
Sudah tiga hari sejak Riani kembali berangkat bekerja, beberapa teman kerja selalu menganggap Riani sedang sakit.
Menurut mereka wajah Riani terlihat pucat dan seperti tidak ada semangat, padahal Riani sendiri merasa dirinya baik-baik saja dan tidak ada yang salah sedikitpun.
Riani menatap pantulan wajahnya sendiri pada cermin. Kedua matanya masih bersinar terang seperti biasanya, kulitnya wajahnya juga segar dengan riasan make up yang memang tidak terlalu tebal.
"Mungkin karena gaya make up aku yang flawless kaya gini kali ya?" Riani mencoba mengetahui apa yang salah dengan dirinya.
Lipcream berwarna merah merona diambil dari rak, lipcream tersebut masih cukup banyak karena Riani juga tidak menggunakannya setiap hari. Shade warna lipcream ini hanya digunakan saat Riani ingin mengombre warna bibirnya.
Jujur saja Riani tidak suka warna-warna yang terlalu cetar seperti ini, warna merah cabe yang membuat bibirnya merekah dan terlihat tebal.
Ia merasa lebih tua bertahun-tahun jika mengenakan lipcream yang seperti ini, namun kali ini demi teman-temannya agar tidak ada lagi yang mengatakan bahwa wajah Riani pucat, ia memutuskan untuk mengenakan lipcream berwarna merah merona ini.
Riani menghembuskan nafas dengan berat. Pantulan wajahnya di cermin terasa asing dalam pandangan matanya sendiri.
Meskipun begitu, Riani tetap meyakinkan diri, dalam hatinya berusaha untuk tetap percaya diri.
Sembari mengenakan jaket abu-abu, Riani keluar dari kamar. Riani menutup pintu kamarnya lagi perlahan-lahan dan berjalan menuruni anak tangga.
Dahi Riani mengerngit, ia mendengar perdebatan kecil antara dua perempuan yang kemungkinan besar adalah Rita dan Dwi.
"Tapikan Dwi, kamu tahu sendiri kalau akhir-akhir ini beberapa anak kost udah pada keluar karena kost yang semakin tak terawat, aku nggak pecat kamu kok, Dwi, cuma kamu libur kerja dulu lah selama beberapa bulan biar uang yang seharusnya buat bayar kamu tuh bisa digunain buat renovasi kamar kost."
"Saya nggak mau, Bu, kan perjanjiannya juga nggak kaya gini. Saya nggak perduli darimana uang buat renovasi tempat kost, saya--"
Dwi tak melanjutka kalimatnya.
Seketika terdengar suara bisik-bisik dari arah yang sama.
Riani berpura-pura tidak mengetahui apapun yang telah terjadi. Setelah menuruni semua anak tangga, Riani menoleh dan mendapati Rita sedang duduk di kursi makan sementara Dwi berjalan kembali ke dapur.
"Pagi, Bu."
Terlihat Rita yang sepertinya menghembuskan nafas lega. "Pagi, Ni. Kamu udah siap berangkat kerja?" tanya Rita, pandangan matanya melirik ke arah jam dinding berbentuk lingkaran berwarna emas yang ada di ruang makan. "Masih jam tujuh."
"Iya emang lebih pagi soalnya Bayu ada urusan jadi dia bisa anter aku lebih pagi deh." Riani mendudukkan tubuhnya di kursi, tepat di hadapan Rita.
"Oh, gitu." Rita mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti. "Terus lagi ke sini Bayunya?"
__ADS_1
Riani mengangguk, pandangan matanya beralih ke arah dapur. "Mba Dwi ... bawain bekal roti panggang aja, Mba, biar cepet, soalnya Bayu juga udah lagi di jalan."
"Siap, Non!" Dwi sedikit berteriak dari dapur.
Sembari menunggu, Riani mengecek smartphone-nya. Sebelumnya, ia sudah meminta Bayu untuk mengirimkan lokasi terkini sehingga Riani bisa tahu kekasihnya sudah sampai mana.
"Udah belum, Mba?" teriak Riani setelah melihat titik lokasi terkini Bayu sudah memasuki perumahan tempatnya tinggal.
"Sebentar lagi, Non."
Terdengar suara berisik dari dapur, sepertinya Dwi menambah kecepatannya dalam menyiapkan sarapan untuk Riani.
Suara klakson sepeda motor terdengat dari luar dan bersamaan dengan itu, Dwi juga melangkah menuju ke ruang makan.
"Bekalnya, Nona Riani." Dwi menyerahkan kotak makan berwarna abu-abu dengan isi roti panggang yang sudah ia siapkan.
Saat menerimanya, Riani bisa merasakan bagian bawah kotak yang masih hangat. Wajar saja, roti panggang di dalam kotak makan ini baru saja matang.
"Aku berangkat dulu, Bu." Riani mengecup punggung tangan ibunya.
"Hati-hati, Ni," ujar Rita yang masih tetap terpaku pada smartphone yang ada dalam genggaman tangannya.
