
Sendok makan diletakkan dengan kasar di atas piring yang masih penuh dengan makan malam. Suara sendok yang mengenai piring itu membuat semua mata yang ada di meja makan menoleh ke arah sumber suara.
"Aku nggak nafsu makan," ujar Riani yang lantas beranjak dari duduknya.
"Tapi kamu harus makan, Ni," bujuk Rita.
Riani tidak menanggapi ucapan ibunya. Ia tetap berdiri dan berjalan hendak menuju ke kamarnya.
"Riani," panggil Bayu, ia menahan kepergian Riani dengan menggenggam tangan gadis itu.
"Lepas!"
"Tapi kamu harus makan dulu, Sayang," bujuk Bayu.
"Stop panggil aku sayang, Bay! Aku bukan siapa-siapa kamu lagi, kita udah putus!"
Riani menghentakkan tangannya hingga berhasil terlepas dari Bayu. Tanpa menunggu lama kedua kakinya segera melangkah menuju kamar.
"Kamu yang sabar ya, Bay," ujar Rita yang sudah berdiri di dekat Bayu dan mengusap punggung laki-laki itu.
Di dalam kamar tidak ada banyak hal yang bisa dia lakukan, hanya melihat-lihat isi sosial medianya saja untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang baru.
Tiba-tiba setelah sekian menit berselancar di dunia maya, sebuah notifikasi masuk ke dalam smartphone Riani.
Bayu: Kamu beneran mau putus sama aku?
Riani berdecih.
Riani: Iya.
Bayu: Aku nggak bakalan biarin kamu pergi dari aku gitu aja, Ri, kamu udah sakitin perasaanku, hukum karma pasti ada.
Pandangan mata Riani melirikk ke arah notifikasi pesan singkat dari Bayu, ia menghiraukannya begitu saja.
Seperti pagi sebelumnya, Riani sudah siap dengan seragam kerja saat ia duduk di depan meja rias dengan banyak produk kecantikan yang ada di atasnya.
Riani mulai mengaplikasikan beberapa produk itu ke wajahnya, bersiap untuk mempercantik wajah yang akan kembali dilihat oleh banyak orang hari ini.
Sebelum keluar kamar, Riani menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia membuka pintu dan melangkahkan kaki menuruni anak tangga.
Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang berbincang, laki-laki dan perempuan.
'Apa Bayu belum pulang dari semalam?' batin Riani yang kemudian sedikit melongok ke bagian bawah tangga.
__ADS_1
Ia melihat laki-laki menyebalkan itu sedang berbincang di ruang makan bersama dengan Ibunya.
'Ngapain coba masih di sini? Kenapa nggak pulang ke kost-annya aja sih?!'
Pagi ini tidak ada keinginan untuk menyantap sarapan meskipun hanya sesuap. Usai mengenakan flat shoes berwarna hitam, Riani segera melangkah menuju pintu keluar.
"Riani," panggil Rita seraya beranjak dari duduknya. Ia berjalan keluar mendekati anak perempuannya.
Riani menoleh. "Kenapa, Bu?"
"Kamu nggak sarapan dulu?"
"Males, nggak nafsu makan," jawab Riani usai melirik sinis ke arah Bayu.
Sepeda motor pemberian Bayu dinyalakan.
"Itu punyaku ya, Ri, kenapa kamu masih pake pemberian dari aku, hah?" suara itu beradu dengan suara mesin kendaraan. "RIANI!" panggil Bayu dengan suara lebih keras.
"Kenapa?" tanya Riani yang memang tadi tidak bisa mendengar perkataan Bayu lebih jelas.
"Kamu tuh mikir nggak sih, kamu udah minta putus dari aku tapi masih mau pake tuh motor?! Lagian ya, aku kurang baik apa sama kamu? Setiap pergi aku yang bayarin, bensin motor aku yang beliin, kemarin ke kampung juga semua biaya aku yang nanggung. Kurang apa aku, Ri?!"
"Oh," ujar Riani dengan tenang. Tangan kanannya mengambil kunci sepeda motor usai mematikan kembali mesinnya. "Kalau kamu mau semua hartamu dikembalikan, bilang." Riani melempar kunci motor itu. "Jajan aku, bensin aku sama biaya ke kampung kemarin berapa?" Tangannya mencari-cari sesuatu di dalam tas hingga ia menemukan smartphone-nya. "Berapa, Bay?!"
