... sebentar, Bu, aku ngambil HP dulu."
"Loh, buat apa emangnya? Kamu kan tahu sendiri di sini nggak ada sinyal."
Riani tetap melangkahkan kakinya menuju kamar. "Barangkali ada yang bagus-bagus kan jadi bisa difoto, Bu."
Langkah kaki Riani tepat di belakang Utari. Satu tangannya membawa keranjang sementara tangan yang lainnya menggenggam smartphone. Sepanjang perjalanan, Riani memperhatikan ke sekitar.
Sebenarnya desa ini sangat indah, Riani menyadari itu. Banyak tempat yang ingin Riani ambil gambarnya, bahkan setiap jengkal dari desa ini sangat indah. Hanya saja, keanehan yang ada di desa ini sama sekali tidak masuk akal bagi Riani.
Riani menyipitkan matanya. "Fella?" Dahinya mengernyit saat melihat sosok itu. "Dia kenapa ada di sana?"
Semakin mendekat, Riani bisa melihat dengan jelas sosok itu. Dia melambai ke arah Riani dengan perlahan-lahan.
"Ke sini," ujar Fella sembari menunjukkan jalan setapak.
"Ke mana, Fel?"
"Riani," panggil Utari.
Melihat ke arah perempuan itu, Utari terlihat sedang memperhatikannya.
"Kamu ngomong sama siapa?"
Persawahan yang indah ada di sejauh mata memandang. Hijau, subur, menyejukkan. Beberapa petani terlihat sedang bekerja menggarap sawah masing-masing.
Langkah kaki Riani masih terus mengikuti Utari, namun semakin lama, Riani semakin merasa aneh. Ia tidak lagi melihat sawah-sawah, langkah kakinya kini berada di jalan setapak dengan pohon pinus di kiri dan kanannya.
Smartphone yang ada di genggaman tangan dinyalakan. Terlihat waktu sudah berlalu hampir satu jam lamanya.
'Apa ladang milik bapak sejauh ini? Kenapa nggak nyampe-nyampe?' pikir Riani.
Sebenarnya ia sudah mulai kelelahan, tapi Utari masih terus berjalan. Riani merasa gengsi, ia enggan mengatakan jikansudah mulai kelelahan.
Hingga akhirnya beberapa menit berlalu.
Riani menghentikan langkah kakinya. "Apa masih jauh, Bu?"
Seiring dengan pertanyaan itu dilontarkan, Utari juga menghentikan langkah kakinya. Seiring dengan tubuh Utari yang berbalik, Riani tak melihat jika itu adalah Utari lagi.
"Fella?"
Fella tersenyum simpul. "Maaf, Riani, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantumu."
__ADS_1
Keduanya duduk di antara pepohonan pinus yang menjulang tinggi dengan semilir angin yang menerpa menyejukkan hati.
Riani terdiam, mendengarkan Fella yang terus berbicara.
"Sebenarnya pas pertama aku lihat kamu dijemput Bayu sore itu juga aku nggak suka sama dia, Ri. Aku nggak setuju sama hubungan kamu dan Bayu, tapi aku nggak berani buat ngomong itu ke kamu." Fella menghentikan kalimatnya sejenak. "Makannya pas aku dengar kamu sama Bayu mau pergi bedua, aku ikuti kalian dari jauh--"
"Tapi kenapa aku nggak lihat kamu, Fel?" potong Riani.
"Aku nggak mau ganggu kamu, aku nggak mau bikin kamu ngerasa diawasi. Kamu juga kan belum ngizinin aku buat ngikutin kamu, makannya aku milih ngikutin kamu dari jauh. Yah, jaga-jaga aja barangkali ada hal-hal yang membahayakan kamu."
"Terus kenapa kamu ajak aku ke sini, Fel?"
Fella menghembuskan nafasnya. "Aku denger percakapan Suwiryo sama Utari tadi pagi. Suwiryo nyembelih ayam cemani, terus istrinya nyiapin bunga-bunga buat persembahan." Kalimatnya terhenti sejenak. "Nanti malam, ritualnya bakal dilanjutkan lagi. Tapi kali ini kamu sama Bayu harus minum darah ayam cemani itu. Tujuannya biar kamu dan Bayu tetap terikat karena dalam tubuhmu dan Bayu ada darah ayam cemani yang sama."
"Ka--kamu tahu dari mana tentang semua ini?"
"Semalam mereka semua menyusun rencana ini."
Riani terdiam sejenak. "Jadi semalam mereka juga membiarkan aku tersiksa di dalam kamar sendirian?"
"Mereka tidak mendengarmu karena semalam kamu sudah memasuki dimensi yang lain."
Riani terdiam, ia benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.
"Maaf, Ri, aku hanya mengingatkanmu. Tapi jika kamu memang mencintai Bayu, kamu bisa mengikuti ritual ini. Aku akan mengantarkanmu kembali." Fella lantas beranjak dari duduknya.
Dengan gerakan yang ragu, Riani turut beranjak.
Malam kembali datang, Riani masih tetap berada di dalam kamar saat orang-orang yang sama mulai berdatangan.
"Riani," panggil Utari. "Keluarlah, ritual akan kembali dilanjutkan."
"Bukannya aku hanya perlu di sini, Bu?"
Utari menggelengkan kepala. "Malam ini kamu harus ikut, Ri."
Menuruti perkataan calon ibu mertua, Riani beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar dengan perlahan.
"Aku memang mencintai Bayu, aku menerima dia apa adanya. Tapi apa harus seperti ini?" Riani membayangkan darah ayam yang harus ia minum, perutnya terasa mual pada saat itu juga.
Riani mendudukkan tubuhnya di antara banyak orang yang sudah datang. Pandangan matanya melihat ke arah penampi dengan bunga-bunga dan semangkuk cairan merah di atasnya.
Riani yakin jika itu adalah darah ayam yang akan dia minum sesuai dengan apa yang sudah diceritakan Fella. Perutnya semakin mual tak tertahankan.
__ADS_1
"Jika kamu ragu, lebih baik jangan lakukan itu."