Di luar rumah, Bayu sudah menunggu di atas sepeda motor. Seperti pagi biasanya, ia akan mengantar Riani terlebih dahulu menuju ke restoran sebelum berangkat ke tempat kerjanya sendiri.
"Nggak papa kok, cepetan naik."
Riani segera naik ke atas sepeda motor yang perlahan melaju menjauh dari rumah Riani menembus jalanan yang masih cukup sepi. Pagi ini, Riani berangkat lebih pagi daripada biasanya. Meskipun sudah mengenakan jaket, tapi rasa sejuk pagi hari masih terasa dingin menembus jaket yang dikenakannya.
Lima belas menit berlalu, sepeda motor yang dikendarai oleh Bayu akhirnya sampai di depan restoran. Sepi, belum ada orang di bagian depan restoran itu.
"Kamu nggak papa kan nunggu sendirian?"
Riani mengangguk. "Nggak papa kok, santai aja, Sayang, paling bentar lagi juga anak-anak pada dateng."
"Ya udah, kalau gitu aku berangkat dulu ya."
"Hati-hati." Riani melambaikan tangan mengiringi kepergian kekasihnya.
Langkah kedua kaki Riani berjalan menuju ke halaman depan restoran. Kotak makan yang sedari tadi berada dalam genggaman tangan ia letakkan di atas meja kayu yang memang ada di bagian luar ruangan.
__ADS_1
Sembari menunggu atasan dan pegawai lain datang, Riani memutuskan untuk menikmati sarapan paginya sendirian.
"Duh, sialan!" umpat Riani sesaat setelah ia tersedak, tenggorokannya terasa sangat gatal dan beberapa kali Riani berusaha menghilangakan rasa gatal itu dengan batuk sekuat mungkin. "Mana aku nggak bawa minum lagi." Riani terbatuk-batuk. "Bodoh banget!"
"Pagi banget udah di sini, Ri."
Suara perempuan itu membuat Riani menoleh, ia mendapati Gendhis yang berada sekitar lima meter darinya.
"Kamu bawa minum nggak, Ndhis? Minta dong!"
"Bawa, bawa, lagian kamu kenapa sih?" Gendhis mengambil botol minum dan menyerahkannya kepada Riani. "Oh, kamu lagi sarapan ... makannya kalau mau makan tuh baca doa, Ri, biar nggak keselek!"
Dalam hati Riani merasa kesal dengan kalimat yang dilontarkan Gendhis, meskipun ia juga membenarkan kalimat itu.
'Sialan! Lagi keselek bukannya diem dulu malah diomelin!' kesal Riani dalam hati.
Botol minum dengan isi yang sudah tersisa setengah itu dikembalikan. "Makasih ya, Ndhis. Maaf, loh, pagi-pagi udah bikin minum kamu habis aja."
"Santai aja sih, Ri, lagian bisa direfil nanti di dalam."
Riani menganggukkan kepala, ia mengambil potongan roti yang masih tersisa. "Kamu mau nggak nih?"
"Nggak ma--" Gendhis menghentikan kalimatnya, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dalam wajah Riani. "Ri! Bibir kamu ...."
Tangan Riani terangkat menyentuh bibirnya sendiri, dahinya mengernyit karena Riani merasa tidak ada yang salah di bibir atau sekitarnya.
"Merah banget!" Gendhis melanjutkan kalimatnya.
"Masa sih?!" Riani tidak percaya, ia mengambil smartphone dari dalam tas selempang yang kemudian ia gunakan untuk bercermin.
Sementara Gendhis sibuk dengan kegiatannya sendiri. Rupanya ia sedang mencari cermin kecil yang memang selalu ia bawa kemana-mana. "Nih, pake kaca aku."
Melihat pantulan bibirnya pada cermin kecil milik Gendhis, Riani tidak merasa ada yang aneh. Lipcream yang dia kenakan masih stay di tempat dan Riani juga mengenakan lipcream yang cukup awet. Tidak ada yang salah dari bibirnya sedikitpun.
"Emangnya kenapa sih, Ndhis?!" tanya Riani dengan nada yang sedikit kesal karena ia tak kunjung menemukan ada yang aneh dengan bibirnya.
Sementara Gendhis justru terkekeh. "Ya ampun, Ri, kamu pake lipcream ibumu? Merah banget gitu, ih! Jelek tahu, hapus, ah!"
Kalimat Gendhis sedikit menyakiti hati Riani, meskipun begitu kalimat itu juga yang membuat Riani sadar dengan apa yang salah dengan bibirnya.
__ADS_1
"Oh, emang jelek banget ya? Aku pake lipcream ini ya karena sering dibilang pucet sama kamu, sama pegawai yang lain juga, Ndhis. Maaf ya, kalau aku jelek."
Gendhis terdiam sejenak. "Aku minta maaf, Ri, nggak seharusnya aku ngomong kaya tadi ke kamu. Maafin aku ya, Ri." Dalam hatinya sangat tidak menyangka jika Riani akan tersinggung oleh kata-katanya dengan mudah.