"Riani, kamu--"
"Riani, kamu nggak sopan banget sih jadi cewek?!"
"Nggak sopan?" Riani terkekeh. "Kan kamu sendiri yang ngungkit semua pemberian kamu buat aku tadi. Kamu kan yang mau itung-itungan? Itung, Bay, itung berapa totalnya? Aku bayar sekarang juga."
"Riani, kamu jangan gitu ke Bayu."
"Dia sendiri yang mulai, Bu." Riani berusaha untuk membela dirinya sendiri karena ibunya justru membela laki-laki itu.
"Niat Bayu kan baik, biar kamu sadar sama kebaikannya."
"Aku nggak butuh kebaikan dia kalau akhirnya diperhitungkan seperti ini, Bu." Pandangan mata Riani beralih kepada Bayu. "Cepetan bilang, Bay. Sebutin juga nomor rekening kamu."
Bayu menggaruk kepalanya kasar. "Argh!" Ia pergi dari hadapan Riani dan Rita.
"Ba--Bayu tunggu," ujar Rita yang berusaha untuk mengejar laki-laki itu.
Riani berdecih melihat kepergian dua orang itu, dia berjalan keluar untuk menggunakan kendaraan umum sebelum terlambat.
__ADS_1
Dikarenakan sudah sedikit terlambat, bus yang ditumpangi Riani amat-sangat penuh. Riani berdiri dengan tangan yang berpegangan pada handle.
Perjalanan terasa lebih lama karena posisi Riani yang tidak nyaman. Sembari menunggu sampai di tempat tujuan, Riani memutuskan untuk membuka smartphone dan mulai melihat-lihat isi sosial medianya.
Bayu: Aku bakal bikin kamu nyesel karena udah kaya gini sama aku, Ri.
Baru saja layar smartphone menyala, notifikasi pesan singkat dari Bayu segera terlihat.
"Huh, bikin nggak mood buat buka HP aja," ujar Riani yang memutuskan untuk mematikan ponselnya.
Beberapa penumpang lain ikut turun bersamaan dengan Riani.
"Eh, itu yang namanya Riani, kan?"
"Iya, kasihan banget ya jadi gila, suka ngomong sendiri tahu katanya."
"Aku juga pernah lihat dia lagi ngomong sendiri di belakang gedung."
"Beneran?"
"Bener lah, masa bohongan. Sayang banget pas itu nggak aku video, kalah divideo mah mungkin bisa viral."
"Hahaha iya."
Kedua perempuan itu terkekeh saat Riani berjalan melewati dirinya.
'Dikira aku nggak bisa denger suara mereka apa?!'
Riani tak memiliki keberanian yang cukup untuk mengatakan itu di hadapan dua orang tersebut secara langsung, hal tersebut membuatnya terus terdiam sembari berjalan melewati mereka.
Belum jauh dari mereka, Riani melihat Fella yang mendekat ke arahnya. Namun Fella tidak berhenti.
Tepat di depan dua perempuan yang tadi membicarakan Riani, Fella menyenggol salah satu tangan perempuan itu hingga menyenggol kopi yang ada dalam genggaman perempuan di sebelahnya.
Tumpahan kopi tersebut mengenai celana jeans putih yang dia kenakan, meninggalkan noda kecoklatan yang begitu jelas.
"Heh, ngapain kamu ketawa?!"
Riani segera menahan kekehannya. Ia beranjak pergi dari tempat ia berdiri sebelumnya disusul oleh Fella.
"Kamu gimana, sih?! Udah tahu aku lagi pegang kopi malah disenggol keras banget, jadi tumpah gini kan! Mana kena celana lagi!"
Sepanjang jalan menuju ruang karyawan Riani masih terkekeh bersama dengan Fella.
__ADS_1
"Puas banget aku lihatnya. Makasih ya, Fel."
"Fel? Kamu masih ngomong sama Fella, Ri? Bener ya kata Bayu, kamu makin gila. Jelas-jelas Fella udah nggak ada kata Tri and the gang yang udah kerja lama di sini juga. Dasar, halu!"